
###
Lingga sedikit menaikkan alisnya heran, saat tidak sengaja berpapasan dengan Patricia. Sahabat istrinya itu terlihat seperti habis menangis, saat ia menyapanya pun, gadis itu tidak mendapat respon seperti biasa. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang terjadi? Apa Patricia baru saja bertengkar dengan istrinya? Karena seingatnya sedari tadi Patricia yang menemani sang istri. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mempercepat langkah kakinya menaiki anak tangga menunju kamar mereka. Ia sedikit terkejut saat melihat kamar terbuka, dan ada Nick di dalam sana dengan wajah sendunya.
"Dia kenapa?" tanya Lingga sambil mendekati sang istri tanpa membuat suara.
Vallery hanya menggeleng sebagai jawaban. Mengkode sang suami agar tidak bertanya lebih dahulu.
Meski penasaran, Lingga pada akhirnya mengangguk maklum. "Turun makan dulu sana, Nick! Mumpung di bawah lagi pada makan rame-rame juga, jadi sekalian." Ia kemudian menoleh ke arah sang istri, "kamu mau makan sekarang atau nanti?" tawarnya kemudian.
Vallery menggeleng sambil mengelus perutnya yang membuncit. "Nanti aja, masih kenyang."
Lingga mengangguk paham sambil ikut mengelus perut sang istri. "Ya udah, aku ajak Nick turun makan dulu. Kamu di sini sendirian nggak papa kan?"
Vallery mengangguk sambil terkekeh. "Ya kali di rumah sendiri kenapa-kenapa, Mas, nggak papa lah. Biasanya kalau kamu kerja juga aku sendirian kan?"
Lingga mengangguk paham lalu berdiri sambil menepuk pundak Nick. "Ya udah, ayo, Nick, kita makan dulu!" ajaknya kemudian.
Nick ikut berdiri. Namun, ia kemudian menggeleng sebagai tanda penolakan. "Enggak usah, Bang, gue mau balik aja."
Lingga menghela napas pendek. "Iya, terserah lo mau langsung balik atau mau main dulu. Yang jelas lo harus makan dulu sebelum pulang," ucapnya terdengar tidak ingin dibantah. Yang langsung diangguki setuju oleh Vallery.
"Mas Lingga bener, Nick, makan dulu deh sebelum balik. Lo kan udah bantu-bantu banyak," ujar Vallery ikut menyahuti, "masa langsung pulang. Makan dulu lah!"
Dengan wajah memaksakan diri untuk tersenyum, Nick menggeleng tegas. "Enggak deh, Valle, Bang. Thanks buat tawarannya, tapi gue mau langsung pulang aja," tolaknya halus.
Vallery dan Lingga bertukar pandang sesaat sebelum akhirnya keduanya mengangguk pasrah, membiarkan Nick melakukan apa yang dia suka.
"Ya udah, terserah lo."
"Perlu gue antar?" tawar Lingga terdengar ragu, melihat ekspresi wajah kacau Nick membuatnya tidak tega. Ia khawatir kalau Nick tidak dapat mengemudi dengan konsentrasi.
Sambil terkekeh miris, Nick kembali menggeleng. "Gue bawa motor, Bang. Santai aja. Gue nggak papa kok, ya namanya hubungan pasti ada ribut-ributnya kan? Kalian juga begitu kan?"
"Justru karena lo bawa motor, dan lo nggak terlihat baik, Nick. Lo bikin istri gue khawatir." Lingga berdecak sambil menoleh ke arah sang istri, "tega lo bikin istri gue khawatir?"
Nick menghela napas sambil menoleg ke arah Vallery. "Gue baik-baik aja, Valle, yang perlu lo khawatirin itu Patricia bukan gue."
"Sahabat gue kalian berdua, ya mana bisa gue khawatir ke salah satunya aja."
