
***
Piring kedua Vallery kini sudah bersih. Ekspresi menunjukkan kenyang dan puas tergambar jelas di wajahnya, tangannya secara natural mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.
"Alhamdulillah, kenyang," guman Vallery sambil menyandarkan punggungnya pada badan kursi, sebelah tangannya hendak meraih pisang nagget yang masih di banyak, tapi ditahan Lingga.
Lingga menggeleng. "Yang ini dibungkus juga aja ya, makannya nanti aja. Kamu kelihatan kekenyangan banget, Vallery."
Ekspresi Vallery langsung berubah muram, bibirnya mengerucut lucu. Membuat Lingga antara gemas dan juga cemas. Cemas karena sudah pasti ia akan kalah kalau begini.
"Satu aja, Mas," pinta Vallery memohon dengan ekspresi memelas.
Lingga menghela napas panjang. "Emang kamu belum kenyang?"
Vallery meringis. "Udah sih. Tapi masih mau. Satu aja deh, ya, Mas. Boleh, ya?" pintanya tidak ingin menyerah.
Lingga mendesah pasrah. Kalau sudah begini jelas saja ia kalah. "Ya udah, terserah kamu."
"Yes!" Vallery berseru kegirangan, seperti anak kecil yang habis dibelikan Ayahnya permen. Lucu dan menggemaskan.
"Seneng banget kamu?" Lingga tidak dapat menahan kekehannya sambil menggeleng, ia kemudian untuk memanggil pramusaji agar membungkuskan pesanan mereka tadi yang belum habis, "aku ke kasir dulu ya, bayar makanan kita" ia segera beranjak berdiri dan pergi ke kasir untuk membayar.
Vallery mengangguk, mempersilahkan dan fokus mengotak-atik ponselnya. Tak lama setelahnya Lingga kembali.
"Abis ini langsung pulang atau masih mau kemana?"
"Udah selesai bayarnya?" Vallery malah balik bertanya.
Lingga mengangguk. "Udah."
Vallery buru-buru membereskan barangnya dan berdiri. "Iya, langsung pulang aja. Capek juga, pengen bobok cantik abis ini. Kamu mau balik ke kantor, Mas?"
Mereka kemudian berjalan beriringan keluar dari Cafe.
Lingga mengangguk, membenarkan. "Iya, tapi abis nganterin kamu pulang. Ada yang perlu aku bahas sama kamu dulu soalnya."
Vallery menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lingga. "Soal apa?"
"Nanti kita bahas di mobil." Lingga kemudian menyuruh Vallery segera masuk ke dalam mobil.
Meski sebenarnya Vallery sudah merasa begitu penasaran, tapi sebisa mungkin ia menahan diri. Tanpa banyak tanya apalagi memprotes, ia langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama setelahnya, Lingga ikut menyusul masuk ke dalam mobil.
"Seat belt, Vallery," ucap Lingga mengingatkan. Salah satu kebiasaan Vallery yang kadang masih harus ia ingatkan, padahal itu penting, "kamu itu loh, kebiasaan banget. Kalau masuk mobil langsung dipakai seat beltnya," omelnya kemudian.
"Iya, bentar," jawab Vallery sekenanya, fokusnya masih pada ponsel yang ada di dalam genggamannya.
__ADS_1
Lingga selesai memasang sabuk pengamannya. Bersiap menyalakan mobil, namun saat ia melirik ke arah samping, Vallery masih terlihat fokus dengan ponselnya dan sabuk pengamannya belum terpasang. Ia menghela napas panjang, Vallery masih belum menyadarinya.
"Kamu nggak mau pulang?"
"Hah?"
Lingga tidak menjawab, yang ia lakukan justru melepas seat beltnya sendiri lalu mendekat ke arah Vallery.
"Mas Lingga mau ngapain?" tanya Vallery sedikit panik.
"Bantu pakaiin seat belt buat kamu."
Vallery menerjap lalu menggeleng panik. Bisa bahaya kalau seandainya Lingga melakukan hal itu. Kesehatan jantungnya tidak aman. "Nggak usah, aku bisa sendiri." dengan ekspresi paniknya ia langsung memakai seat beltnya, "tuh, udah. Ayo jalan!"
Lingga mengangguk lalu menjauhkan diri dari Vallery. Ia kembali memakai seat beltnya sendiri dan mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan arena parkir Cafe.
"Vallery, aku mau tanya sesuatu."
Wajah Vallery kembali panik. "Mas Lingga mau nanya apa?"
Lingga terlihat ragu-ragu. "Menurut kamu kalau kita mulai tidur bersama bagaimana?"
