Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
30. Drama Sebelum Pernikahan


__ADS_3

****


Saat Lingga dan Vallery sampai di IGD, Randu sudah ada di sana dan sedang mengobrol dengan perawat yang ada di sana. Tanpa berpikir lama, Lingga langsung menghampiri Randu.


"Eh, udah nyampe? Langsung ke bed aja, yuk," sapa Randu saat menyadari kehadiran Lingga dan Vallery. Ia kemudian mengajak mereka langsung menuju ranjang khusus pasien.


"Gimana, Valle, apa yang dirasain? Ada nyeri nggak?"


Vallery menggeleng. "Cuma agak nggak nyaman aja, dok."


Randu mengangguk paham dan mulai melakukan pemeriksaan.


"Gimana?" tanya Lingga penasaran. Raut wajah khawatir masih terlihat jelas di wajah bulenya.


Randu mengangguk. "Enggak papa kok, bayi kalian baik-baik saja."


Baik Vallery dan Lingga akhirnya bisa bernapas lega.


"Enggak papa, biasanya kalau masih hamil muda kadang emang terjadi pendarahan ringan atau kayak flek gitu. Atau biasa disebut perdarahan implantasi."


"Apaan itu?" tanya Lingga kepo.


Randu tersenyum lalu menoleh ke arah dokter muda di sampingnya. "Dek koas," panggilnya kemudian, mengintruksi agar dokter muda yang menjelaskan.


Dokter muda itu awalnya tampak kebingungan dan ragu-ragu. Namun, pada akhirnya menjelaskan. "Perdarahan implantasi adalah perdarahan yang terjadi karena proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim. Hal ini memang tampak sebagai bercak darah atau perdarahan ringan selama beberapa hari, tapi tidak selama dan sebanyak menstruasi. Dan wajar terjadi di masa kehamilan muda."


Randu mangguk-mangguk sambil mengacungkan jempolnya. "Good job," pujinya kemudian.


Randu tersenyum sambil menatap Vallery. "Pasti tadi sempet panik ya?"


Sambil meringis malu, Vallery mengangguk membenarkan.


"Enggak papa, kok, wajar, apalagi ini kehamilan pertama, jadi memang masih banyak nggak tahunya." Randu kembali mengulas senyumnya, lalu beralih melirik Lingga, "Sudah paham kan Pak Bule?"


Pria bule itu kemudian mengangguk paham.


"Vitamin yang gue kasih kemarin masih, Valle?"


Vallery mengangguk. "Masih, dok."


"Kalau gitu nggak perlu gue resepin dulu, ya." Randu kemudian menoleh ke arah Lingga, "abis ini lo tinggal urus administrasi aja, ya. Buat Vallery bisa istirahat dulu di sini, bisa juga di kursi tunggu. Senyamannya lo aja."


"Kamu di sini dulu aja, aku urus administrasi bentar," ucap Lingga pada Vallery, "yuk," imbuhnya kemudian mengajak Randu.


"Lah, gue ikut?"


Lingga mengangguk. Dengan pasrah akhirnya Randu menurut.


"Vallery beneran nggak papa kan? Pendarahan yang lo sebutin tadi nggak berbahaya?"


"Enggak papa, Ga, kadang ibu hamil emang pada ngalamin itu kok. Bahkan ada yang nggak tahu dirinya hamil dan ngira kalau dirinya lagi menstruasi."


"Bukan karena kelelahan?"


"Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan, bukan sih. Kondisi mereka cukup stabil, tapi emang sih, faktor kelelahan bisa menyebabkan pendarahan."


"Gue khawatir," ucap Lingga tanpa repot-repot menyembunyikan wajah khawatirnya.


Randu mengangguk paham, meski belum pernah mengalami secara langsung. Namun, ia cukup bisa memahaminya.

__ADS_1


"Iya, tahu gue."


Lingga mendesah panjang. "Pernikahan kita tinggal seminggu lagi, Ndu."


"Oh ya? Ya ampun hampir lupa gue, untung lo ingetin." Randu terkekeh sambil menggaruk kepalanya.


"Menurut lo gimana?"


"Apanya yang gimana?" Randu balik bertanya karena tidak paham dengan maksud Lingga.


