Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
77. Rencana Gagal


__ADS_3

*****


Nuansa makan malam kali ini terasa berbeda. Suasana canggung masih kental terasa. Baik Lingga maupun Vallery, keduanya sama-sama masih dalam mode heningnya. Hanya suara benturan sendok dan garpu yang menabrak piring. Tidak ada percakapan lebih, keduanya nampak kompak dengan aksi diamnya masing-masing.


"Mas/Vallery," panggil keduanya satu sama lain dengan kompaknya. Detik berikutnya keduanya sama-sama diam.


"Kamu dulu/Mas dulu."


Vallery mengangguk paham. "Oke, aku dulu," ucapnya pada akhirnya. Ia meletakkan sendok dan garpunya dan menatap Lingga dengan tatapan gelisah. Ia masih takut kalau sang suami masih marah, "aku mau minta maaf soal kemarin. Maaf kalau niat baikku melukai ego-mu sebagai pria dan kepala rumah tangga. Demi Allah, Mas, aku nggak ada maksud untuk begitu. Aku beneran nyesel. Kamu maafin aku kan?" Ekspresinya terlihat harap-harap cemas menunggu jawaban dari sang suami.


Lingga tidak langsung memberikan tanggapan atau respon. Pria itu terdiam selama beberapa saat dan menghindari tatapan mata sang istri. Hal ini membuat Vallery menjadi harap-harap cemas sendiri. Bagaimana kalau suaminya ini masih merajuk? Harus bagaimana dia nanti membujuknya?


"Mas," panggil Vallery semakin khawatir.


Tak lama setelahnya, senyum sumringah terlihat pada wajah Lingga. Pria itu mengangguk cepat dan berkata, "Tentu saja aku maafin kamu dong, sayang. Masa perkara beginian aja aku mau ngambek lama-lama, ya enggak dong. Lagian aku juga mau minta maaf ke kamu. Aku tahu niat kamu bagus, tapi karena gengsiku aku malah marah-marah nggak jelas. Maafin aku, ya." ia kemudian langsung berdiri dan memeluk Vallery.


Dengan senyum sumringahnya, Vallery langsung membalas pelukan Lingga. "Iya, sama-sama, Mas. Yang penting kita baikan, ya. Jangan ngambek-ngambekan lagi, aku bingung tahu kalau kamu yang ngambek."


Lingga mengurai pelukannya dan menjawil hidung mancung sang istri. "Kamu juga kalau ngambek suka bikin bingung tau. Dilanjut nanti aja ya mesra-mesraannya, mending kita lanjutin makan dulu."


"Iya, sana kamu balik ke kursi kamu."


Tanpa membantah Lingga kemudian kembali duduk dan melanjutkan kegiatan makan malam mereka. Kali ini suasana sudah seperti biasa, sesekali candaan dilontarkan dari kedua belah pihak. Bahkan tak jarang Lingga meminta Vallery suapi.


"Mas, aku nggak jadi jual mobilnya. Besok kita ke rumah Papa, ya buat ambil mobil aku? Biar aku kalau ke kampus atau pergi-pergi nggak usah nunggu kamu."


"Papa udah pulang?"


Setelah menggelar pernikahan di Bandung beberapa waktu yang lalu, Gerald memang tidak langsung memboyong Riana untuk tinggal di rumahnya. Mereka pergi ke Eropa untuk melakukan perjalanan bulan madu mereka. Hal ini membuat Lingga cemburu setengah mati dengan sang mertua. Enak sekali Papa mertuanya, begitu sah nikah langsung jalan-jalan keliling Eropa dengan istri tercinta. Sedangkan dirinya dulu? Boro-boro bulan madu keliling luar negeri, awal menikah saja mereka tidur di kamar terpisah. Astaga, sungguh malang sekali nasibnya.


"Udah, Papa juga minta kita ke sana buat ambil oleh-oleh."


Lingga hanya mangguk-mangguk seadanya. Ekspresinya terlihat cemberut, membuat Vallery langsung menatapnya heran. Kenapa lagi dengan mood sang suami kali ini?


"Kenapa mukanya cemberut gitu?"


"Aku ngiri sama Papa dan Riana. Mereka aja udah bulan madu keliling Eropa, masa kita enggak sih? Aku nggak mau tahu, pokoknya kita juga harus jalan-jalan ke luar negeri berdua kayak Papa."


"Astaga, Mas, kondisi Saka aja masih begini. Kamu masih sempet-sempetnya mikir jalan-jalan ke luar negeri berdua doang? Tega kamu ya?"


Lingga langsung gelagapan. "Maksudnya bertiga. Iya, nanti kalau Saka udah keluar rumah sakit kita harus jalan-jalan ke laur negeri. Syukur-syukur udah berempat. Biar makin rame, jadi makin seru gitu."