Nick mengangguk paham lalu mengubah ekspresinya sambil bertepuk tangan. "Oke, kalau gitu nggak usah khawatirin gue maupun Patricia, lo fokus ke acara empat bulanan lo nanti malam. Habis ini gue bakalan nemuin Patricia buat ngomong ke dia. Gue pastikan malem ini kelar dan kita bakal ke sini bareng-bareng buat slametan calon anak lo. Puas?"
"Oke. Gue pegang kata-kata lo ya, Nick. Awas aja kalau sampai nanti malem kalian belum pada baikan, nggak bakal gue kasih izin kalian dateng kemari," ancam Vallery terdengar tidak main-main.
Nick mengangguk lalu pamit. "Nggak usah nganter gue."
"Dih, siapa juga yang mau nganter lo. Gue mau ke toilet, ya, nggak usah kepedean lo," dengus Vallery lalu beranjak ke toilet.
Nick terkekeh lalu menoleh ke arah Lingga dan menggoda pria itu. "Kok lo mau sih, Bang, sama yang model begituan?" Keduanya kemudian keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Lingga ikut terkekeh. "Ya, gimana, kan udah terlanjur keduluan. Lagian gitu-gitu calon ibu dari anak-anak gue, masa gue nggak mau." Ia kemudian menepuk pundak Nick, "jangan terlalu dipikirin omongan Vallery, kalau seandainya emang kondisi belum memungkinkan kalian untuk berbaikan, pintu rumah kami selalu terbuka buat kalian."
Nick mengangguk paham. "Thanks, Bang, gue seneng lo pria yang jadi suaminya Vallery, terlepas dari kesalahan yang pernah kalian perbuat dulu, gue tahu lo orang baik."
"Thanks juga karena udah percaya sama gue."
Dengan wajah santainya Nick menggeleng. "Gue sebenernya belum terlalu percaya sama lo, Bang, tapi melihat keyakinan Vallery selama ini yang bikin gue mulai percaya sama lo. Bagi gue, Vallery itu udah kayak saudara kembar gue. Jangan sakitin dia ya, Bang. Kalau lo ngelakuin itu, gue jamin, gue yang bakal maju paling depan buat hajar lo," ucapnya serius.
__ADS_1
Lingga hanya menanggapinya dengan tertawa, sebelum akhirnya ia membalas, "Ceramahin gue-nya kapan-kapan aja, Nick, sekarang lo urusin dulu tuh hubungan lo sama Patricia yang udah di ujung tanduk," ia memasukkan kedua tangannya di saku celana, "kalau gue lihat dari ekspresi Patricia tadi, kayaknya dia kecewa banget sama lo."
Nick menghela napas berat. "Soalnya gue yang bego, Bang."
Lingga menepuk pundak Nick, guna menyemangati pria itu. "Udah, nggak usah pasang wajah melas begitu, nggak cocok. Alumni player kok cemen," ia terkekeh sesaat kemudian mengimbuhi kalimatnya, "sebagai manusia wajar kok bikin salah. Asal lo ada niat buat berubah lebih baik aja. Jangan bikin salah dimaafin terus abis itu bikin salah lagi aja. Sesabar-sabarnya perempuan, mereka tetap akan ngerasain lelah juga ngadepin pasangan yang begitu. Kesabaran emang nggak ada batasnya, tapi selama menunggu sesuatu yang lama dan tanpa kepastian, bukankah kita tetap akan merasa bosan dan lelah?"
Nick tersenyum. "Dinasehatin yang lebih pengalaman soal kehidupan emang beda, ya, Bang, efeknya. Thanks banget loh, gue jadi berasa kayak punya Abang."
Lingga kembali terkekeh. "Gue juga serasa punya adek."
"Lah, bukannya emang lo punya adek beneran ya, Bang?" Nick terlihat keheranan.
"Ya, emang gue punya adek beneran. Tapi nggak tahu kenapa seringnya dia lebih berperan jadi Abang gue dari pada sebaliknya."
