Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
61. Pengakuan


__ADS_3

*****


Sepanjang acara, Vallery merasa tidak tenang. Pikirannya berkecamuk dengan kemungkinan fakta kalau Carissa pernah mengandung anak Lingga. Suaminya itu memang belum mengakuinya, tapi dilihat dari gelagatnya ia dapat menebak dengan benar kalau Carissa benar pernah hamil anak Lingga. Membayangkan fakta ini benar-benar terasa menyakitkan baginya. Batinnya tidak terima. Pertemanan macam apa yang mereka jalani hingga menyebabkan sebuah kehamilan?


Sekuat tenaga ia mencoba untuk berpikir positif, tapi tetap saja ia tidak bisa paham. Tidak ada perasaan, tidak ada hubungan spesial tapi pernah hamil? Apa hubungan pertemanan memang begitu? Batinnya berasumsi.


"Kita pulang sekarang."


Vallery kemudian menoleh ke arah Lingga. Ditatap sang suami selama beberapa saat, ia kemudian mengangguk setuju tak lama setelahnya.


Selama perjalanan pulang pun, suasana mobil nampak sunyi. Tidak ada yang memulai obrolan, baik Vallery maupun Lingga, keduanya memilih untuk sama-sama diam.


"Mbak Carissa nggak hamil anak kamu kan, Mas?"


Lingga memilih tidak langsung menjawab, pria itu diam selama beberapa saat lalu menghela napas. "Kita bahas nanti, Vallery. Kamu ganti baju sama bersih-bersih dulu."


"Tapi aku butuh jawaban itu sekarang, Mas. Apa susahnya sih bilang iya atau bukan?" desak Vallery tidak sabaran. Kilat kemarahan terlihat begitu jelas pada kedua bola matanya.


"Aku butuh banyak waktu buat jelasin semuanya. Enggak sekedar iya atau bukan."


Mendengar jawaban Lingga, Vallery mendengus. "Jadi bener?"


"Vallery," panggil Lingga dengan nada frustasi.


"Enggak usah kamu jawab semua tergambar jelas kalau emang Mbak Carissa emang pernah hamil anak kamu." Vallery tertawa miris, "jadi aku perempuan yang ke berapa, Mas? Berapa banyak wanita yang pernah kamu hamili?"


Emosi Lingga meradang. Ada perasaan tidak terima yang ia rasakan. Ia merasa tidak tahan.


"Maksud kamu ngomong begitu apa, Vallery? Kamu jangan ngomong sembarangan, aku memang bukan pria baik-baik, Vallery, aku akui itu. Tapi kamu harus tahu, aku tidak seburuk yang kamu pikir. Aku tidak seperti itu. Aku masih tahu batasan."


Suasana kali ini mendadak suram. Baik Lingga dan Vallery, keduanya sama-sama diselimuti emosi. Masih tidak ada yang ingin mengalah, atau sekedar meredakan emosinya.


"Kita menikah karena aku hamil duluan, Mas. Kita bahkan melakukannya saat kita sama-sama belum saling mengenal. Hanya sekedar tau nama masing-masing. Lalu batasan seperti apa yang kamu maksud?"


Lingga semakin tersulut emosinya. "Kamu sedang menyalahkan aku atas kehamilan kamu?"


Vallery menggeleng cepat. "Enggak. Aku cuma tanya batasan apa yang kamu maksud, Mas? Kamu bilang Mbak Carissa sama kamu nggak ada hubungan spesial, kamu sendiri yang bilang dan menegaskan kalau kalian cuma berteman, kayak aku sama Nick. Aku percaya, Mas." Kedua matanya kini sudah tidak tahan membendung genangan air, kali ini Vallery menangis, "meski rasanya bikin aku minder dan ragu, tapi aku coba untuk berpikir positif tentang hubungan kalian. Kamu berjanji akan serius menjaga aku sama bayi kita. Aku percaya, Mas. Tapi apa yang aku dapat? Kamu kecewain aku."


Lingga makin frustasi saat melihat Vallery menangis. Dalam hati ia mengumpat kasar sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Aku tahu, aku salah, Vallery. Maafin aku." Hanya itu yang dapat Lingga ucapkan, pria itu nampak frustasi hendak mengatakan apalagi. Seolah sedang ketahuan selingkuh dan bingung harus ngapain.


"Jadi Mbak Carissa bener pernah hamil anak kamu?" ulang Vallery.


Butuh waktu sedikit lebih lama sampai akhirnya Lingga mengangguk pasrah.


Shock dan tidak percaya kini tengah Vallery rasakan. Hatinya hancur. Ia menangis tersedu-sedu setelahnya. Mendengar pengakuan langsung dari Lingga membuatnya terasa lebih menyakitkan.


Perasaan bersalah kian menggerogoti diri Lingga. Ia hendak mendekat ke arah Vallery. Namun, perempuan itu memilih mundur.


"Kasih aku waktu buat nenangin diri, Mas."


