
****
Vallery berdecak kesal saat mendengar suara bell yang terdengar tidak sabaran. Ia menggerutu samar lalu meletakkan laptopnya di atas meja. Suaminya sedang berada di dalam kamar mandi, alhasil ia tidak bisa menyuruh. Dan terpaksa lah dia sendiri yang harus membuka pintu, asisten rumah tangga mereka tidak menginap, ia hanya datang pagi dan sorenya akan pulang ke rumahnya sendiri. Ini masih terlalu pagi untuk asisten rumah tangganya datang kemari. Jadi, ia tidak bisa menyuruh juga. Alhasil, dia sendiri lah yang harus membuka gerbang untuk mengetahui tamu mana yang datang pagi-pagi begini dengan tidak sabaran itu.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Vallery saat membuka gerbang.
Vallery tidak dapat menahan rasa terkejutnya, saat menemukan seorang perempuan dengan balutan dressnya yang super mini berdiri di depan rumahnya. Ada blazer yang tampak menempel pada pundaknya, blazer itu tidak benar-benar dipakai, hanya disampirkan untuk menutupi pundaknya.
Vallery berdecak kagum dengan aura anggun dan sexy yang ditampilkan perempuan ini. Kacamata hitam, tas brand, high heel tinggi yang dikenakan perempuan ini menambah kesan elegan. Seketika ia merasa minder, kalau dibandingkan dengan perempuan ini, jelas ia tidak ada apa-apanya. Daster batik, sandal jepit, dan perut buncit. Astaga, bukankah perbandingan keduanya bagaikan langit dan bumi?
"Gaga. Dia ada di dalam kan?"
Gaga?
Siapa itu? Batin Vallery merasa tidak mengenal nama itu.
"Maaf, Mbak, sepertinya Mbaknya salah rumah. Di rumah ini nggak ada yang namanya Gaga."
"Enggak mungkin, ini jelas-jelas rumah Gaga. Saya kalau pulang ke Indo pasti ke sini." Perempuan itu melepas kacamatanya sambil berdecak angkuh, "pemilik rumah ini Lingga Maheswara kan?"
"Iya, betul, tapi tidak ada yang namanya Gaga, Mbak. Mungkin Mbaknya salah rumah, karena lama di luar negeri, jadi lupa begitu."
"Gaga itu ya Lingga Maheswara. Gimana sih? Udah minggir! Saya mau masuk, tolong bawakan koper saya."
Gaga itu Lingga? Jadi perempuan ini mengenal suaminya?
"Eh, nggak bisa dong!" cegah Vallery sambil menghadang perempuan itu agar tidak masuk, "anda siapa? Apa hubungan anda dengan suami saya?"
"Suami?" beo perempuan itu sambil tertawa meremehkan, kedua tangannya bersedekap, "ya ampun, kamu pikir saya bakal percaya? Apalagi sama bocah seperti kamu? Enggak lah! Gaga itu paling anti sama yang namanya komitmen apalagi nikah? Ya ampun lucu banget sih kamu, masih kecil juga sudah nikah-nikah aja."
"Loh, Mbaknya nggak percaya. Lihat perut saya." Vallery kemudian menunjuk perut buncitnya, "saya hamil anaknya Mas Lingga."
"Astaga! Saya masih berhubungan baik dengan Gaga, hampir setiap hari kami telfonan, dia nggak pernah bilang tuh, kalau udah nikah apalagi mau punya anak. Jadi, kamu jangan ngaku-ngaku, karena saya nggak bakal percaya. Paham?"
Vallery naik pitam. Suaminya selalu telfonan dengan wanita lain tanpa ia ketahui, perempuan secantik ini lagi. Jangan-jangan setiap malam ngakunya lembur tapi malah asik telfonan dengan perempuan ini? Astaga, suaminya ini keterlaluan.
"Tunggu sebentar!" Vallery menutup gerbangnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa.
"Mas Lingga! Mas! Kamu di mana?"
Lingga yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mampu memasang wajah heran dan bingungnya.
"Kenapa sih kok teriak-teriak? Kita nggak lagi di hutan, Vallery, dan aku masih bisa denger dengan baik."
"Kamu selingkuh ya?" tuduh Vallery dengan wajah galaknya.
"Apaan sih? Pagi-pagi udah ngaco." Lingga berdecak sambil geleng-geleng kepala dan bergegas menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering, ia butuh minum.
"Terus aku yang selingkuhan kamu?"
Lingga nyaris tersedak mendengar tuduhan Vallery. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Kamu ini sebenernya kenapa sih? Abis liat apa? Kenapa jadi ngomong ngaco begitu?" tanya Lingga keheranan.
