Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
27. Mendamaikan Nick & Patricia


__ADS_3

Vallery menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Nick dan juga Patricia secara bergantian.


"Helo, ini sebentar lagi gue mau nikah, ya. Dan kalian belum baikan? Kalian mau bikin acara nikahan gue nanti jadi akward karena tingkah kalian?"


Vallery berdecak tidak percaya sambil menatap keduanya, tangannya kemudian meraih tumbler berisi susu hamilnya.


"Jadi nikah juga lo sama dia?" Nick balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Vallery, "emang Om Gerald udah sebar undangan? Bokap gue kayaknya belum dapet undangan deh."


"Emang belum sebar udangan, jadi aja belum gimana mau disebar."


"Lha terus?"


"Gue duluan yang kawin."


"Kalau itu jelas," sahut Nick sambil mendengus. Tangannya kemudian terulur, hendak meraih tumbler milik Vallery namun urung karena pelototan dari si pemilik.


"Isinya prenagen, mau lo embat juga?" dengkus Vallery sambil memukul punggung tangan pria itu.


"Njir, prenagen banget nih?" Nick menatap Vallery tidak percaya, lalu menoleh ke arah Patricia. Kedua pasang mata itu saling bertemu selama beberapa detik sampai akhirnya Patricia membuang muka, yang tentu saja ini membuat Nick langsung mendengkus kasar.


Vallery yang menyadarinya pun hanya mampu menghela napas, sebelum akhirnya berkomentar, "Serius kalian belum baikan? Mau sampai kapan sih kayak gini terus? Udah lebih dari tiga hari loh, nggak capek apa? Dosa, woy, berantem lebih dari tiga hari."


"Tauk," guman Nick sambil mendengkus sekali lagi, "yang ditolak gue tapi dia yang lebih diemin gue," imbuhnya sambil menunjuk Patricia.


"Gue nggak nolak lo, Nick," sahut Patricia tidak terima.


"Terus gue diterima gitu jadi pacar lo?"


Kali ini Patricia yang gelagapan. Membuat Nick lagi-lagi mendengkus bosan. "Tahu lah, cabut aja gue," ujarnya langsung berdiri dan meninggalkan kantin.


Vallery berusaha untuk memanggil Nick untuk kembali, namun diabaikan pria itu.


"Sorry, Pat, kalau gue kesannya jadi kayak sok tahu sama kalian. Gue cuma--"


"Valle," potong Patricia tiba-tiba.


"Kenapa? Lo mau cerita?"


Diiringi helaan napas panjang, Patricia mengangguk.


"Cerita aja, gue bakalan dengerin. Meski belum tentu bisa kasih solusi."

__ADS_1


Bukannya langsung bercerita, Patricia malah menghela napas sekali lagi. Ia lalu membuang muka ke arah lain, sebelum akhirnya kembali menatap Vallery dengan wajah frustasinya. Kening Vallery berkerut heran.


"Patricia," panggil Vallery hati-hati.


Patricia meraup wajahnya. "Gue nggak tahu harus cerita mulai dari mana," bisiknya nyaris tak terdengar.


Beruntung hari ini Vallery sedang pendengarannya dalam mode sensitif, coba kalau tidak. Nyaris dapat dipastikan Vallery tidak dapat mendengar apa yang Patricia katakan.


"Pelan-pelan aja." Vallery menegakkan tubuhnya, "gini aja. Sebenernya lo sayang juga nggak sih sama Nick?"


Patricia mengangguk tanpa ragu.


"Sebagai temen atau pria?"


Patricia menggeleng. "Gue nggak tahu," cicitnya sambil mengigit bibir bawahnya.


Vallery berdecak sambil menggaruk kepalanya. Otaknya kembali berpikir keras. "Lo pernah cemburu nggak sih kalau dia deket sama cewek lain?"


"Gue nggak yakin. Tapi gue... gue kadang kesal banget dan pengen marah kalau dia perhatian banget sama lo. Gue tahu kita bertiga temenan, tapi kadang gue kayak..."


Patricia menggantung kalimatnya, kembali mengigit bibir bawahnya. Kali ini Vallery tersenyum.


"Nggak rela?" tebak Vallery sambil menahan diri untuk tidak terbahak.


"Patricia."


"Gue nggak tau, Valle," seru Patricia terdengar sedikit membentak. Bukannya marah Vallery malah tersenyum.


"Lo ragu ya sama dia?"


