Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
92. Hampir Ribut Lagi?


__ADS_3

****


Kondisi Vallery kini sudah cukup stabil, ia kini sudah dipindahkan ke rawat inap biasa. Saka sendiri untungnya tidak rewel meski yang menjaga harus bergantian. Dan untuk masalah pelaku pihak berwajib masih terus berusaha mengumpulkan bukti. Sebenarnya kalau saja Vallery mau memberikan keterangan siapa pelaku yang telah melakukan ini terhadapnya, semua masalah akan selesai. Namun, sayangnya sejak sadar kemarin Vallery masih memilih bungkam dan tidak mau menyebut siapa si pelaku. Yang Vallery tanyakan hanya Saka, Saka, dan Saka. Perempuan itu seolah tidak memikirkan hal lain selain kondisi sang putra, yang sebenarnya baik-baik saja.


"Mas, kapan kita pulang? Aku udah nggak sabar pengen ketemu Saka. Aku udah kangen banget sama dia," rengek Vallery. Bibirnya cemberut mengingat keadaannya yang belum bisa bertemu dengan sang putra.


Kondisi Saka masih tergolong rentan, jadi tidak bisa sembarangan diajak ke rumah sakit demi memenuhi kerinduan sang ibunya.


"Iya, sebentar lagi. Nunggu kamu sehat dulu dong, sayang. Makanya kamu makan yang rajin, biar cepet sembuh. Ayo, A, buka mulutnya," intruksi Lingga menyuruh Vallery segera membuka mulut. Sesendok bubur ia dekatkan pada bibir Vallery, namun sang istri tidak kunjung membuka mulutnya.


"Mau telfon Saka dulu," rengek Vallery.


Lingga berdecak kesal, kesabarannya mulai menipis. Ia menolak dengan tegas. "Enggak ada, kita baru telfon sama Saka sejam yang lalu, Vallery. Sekarang dia lagi tidur, nanti kebangun kasian. Dia gampang kebangun kalau denger suara. Udah, sekarang makan dulu, biar cepet sembuh terus bisa cepet pulang."


Ekspresi Vallery berubah sedih, kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Dalam hitungan detik Lingga dapat memastikan kalau istrinya ini akan menangis dan benar saja, ia baru menghitung sampai dua dan air mata sang istri sudah jatuh.


"Kamu mana ngerti perasaan ibu yang kangen anaknya."


Lingga menghela napas panjang. "Kamu juga mana paham gimana perasaan suami yang lagi pusing bujuk istrinya nggak mau makan, padahal jelas-jelas ia juga kangen sama anaknya tapi ia harus stand by di dekat sang istri karena kondisi istrinya yang lagi sakit. Yang kangen Saka nggak cuma kamu, Vallery, aku juga. Kamu pikir aku bujuk-bujuk kamu begini biar apa? Biar kamu cepet sembuh dan biar kita cepet bisa kumpul lagi sama Saka. Aku tahu kamu sedih dan bersalah karena nggak bisa ketemu dia, tapi kamu juga harus tahu, di sini aku juga sedih. Aku harus bagi perhatian aku ke kamu, Saka, dan kerjaan aku. Aku juga pusing, Vallery. Terlebih kamu juga nggak mau bilang siapa yang udah giniin kamu. Kamu tahu gimana stress dan hampir gilanya aku sekarang?"


Vallery diam dengan ekspresi menunduknya. Ada perasaan bersalah yang terselip pada dirinya. Ia tidak menyangka kalau sang suami akan mengatakan itu semua. Ia tidak menangis, ia hanya merasa bersalah.


"Ga," panggil Riana, ibu mertuanya itu menepuk pundak Lingga ragu, "kamu kayaknya capek banget deh, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Atau minimal kamu tidur dulu deh, biar aku yang bantu jaga Vallery.


Lingga tersenyum sambil sambil mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia tidak mengatakan apapun setelahnya, meletakkan mangkuk berisi bubur dan segera keluar dari kamar inap Vallery.


"Makan dulu, ya, Mama bantu suapin," tawar Riana.


Kondisi lengan Vallery masih belum boleh terlalu banyak bergerak, alhasil kalau untuk makan biasanya memang harus disuapi.


Dengan ekspresi pasrahnya, Vallery mengangguk. "Vallery keterlaluan banget ya sama Mas Lingga, Ma?"


Riana menggeleng sambil menyuapi. "Enggak, nggak usah terlalu dipikirin, suami kamu cuma lagi capek aja. Kamu kalau dikasih tahu sama suami yang nurut, apalagi kalau itu demi kebaikan kamu, sayang. Kasian dia, dia juga capek. Akhir-akhir ini dia kurang tidur, kamu lihat aja wajahnya kuyu banget gitu. Mama tahu kamu pengen cepet ketemu Saka, tapi kalau kamu-nya nggak rajin makan gimana mau ketemu Saka? Saka tuh masih rentan, jadi kalau kamu mau ketemu dia, kamu juga harus betul-betul sehat."