Vallery menatap Lingga galak. "Kamu cek aja sendiri di depan. Tuh, selingkuhan kamu nyamperin. Bawa koper segala."
"Bawa koper apaan? Siapa sih?" Lingga masih tidak paham dan semakin kebingungan. Apalagi ekspresi wajah Vallery saat ini terlihat begitu marah.
"Tahu lah."
Setelah mengatakan itu, Vallery langsung bergegas meninggalkan dapur. Tak lama setelahnya bell kembali berbunyi. Lingga menatap Vallery tidak yakin, saat sang istri memilih memalingkan wajahnya, barulah ia bergegas untuk membuka gerbang dan mengecek siapa tamunya. Tanpa ia ketahui, Vallery mengekor di belakangnya dengan perasaan keponya.
__ADS_1
Saat membuka gerbang, Lingga tidak dapat menahan rasa terkejutnya saat menemukan Carissa. Ekspresinya tampak tidak percaya. Namun, ada raut bahagia pada wajah bulenya.
"Surprise!"
"Ya ampun, Carissa? Kok ke sini nggak bilang?"
"Ya kan namanya surprise, masa bilang? Nggak jadi surprise dong?"
Lingga tertawa lalu memeluk Carissa, perempuan itu langsung membalasnya. Setelah pelukan terurai, Carissa langsung mencium kedua pipi Lingga secara bergantian. Tidak ada tanda-tanda protes yang ditunjukkan Lingga, bahkan pria itu terlihat begitu bahagia menerima ciuman itu. Hal ini tentu saja membuat Vallery geram.
"Kalau lo bilang ke gue dulu kan, gue bisa jemput, Ris." Lingga kemudian mengambil alih koper milik Carissa dan mengajak perempuan itu masuk ke dalam rumahnya, "lo kenapa ke Indo dadakan banget tumben?"
"Enggak dadakan kok, emang direncanain udah lama."
"Bakal lama di Indo?"
Carissa menggeleng. "Seminggu doang, aku nginep di sini boleh kan?"
"Ya, boleh lah. Masa enggak, rumah gue selalu terbuka lebar buat lo."
Carissa lalu melepas blazernya saat mereka sudah sampai di dalam rumah. Ia menyampirkannya di badan sofa. Setelahnya ia duduk di sana.
"Mau minum apa?" tawar Lingga kemudian.
"Apa aja yang penting dingin. Haus banget."
"Oke." Lingga kemudian bergegas menuju dapur untuk mengambil jus buah kemasan dan gelas. Setelah mendapatkan yang dicari, ia langsung bergegas menuju ruang tamu.
"Bentar, ya, gue panggilin istri gue."
"Hah? Istri? Kamu beneran udah nikah?" tanya Carissa dengan ekspresi terkejutnya.
Lingga meringis malu-malu sambil menunjukkan cincin kawinnya.
"Married by accident," jawab Lingga singkat.
Carissa langsung membekap mulutnya shock. "I see." Ia mangguk-mangguk paham, beberapa detik kemudian ia terbahak, "ya ampun, Ga, kamu kenapa bisa sampai kebobolan? Sama anak kecil lagi? Sehorny apa sih kamu sampai sebegitunya? Ya ampun, aku masih nggak percaya loh, serius."
Lingga terkekeh malu-malu. "Sama."
"Sama? Sama apanya?" tanya Carissa kepo, ia menyilangkan kaki jenjangnya yang putih mulus.
"Lo sendiri gimana?"
"Aku? Nothing special. Masih kayak biasa, kerja, pacaran, kerja, pacaran, bobo bareng. Bosen? Ganti yang lain."
"Lo belum tobat?"
"Belum nemu yang klik masih susah," aku Carissa sambil terkikik geli, "pengen nyari yang lokal aja, tapi susah. Dapetnya yang bule terus, ya udah mau gimana."
"Makanya jangan kelamaan di negeri orang, biar dapet yang lokal juga."
"Aku sih sebenernya udah klik sama kamu, secara urusan ranjang kamu juga memuaskan. Tapi sayang kamu udah jadi laki orang."
Lingga langsung menatap Carissa tajam. "Ris, tolong hati-hati! Gue udah nikah."
Carissa langsung terbahak. "Kenapa? Kamu takut istri kamu denger?"
Lingga mendengus kesal. "Jelas lah, dia kalau udah ngambek, susah dibujuk."
"Cie cie, buncis nih ceritanya," goda Carissa dengan tawa renyahnya. Lama tidak bertemu benar-benar membuatnya rindu untuk menggoda Lingga.
__ADS_1
"Buncis? Maksudnya? Kenapa bawa-bawa sayuran?" Lingga tidak paham arah pembicaraan sang sahabat.