"Aku bisa jelasin, Vallery. Kamu harus dengerin versi lengkapnya biar kamu nggak mikir yang aneh-aneh."


Vallery mengangguk setuju. "Oke, jelasin sekarang!"


"Kita duduk dulu. Aku bikinin teh."


Lingga kemudian menyuruh Vallery duduk di sofa sedangkan Lingga bergegas ke dapur untuk membuat teh. Tak lama setelahnya Lingga kembali sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh dan roti biskuit.


"Minum dulu," ucap Lingga sambil menyerahkan secangkir teh untuk Vallery.


Meski sebenarnya enggan, Vallery tetap menerima cangkir itu. Menyesap sedikit lalu meletakkan cangkir itu kembali di atas meja.


Lingga menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya. "Kamu dengerin baik-baik ya, jangan potong kalimat aku sedikit pun."


Meski ingin protes, Vallery pada akhirnya tetap mengangguk.


"Aku dan Carissa berteman. Kami murni berteman, kalau ditanya apa kami pernah memiliki perasaan khusus, jawabannya enggak. Kami memang merasa nyaman satu sama lain, tapi perasaan itu tidak lebih dari sekedar nyamannya seorang teman." Lingga menjeda kalimatnya, lalu menoleh ke arah Vallery, ekspresi sang istri tidak bisa ia tebak. Ia menghela napas panjang lalu kembali melanjutkan.


"Kami sibuk mengejar karir masing-masing. Urusan percintaan kami sama-sama payah, kedua orang tua kami sudah saling mengenal dekat. Mereka menyarankan kami untuk menikah, awalnya kami menolak tapi pada akhirnya kami setuju."

__ADS_1


Vallery terlihat ingin menyela. Namun, dengan cepat Lingga menahannya.


"Biar aku selesaiin dulu."


Lagi-lagi Vallery hanya mampu mengangguk pasrah.


"Kami sepakat untuk mulai komitmen dan merencanakan pernikahan. Namun, takdir berkata lain, selama jelang pernikahan, ternyata kami sadar kalau kita tidak bisa menjadi lebih dari sekedar teman apalagi sebagai sepasang suami-istri. Akhirnya kami batal menikah. Kedua pihak keluarga kecewa dengan keputusan kami. Namun, pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa karena semua kami yang menjalani."


"Lalu gimana bisa Mbak Carissa hamil?"


Lingga terlihat ragu-ragu saat ingin mengatakannya. Bibirnya seolah kelu.


"Mas," panggil Vallery tidak sabaran. Rasa penasarannya kian menjadi. Ia paling benci kalau harus berasumsi yang tidak-tidak. Otaknya capek.


"Kami khilaf."


"Apa?"


Lingga frustasi. Ia memalingkan wajahnya ke arah sambil sambil mengusap rambutnya ke belakang.


"Maaf, Vallery, masa lalu-ku terlalu buruk untuk diceritakan."


"Seburuk apa? Minum dan melakukan **** bebas?"


Dengan ekspresi menahan malu, Lingga mengangguk, membenarkan. Kedua matanya bergerak gelisah.


"Tapi tidak sebebas yang kamu pikirkan."


"Memang bebas yang aku pikirin gimana?"


"Aku tidak sembarangan tidur dengan perempuan lain. Kamu perempuan pertama yang masih asing bagiku dulu, selain kamu semua aku memiliki hubungan dengannya. Karena kami sepasang kekasih."


"Lalu bagaimana dengan Mbak Carissa?"


"Just friend benefit."


"Friend benefit?" ulang Vallery dengan suara bergetar. Kalimat itu terus berputar di otaknya seperti kaset rusak, "berapa lama?"


Vallery terlihat murka. "Kenapa kamu nggak bisa jawab, Mas? Apa sesusah itu?"


Lingga mengangguk, membenarkan. "Lebih baik kamu tidak tahu. Karena kalau kamu tahu, itu akan terasa lebih menyakitkan, Vallery."


"Oke, kamu benar, memang tidak harusnya aku tahu." Vallery mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah, "kapan terakhir kalian melakukannya?"


"Aku tidak ingat," aku Lingga jujur, "Rissa jarang di Indonesia."


"Lalu bagaimana dengan kondisi bayi itu?"


Lingga menggeleng. "Dia udah nggak ada. Rissa keguguran karena memang nggak tahu dia hamil."


"Kamu yakin dia anakmu?"


Lingga langsung menoleh ke arah Vallery. "Maksud kamu apa? Dia memang suka berganti-ganti pasangan, tapi kamu jangan ngomong sembarangan tentang dia begitu. Dia pasti yang lebih tahu siapa Ayah dari bayi yang dikandung, Vallery. Dia nggak mungkin berbohong."


"Kamu suka ya sama dia?"


"Astagfirullah, Vallery! Kamu ngomong apa sih?"


Vallery tertawa miris lalu menggeleng. "Aku nggak tahu, Mas. Pikiranku kacau."