Vallery langsung melirik Lingga tajam. "Jagain Saka aja kita nyaris gagal, Mas, tapi kamu udah kepikiran buat nambah lagi?" ia menggeleng cepat, "enggak. Aku nggak mau hamil lagi, minimal sampai aku lulus kuliah."


"Waduh, kelamaan dong, sayang. Kenapa nggak kita kasih jarak dua tahun aja anak kita? Jangan jauh-jauh jarak mereka, nanti mereka nggak akrab."


"Kata siapa jarak umur antara anak pertama dan kedua jauh bisa bikin nggak akrab?"


Dengan wajah polosnya, Lingga menunjuk wajahnya sendiri. "Aku."


"Ngarang!"


Vallery lantas segera berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafle untuk dicuci. Tak lama setelahnya Lingga menyusul sambil membawa gelas kotornya.

__ADS_1


"Aku punya bukti nyata, Vallery. Aku sama Dika tuh beda 4 tahun. Dan kita emang kurang akrab."


"Itu bukan karena perbedaan umur kalian, tapi emang karena kamu aja yang nggak bisa ngeakrabin diri kamu ke adik kamu sendiri."


Lingga berdecak kesal lalu kembali duduk. "Ya, oke, kamu benar. Cuma masalahnya jangan ambil jeda terlalu lama, ya? Aku sudah nggak muda, Vallery."


"Apaan, itu cuma alasan kamu aja, Mas. Kamu tuh masih muda, jangan aneh-aneh deh, tugas kamu tuh cuma donorin ******. Tapi yang hamil dan melahirkan nanti aku. Jadi meski usia kamu tua pun, asal kualitas ****** kamu bagus, ya enggak masalah."


Lingga tiba-tiba menjentikan jarinya. "Nah, itu dia masalahnya. Gimana nanti kalau tiba-tiba kualitas ****** aku menurun? Gimana juga kalau aku ngalamin ejakulasi dini? Kamu mau Saka nanti nggak punya adik?"


Vallery mendadak kesal dengan topik pembicaraan mereka. Ia segera mengeringkan tangannya begitu selesai mencuci piring dan gelas.


"Kamu tahu Gilang kan? Dia temen aku, seumuran sama aku dan Randu juga, yang dokter juga itu loh. Spesialis penyakit dalam, tapi kamu tahu kenapa Febi istrinya belum juga hamil meski mereka udah menikah lebih dari setahun."


"Ya, emang karena belum rejekinya itu, toh, mereka baru nikah setahun. Ada juga kan yang sampe harus nunggu bertahun-tahun tapi baru dikasih?"


"Iiih, bukan, Vallery. Tapi karena dia ngalami penurunan kualitas ******."


"Innalilahi."


Lingga langsung menegakkan tubuhnya. "Siapa yang meninggal?" tanyanya dengan ekspresi bingung.


"Musibah, Mas."


"Oh, iya, bener juga sih." Lingga kemudian garuk-garuk kepala karena salah tingkah.


"Mas," panggil Vallery tiba-tiba.


"Kamu kalau lagi 'pengen' langsung bilang aja kenapa sih? Kenapa pake segala muter-muter kemana-mana," decak Vallery sebal.


Lingga meringis. "Ya udah, langsung ke kamar, yuk. Aku gendong?" tawarnya kemudian.


"Udah konsul dokter Randu dulu kan tapi kamu?" tanya Vallery was-was. Meski masa nifasnya telah lewat, dan bekas jahitannya sudah mengering tetap saja ia masih merasa khawatir.


"Bukannya masa nifas kamu udah lewat lumayan lama?"


"Tapi kan aku caesar, Mas. Katanya kalau lahirannya caesar boleh berhubungan badannya lebih lama. Coba kamu telfon dokter Randu dulu."


"Oh, gitu." Lingga tiba-tiba menyingkap koas yang Vallery kenakan, "bukannya bekas jahitannya juga udah kering? Emang kadang masih sakit?" tanyanya polos.


Vallery berdecak sambil memukul pundak Lingga. "Apaan sih, buka-buka. Nggak sopan! Sana telfon dokter Randu. Keburu nggak mood ntar."


"Kok perasaan aku mendadak nggak enak ya?" guman Lingga sambil mencari kontak Randu, "kamu udah pulih beneran belum sih? Atau masih sakit? Nanti kira-kira kalau dikasih izin kamunya bakal nyaman enggak?"


"Telfon dokter Randu, Mas," ucap Vallery memperingatkan.


"Iya, iya, ini lagi ditelfon, bawelnya nggak usah keluar."


Lama menunggu, akhirnya panggilannya terjawab.