Carissa memasang wajah bingungnya. "Itu loh, Ga, yang takluk banget sama pasangannya. Apaan sih namanya? Bucis?"
"Bucin, Ris. Astaga!"
Carissa kembali terbahak sambil bertepuk tangan. "Nah, iya itu, bucin. Ya, maklum kan aku kurang paham juga bahasa gahulnya anak Jakarta."
"Makanya, jangan kelamaan di negeri orang," dengus Lingga.
"Kalau aja kamu bilangnya sebelum nikah. Aku pasti bakal nurut dan nggak balik ke Perancis."
Sekali lagi Lingga mendengus. Ia jelas tidak percaya dengan ucapan sahabatnya ini, hampir tiga puluh tahun saling mengenal. Ia paham kalau Carissa hanya bercanda. Itu memang sifatnya. Selama Carissa bolak-balik Jakarta-Paris, Lingga sering kali menawarkan untuk stay di Indonesia. Namun, ujung-ujungnya perempuan itu akan tetap kembali ke Paris.
"Mas, aku mau bicara!"
Lingga secara otomatis langsung menoleh ke asal suara. Di sana ada Vallery dengan wajah kecewanya. Ia langsung berdiri dan menghampiri sang istri.
"Vallery, kenalin, ini Carissa, temen aku dari kecil." Lingga kemudian menoleh ke arah Carissa, "Ris, kenalin, ini istri gue."
Sambil memamerkan senyuman terbaiknya, Carissa mengulurkan tangan untuk mengajak Vallery berjabat tangan. Namun, istri Lingga itu tampak bergeming.
"Aku bilang, aku mau ngomong, Mas, sama kamu. Berdua," ucap Vallery penuh penekanan. Setelah mengatakan itu, ia segera menjauh.
"Ris, gue tinggal bentar." Lingga kemudian langsung berlari mengejar Vallery.
"Vallery, kamu apa-apaan sih?"
"Aku? Kamu tuh, Mas, yang apa-apaan? Maksud kamu apa bawa perempuan itu ke dalam rumah kita?" seru Vallery emosi.
Lingga menghela napas panjang. Ditatap wajah sang istri secara intens, kedua mata Vallery tampak memerah menahan tangis. Ia dapat melihat kilat kemarahan pada kedua bola mata sang istri. Detik berikutnya, ia langsung memeluk Vallery.
"Sayang, tenang dulu, oke?" bisik Lingga sambil mengelus punggung Vallery. Ia membiarkan sang istri menangis sesaat, setelah dirasa cukup, baru lah ia mengurai pelukannya, "udah lebih tenang?" tanyanya lembut. Ibu jarinya dengan sigap langsung menghapus pipi Vallery yang basah, "duduk dulu, yuk!" ajaknya kemudian.
Vallery hanya bisa pasrah.
"Carissa itu teman aku, sahabat aku. Kami bahkan berteman sejak kami belum masuk sekolah. Sama kayak kamu dan Nick. Aku dan Rissa nggak ada hubungan lebih, kami murni berteman. Oke, kami memang sempat ingin mencoba berkomitmen bersama, tapi kami nggak berhasil dan memilih untuk tetap berteman. Kamu nggak perlu khawatir, sayang. Aku seutuhnya milik kamu, aku udah sah jadi suami kamu. Kamu nggak perlu cemas apalagi khawatir dengan perempuan lain."
"Tapi dia cantik." Ekspresi Vallery merengut menahan sedih.
Lingga terkekeh. "Kamu juga cantik, Vallery."
"Tapi dia sexy, aku nggak. Aku udah gendut nggak sexy, nggak tinggi. Kamu pasti milih dia."
"Enggak, siapa yang bilang kamu nggak sexy. Kamu sexy kok."
"Bohong!"
"Enggak. Serius, sayang, kamu tuh sexy, apalagi kalau di kamar dan nggak pake baju," bisik Lingga.
Vallery langsung melirik sang suami tajam. Mendadak ia malas melanjutkan obrolan dengannya.
"Jadi, biarin Rissa nginep di sini ya?"
Vallery cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya. "Emang di nggak punya keluarga? Enggak punya rumah? Enggak punya uang buat nyewa hotel?"
Lingga langsung menatap Vallery datar. "Jadi nggak boleh?" tanyanya memastikan.
"Bukan nggak boleh, cuma..."
"Enggak papa, dia bisa masak kok. Tenang aja, kita bisa nyuruh dia masak buat bayar sewa selama nginep di sini. Boleh, ya?" bujuk Lingga tak ingin menyerah.
__ADS_1
Seketika kedua mata Vallery membulat sempurna. Cantik, dewasa, keliatan smart, langsing, berkelas, dan bisa masak?
Tbc,