
####
"Udah selesai packingnya?" tanya Lingga sambil menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk, "kan aku bilang tungguin aku. Biar aku bantuin." Ia berdecak tidak suka lalu duduk di tepi ranjang.
Vallery tersenyum sambil menutup retsleting pada kopernya. "Nggak papa, cuma tinggal beresin bajunya kok. Barang-barang yang lain udah aku packing tadi sore abis ngampus dibantuin Nick sama Patricia," jawabnya sambil sibuk memainkan ponselnya.
Lingga masih terlihat kikuk dan canggung. Dilirik Vallery yang kini masih duduk bersila di atas karpet bulunya, terlihat asik dengan dunianya sendiri, sedangkan dia dicuekin.
"Papa belum pulang? Kok tadi aku pas masukin mobil, mobilnya belum ada?"
Vallery hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon, fokusnya saatnya masih pada ponsel yang masih berada dalam genggamannya. Hal ini membuat Lingga tampak kebingungan untuk membangun komunikasi dengannya.
Tanpa sadar Lingga menghela napas berat, dan hal ini sukses membuat Vallery mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Perempuan itu berkedip beberapa detik kemudian tersadar akan sesuatu. Buru-buru ia meletakkan ponselnya.
"Mas Lingga laper? Butuh makan? Kopi? Atau... sesuatu mungkin?"
Lingga menggeleng sambil terkekeh. "Tidak, Vallery. Kamu sedang ngapain? Seru banget keliatannya?"
"Lihat-lihat aja. Bosen juga mau ngapain." Vallery kembali meraih ponselnya dan memainkannya.
"Mau keluar?"
Vallery menggeleng tanda tidak setuju. "Mager," jawabnya cepat.
Lingga meringis sambil garuk-garuk kepala. "Mau aku gendong?" tawarnya tiba-tiba, hal ini sukses membuatnya mendapat tatapan tajam dari Vallery.
"Mas Lingga kalau mau keluar, silahkan! Aku di rumah," ucap Vallery langsung bangkit berdiri dan memilih untuk berbaring di atas ranjang, "Mas Lingga udah ngantuk belom?" tanyanya sebelum menarik selimut.
"Kenapa?"
"Aku butuh quality time nih, pengen ngedrakor aku."
Lingga menerjap tidak paham. "Terus? Kamu minta dite--"
"Mas Lingga bisa keluar kamar enggak? Maksud aku, aku nggak mau kamu keganggu gitu sama aku yang nonton."
"Emang seheboh apa kamu sampai bikin aku terganggu?"
"Mas Lingga keberatan?" Vallery menatap Lingga dengan ekspresi datarnya.
Lingga menggeleng lalu bangkit berdiri. "Tentu saja tidak, ini kan kamar kamu. Ya sudah, aku keluar." Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengembalikan handuknya, lalu meraih tas kerjanya dan keluar kamar.
Karena bingung mau ngapain, akhirnya ia memilih untuk mengecek beberapa berkas yang belum selesai ia cek.
"Lingga sedang apa kamu? Kenapa di situ?"
Gerald bertanya dengan heran, saat ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Lingga masih sibuk dengan laptopnya. Dilirik arloji-nya, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Buru-buru Lingga berdiri untuk menyambut mertuanya dan mencium punggung tangan beliau. "Lagi cek laporan, Pa," jawabnya, "Papa habis lembur?" basa-basinya kemudian.
Gerald menggeleng. "Tidak. Saya habis dari rumah Riana."
Lingga tersenyum sambil mengangguk maklum.
"Kenapa kamu masih bekerja padahal sudah jam segini? Memangnya cek laporannya tidak bisa besok?"
"Anu..."
"Lingga, saya tahu kamu menikahi putriku karena dia mengandung anak kamu. Tapi bukan begini caranya, bagaimanapun kamu harus menunjukkan tanggungjawab kamu. Kamu suaminya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus memperhatikan putriku selayaknya istri yang kamu cintai. Tidak bisa begitu?"
"Tapi..."
"Saya tahu ini berat, tapi kamu juga harus tahu dan sadar. Ini juga tidak mudah untuk Vallery. Dia tetap akan menjadi yang paling menderita. Kamu harus ingat itu! Jangan seenaknya saja!"
"Saya..."
Gerald mengibaskan sebelah tangannya. "Sudahlah, saya lelah. Mau istirahat duluan. Kamu juga sebaiknya segera istirahat."
Mau tidak mau Lingga akhirnya mengangguk pasrah. "Baik, Pa, Lingga akan langsung istirahat setelah ini."
"Memang harusnya begitu. Apalagi kamu sudah tidak semuda itu."
"Maaf, Pa?"
Gerald menggeleng. "Saya duluan," pamitnya kemudian.
"Silahkan, Pa!"