"Kenapa sih Mas Lingga masih ngotot pengen tahu siapa yang udah giniin aku, Ma?"


"Karena dia sayang sama kamu. Suami kamu nggak mau terjadi sesuatu sama kamu lagi, Nak. Dia khawatir sama kamu." Riana kembali menyuapi Vallery, "terus ini juga atas permintaan Papa kamu. Beliau ingin pelaku segera ditangkap, suami kamu pasti sedih karena masih membiarkan si pelaku berkeliaran begini."


Vallery menghela napas. "Aku sebenernya kesel banget emang, Ma, sama orangnya. Tapi di sisi lain aku juga kasian, gimana kalau Mas Lingga sama Papa masukin dia ke penjara?"


"Ya kalau dia bersalah, berarti harus dihukum kan?"


Vallery diam. Perasaannya bimbang. Apa sebaiknya ia mengaku saja siapa yang telah mencelakakan dirinya.


"Buka mulutnya lagi, A!"


"Ma,"


"Kenapa?"


"Aku mau kasih tahu siapa pelakunya, tapi bisa nggak ntar dia nggak usah dipenjara? Aku mau dia minta maaf aja sama aku, aku nggak mau seseorang di penjara karena aku--"


"Maksud kamu ngomong begitu apa, Vallery? Kamu nggak sayang sama aku dan Papa? Kamu tahu gimana usaha kami untuk menangkap pelaku?"


"Mas, aku sayang sama Papa sama kamu. Aku sayang kalian."

__ADS_1


"Kalau kamu sayang sama kami, apa harus kamu bilang begitu? Kamu mau kami membebaskan orang yang kami sayang, begitu? Kamu tahu gimana hancurnya perasaan aku saat melihat kamu terkapar di gudang dengan berlumuran darah kemarin? Kamu tahu gimana cemas dan khawatirnya aku, Vallery? Kamu nggak tahu kan? Kamu juga nggak mau tahu kan? Yang ada di pikiran kamu cuma Saka, Saka, dan sekarang kamu malah mikirin pelaku yang udah nyelakaiin kamu?"


"Ga, udah, Ga. Vallery masih dalam pemulihan, tolong kontrol emosi kamu!" tegur Riana mencoba untuk tetap tenang.


"Jujur sama aku, Vallery! Kamu sebenernya sayang beneran nggak sih sama aku? Apa kamu cuma terpak--"


"Lingga, udah cukup!" potong Riana dengan ekspresi marahnya, "aku bilang cukup, Ga. Bisa kamu berhenti memojokkan istrimu? Dia lagi sakit." ia kemudian mendekat ke arah Vallery dan mengelus pundaknya. Ia ingin memeluk sang putri, namun karena pundak Vallery sedang terluka maka tak ia lakukan.


"Enggak papa, sayang. Suami kamu lagi capek, dia nggak ada maksud ngomong begitu sama kamu. Kamu yang tenang, ya, jangan ikut terpancing emosinya," bisik Riana mencoba menguati Vallery, ia kemudian melirik ke arah sang menantu, "sekarang kamu keluar, Ga. Tenangin diri kamu, jangan masuk sebelum kamu merasa bener-bener tenang. Oke?"


"Sayang, maafin aku," sesal Lingga mulai merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau keadaannya akan begini, karena ia yang kehilangan kontrol emosi.


"Lingga, keluar dulu!"


Sambil mengangguk pasrah, Lingga kemudian langsung berjalan keluar dari kamar. Kepalanya terasa begitu berat. Ia benar-benar pusing menghadapi semuanya.


****


Setelah merasa lebih tenang, Lingga memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan lagi. Ekspresi Vallery terlihat masih menghindarinya, hal ini membuat Lingga kembali sedih. Demi Tuhan ia tidak ingin ribut dengan sang istri. Ia sudah terlalu lelah dengan semuanya.


"Sayang," panggil Lingga kemudian langsung duduk di sebelah Vallery, "maafin sikap aku tadi, aku nggak maksud bikin kamu sedih."


"Kami jahat tahu, Mas."


Lingga mengangguk tanpa memprotes. "Iya, aku jahat. Maafin, ya?"


"Enggak boleh gitu lagi?" Vallery melirik Lingga ragu-ragu. Sang suami langsung mengangguk yakin, "ya udah, aku juga minta maaf karena udah bikin kamu capek ngadepin aku."


Sebelah tangan Vallery kemudian terulur dan mengelus pipi sang suami. Perasaannya mendadak sedih melihat wajah kuyu Lingga, sang suami benar, dirinya memang ikut bersalah karena sampai tidak memperhatikan sang suami. Yang ada di pikirannya saat ini hanya kondisi sang putra, ia bahkan terkadang tidak memikirkan dirinya sendiri.


