Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
69. Ayo, Berjuang!


__ADS_3

****


"Suami lo mana?"


Nick masuk ke dalam kamar inap Vallery dan tidak menemukan siapa-siapa kecuali Vallery sendiri. Ia heran, kemana perginya suami Vallery.


"Gue suruh nyari makan."


"Dan lo ditinggal sendiri?"


Vallery menggeleng. "Enggak, tadi gue ditemenin mertua gue sama adik ipar Mas Lingga."


"Terus sekarang mereka?"


Vallery menghela napas dan membuang muka. "Nanya-nanya mulu lo, udah kayak wartawan. Patricia kemana? Kok lo dateng sendiri?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Ia juga sedikit heran, kenapa Patricia tidak ikut bersamanya.


"Iya lah, kan lo lagi begini kondisinya. Masa ditinggal-tinggal, ntar kalau lo butuh apa-apa gimana?" omel Nick. Mode cerewetnya sedang mode on.


"Kan ada lo."


"Kalau seandainya gue belum ke sini?"


Vallery mendengus. "Ngapain berandai-andai sih, Nick, kalau lo jelas-jelas udah ada di sini?" ia menatap Nick dengan ekspresi datarnya.


Hal ini membuat Nick tidak bisa berkata-kata lagi, pria itu hanya berdecak kesal diiringi umpatan samar lalu duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Vallery.


"Gimana kondisi lo?"


Vallery mengangguk. "Kemarin pagi kateter gue udah dilepas, udah bisa buang air kecil ke kamar mandi. Sejauh ini kondisi gue udah membaik sih, dan gue harus segera membaik. Udah nggak sabar gue mau ketemu anak gue."


"Belum boleh ketemu?"


Vallery mengangguk sedih. "Belum."


"Bekas jahitan lo masih nyeri?"


"Ya, masih lah, cuma udah nggak separah kemarin-kemarin. Kayak udah mulai terbiasa juga gitu sama nyerinya."


Nick mangguk-mangguk sambil memainkan ponselnya. Jari-jemarinya terlihat lincah mengetik sebuah pesan. Saat Vallery mengintip, ternyata ia sedang berbalas pesan dengan Patricia.


"Dia kenapa nggak ikut ke sini?"


"Lagi mens."


"Lo udah ke sana?"


Nick mengangguk sambil meletakkan ponselnya di samping Vallery. "Udah, ini tadi juga gue dari sana, terus disuruh ke sini sama dia. Paling abis dari sini nanti gue ke sana lagi."


"Ya ampun, padahal gue udah nggak papa. Harusnya lo tetep di sana aja nemenin Patricia, gue seenggaknya ada Mas Lingga."


"Kalian udah baikan?" Nick melirik Vallery ragu.

__ADS_1


Raut wajah Vallery berubah sedih. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping, berusaha menghindari tatapan Nick.


"Lo nggak mau cerita sama gue sebenernya apa yang terjadi sama kalian? Kalian sampe segininya loh, soalnya setahu gue kalian baik-baik aja selama ini. Keliatan kayak pasangan suami istri pada umumnya, tapi kenapa hubungan kalian mendadak kayak merenggang gini? Lo keliatan kecewa banget sama suami lo, sebenernya apa yang udah Bang Lingga lakuin sampe lo sebegininya, Valle. Cerita sama gue," pinta Nick dengan ekspresi seriusnya.


Getaran ponsel yang sedari tadi berbunyi ia abaikan. Ia bahkan mematikan ponselnya sejenak. Pandangannya fokus menatap Vallery, meminta sang sahabat agar mau bercerita.


"Valle, lo masih nganggep gue sahabat lo kan? Kalau seandainya gue nggak bisa bantu pun, seenggaknya gue bisa dengerin, Valle. Jangan ditanggung semuanya sendirian."


Nick langsung berdecak kesal saat melihat Vallery malah menitikkan air mata dan bukannya mulai bercerita. Ia langsung berdiri dan meraih beberapa lembar tisu.


"Gue nyuruh lo cerita, Valle, bukan nangis." Ia langsung menyerahkan tisu itu kepada Vallery.


Vallery menerima tisu itu dan langsung mengelap pipinya yang basah. "Sorry."


"It's okay." Dengan gerakan sigap ia langsung mengelus punggung Vallery, "cerita pelan-pelan aja, mumpung cuma ada gue."


