
*****
Lingga secara reflek menghentikan langkah kakinya saat merasakan ponselnya bergetar. Buru-buru ia merogoh saku jasnya, nama Randu tertera pada layar.
"Kenapa?" tanya Lingga terdengar tidak ingin berbasa-basi.
Di seberang, Randu terdengar berdecak. "Mau ngingetin aja kali aja lo lupa. Nggak lupa kan tapi lo?"
Saat pintu lift terbuka, Lingga memilih untuk masuk terlebih dahulu. "Lupa apaan?"
"Anjir, lupa beneran lo?" Randu terdengar kembali berdecak.
"Bukan. Gue cuma nggak inget aja," balas Lingga santai.
"Sama aja, kampret." Di seberang Randu mendengus, "pokoknya kita tunggu di cafe biasa. Hari ini Wisnu ada di Jakarta dia mau ketemu sama kita, sekalian mau ngucapin selamat buat lo. Jangan sampai telat."
"Harus banget hari ini?"
Randu terdengar menghela napas lelah. "Iya, harus hari ini banget karena besok pagi-pagi doi mau balik ke Solo. Gue nggak menerima alasan sok sibuk lo."
Lingga terlihat kembali meragu. Dilirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sudah pukul setengah enam sore, ditambah macetnya jalanan ibukota, tanpa berkumpul dengan kawan-kawannya pun sudah dapat dipastikan kalau ia akan pulang terlambat. Apalagi kalau berkumpul dengan mereka.
"Kenapa dadakan banget sih? Tahu gini gue nelfon Vallery biar dia pulang ke rumah Papa atau Ibu gue."
"Wisnu udah woro-woro tadi siang, ya. Lo nggak baca?"
"Enggak. Gue sibuk."
Terdengar suara umpatan dari seberang. "Sialan!"
Lingga terkekeh. "Ya udah, gue kasih kabar Vallery dulu."
"Iya, begitu dapet izin langsung berangkat. Kita tungguin."
"Iya, bawel lo."
Begitu mengakhiri telfonnya dengan Randu, Lingga langsung menghubungi Vallery.
"Ya, halo, Mas. Kenapa?"
"Aku pulang telat boleh?" tanya Lingga.
"Lembur?"
Saat pintu lift terbuka, Lingga memilih untuk keluar dari sana terlebih dahulu. "Enggak, anak-anak ngajakin ngumpul. Boleh nggak? Kalau nggak boleh, aku langsung pulang."
"Boleh lah, ini aku juga lagi kumpul sama Nick dan Patricia. Nobar. Masa kamu mau kumpul sama temen kamu nggak boleh. Boleh banget, Mas. Mau sampai jam berapa terserah, yang penting tetep inget pulang. Oke?"
Lingga tersenyum sambil mengangguk, meski Vallery tidak dapat melihatnya saat ini. "Iya, pasti pulang. Kan udah ada yang nungguin di rumah, masa nggak pulang." ia kemudian masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ya udah, hati-hati, Mas. Aku mau lanjut nonton."
"Iya. Jangan tidur malem-malem."
"Siap, bos!"
***
"Gue nggak bisa lama-lama," ucap Lingga begitu pria itu sampai di Cafe tempat ia dan kawan-kawannya biasa berkumpul.
Randu berdecak kesal saat mendengar ucapan pria itu, Lingga bahkan baru sampai, bokongnya belum menyentuh kursi tapi sudah mengatakan tidak bisa berlama-lama.
"Baru juga nyampe, Bro." Randu melayangkan aksi protesnya.
"Perjaka mana tahu rasanya pengantin baru," ledek Gilang seraya tertawa.
Randu mendengus. "Pengantin baru dari mana," cibirnya kemudian.
"Sirik aja lo, Ndu."
"Kaga lah," sahut Randu tidak terima.
"Kaga salah tuh," timpal Gilang sambil tertawa puas.
Randu berdecak sambil melirik mereka secara bergantian. Ia suka kesal kalau sedang kumpul begini, ia yang selalu jadi bahan bullyan mereka.
"Kalian nggak boleh gitu sama gue, gue tuh anak yatim. Doa anak yatim tuh paling mujarab, jangan sampai kalian gue doain yang enggak-enggak," ancam Randu dengan wajah snewennya.
"Istri lo kenapa nggak lo ajak, Ga? Kan gue mau ketemu padahal, kok dateng sendiri."
"Dia di rumah, lagi kumpul sama temen-temennya. Ntar aja deh gue ajak pas nikahan lo. Mau nikah di mana lo?"
"Ya, di Solo. Calon gue kan orang Solo, Ga."
"Jadi, serius udah fix sama yang ini? Kata Gilang mahasiswa lo sendiri?"
"Terinspirasi sama drama yang mainin Reza Rahardian tuh pasti. Makanya mahasiswa sendiri mau dikawinin," celetuk Randu dengan nada meledek.
