
***
Gerald tersenyum lega saat melihat Lingga dan Vallery keluar dari mobil mereka. Kalau dilihat dari ekspresinya, sepertinya keduanya sudah berbaikan dengan benar. Syukurlah, jadi ia tidak merasa kepikiran lagi.
"Mereka terlihat baik-baik saja," celetuk Jasmine tiba-tiba.
Gerald otomatis langsung menoleh ke arah sang Ibu, detik berikutnya ia mengangguk setuju. Ibunya benar, Vallery dan Lingga terlihat baik-baik saja, tidak terlihat seperti pasangan yang terpaksa menikah.
"Kamu tahu, dulu Mama sempet khawatir dengan Vallery. Mau bagaimanapun juga, putrimu masih terlalu muda untuk menjadi istri dan juga calon ibu. Tapi hari ini, mereka dapat membuktikannya." Jasmine menepuk pundak putranya, "Mama rasa putrimu tumbuh dengan baik meski tanpa seorang ibu. Kamu mungkin pernah kecolongan, tapi jangan terus-terusan menyalahkan diri dan juga menyalahkan Lingga. Kamu sudah berusaha sejauh ini, Lingga pria yang baik. Mama suka dengannya."
Mau tidak mau, Gerald kembali mengangguk. "Aku tahu, Ma, kalau dia bukan pria yang baik, aku jelas tidak akan rela membiarkan mereka menikah."
Jasmine mendengus. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih saja bersikap keras terhadapnya?"
Gerald berdecak. "Jarak umur kita tidaklah jauh, Ma."
"Lalu apa hubungannya?" Jasmine memukul pundak putranya, "mau kalian seumuran pun, dia jelas tidak akan kurang ajar denganmu. Kamu tahu karena apa? Karena kamu mertuanya."
"Aku tahu," balas Gerald singkat, "sudahlah, tidak perlu dibahas. Ayo, kita segera masuk!" ajaknya kemudian.
"Papa kayaknya udah nggak sabar banget," goda Vallery sambil terkikik geli.
"Jelas," jawab Gerald mantap, ia kemudian merapikan jasnya, "gimana penampilan Papa? Oke?"
Vallery mengacungkan jarinya membentuk huruf O. "Udah ganteng maksimal, nggak kayak duda anak satu yang bentar lagi punya cucu," godanya sekali lagi.
Hal ini tentu saja membuat Gerald langsung berdecak kesal. "Bagian terakhir nggak usah disebutin sementara waktu bisa?"
Dengan wajah polosnya Vallery menggeleng. Tangannya kemudian mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit. "Nanti cucu Papa marah loh, kalau Kakeknya begitu."
Gerald mengangguk paham dengan wajah tidak relanya. "Ya, udah, iya, Papa minta maaf. Yuk, kita langsung masuk. Semua seserahan udah dibawa masuk kan?"
Kali ini Lingga mengangguk mewakili. "Udah, Pa, semua udah bawa masuk ke dalam dengan aman. Sekarang giliran kita yang masuk."
Gerald menghela napas panjang. "Kok Papa deg-degan ya, padahal udah pernah."
"Udah, nggak papa. Ayo, masuk! Nanti keburu disuruh pulang gara-gara kitanya nggak masuk-masuk!"
Dengan gerakan tidak sabar, Vallery kemudian menarik lengan Gerald agar Papanya segera masuk ke dalam rumah Riana. Ia menoleh ke arah sang suami sebentar sambil berbisik, "Mas, aku sama Papa dulu, ya. Jangan cemburu!" Yang hanya direspon kekehan dan anggukan tidak masalah dari Lingga.
Saat masuk ke dalam rumah Riana, Vallery tidak menyangka kalau ternyata tamu undangannya cukup banyak. Nyaris seramai acara ijab qobulnya dengan Lingga dulu.
"Aku nggak nyangka kalau bakal serame ini, Mas. Gila! Tamunya hampir sama waktu kita nikahan dulu," bisik Vallery pada Lingga. Kini keduanya sudah duduk bersandingan di kursi yang sudah disediakan.