"Jujur gue nggak tahu harus gimana, Nick. Gue bingung. Gue udah terlanjur sayang sama dia, tapi di sisi lain, gue nggak mau lebih kecewa dari ini. Gue takut Mas Lingga bakal nyakitin gue lebih dari ini, gue nggak mau. Gue mau pisah aja, gue nggak kuat, Nick. Ini terlalu berat bagi gue." Isak tangis Vallery kini pecah, Nick tidak berkata apapun, yang ia lakukan hanya meraih tubuh Vallery ke dalam pelukannya. Tepukan ringan ia berikan, berharap sedikit menenangkan sahabatnya ini.


"Gue tahu semua orang punya masa lalu, Nick, meski berat, gue bakal belajar buat nerima itu. Tapi meski gue bisa nerima masa lalu dia, perasaan takut kalau dia bakal ngulang kesalahannya di masa lalunya nggak bisa gue hindari. Ketakutan itu terus-terusan muncul dalam pikiran gue. Dan bagaimana kalau apa yang gue takutin bakal terjadi? Kebayang nggak sih sakit hatinya gue nanti? Gue nggak mau, Nick. Gue mau pisah."


Nick mengurai pelukannya dan menghapus kedua pipi Vallery yang basah. "Hari ini lo boleh nangis sepuas lo, tapi besok, jangan lagi tunjukkin wajah sedih lo begini ke gue. Karena kalau sampai lo lakuin itu, gue bakal langsung hajar suami lo. Ngerti!" setelah mengatakan itu, Nick kembali memeluk Vallery.


Vallery mengangguk patuh dan memeluk Nick dengan erat.


"Untung pacar gue nggak ikut, bisa kebayang nggak sih betapa cemburunya dia kalau lihat kita begini."


Mendengar gumanan Nick, Vallery langsung menjauhkan diri dari pelukan Nick. Wajah perempuan itu cemberut.


Nick langsung terbahak sambil mengacak rambut Vallery. "Ya makanya jangan bilang-bilang sama dia nantinya. Meski perasaan kita sama-sama nggak lebih dari rasa sayang ke sahabat atau saudara, tapi orang lain bisa mikir yang lain, Valle. Lo paham kan maksud gue?"


Vallery mengangguk. "Iya, gue tahu."


Nick kembali duduk. "Sekarang saatnya gue mulai sotoy mode on gue. Lo mau dengerin?"


"Kalau gue nolak?"


"Ya gue pulang lah," balas Nick santai, ia kemudian berdiri, "gue balik nih," ancamnya kemudian.


Vallery tertawa. "Jangan dong, gue masih butuh lo."


Nick langsung berdecih, pura-pura memasang wajah sebalnya. "Giliran gini aja dibutuhin. Kemarin-kemarin kemana lo?"


Vallery tersenyum samar sambil memainkan ujung selimutnya. Nick menghela napas.


"Valle, terkadang perpisahan bukan solusi dari permasalahan yang kita hadapi. Lo sayang sama Bang Lingga?"


Vallery mengangguk.


"Kalau lo sayang, kenapa harus pisah? Gimana kalau setelah perpisahan kalian, rasanya lebih berat? Yang ada lo bakal lebih tersiksa, Valle. Bisa nggak lo bayangin hal itu?"


"Tapi seenggaknya kalau kita udah pisah, gue udah nggak punya hak untuk itu. Gue bakal belajar untuk nerimanya."

__ADS_1


Nick mendengus sambil memutar kedua bola matanya. "Perempuan itu kenapa sih suka banget nyari penyakit? Kalau sama-sama belajar buat nerima kenapa lo nggak milih buat belajar nerima masa lalu suami lo dan memaafkannya?" decaknya gemas, "oke gini, katakan lah lo masih ragu sama suami lo sendiri. Tapi kenapa lo nggak memilih buat nyari kepastian dulu? Lo tanya lah sama suami lo, jangan asal main minta pisah aja. Kalian ini udah terikat pernikahan, Valle. Kalau pacaran seenggaknya bisa putus nyambung, lah, kalau nikah? Lo mau cerai rujuk gitu? Enggak mau kan?" ia menghela napas panjang, "perpisahan bukan satu-satunya jalan, Valle, lo harus ingat itu. Ini masalah serius, diskusiin ini lebih lanjut. Jangan gegabah, kalau emang udah nggak ada solusi yang lain, baru ambil keputusan itu."