Sambil menghela napas sekali lagi, Lingga kemudian mematikan laptop, dan membereskan barang-barangnya kemudian segera beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya dan juga Vallery.
Saat ia sampai di kamar, Vallery terlihat sudah terlelap. Ponselnya masih terdengar menimbulkan suara, dan saat ia mendekatinya untuk memastikan, ternyata memang masih menyala. Sepertinya Vallery tertidur saat sedang menonton. Lingga berdecak sambil geleng-geleng kepala lalu mematikan ponsel Vallery.
Setelahnya ia baru berbaring di samping Vallery, mematikan lampu dan menyusul tidur.
###
"Sering-sering main ke sini meski sudah punya rumah sendiri," pesan Gerald saat putri semata wayangnya hendak berpamitan dengannya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca, seperti tidak rela melepas putri semata wayangnya untuk pria lain, "jangan lupain Papa!"
Vallery berdecak tidak suka lalu mengurai pelukannya. "Apaan sih, Pa. Aneh-aneh aja ngomongnya, lagian Vallery nggak pindah jauh, masih di Jakarta juga. Nanti kalau Vallery nggak bisa main ke sini, Papa yang main ke rumah kami, ya?"
"Enak aja, kalian lah yang harusnya main ke sini. Masa Papa?" protes Gerald tidak setuju, "sudah lah, buruan berangkat nanti keburu siang. Macet."
Vallery mengangguk paham lalu memeluk Gerald sekali lagi. Tanpa ia sadari air matanya turun. Ia terbahak tak lama setelahnya.
"Ah, udah ah, Vallery pamit." Sambil mengusap pipinya, Vallery memilih untuk segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kami pamit, Pa." Kini giliran Lingga yang berpamitan, setelah mencium punggung sang mertua, ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Jaga putri dan cucuku baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya," pesan Gerald.
"Baik, Pa."
"Rasanya berat banget ninggalin rumah, nggak nyangka kalau aku bakal dibawa suami aku pergi secepat ini," guman Vallery sambil membersit ingusnya menggunakan tisu.
"Ya ampun, suami?" Ia tertawa sumbang, "nggak nyangka gue udah punya suami aja."
Kini mereka sudah berada di mobil, dalam perjalanan menuju rumah Lingga yang kini akan menjadi rumahnya juga.
Vallery menoleh ke arah Lingga. "Kenapa sih kamu langsung ajak aku ke rumah kamu?" protesnya dengan ekspresi cemberutnya, "aku kan belum siap pisah sama Papa."
Lingga menggaruk kepalanya salah tingkah. "Haruskah kita putar balik?" tanyanya ragu-ragu.
Vallery menggeleng. "Nggak usah," tolaknya kemudian, "ngomong- ngomong nanti pembagian kamar gimana?"
"Aku ikut kamu."
"Hah?" seru Vallery spontan.
"Kenapa?" tanya Lingga bingung, beberapa detik kemudian ia baru tersadar, "maksudku, semisal kamu mau kita tidur bersama, ya, ayo. Tapi kalau kamu maunya kita tidur di kamar terpisah dulu pun tidak papa."
Vallery mengangguk. "Sepertinya tidak cukup memungkinkan kalau kita tidur bersama. Lebih baik kita tidur di kamar terpisah dulu aja, ya, Mas? Aku tahu kamu juga butuh privasi."
Lingga mengangguk tidak masalah. "Ya sudah, kalau kamu merasa nyamannya begitu, kita tidur di kamar terpisah saja untuk sementara, aku juga sudah menyiapkan kamar untukmu."
Vallery langsung mengacungkan jempolnya. "Ada peraturan di rumahmu tidak? Semisal harus begini dan nggak boleh begitu?"
"Rumah itu sudah jadi rumahmu juga, jadi berhenti menyebut kalau itu hanya rumahku. Kamu istriku."
Ekspresi Vallery berubah berbinar. "Jadi aku bebas melakukan apapun di sana?"
Lingga mengangguk. "Asal kamu tidak melanggar norma dan agama, aku rasa tidak masalah."
"Oke, siap laksanakan, Bos!"
"Tapi kamu harus ingat kalau kamu sedang hamil, Vallery. Aku harap kamu tahu batasan, mana yang boleh kamu lakukan dan yang mana enggak boleh dilakukan."
"Oke, deal."
Lingga menaikkan sebelah alisnya heran. "Kita sedang tidak membuat perjanjian, Vallery." Sambil terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Benarkah? Maaf deh kalau begitu."
______
Vallery masih merasa aneh saat kembali ke rumah Lingga. Padahal jelas-jelas ia pernah ke sini. Bahkan sudah terhitung lebih dari dua kali. Selain malam panas itu, ia bahkan pernah berciuman lagi dengan pria itu. Tapi kenapa setelah menikah ia malah merasa canggung? Perasaannya mulai khawatir karena ia akan menghabiskan seumur hidupnya bersama pria ini. Ya Tuhan, membayangkannya mendadak membuat pipinya bersemu merah. Mampukah ia bertahan?