Tak terasa kedua pipi Vallery kembali basah, perempuan itu menangis. Dengan gerakan sigap Lingga langsung mengusap kedua pipi sang istri. Ia paling tidak suka melihat Vallery menangis.


"Udahan nangisnya."


"Maafin aku, Mas!"


"Udah, nggak papa, kita sama-sama salah. Kamu maafin aku, aku maafin kamu, tapi nggak usah nangis. Malu sama Saka aja yang nggak nangisan kok. Dia anteng banget, nggak rewel loh."


"Kapan kita pulang?"


Lingga berdecak sambil menatap sang istri dengan tatapan datarnya. Astaga, itu lagi?


"Secepatnya, semua tergantung sama kondisi kamu. Kalau kondisi kamu belum membaik gimana dokter mau ngeizinkan kamu pulang?"


"Tapi aku udah baik-baik aja, Mas. Rawat jalan aja kenapa sih? Aku tuh bosen di rumah sakit terus, Mas."


"Makanya cepet sembuh," balas Lingga.


Vallery cemberut. Ia merasa kondisinya benar-benar sudah lebih baik. Ia tidak merasa pusing seperti kemarin, pokoknya kondisinya sudah berangsur membaik jika dibandingkan dengan kemarin. Meski belum bisa menggendong Saka, setidaknya ia ingin bersama dengan sang putra.


"Kamu nggak bisa ya, bilang sama dokter biar izinin aku pulang?"


Lingga menggeleng tegas sambil meraih tisu dan menyodorkannya pada sang istri.


"Mas," rengek Vallery setelah membersihkan hidungnya, ia kemudian menyerahkan bekas ingusnya pada Lingga.

__ADS_1


Pria itu menerimanya tanpa rasa jijik dan langsung berdiri untuk membuang tisu bekas itu.


"Enggak bisa, sayang. Aku lebih tenang kalau kamu di sini, kalau di rumah ntar siapa yang mau ngurusin kamu?"


"Ya, kamu lah, kamu kan suami aku. Masa aku diurus suaminya tetangga." Vallery kemudian melirik Lingga tajam, "kenapa? Kamu nggak mau ngurus istri kamu sendiri? Mau cari perempuan lain?"


"Pengennya, cuma--"


"Mas Lingga!" omel Vallery, ia mencubit pinggang Lingga dengan keras. Sehingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Sakit, astaga, kamu beneran masih sakit nggak sih? Kok cubitan kamu udah kenceng banget?" Lingga menunjukkan ekspresi tidak percayanya.


"Itu karena aku udah sembuh, Mas, makanya aku mau pulang."


"Tapi dokter belum kasih izin, sayangku."


"Ya, kamu minta aja, kan uang kamu banyak. Kalau kurang kamu bisa minta Papa aku, kalau kamu sungkan sama Papa, kamu bisa minta ke Ayah. Nanti juga bakal dikasih."


Lingga menghela napas panjang. "Ya udah oke, aku bakal minta izin sama dokter biar kamu dibolehin pulang."


"Yes, asik, ketemu Saka," seru Vallery kegirangan.


"Tapi ada syaratnya."


Ekspresi Vallery langsung berubah. "Apa syaratnya?"


"Kamu harus kasih tahu siapa pelaku yang udah bikin kamu begini."


Vallery nampak berpikir sebentar, hal itu tidak berlangsung terlalu lama. Tak lama setelahnya ia langsung mengangguk cepat.


"Oke, setuju."


Lingga terlihat terkejut dan tidak percaya. "Eh, serius?"


Vallery langsung mengangguk cepat. "Pulang dan ketemu Saka lebih berarti ketimbang apapun, lagian aku nggak mau bikin kamu sama Papa sedih. Aku sayang kalian."


"Makasih, sayang." Lingga kemudian berdiri dan bersiap memeluk Vallery. Namun, ditolak Vallery.


"Jangan peluk-peluk dulu dong, Mas, bahu aku masih sakit," protes sang istri.


Lingga langsung cemberut. "Katanya udah sembuh, udah nggak sakit, kenapa giliran mau dipeluk bilang sakit?"


"Iiih, maksudnya bukan gitu, Mas."


Lingga tertawa sambil mengangguk maklum. "Iya, iya, bercanda, sayang. Udah sekarang kamu istirahat dulu, aku kasih tahu Will biar dia lapor ke pihak yang berwajib kalau kamu udah siap memberi keterangan."


"Iya, nanti, tapi aku mau kamu bilang ke dokternya dulu. Kalau dokter nggak kasih izin aku nggak jadi kasih keterangan."


"Kok gitu?" protes Lingga tidak terima.


"Makanya bujuk dokternya biar aku dibolehin pulang, Mas."


Sambil mendesah pasrah Lingga akhirnya mengangguk setuju.


Tbc,

__ADS_1


spill, beberapa part menuju ending🤭🤭🤭


__ADS_2