Vallery tidak langsung menjawab, ada jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk tidak masalah.
"Ibu bener, Mas Lingga juga bener. Kita udah sah suami istri secara agama dan negara, ya udah. Toh, aku juga nggak mau nambah dosa dengan bantah perkataan suami, Mas. Kamu suami aku, imam aku, masa aku mau nolak terus. Yang ada numpuk dosa aku-nya ntar." Vallery menggeleng sambil bergidik ngeri, "nggak mau ah, serem. Jadi, oke, ayo kita mulai tidur bersama."
Lingga tersenyum senang. Rencananya berhasil. Ia semakin optimis hubungannya dengan Vallery akan semakin membaik, jadi saat anak mereka lahir nanti keduanya bisa fokus mengurus bayi mereka.
"Jadi kapan rencana mulai tidur barengnya?" tanya Vallery sambil menoleh ke arah suami.
"Malam ini?" usul Lingga tanpa berpikir panjang.
Vallery menerjap sekali. "Malam ini?" tanyanya terkejut, "malam ini banget, Mas?"
Lingga mengangguk, mengiyakan.
Otak Vallery seketika langsung berasumsi yang iya-iya. Pandangannya menatap serius ke arah sang suami, tangannya membuat gerakan seolah sedang menerka sesuatu. "Mas," panggilnya tiba-tiba, "jujur sama aku! Kamu lagi 'pengen', ya?"
Ciiitttt
Secara reflek Lingga menginjak rem dengan tiba-tiba, terkejut dengan pertanyaan yang dilayangkan Vallery. Ia menoleh ke arah samping dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa kamu tanya begitu?" tanyanya tidak terima.
"Ya, tanya aja," balas Vallery santai, "kali aja iya."
__ADS_1
Lingga menggeleng cepat. "Enggak!" elaknya cepat," setelah sedikit menenangkan diri, ia kembali melajukan mobilnya.
Vallery ber'oh'ria dengan ekspresi wajah santainya. "Oh, enggak ya, kirain aku kamu lagi pengen."
Lingga berdecak kesal. "Aku bilang enggak, ya, enggak, Vallery. Kamu pikir aku apaan."
"Aku pikir kamu pria normal, Mas. Soalnya aku pengen," bisik Vallery sengaja menggoda Lingga. Sesekali batinnya kegirangan.
Sadar sedang digoda, Lingga jelas tak ingin kalah. "Sabar, sayang, bentar lagi kita lewatin hotel yang sering kena razia. Nanti kita chek in di sana, ya, pengen aku sesekali kena gerebek terus kita tunjukin buku nikah kita."
"Apa kamu bilang, Mas?!"
"Mampir ke hotel. Katanya kamu pengen? Lagian kata Randu udah boleh kok kita begituan. Jadi, nanti kita mampir ya?"
"Kamu bercanda kan, Mas?"
Lingga tertawa sambil melirik ke arah Vallery. Ekspresi puas terlihat di wajah pria itu kala Vallery menunjukkan ekspresi paniknya.
"Keliatannya gimana?"
"Ya, kalau aku tahu, aku nggak bakal nanya," sewotnya Vallery, ia memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan kedua tangan bersedekap.
Di sampingnya Lingga semakin puas saat melihat wajah kesal sang istri. Hal ini membuatnya gemas sendiri. Pikiran nakal yang tadinya hanya ingin ia jadikan sebuah candaan mendadak ingin ia realisasikan. Sepertinya menarik.
"Vallery," panggil Lingga dengan nada suara yang tiba-tiba berubah.
Dengan perasaan tidak enak, Vallery menoleh ke arah sang suami. "Kenapa?"
"Chek in beneran yuk?" tawar Lingga di sela ringisannya.
Hal ini membuat kedua mata Vallery melotot sempurna. "Apa kamu bilang?"
"Chek in beneran," ulang Lingga.
Vallery jelas tidak setuju. Dengan cepat ia langsung menggeleng tegas. "Enggak mau, nanti aku dikira baby sugar-nya kamu."
"Biarin, nanti kita tinggal tunjukin buku nikah kita."
Vallery mendengus. "Kita mana bawa buku nikah, Mas? Ada-ada aja kamu, nggak usah ngaco! Kita pulang sekarang," tegasnya tidak ingin dibantah, ia kemudian menggerutu dengan wajah cemberutnya, "katanya nggak pengen, tapi ngebet pengen chek in di hotel."
"Abis kamu yang mancing," balas Lingga ikut memasang wajah cemberutnya.
"Kenapa jadi aku yang disalahin?" balas Vallery tidak terima.
Tbc,
__ADS_1