Lingga meraup wajahnya sambil mengambil posisi duduk di ruang tunggu, karena kebetulan ia masih harus mengantri saat hendak mengurus administrasi Vallery.


"Kenapa deh?" Randu menatap Lingga heran lalu duduk di sisi kirinya, "Vallery sama bayi kalian nggak papa, Ga. Kan gue tadi udah jelasin."


"Pernikahan gue..." Lingga menghela napas panjang, "menurut lo kondisi Vallery aman nggak sih nanti."


Randu mengangguk yakin. "Aman kok, insha Allah. Bismilah aja dulu. Cuma emang lo harus lebih perhatiin kondisi Vallery aja abis ini, dan yang paling penting pas acara nanti. Soalnya kan acara nikahan kan lama, tamu undangan pasti banyak, dari keluarga lo, rekan kerja lo, temen-temen lo, keluarga Vallery, temen-temen kampusnya. Banyak lah pasti, jadi pengantin kan katanya capek. Jadi, lo harus bener-bener perhatiin dia aja."


Lingga berpikir sejenak. Randu kemudian menepuk pundaknya, mengintruksi agar Lingga mengurus administrasi Vallery, karena kini sudah gilirannya. Lingga kemudian langsung berdiri dan menuju meja informasi untuk mengurus administrasi. Begitu selesai, ia kembali duduk di sebelah Randu. Pria itu terlihat sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Udah beres?" tanya Randu.


Lingga mengangguk.


Randu memasukkan ponselnya ke dalam saku sambil menatap Lingga heran. "Terus kenapa lo malah ikut duduk di sini lagi? Nggak langsung nyamperin Vallery?"


"Bentar, gue masih butuh konsultasi sama lo."


"Nanti aja lah, gue udah harus balik nih." Randu berdecak, "mau konsultasi soal apaan lagi sih lo?"


"Soal pernikahan gue."


"Gue nggak mau Vallery kenapa-kenapa karena kecapekan nantinya, Ndu."


"Terus mau lo apa? Ngundur pernikahannya gitu?" Randu melirik Lingga sinis, "lo jangan gila! Status kalian harus segera resmi," bisiknya kemudian.


"Lo bener, apa yang penting nikah sah dulu ya? Masalah resepsi nanti-nanti."


"Lah, kenapa lo tanya itu ke gue? Soal ginian yang perlu lo mintain pendapat ya, yang mau nikah sama lo." Randu segera menepuk pundak Lingga dan berdiri, "udah lah, gue cabut dulu. Hape gue dari tadi bunyi terus. Perlu ambil tindakan. Saran gue mending lo ajak Vallery diskusi, cuma gue mau bilang, nggak papa kok mau gelar resepsi nantinya. Ya, asal Vallery harus lebih hati-hati aja. Karena seperti yang gue bilang tadi, katanya nikah itu capek."


Setelah mengatakan itu, Randu langsung pergi. Sedangkan Lingga harus segera menemui Vallery.


"Kok lama?"


Lingga mengulas senyumnya, lalu membantu Vallery turun dari ranjang khusus pasien.


"Tadi antri."


"Dokter Randu udah pergi?"


Lingga menghentikan langkah kakinya dan menatap Vallery tidak suka. Apa maksud calon istrinya ini, kenapa malah menanyakan pria lain?


"Kenapa kamu malah nanyain pria lain?"


"Pria lain?" beo Vallery merasa lucu dengan pertanyaan Lingga, "dokter Randu itu temen kamu, Mas, kalau kamu lupa. Pria lain dari mana?"


Lingga tidak menjawab, pria itu hanya mengajak Vallery segera pulang. Di dalam mobil Lingga memilih banyak diam tidak seperti biasa. Menurut Vallery, sikap Lingga sedikit berbeda.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kok nggak kayak biasanya?"

__ADS_1


"Emang biasanya gimana? Perasaan gini-gini aja."


Vallery hanya bisa memutar kedua bola matanya malas, saat mendapat jawaban dari Lingga. Ia memilih tidak bertanya lebih setelahnya.


"Vallery," panggil Lingga tiba-tiba.


"Hm."


"Gimana kondisi kamu?"


Vallery menoleh ke arah Lingga dan memastikan ekspresi pria itu, tak lama setelahnya ia mengangguk dan menyatakan kalau dirinya baik-baik saja.