Tanpa mereka sadari, di luar kamar Lingga berdiri di sana dengan tubuh mematung. Ia melihat semuanya. Kepedulian Nick, perhatian pria itu dan betapa Vallery merasa nyaman dengan sahabatnya itu. Kalau ditanya apakah ia merasa cemburu? Jawabannya tidak, dibandingkan cemburu, ia lebih merasa iri dengan keakraban mereka. Ia merasa iri dengan kedekatan keduanya. Terlihat sekali keduanya saling peduli dan merasa nyaman.


"Kenapa nggak masuk? Kok masih di sini?"


Randu bertanya dengan heran, saat ia sampai di depan kamar inap Vallery dan menemukan Lingga berdiri dengan wajah sendunya. Bukannya menjawab, Lingga malah duduk di kursi yang ada di depan kamar.


"Kenapa sih? Gue harus visit nih, kenapa nggak masuk?"


"Bentar," ucap Lingga, "di dalem ada Nick."


"Nick?" beo Randu tak merasa kenal dengan nama itu, ia kemudian mengintip ke dalam kamar dan menemukan pria yang tengah duduk di samping Vallery, meski tidak dapat mendengar apa yang mereka obrolkan. Namun, ia tahu ada suasa yang tidak biasa di dalam sana, "anjir, cowok itu siapa? Ganteng juga anjir."


"Temen Vallery."


"Temen?" Randu tertawa hambar setelahnya, "emang masih ada yang cerita cewek sama cowok pure temenan doang?"


Lingga menggeleng, kedua jarinya saling bertaut.


"Cowok itu naksir Vallery?" tebak Randu dengan wajah terkejutnya.


"Bukan, mereka kayak gue dan Rissa. Nick pacarannya sama temennya yang satunya, temen Vallery juga."


Randu mangguk-mangguk paham. "Lo bilang pertemanan mereka kayak lo dan Rissa?"


Lingga mengangguk, membenarkan.


"Berarti lumayan spesial ya?"


"Maksud lo?"


"Ya, gitu lah." Randu mengibaskan sebelah tangannya, malas hendak menjelaskan. "lo cemburu sama cowok tadi?" tanyanya tiba-tiba.


"Gue nggak punya hak." Lingga tersenyum miris sambil menggeleng.


"Kenapa? Lo masih sah suami Vallery kan? Jadi sah-sah aja kalau lo merasa cemburu saat Vallery lagi sama cowok lain. Wajar kok. Lo nggak perlu ngerasa bersalah."


"Tapi gue udah kecewain Vallery, Ndu, apa menurut lo masih ada hak buat cemburu. Sedangkan pria itu sahabatnya Vallery sendiri. Egois nggak sih?"


Randu menghela napas sambil menyapa seorang wali pasien yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Saat wali pasien itu sudah masuk ke dalam kamar inap, Randu langsung menoleh ke arah Lingga.


"Ga, menurut gue kalian udah nggak bisa nunda-nunda lagi. Kalian harus bicara, udah nggak ada solusi lain selain ini. Ungkapin apa yang sebenernya sama-sama kalian rasain lalu cari solusinya bareng. Lo mau kayak gini terus? Enggak kan? Anak kalian butuh kalian, Ga. Saat ini dia sedang berjuang untuk terus bertahan hidup, tapi kalian? Kaliannya malah begini. Lo bisa bayangin nggak sih gimana perasaan dia? Sedih pasti kan?" Randu lantas langsung berdiri, "udah buruan, ayo masuk! Ngapain sih bengong kayak orang bego di sini, sedangkan di dalem istri lo butuh pelukan hangat lo? Lo mau dia terus-terusan dipeluk cowok lain? Cewek kalau lagi ada masalah curhat ke cowok tuh, ujungnya kadang bisa bahaya, Ga. Lo mau Vallery direbut cowok lain?"


"Ya enggak mau lah, gue sayang sama dia, Ndu."


"Ya, makanya ayo berjuang! Jangan kayak orang lemah!" gertak Randu dengan wajah gemasnya.


Lingga kemudian mengangguk dan berdiri. Randu benar, memang sudah saatnya ia berjuang dan menunjukkan rasa cintanya pada Vallery.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2