"Maksudnya?" Kening Patricia mengkerut.


"Hati lo sebenarnya udah ngakuin lo sayang ke Nick bukan hanya sebatas temen. Tapi ego lo melarang lo untuk mengakuinya. Kenapa? Karena lo ragu sama keseriusan Nick mengingat track record-nya yang buruk itu? Gue bener?"


Patricia menghela napas. "Nick nggak serius kan?"


Vallery menggeleng tegas. "Nick serius sama lo dan juga perasaannya ke lo. Mungkin caranya selama ini salah, salah banget malah. Tapi gue berani jamin dia sayang banget sama lo, Pat. Lo nggak perlu raguin dia."


"Tapi Valle, gimana gue nggak ngeraguin dia kalau selama ini dia sering banget main-main sama cewek. Gue jelas nggak bisa percaya gitu aja kan?"


"Iya, lo berhak percaya atau nggak. Tapi satu hal yang harus lo inget, Nick beneran sayang sama lo. Gue nggak nyuruh kalian pacaran atau lainnya, gue cuma kalian saling jujur. Udah itu aja biar nanti keadaan nggak akward begini. Lo bisa kan jujur sama Nick tentang apa yang lo rasain?"

__ADS_1


Patricia menggeleng. "Gue nggak tahu."


Vallery menjambak rambutnya frustasi. Pantesan Nick kayak nggak sabaran menghadapi Patricia, kalau dirinya juga sama tidak sabarannya begini.


"Pat, keadaan nggak selamanya bakal canggung begini kan? Gue bentar lagi mau nikah, kalian berdua adalah sahabat gue. Masa gue berbahagia tapi kalian masih diem-dieman nggak jelas? Permintaan gue berat banget ya, Pat?"


Patricia terdiam. Berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya menatap Vallery serius.


"Plis, gue juga mau kalian berbahagia di atas kebahagiaan gue nantinya," pinta Vallery terlihat seperti memohon.


"Valle, lo bahagia sama dia? Maksud gue lo kan married by acident? Lo yakin lo bakalan bahagia?" tanya Patricia tiba-tiba.


"Ya, nggak bakal ada yang jamin sih gue bakal bahagia atau nggak nantinya. Tapi kan katanya bahagia itu berasal dari dalam diri, dan nggak perlu dicari tapi kita ciptakan. Jadi, ya gue bakalan ciptain kebahagian versi gue dan keluarga kecil gue kelak." Vallery tiba-tiba menggaruk kepalanya, "meski gue juga nggak bisa seyakin itu, untuk bisa mewujudkannya. Tapi ya apa salahnya dicoba kan? Selagi gue sama orang gue sayang, kayaknya gue nggak terlalu ragu."


"Lo yakin calon suami lo beneran sayang sama lo?"


Tubuh Vallery tiba-tiba menenggang. Pertanyaan itu belum pernah terlintas di otaknya. Kenapa ia bisa seyakin ini kalau pertanyaan itu tidak bisa ia jawab.


"Valle?"


"Gue juga nggak tahu, Pat," cicit Vallery diselingi ringisan kecil, "Mas Lingga mau nikahin gue gara-gara sayang sama gue atau hanya karena bayi ini," imbuhnya kemudian, "tapi bagi gue yang paling penting dia sayang sama anak gue nantinya. Itu sudah cukup."


Patricia diam. "Yakin itu semua sudah cukup?" tanyanya tiba-tiba, "manusia dan sifat serakahnya, Valle. Yakin semua itu bakal cukup?"


Vallery tersenyum sambil mangguk-mangguk. "Lo benar, Pat, mungkin nggak akan lama gue akan menjadi serakah dan berharap dia cinta gue."


"Apa kalian hanya menikah sampai bayi itu lahir?"


Vallery menggeleng. "Enggak. Kita sepakat buat nikah dan bakal jadi orangtua utuh buat anak kami."


"Kalian benar-benar menikah? Bukan hanya demi anak?"


Vallery kembali tertawa. "Pernikahan bukan sebuah permainan, Pat, dan kami tidak berencana untuk main-main."


"Tapi kalian--"


"Perbedaan umur kami jauh? Kami baru saling mengenal?"


Secara tiba-tiba Patricia tertawa kecil. "Lo sangat berani, Valle, gue salut."


Vallery ikut tertawa. "Berani lebih ke arah nekat, ya?"

__ADS_1


"Banget."


Tbc,


__ADS_2