
****
"Itu Kating kita masih aja naksir lo ya, Valle?" tanya Patricia begitu mereka sudah menjauh dari Raka, Kakak tingkat mereka. Kini keduanya sedang berjalan meninggalkan kantin.
Vallery menoleh sekilas saat Patricia menanyakan pertanyaan tersebut. Tak lama setelahnya perempuan itu kemudian mendengus. Ekspresinya terlihat malas untuk sekedar membahas hal itu, moodnya belum juga membaik perihal kedatangan tamu di rumahnya. Eh, ini ditambah Kating yang sok asik padanya.
"Mana gue tahu." Vallery mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Baginya itu sama sekali bukan urusannya. Masalah hidupnya sudah cukup membuatnya pusing, dan ia tidak berniat untuk menambahnya.
Patricia berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Heran gue, dari jaman Maba kan ngincer lo? Jelas-jelas lo tolak masih aja usaha, gue pikir udah nyerah loh. Soalnya gue lumayan sering liat dia sama Indri. Eh, tahunya, masih aja mau usaha."
"Udah lah nggak penting, nggak usah lo urusin. Nambahin beban pikiran aja," balas Vallery.
Tak lama setelahnya, Nick menyusul mereka dengan berlarian. Napasnya terdengar ngos-ngosan demi mengejar keduanya.
"Anjir, kalian, masa gue ditinggal?" protesnya kesal. Ia membungkuk dengan kedua tangan memegang lututnya, deru napasnya masih tersenggal. Susah payah ia mengatur napas agar terdengar kembali normal.
"Salah lo sendiri nggak langsung nyusul," sahut Vallery dengan wajah tak bersalahnya, di sampingnya Patricia mengangguk setuju.
"Iya, tahu, udah tahu kita males ama tuh Kating, lo-nya masih sok asik. Ya udah, kita tinggal lah. Salah sendiri nggak langsung nyusul. Ngapain dulu sih?"
Nick kembali menegakkan tubuhnya setelah dirasa pernapasannya mulai kembali normal dan tidak lagi ngos-ngosan. Kedua matanya melirik sang kekasih dengan tatapan sinisnya.
"Ya, menurut lo, gue mah cuma apa atuh, beb. Cuma adik tingkat, kalau gue ikut judesin kayak kalian, yang ada kelar langsung hidup gue. Kalian enak ciwi-ciwi dapet pemakluman dari mereka, lah gue?" Nick menunjuk dirinya sendiri, lalu melanjutkan, "bye! Kelar."
"Apaan sih lo? Lebay banget."
"Bukan lebay, Valle, tapi--"
Nick secara otomatis langsung menutup bibirnya rapat-rapat, saat Vallery secara tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya dan menyuruh mereka diam. Ibu hamil itu kemudian merogoh ke dalam isi tas dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
"Diem kalian semua! Jangan ada yang ribut, mertua gue nelfon," ucap Vallery memperingatkan kedua sahabatnya terlebih dahulu, sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo, Bu."
"Halo, sayang, gimana kabarnya kamu? Semua sehat-sehat kan?"
Vallery tidak langsung menjawab, kedua matanya malah melirik Nick dan Patricia yang ada di hadapan mereka. Keningnya mengkerut heran.
Namun, tak lama setelahnya ia membalas, "Iya, sehat, Bu. Ada apa tumben?"
"Ibu lagi gabut. Ini lagi nongkrong bareng Rissa. Kamu masih hari ini kuliah nggak sih?"
"Kulaih, Bu. Masuk pagi."
"Masih ada kelas lain?"
"Masih. Kenapa ya, Bu? Apa ada hal mendesak? Kalau ada, aku langsung pulang aja deh, nanti aku titip absen aja ke temen."
Lidiya terdengar berdecak tidak setuju. "Jangan dong, masa titip absen. Enggak, ibu nggak suka. Enggak ada urusan penting, ini ibu cuma mau ngajak aja kali aja nganggur, biar nggak bosen. Kan kalau ngumpul bertiga pasti seru." ada jeda sesaat sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "udah kalau gitu kamu lanjut aja ya. Maaf ibu ganggu."
"Enggak kok, Bu, sama sekali nggak ganggu. Soalnya juga belum masuk kelas lagi, ini baru aja dari kantin."
"Ya udah, belajar yang pinter ya, sayangku. Hati-hati juga kamu ya kalau jalan, inget sekarang lagi hamil."
"Baik, Bu."