"Kan kita nikah cuma ngundang keluarga inti," balas Lingha.
Vallery mengangguk paham. "Tapi dekorasinya cantikan ini nggak sih, Mas?" bisiknya tiba-tiba.
"Kamu mau kita gelar resepsi abis ini?" tawar Lingga.
Vallery menggeleng. "Enggak, mending biayanya buat dana masa depan anak kita."
"Vallery, aku masih mampu kalau--"
Vallery mengangguk paham sambil menempelkan jarinya pada bibir Lingga. "Iya, aku tahu uang kamu banyak. Nggak usah kamu pamerin."
__ADS_1
"Loh, aku nggak pamer, Vallery. Aku cuma--"
"Ssttt," bisik Jasmine, "acara bentar lagi mulai. Bisa kalian diam, nanti ributnya dilanjut di hotel lagi."
"Baik, Oma," koor Vallery dan Lingga dengan kompaknya.
Fokus keduanya kini pada Gerald yang ternyata sudah berdiri di depan berhadapan dengan Riana. Papanya tampak gagah dengan stelan jas kokonya, sedangkan Riana tampak anggun dengan kebaya dusty pinknya.
"Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah dilalui bersama. Tidak mudah memang. Cobaan silih berganti seolah tidak ada habisnya. Perbedaan umur kita, status dudaku, omongan orang, seolah menegaskan kalau kita tidak berjodoh. Tapi, kamu dengan luar biasanya tetap berada di sisiku, mendampangiku dengan segala kekuranganku. Aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang Kamu. Apa kamu merasakan hal demikian?"
Di hadapannya, Riana mengangguk dengan kedua mata berkaca-kacanya.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama … itu … Kamu. Riana Kaneshia Adhisti, will you marry me?"
"Yes, i do!"
"Ya ampun, kok aku baru tahu kalau Papa se-sweet ini. Aku jadi cemburu sama Tante Riana," keluh Vallery merasa terharu melihat acara lamaran sang Papa. Perasaan iri itu tiba-tiba hadir, dulu saat ia dilamar Lingga perasaan tidak begini.
"Kenapa kamu harus cemburu? Kamu kan punya."
Vallery menatap Lingga sambil mendengus. "Tapi kamu nggak romantis."
Lingga berdecak kesal karena dibanding-bandingkan dengan mertuanya. Ia tidak suka. "Aku, ya, aku. Papa, ya, Papa. Kita punya cara masing-masing buat nunjukin kasih sayang kami, Vallery. Aku mungkin bukan pria romantis seperti yang kamu impikan, tapi aku tahu caranya menunjukkan perhatian kepada orang yang kusayang. Bikinin susu buat kamu setiap pagi, nemenin kamu ngerjain tugas, bikinin sarapan. Pijitin kamu kalau capek juga, masih kurang?"
Kali ini Vallery tidak menjawab, ia hanya meringis malu. Suaminya benar, meski bukan pria romantis seperti yang ia bayangkan setidaknya Lingga tahu cara memberinya perhatian tanpa disuruh.
"Iya, maaf, gitu aja ngambek. Bercanda doang itu tadi, Mas. Jangan ngambek ya!" bujuk Vallery.
Meski masih sedikit kesal, Lingga mau tidak mau akhirnya tetap mengangguk.
"Eh, tukeran cincinnya udah kelar? Foto berduanya gimana, Oma? Udah juga? Kok nggak berasa?" Vallery kemudian berdiri meski masih sedikit heran.
"Ya, gimana mau berasa kalau kamu pacaran terus sama suami kamu. Mentang-mentang sudah halal saja," gerutu Jasmine sambil geleng-geleng kepala.
Vallery dan Lingga kemudian saling memandang. Lah? Kapan mereka begitu?
****
"Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya. Kebelet deh, titip tas." Vallery langsung berdiri dan menyerahkan tasnya kepada Lingga.