"Kenapa kamu tanya begitu, Mas? Ada yang salah?"


Lingga menggeleng sambil menyugar rambutnya ke belakang. "Aku hanya khawatir."


"Jadi itu yang bikin mood kamu nggak baik, Mas?"


Lingga kemudian mengangguk, mengiyakan. Ia benar-benar khawatir saat ini, meski Randu sudah menjelaskan kalau kondisi Vallery baik-baik saja. Perasaan khawatir itu tetap saja mengusik pikirannya. Dan itu membuat moodnya buruk.


Vallery terkekeh. Dalam hati ia tidak menyangka kalau calon suaminya ini seperhatian ini. Apalagi mengingat hubungan mereka yang sebenarnya menikah karena terpaksa.


"Enggak papa, Mas, kan dokter Randu udah bilang kalau kami baik-baik saja." Vallery tersenyum, menyakinkan Lingga kalau dirinya memang baik-baik saja seperti yang Randu katakan tadi.


"Tapi tetep aja aku khawatir, aku nggak mau bikin kamu menderita. Cukup kecelakaan ini, aku nggak mau lebih. Aku udah janji sama Mama kamu, kalau aku akan jagain kamu. Apalagi minggu depan kita nikahnya, menurutmu kamu akan baik-baik saja?"


Kening Vallery mengernyit tidak paham. "Maksudnya?"


"Aku takut kamu nantinya kecapekan sama nikahan kita nanti. Gimana kalau untuk resepsi kita undur?" usul Lingga tiba-tiba.


"Maksud kamu, kamu mau resepsi diadakan setelah bayi ini lahir?" Vallery langsung menggeleng tidak setuju, "aku nggak setuju. Kalau begitu, nanti kita ketahuan kalau aku udah hamil duluan, Mas. Ya emang begitu faktanya, tapi aku..." Vallery kehilangan kata-katanya, ia tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya sendiri. Mendadak ia malu dengan dirinya sendiri.


"Maaf, bukan gitu maksud aku, Vallery." Lingga mendadak merasa bersalah.


"Terus apa?" Tanpa sadar air mata Vallery jatuh, dengan sigap ia meraih tisu dan menghapusnya, "kamu mendadak ragu nikah sama aku? Aku kurang pantes jadi istri kamu?"


"Astaga, Vallery, kamu ngomong apaan sih? Enggak ada yang bilang begitu. Kamu jangan mikir aneh-aneh deh, aku nggak begitu."


Namun, Vallery terlanjur kesal. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela, menghindari tatapan Lingga.


"Tapi kamu kelihatan kayak ragu mau nikahin aku. Kamu bahkan minta resepsi diundur. Kamu cuma mau kita nikah siri sama aku? Lalu saat anak ini lahir kamu bisa ceraiin aku begitu kan?"


Lingga merasa frustasi sendiri. Ia berdecak geram, melihat ke sekelilingnya, lalu menepi di jalan yang agak sepi.


"Bisa kamu berhenti berpikir yang aneh-aneh?"


Raut wajah Lingga terlihat tak kalah kesal. Ia hanya khawatir dengan Vallery dan kandungannya. Hanya itu, tapi kenapa ia malah dituduh yang tidak-tidak begini. Jelas saja ia ikut kesal.


"Kamu sendiri yang bikin aku mikir aneh-aneh," balas Vallery ketus.


"Aku kenapa? Aku cuma minta pendapat kamu soal resepsi yang diundur, karena aku takutnya kamu kenapa-kenapa. Enggak lebih. Tapi kamu malah mikir yang aneh-aneh. Terus yang salah aku juga?"


Vallery diam. Lingga berdecak. Suasana dalam mobil mendadak hening. Tidak ada yang memulai percakapan lagi setelahnya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Maaf," ucap Lingga, yang pada akhirnya memecah keheningan.


"Aku mau pulang," balas Vallery tidak nyambung.


Lingga ingin memprotes. Namun, tidak ia lakukan. Kondisi Vallery sedang tidak begitu baik, begitu pun dengan moodnya. Jelas ia tidak boleh mencari masalah lebih. Yang ia lakukan hanya kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Vallery. Tidak ada percakapan lagi yang mengiringi perjalanan mereka. Keduanya sama-sama memilih diam dan menenangkan diri masing-masing.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2