"Ya sudah ibu tutup."
Setelahnya langsung terdengar bunyi sambungan terputus. Vallery langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Kenapa?" tanya Patricia kepo.
"Enggak papa, bukan urusan penting."
__ADS_1
Patricia dan Nick saling bertukar pandang lalu mengangguk paham. Ia tidak bertanya lebih lanjut karena Vallery terlihat tidak ingin membahasnya lebih.
****
Vallery pulang dari kampus saat menjelang maghrib dikarenakan tadi harus mengerjakan tugas terlebih dahulu. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, ia ingin segera mandi dan beristirahat. Sepertinya suaminya belum pulang karena mobilnya belum ada di garasi. Berarti teman suaminya itu juga mungkin tidak ada di rumah. Ia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah percaya diri kalau Carissa tidak ada.
Namun, ternyata ia salah. Perempuan itu ternyata ada di rumah, sedang asik mengobrol dengan mertuanya. Ada perasaan tidak suka saat melihat keduanya begitu akrab. Lidiya memang selalu baik padanya, tapi ia tidak merasa sedekat perempuan itu dan mertuanya. Keduanya nampak begitu asik mengobrol dan tidak menyadari keberadaannya.
Kedua perempuan itu baru menyadari keberadaannya, saat ia mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam," koor keduanya sambil menoleh ke arahnya, "baru pulang sayang? Naik apa tadi? Dijemput Pak Tarno?"
Vallery menggeleng lalu mendekat ke arah mereka. "Dianterin temen, Bu." ia kemudian langsung mencium punggung tangan Lidiya tak lama setelahnya.
"Temen?" beo Lidiya, "temen yang mana?"
"Temen yang biasa main ke sini, Bu. Perempuan."
Lidiya ber'oh'ria mengangguk paham. "Kenapa nggak minta dijemput suamimu? Tadi kalian naik apa? Motor?"
"Mobil, Bu. Mas Lingga belum pulang, ini paling baru keluar gedung, mau on the way pulang."
Lidiya mengangguk sekali lagi. "Ya sudah, lebih baik kamu segera ke kamar, mandi, bersih-bersih. Bentar lagi maghrib, nggak baik mandi malem-malem."
Vallery mengangguk paham lalu naik ke lantai atas. Ekspresi kesal tidak dapat ia sembunyikan begitu ia masuk ke dalam kamar. Ia kesal dengan keberadaan perempuan itu. Kenapa masih di sini sih? Kenapa tidak menginap di hotel seperti yang dibilang kemarin? Menyebalkan.
Dengan langkah sedikit tidak rela, Vallery akhirnya meraih handuk dan bergegas mandi. Setidaknya ia perlu menyegarkan diri.
Sementara di ruang tengah. Lidiya dan Carissa kembali asik mengobrol. Namun, obrolan mereka harus kembali terhenti karena kepulangan Lingga.
"Loh, kok udah pulang?" tanya Carissa dengan ekspresi herannya.
Pasalnya Vallery baru saja naik ke kamar dan tak lama setelahnya Lingga datang. Bukankah tadi Vallery bilang kalau Lingga baru saja keluar gedung, kok sudah nyampe?
"Sembarangan!" dengus Lidiya, "bukan nggak boleh, kita cuma heran. Vallery bilang katanya kamu udah baru keluar gedung, kok udah nyampe aja? Kamu bohong sama istrimu?"
"Vallery baru pulang?"
Carissa dan Lidiya mengangguk kompak. "Iya, paling masih mandi sih sekarang."
"Kalian berantem?" tuduh Lidiya dengan kedua mata menyipitnya.
Lingga menggeleng tegas. "Enggak kok." ia kemudian buru-buru meninggalkan ruang tengah menuju lantai atas dan mencari keberadaan sang istri.
Saat ia membuka pintu kamar, ia menemukan sang istri tengah berbaring di atas ranjang. Namun, masih mengenakan handuk kimononya. Lingga langsung berlari kecil menghampiri sang istri.
"Astaga, Vallery, abis mandi kok bukannya ganti baju malah rebahan dulu? Ayo, bangun dulu!"
Lingga kemudian duduk di tepi ranjang, dan berniat membantu Vallery bangun. Namun, ditolak perempuan itu.
"Aku lagi mager dan bad mood. Jangan pegang-pegang."
Lingga menghela napas panjang. "Bad mood kenapa sih? Patricia sama Nick berantem lagi?"
"Bukan."
"Terus kenapa?"