"Perlu aku anter?"
Vallery menggeleng. "Enggak usah."
Lingga memandang sang istri dengan pandangan tidak yakin. "Emang tahu kamar mandinya di mana? Kamu kan belum pernah ke sini sebelumnya."
"Ya ampun, Mas, kan aku punya mulut, di sini tamu banyak, aku kan tinggal nanya nanti."
"Ya udah hati-hati," pesan Lingga, "nggak usah lari! Kamu hamil, Vallery!" teriaknya kemudian.
Ia berdecak kesal dengan kebiasaan Vallery yang suka lari-lari kecil kalau sedang buru-buru. Seolah lupa kalau sedang hamil.
"Kebiasaan banget sih," gerutunya kesal.
"Istri kamu mana?" tak lama setelahnya Jasmine duduk di samping Lingga dan celingukan mencari keberadaan cucunya.
__ADS_1
"Ke kamar mandi, Oma, kebelet katanya."
"Kenapa nggak kamu anterin? Istri kamu sedang hamil."
Lingga meringis sambil mengusap tengkuknya. "Tadi maunya juga mau Lingga anter, tapi Vallery-nya nggak mau dan bilang mau sendiri. Jadi ya Lingga biarin." ia kemudian langsung bangkit berdiri, "sekarang biar Lingga susul--"
"Enggak usah, duduk aja. Nanti kalau belum balik-balik baru kamu susulin. Oma tinggal." Jasmine kemudian berdiri dan meninggalkan Lingga begitu saja.
Sementara di tempat lain. Vallery celingukan mencari keberadaan kamar mandi dan tidak kunjung menemukannya.
"Duh, kamar mandinya mana sih? Masa nggak nemu-nemu," gerutu Vallery kesal, ia juga tadi sempat bertanya pada orang. Namun, ternyata yang ia tanyai kurang paham seluk beluk rumah calon ibu tirinya.
"Cari apa, Neng?"
Vallery langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Ibu-ibu dengan daster batik dan celemeknya.
"Cari toilet, Bu. Di mana kira-kira?"
"Oalah, mari-mari saya antar. Itu di sana, deket dapur. Kebetulan saya juga harus kembali ke dapur."
Vallery mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, mengekor di belakang ibu-ibu itu dengan ekspresi senangnya.
"Itu, Neng, kamar mandinya. Silahkan!" ucap Ibu-ibu itu sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Vallery mengangguk dan kembali mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum masuk ke kamar mandi.
"Itu tadi bukannya calon anak tirinya Riana?"
Samar-samar Vallery mendengar obrolan ibu-ibu yang ada di dapur. Kebetulan dapur dan toiletnya berdekatan jadi ia masih dapat mendengar obrolan mereka, meski samar-samar.
"Lah, apa iya?" Vallery menebak itu suara milik ibu-ibu yang mengantarkannya tadi.
Vallery semakin penasaran dengan obrolan mereka, ia mempertajam pendengarannya.
"Iya, betul, yang itu, tadi ikut foto bareng soalnya."
"Cantik ya?" Vallery malu-malu saat mendengar pujian itu.
"Buat apa cantik kalau nggak bisa jaga pergaulan? Denger-denger dia sudah punya suami."
Ekspresi Vallery berubah sedih.
"Loh, keliatannya masih muda begitu kok."
"Memang, masih kuliah itu. Tapi hamil di luar nikah, makanya dinikahkan duluan."
"Ya ampun, kasian ya, Riana, sudah dapat duda anak satu, sepaket sama menantu dan juga cucu."
"Ya, gimana namanya juga jodoh."
"Belum tentu, Bu, bisa jadi karena emang Riana ada maksud tersem--"
BLAK!
Dengan sengaja Vallery membuka pintu kamar mandi sedikit kasar. Ia memasang wajah pura-pura bersalahnya. "Maaf, Bu, ganggu, silahkan dilanjut ngobrolnya. Saya permisi."
__ADS_1
Tbc,