"Mas, kita benar-benar akan tidur di kamar terpisahkan?" tanya Vallery gugup.
Vallery meringis canggung sambil menggeleng.
Dengan wajah jahilnya, Lingga mendekat ke arah Vallery. "Kenapa? Kamu gugup, Sayang?" Tangannya membelai pipi Vallery dengan gerakan sensual, "bukannya kita sudah--"
"Mas!" potong Vallery galak, wajahnya tampah merah padam karena menahan malu, "jangan godain aku!"
Lingga tertawa. "Kenapa? Kamu takut tergoda?"
Vallery menatap Lingga sengit. "Kenapa aku harus takut tergoda sama suami sendiri? Enggak lah!" Ia kemudian segera meninggalkan Lingga dan masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.
"Jangan lari, Vallery! Kamu sedang hamil," teriak Lingga memperingatkan.
Vallery enggan menoleh, ia hanya melambaikan sebelah tangannya dan terus melangkah. Bedanya ia kini hanya berjalan santai, sehingga Lingga dengan cepat bisa menyusulnya.
"Kamarku yang mana?"
"Di atas. Sebelahan langsung sama aku."
Vallery mengangguk paham lalu segera naik ke lantai atas. "Aku nggak bantuin bawa kopernya kan?"
"Enggak usah, kamu langsung istirahat saja."
"Suami idaman," puji Vallery sambil memamerkan senyuman terbaiknya.
Saat ia sampai di kamarnya, ia cukup terkesan dengan desain interior yang Lingga pilih. Sepertinya pria itu sengaja merenovasi untuknya. Tanpa sadar ia tertawa.
"Gimana? Suka nggak sama kamarnya?"
Tak lama setelahnya Lingga masuk ke dalam kamarnya sambil mendorong koper milik Vallery.
Vallery mangguk-mangguk. "Not bad lah. Kamu renovasi gara-gara aku bakal pindah ke sini?" tanyanya kemudian.
Lingga terlihat salah tingkah sambil meringis. "Iya, aku renovasi dikit soalnya kamu bakal tinggal di sini. Kamu mungkin akan bosen kalau pakai interior yang lama. Kasian bayi kita, aku nggak mau dia bosen juga."
Vallery merasa cukup terkesan dengan sikap Lingga. Sesaat ia tidak perlu menyesal karena sudah terlanjur menikah dengannya. Sepertinya ia harus banyak-banyak bersyukur di balik musibah yang menimpanya.
"Calon Papa yang baik. Perhatian banget sama ibu dan calon bayinya." Vallery tersenyum sambil melirik Lingga, ia kemudian memilih untuk duduk di tepi ranjang. Tak lama Lingga ikut bergabung di sampingnya.
"Mas," panggil Vallery tiba-tiba.
Lingga buru-buru menoleh ke arah Vallery. "Ya? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya terdengar perhatian.
Vallery menggeleng. "Kamu nggak mau keluar kamar?"
"Hah?"
__ADS_1
Vallery meringis. "Aku butuh istirahat deh kayaknya, aku agak ngerasa capek soalnya."
"Oh, iya, aku keluar duluan." Buru-buru Lingga segera berdiri dengan salah tingkahnya, "kalau butuh sesuatu aku ada di kamar sebelah. Ketuk aja. Aku pergi."
"Ya, makasih, Mas."
"Anjir!!! Kenapa gue deg-degan cuma gegara duduk berduaan sama suami sendiri? Demi Tuhan kita udah resmi jadi suami istri, kenapa malah canggung gini deh. Perasaan sebelum nikah kita malah nyaris berbuat dosa lagi," jerit Vallery histeris dengan sikapnya sendiri. Ia bahkan sampai mengetuk kelapanya, "ya Tuhan sebenernya gue kenapa?"
"Kenapa kamu ngerasa nggak enak badan? Mau periksa?" Tanpa Vallery duga, Lingga tiba-tiba membuka pintu kamarnya lagi dan menyempulkan kepalanya, "aku denger tadi kamu kayak teriak?"
Wajah Vallery berubah panik. "Emang masih kedengeran?"
Dengan wajah polosnya Lingga mengangguk. "Samar-samar masih kedengeran soalnya aku masih di depan pintu."
"Oh."
"Yakin kamu nggak papa?"
Vallery menggeleng, untuk meyakinkan Lingga. Tak ingin membuang waktu, ia segera mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya, sebelum otaknya semakin kacau.