Vallery memilih tetap bungkam.
Lingga berdecak samar lalu menghela napas sekali lagi. "Aku bikin salah?" ia menoleh ke arah Vallery. Sang istri nampak meliriknya sekilas lalu beranjak bangun.
Dalam hati Lingga langsung dapat menyimpulkan kalau memang Vallery ngambek karenanya. Ia menggaruk kepalanya bingung.
__ADS_1
Habis bikin salah apa lagi nih gue? Batin Lingga frustasi.
"Sayang," panggil Lingga dengan nada manjanya.
Vallery memilih mengabaikannya. Ia mengambil baju ganti dan masuk kembali ke kamar mandi. Hal ini membuat Lingga melotot kaget.
"Loh, mau ngapain?"
"Ya mau ganti baju lah. Nggak lihat ini bawa baju?"
"Ya, kenapa harus ke kamar mandi segala? Biasanya juga di sini."
Vallery memilih tidak menjawab dan masuk ke kamar mandi begitu saja, tanpa memperdulikan ekspresi heran Lingga.
"Astaga, bikin salah apaan sih lagi sih? Perasaan kemarin udah baikan deh. Ngambek gegara apa lagi nih?"
Merasa tidak cepat menemukan jawaban, Lingga kemudian bangkit berdiri dan memilih keluar kamar untuk mencari keberadaan sang ibu.
"Bu, Ibu! Ibu di mana?" teriak Lingga sambil menuruni anak tangga dengan cepat.
"Ibu di dapur," balas Lidiya ikut berteriak.
Lingga kemudian bergegas menuju dapur.
"Ibu tadi ngomong apa sama Vallery?" tuduh Lingga tiba-tiba.
Lidiya langsung menghentikan kegiatan menata meja makan untuk mereka makan bersama nanti. Ekspresi tersinggung tergambar jelas pada wajahnya.
"Maksud kamu apa?"
"Vallery ngambek, Bu."
"Terus hubungannya sama Ibu apa?"
"Ya, kali aja Ibu ngomong apa gitu ke Vallery, makanya ngambek dianya."
"Enggak, ibu nggak ada ngomong apa-apa. Ibu bahkan belum ngobrol sama dia. Istrimu baru sampe rumah terus ibu suruh mandi dan bersih-bersih, itu doang. Enggak ada ngomong apa-apa. Kamu kalau bikin salah, ya akui, kenapa malah marah-marah ke ibu?" protes Lidiya tidak terima. Niatnya ke sini karena ia sedang merasa kesepian di rumah, eh, malah sang putra sulung menuduhnya yang tidak-tidak. Jelas saja ia merasa kesal.
"Terus kenapa dia ngambek?"
"Ya, mana ibu tahu, Lingga. Kan ibu baru datang hari ini. Coba kamu inget-inget, siapa tahu kamu ngelupain sesuatu."
Lingga menggeleng yakin. "Enggak ada, kita udah baikan kok."
"Hormon hamil mungkin," sahut Carissa sambil menuang sayuran ke dalam wadah, "kan katanya hormon hamil suka berubah-ubah, apalagi istri kamu masih muda jadi masih labil gitu emosinya."
"Nah, bisa jadi tuh, udah sana kamu naik ke kamar lagi. Minta maaf gitu kalau kamu bikin salah."
Ekspresi Lingga terlihat tidak begitu setuju. "Tapi Lingga nggak ngerasa bikin salah."
"Ya apa susahnya ngalah? Biasanya Ibu suka luluh dan lupa marahnya kalau Ayah kamu udah minta maaf."
Lingga memasang wajah cemberutnya. "Vallery bukan Ibu. Dia bisa ngamuk kalau aku minta maaf tapi nggak tahu salahnya aku di mana."
"Astaga, ribet banget sih kalian!" Lidiya berdecak frustasi, "ya, usaha apa gitu. Biasanya kamu ngapain kalau Vallery ngambek. Sana naik ke atas! Mandi, bersih-bersih."
Dengan ekspresi tidak relanya, Lingga akhirnya meninggalkan dapur menuju kamarnya kembali. Saat ia sampai di kamar, Vallery tampak duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.
"Udah sore kok keramas?"
"Kenapa nggak boleh?"
Lingga langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Kok ngegas ya? Batinnya merasa ngeri.
Tbc,
__ADS_1
kelupaan gk up kirain bakal ada yg nyari, eh, tahunya enggak 🤣🤣🤣🤣🤣