Wisnu yang mendengarnya jelas tidak terima. "Sialan! Enggak gitu ya."
"Terus kenapa?"
"Ya, gegara ceweknya cakep lah," sahut Gilang. Ia kemudian menoleh ke arah Wisnu, "bener kan gue?"
Dengan wajah malu-malunya Wisnu meringis. "Iya, imut-imut ngegemesin sih soalnya. Ya gue mau lah."
"Terus dia langsung mau gitu sama lo?" tanya Randu kepo.
Sambil tersenyum kecut Wisnu menggeleng. "Ya, enggak lah. Namanya cewek pasti jual mahal dulu, apalagi statusnya gue dosen pengajar dan dia mahasiswa. Dia nggak mau dikira yang enggak-enggak karena gue pacarin."
__ADS_1
"Terus kenapa sampai akhirnya mau?"
"Ya, namanya cewek. Selagi kita nunjukin keseriusan kita, lama-lama bakal luluh juga kan?"
Gilang langsung mengangguk, menyetujui. "Bener banget, bro, Febi dulu juga nggak mau kali sama gue. Pas udah pacaran aja gue ajak nikah juga nggak langsung mau dia, apalagi status gue waktu itu masih residen. Tapi karena gue nunjukin keseriusan gue dengan datang nemuin keluarganya, eh, luluh juga dia." ia terkekeh geli kala mengingat kembali masa lalunya.
Tak lama setelahnya Lingga ikut mengangguk dan menyetujui. "Gue juga, pas tahu Vallery hamil, dia juga nggak mau tuh gue nikahin."
"Loh, kenapa gitu?" tanya Wisnu keheranan, secara tampang dan isi dompet Lingga jelas tipe calon suami potensial. Perempuan mana pun pasti akan langsung berteriak kegirangan saat bule Jawa ini mengajaknya menikah. Ia yakin itu, tapi kenapa Vallery berbeda?
"Gap year-nya kejauhan, Nu," sahut Randu mewakili, "meski secara tampang dan isi dompet sangat memuaskan, tetep aja. Perempuan yang masih beranjak dewasa nggak mau kalau langsung dinikahi Om-om macem dia. Meski pada kenyataannya dia sedang mengandung buah hati itu Om-om."
Malu-malu Lingga mengangguk, membenarkan. Bagi Vallery keputusan untuk menerima pinangannya, bukanlah keputusan mudah.
"Terus sekarang hubungan kalian gimana?"
"Ya, enggak gimana-gimana. Lagi sama-sama belajar buat saling memahami dan mengerti satu sama lain."
Ketiganya mengangguk paham. Randu kemudian tiba-tiba bertanya, "Lalu gimana sama emosionalnya? Masih sensitif? Moodnya berubah-berubah?"
"Banget kalau itu, Ndu. Ya, kadang manis banget sampe bikin gue gemes, kadang juga nyebelin. Sama aja lah kayak perempuan pada umumnya. Cuma kadang suka mendadak lupa sendiri kalau abis marah. Kemarin aja pas gue nggak mau anterin dia yang harus nemenin calon ibu tirinya ngambek, eh, paginya lupa sendiri."
"Calon ibu tiri? Calon mertua lo?"
Lingga mengangguk, membenarkan.
"Yang cakep terus masih muda itu?"
Lingga meringis. "Iya, yang itu."
"Berapa sih umurnya?" tanya Randu kepo.
"Gue lupa sih berapa umurnya, cuma yang jelas lebih muda ketimbang kita."
"Anjir," seru mereka kompak.
Gilang langsung menepuk pundak Randu dengan tidak sabaran. "Buruan cari calon terus kawin, Ran! Tanda-tanda akhir zaman sudah bermunculan."
"Ujung-ujungnya tetep gue yang kena," desah Randu pasrah.
"Makanya cari calon, Ndu. Nggak bosen lo emang ngurusin pasien terus? Lo nggak pengen juga ngurusin istri lo sendiri yang hamil?"
"Tahu, kerja mulu lo. Lingga aja yang keliatannya paling nggak tertarik nikah tau-tau udah jadi bini orang dan bakal jadi Bapak. Masa lo gini-gini aja." Gilang menambahi ucapan Wisnu, "lo masih belum move on ya?"
Randu menatap Gilang dan Wisnu secara bergantian. Helaan napas panjang terdengar setelahnya. "Bro, bukannya gue belum move on. Tapi lo tahu lah kondisi gue, anggota keluarga gue tinggal Hana. Jadi, gue belum bisa mikirin ini sebelum gue jadi wali nikahnya. Jadi, bisa kalian berhenti ngeledek gue soal ini?"
"Enggak!" koor mereka kompak.
Randu berdecak lalu mengumpat kasar. "Emang sialan kalian semua!"
__ADS_1
**Tbc,
mohon maaf atas ngaretnya jam update ππ plis, masih butuh up satu bab lagi minimal, tolong dibantu ingetin ya semisal lupaπ**