"Hmm," sahut dari seberang. Kalau didenger dari nada suaranya, Lingga tebak Randu pasti sudah tidur.


Astaga, jam berapa ini? Masa sudah tidur aja. Ia saja baru selesai makan malam.

__ADS_1


"Jam berapa ini, Ndu, astaga! Udah molor aja lo? Gue aja baru selesai makan malem."


"Ngantuk banget, anjir, shift malem nih. Baru juga mau merem udah lo telfon aja. Dan gue bahkan belum sempet makan, baru nyampe langsung harus nangani pasien caesar. Mana tadi belum sempet tidur juga. Apes bener pokoknya gue hari ini. Lo kenapa sih jam segini tumbenan telfon?"


"Mau nanya."


"Nanya apaan?"


"Vallery udah kelar masa nifas nih. Udah boleh gue ajak belum?"


Terdengar suara Randu sedang menguap. "Ya, boleh-boleh aja asal dianya mau dan ngerasa udah nyaman."


"Serius?" Seketika raut wajah Lingga berubah kesenangan.


"Hmm, pasien gue biasanya udah gue bolehin berhubungan badan kalau udah lewat satu sampai dua bulan pasca melahirkan. Ya, meski si ibunya biasanya masih ogah karena capek ngurusin baby. Tapi kalau Vallery mau sih ya nggak papa. Yang nggak gue bolehin tuh kalau dianya abis caesar. Gue saranin nanti-nanti deh, kasian soalnya. Agak beresiko juga."


Kali ini raut wajah Lingga berubah kesal. "Ndu, lo tidur? Vallery juga caesar, kampret!" umpatnya kasar, ia berdecak tak lama setelahnya, "dasar php lo!"


Terdengar tawa renyah dari seberang. "Ya ampun, gue lupa. Sorry, Ga, gue kurang kasih sayang nih, makanya nggak fokus. Lagian lo ngebet banget sih, astaga! Vallery baru pulih belum lama juga kan? Masa udah mau lo 'garap' aja. Tahan sedikit kenapa?"


"Ya, kan maksud gue berhubung kita baru berdua doang gitu. Kebetulan ada momen pas, ya kenapa enggak gue manfaatin gitu, kan lumayan, Ndu. Ah, bujang macem lo mana paham soal ginian. Soalnya nanti kalau Saka udah boleh pulang kan susah buat gue bisa ginian."


"Astaga! Kondisi Saka masih butuh perawatan yang lama di rumah sakit lo tenang aja, nggak usah resah, gundah, gulana. Karena waktu kalian untuk menikmati momen berdua masih banyak, jadi tahan sebentar lagi. Bisa?"


Meski dengan wajah tidak rela, Lingga akhirnya mengangguk dan mengiyakan. Secara sepihak ia langsung mengakhiri panggilan. Dan ia tebak, saat ini pasti Randu sedang mengeluarkan semua sumpah serapah untuknya. Tapi ia tidak peduli.


"Masih belum boleh?" tanya Vallery hati-hati, ia baru saja pergi ke kamar mandi dan saat ia kembali ekspresi wajah Lingga sudah berubah masam.


"Belum," ucapnya kecewa.


"Ya ampun kasian. Sini, sini, peluk dulu!" Vallery terkekeh sambil merentangkan kedua tangannya dan memeluk Lingga, "mau main 'solo' atau aku bantuin?"


Lingga langsung melirik Vallery sinis. "Kamu jangan mancing, Vallery!"


"Bukan mancing, cuma nawarin solusi. Kali aja kamu butuh."


Lingga semakin cemberut dan mengeratkan pelukannya. Helaan napas terdengar setelahnya.


"Udah ah, tidur aja, yuk! Mendadak bete nih aku."


"Aku masih harus ngerjain tugas kuliah, Mas. Kan besok kita mau ke rumah Papa."


Lingga menggeleng tidak peduli. "Nanti aja kalau aku udah tidur, atau kalau kamu ikut ketiduran, besok aja ngerjainnya pas pulang dari rumah Papa. Ntar aku bantuin."


"Ya ampun, Mas, kadang aku tuh mikir, kamu tuh beneran udah mau 35 tahun atau baru mau 25 tahun sih? Manja banget."


"Aku emang awet muda," balas Lingga tidak nyambung.


Vallery hanya mampu memasang wajah datarnya dan mengangguk malas. Setelahnya ia mengajak Lingga untuk segera naik ke kamar mereka yang ada di lantai atas.


Tbc,


ya Allah, jdulnya ambigu yak🤣🤣🤣🤣 si otor lagi kehilangan inspirasi, lagi oleng di platform oren. ayo dong mampir ke akunku yg ada di sana🤭

__ADS_1


__ADS_2