--------
Tok Tok Tok
"Mas!" panggil Vallery. Sebelah tangannya memeluk perutnya yang terasa lapar, sedangkan yang satunya untuk mengetuk mengetuk pintu.
Butuh waktu sedikit lebih lama sampai akhirnya pintu pun terbuka dan menampilkan Lingga yang baru saja selesai mandi. Rambutnya bahkan terlihat masih menetes.
"Kenapa?"
"Aku laper," rengek Vallery dengan ekspresi cemberut dan sebelah tangan yang memeluk perutnya sendiri, "aku abis dari dapur tapi nggak ada apa-apa. Kamu gimana sih, Mas, bela-belain ngerenovasi kamar untuk aku tapi masalah penting malah kamu abaikan. Kamu mau aku kenapa-kenapa," gerutunya kemudian.
"Ya, enggak lah, aku kemarin udah minta Ibu buat ngeisi kulkas. Nggak ada apapunkah?"
"Enggak ada."
"Serius?" Lingga terlihat tidak percaya, "masa Ibu lupa," gumannya kemudian. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya kembali mencari ponselnya, Vallery langsung mengekor di belakangnya.
"Enggak."
Lingga langsung menoleh ke arah Vallery, gerakan jarinya pada layar ponsel mendadak terhenti.
"Ada bahan makanan di kulkas sebenernya. Cuma..." Vallery mendadak ragu untuk melanjutkan kalimatnya sendiri.
Hal ini membuat Lingga terkekeh gemas. "Kamu nggak bisa masak?"
Ekspresi Vallery berubah cemberut. "Aku masih 19 tahun, Mas. Aku anak tunggal, di rumah udah ada Bik Jum yang siap masakin apapun buat aku. Jadi wajar kalau aku belum tertarik buat masak, karena di otak kami isinya seneng-seneng," akunya jujur. Ia sedikit malu sebenernya mengakui kelemahannya tersebut, tapi mau bagaimana lagi.
Ekspresi Lingga berubah, senyumnya pudar, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menghantamnya. Harus ia akui Vallery benar, kebanyakan dari mereka memilih untuk bersenang-senang, apalagi dia anak tunggal dari keluarga cukup berada, sudah jelas kehidupannya dimanja oleh orang tuannya. Tapi di sini yang terjadi ia malah merenggut kebahagiaannya.
"Mas!"
Lamunan Lingga buyar. "Kenapa?"
"Mas Lingga malah ngelamun? Aku panggilin dari tadi juga malah bengong."
Lingga mencoba memaksakan senyumnya. "Maaf, tadi kamu ngomong apa?"
"Keringin dulu itu rambut kamu."
Lingga mengangguk paham lalu meraih handuk yang tersampir di meja. "Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk tersebut.
Vallery mengangkat kedua bahunya lalu duduk di tepi ranjang. "Apapun itu asal bikin kenyang."
Lingga mengangguk paham lalu mengajak Vallery untuk segera turun ke bawah.
"Kamu bisa masak, Mas?"
Lingga mengangguk. "Meski nggak terlalu jago, tapi bisa kok. Tapi aku udah lama nggak masak. Biasanya aku delivery." ia memandang Vallery ragu, "apa mau delivery aja?"
Bibir Vallery mengerucut sedih. "Kalau delivery kelamaan nggak sih? Aku udah laper nih."
"Ya udah, aku masakin kalau gitu."
"Bisa dimakan kan? Nggak bikin sakit perut?" tanya Vallery terdengar khawatir.
"Ya, semoga aja bisa dimakan. Tenang aja, aku pernah ambil kelas masak waktu kuliah dulu."
Vallery berdecak kagum. "Wow, atas inisiatif sendiri itu?"
Lingga tertawa. "Ya, enggak lah. Ibu yang nyuruh, soalnya boros kalau beli terus. Jadi biar bisa masak sendiri aku disuruh ambil kelas masak deh."
"Terus kamu langsung setuju, Mas, pas disuruh ambil kelas memasak?"
"Enggak lah, males awalnya, masa cowok ambil kelas masak, meski pada kenyataannya yang ngajar juga cowok sih. Awalnya aku nolak, tapi setelah lama kelamaan ya nurut juga, soalnya diancem." Lingga kembali tertawa mengingat tingkahnya di masa lalu.
Vallery mengangguk paham. "Berarti aku perlu dong ambil kelas memasak juga?"
"Kalau nanti-nanti mungkin perlu, tapi kalau sekarang-sekarang ini nggak usah dulu. Kan kamu masih hamil, nanti aja kalau udah melahirkan."
"Oke."
"Jadi, kamu mau dimasakin apa?"
"Apa aja lah, yang cepet. Nasi goreng juga nggak masalah."
Lingga langsung mengacungkan kedua jempolnya dan mengajak Vallery turun ke bawah.
__ADS_1
Tbc,