"Masa lalu aku memang nggak sebaik yang kamu pikirin, aku memang salah. Tapi bisa kamu harus tahu, kalau aku beneran tulus sama kamu. Aku sayang sama kamu, Vallery."


"Aku butuh istirahat."


Setelah mengatakan itu, Vallery langsung bangkit berdiri dan naik ke kamar. Sedangkan Lingga hanya mampu meruntuki kebodohannya di masa lalu. Ia pikir, ia bisa mengubur masa lalu kelamnya itu. Tapi ternyata ia salah.


****


"Mukanya gitu banget? Kenapa? Semalam nggak dapet?" goda Carissa setelah masuk ke dalam rumah.


Ia meletakkan tas selempangnya dan duduk di salah satu sofa. Matanya celingukan mencari keberadaan Vallery.

__ADS_1


"Istri kamu mana?"


"Di kamar. Marah."


"Gara-gara aku lagi? Aku abis ngapain? Kan tadi kondangan aku juga nggak nebeng kalian, aku bareng Randu kok. Kali ini gara-gara apa?"


Lingga mendesah pasrah. "Gara-gara masa lalu gue."


Carissa menyilangkan sebelah kakinya. "Why? Seingetku track record kamu bagus deh? Jarang ganti-ganti pacar, nggak pernah sewa perempuan sembarangan buat muasin diri. Terus masa lalu seperti apa yang bikin dia marah?" tanyanya kepo.


"Dia tahu lo pernah hamil anak gue."


Carissa langsung menutup mulutnya secara spontan. "Seriosly? Kok bisa? Aku aja bahkan udah lupa pernah hamil anak kamu, Ga." ia terkekeh tak lama setelahnya.


"Lo masih bisa ketawa?"


Carissa cengengesan. "Ya, aku tuh nggak bisa ngebayangin aja gitu loh, Ga. Aku pernah hamil anak kamu, ngebayangin kalau sampai aku ngelahirin anak kamu bikin geli sendiri."


"Kok dia bisa tahu?" lanjut Carissa dengan wajah penasarannya.


"Ada temen gue yang mulutnya nggak ada filter."


"Siapa? Randu? Emang dia tahu aku hamil anak kamu?"


Lingga menggeleng. Ketiga sahabatnya bahkan tidak tahu tentang masalah ini.


"Bukan. Enggak ada yang tahu kok mereka."


"Terus siapa?"


"Erik."


"What?! Sialan, brengsek itu cowok. Kok dia bisa tahu?"


Lingga menggeleng sambil terkekeh. "Kalau soal ngumpat aja lancar banget bahasa Indo lo."


"Apaan? Bahasa Indonesia-ku tuh bagus dan lancar kok. Sembarangan aja kamu," protes Carissa tidak terima.


"Tapi lo nggak bisa ngomong lo-gue," ledek Lingga.


"Aku bisa, cuma nggak nyaman aja," ucap Carissa membela diri.


Di sampingnya, Lingga hanya mengangguk mengiyakan. Ekspresinya kembali muram. Hal ini membuat Carissa tidak tega melihatnya.


"Terus rencana kamu abis ini gimana? Kamu mau aku jelasin ke Vallery kalau kita nggak ada hubungan lebih. Waktu itu kan cuma kecelakaan, kita juga nggak sering-sering benget ngelakuinnya. Dia harus tahu yang sebenarnya. Aku ngomong ke dia, ya?"


"Enggak usah, biar gue sendiri yang ngomong. Tapi gue boleh minta tolong?"


Tanpa keraguan, Carissa mengangguk yakin. "Apa?"


Lingga menatap Carissa intens dan menggeleng setelahnya. "Enggak jadi."


"Astaga! Oke, aku tahu, nggak usah kamu bilang aku udah paham. Kamu pengen aku keluar dari rumah kalian kan?"


Lingga meringis dengan ekspresi tidak enaknya. "Sorry, Ris," ucapnya penuh penyesalan.


"It's okay, aku juga udah harus balik ke Paris kok. Udah mulai bosan di sini, nggak ada yang bisa dijadiin temen bobok. Randu aku ajak nggak mau sih, padahal aku ngerasa klik sama dia."


"Sembarangan! Jangan macem-macem lo sama dia, aset kita dia tuh. Lo nggak boleh mencemari otaknya. Anak baik-baik dia."


Carissa langsung terbahak saat mendengar ucapan Lingga. "Kan aku mau juga sama yang polos-polos ngegemesin kayak Randu, Ga."


"No! Siapa pun boleh asal jangan Randu!" Lingga menggeleng tegas sebagai tanda penolakan.


"Terus siapa? Gilang?"


"Mau jadi pelakor lo?" sinis Lingga


"Ogah! Kalau mau mau jadi pelakor seenggaknya kandidatnya itu ka...mu... Aduh! Sakit, Ga! Bercanda doang, astaga!"


Lingga kesal bukan main dengan candaan Carissa yang menurutnya sama sekali tidak lucu. Alhasil bantal sofa mendarat, mengenai wajah mulus Carissa.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2