Detik berikutnya, Nick tidak bisa menahan seruan takjubnya. "Wah, dia berarti dewasa banget ya, Bang?"
Lingga menggaruk kepalanya. "Dewasa? Ya, kadang sih, iya. Tapi nggak jarang juga kok dia lebih kekanakan banget, ngalahin Arvin."
Nick merasa asing dengan nama yang Lingga sebut. "Siapa Arvin, Bang?"
"Ponakan gue, anaknya adek gue."
Nick ber'oh'ria sambil mengangguk paham. Tanpa sadar kini mereka sudah di halaman rumah Lingga, tempat ia memarkir motornya.
"Ya udah, gue langsung pamit, ya, Bang. Thanks buat nasehat lo tadi."
Nick kemudian memakai helmnya dan menaiki motornya. Lingga mengibaskan sebelah tangannya tanda tidak masalah.
"Udah buruan temuin Patricia!"
"Oke, Bang."
***
Setelah pulang dari Vallery, Nick memutuskan untuk langsung ke kostan Patricia. Berbeda dengan dirinya yang tinggal di apartemen, Patricia memang memilih untuk ngekost. Kalian jangan membayangkan kost yang dihuni Patricia seperti kost-kostan pada umumnya, karena jelas tidak.
Patricia terlahir dari keluarga berada seperti dirinya maupun Vallery, jelas tinggal di kostan mewah, benar-benar mewah untuk ukuran kost-kostan yang hanya dihuni oleh mahasiswa. Fasilitasnya juga nggak main-main, lengkap, semua ada. Masih ditambah bisa menikmati sensasi berenang di kolam renang, karena di sana memang tersedia kolam renang. Sementara kedua orangtuanya memutuskan kembali menetap di Belanda sejak ia lulus SMA.
"Lo ngapain nyusulin gue?" tanya Patricia.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar Patricia. Duduk berjauhan dengan pandangan sama-sama menunduk, menghindari tatapan dari masing-masing.
Nick tidak langsung menjawab, pria itu tampak sibuk dengan pikirannya diiringi helaan napas panjang selama beberapa saat. Sampai akhirnya ia membuka suara dan memanggil Patricia.
"Patricia."
Yang dipanggil langsung menoleh. Ekspresinya terlihat seolah sedang bertanya 'ada apa?'. Namun, ia tidak mengeluarkan pertanyaan tersebut.
Nick kembali menghela napas, hanya saja kali ini terdengar lebih berat, pandangannya masih menerawang jauh. "Selama kita pacaran, lo pernah bahagia nggak pas sama gue?" Ia menoleh ke arah Patricia.
"Lo tanya apaan sih, Nick? Nggak jelas banget," komentar Patricia. Nada suaranya terdengar tidak suka.
Lagi-lagi Nick kembali menghela napas. "Kayaknya lo bener deh, kalau emang kita cocoknya temenan aja. Pakai aku-kamu mulai aneh lagi nggak sih, Pat?" Nick terkekeh miris, "gue bilang begini bukan karena gue udah nggak sayang sama lo. Sampai sekarang, bahkan detik ini pun, gue masih sayang dan berharap perempuan yang bakal jadi istri gue kelak itu lo. Tapi kalau emang rasanya seberat itu untuk lo jalani barenga gue, gue rela ngelepas lo. Karena bagi gue kebahagiaan lo lebih penting dari apapun itu," ucapnya serius.
Sambil menahan pilu, Nick mencoba untuk tetap tersenyum. "Gue juga mau minta maaf soal yang tadi, maaf kalau selama lo jadi pacar gue, gue nggak pernah bisa bikin lo bahagia."
"Nick."
__ADS_1
Nick menggeleng. "Lo nggak perlu menghibur gue, di sini gue yang salah. Tapi meski begitu boleh gue minta permintaan? Tapi gue berharap lo nggak nolak permintaan gue."
"Apa?"
"Biarin gue peluk lo untuk terakhir-- Aduh!" Nick mengaduh kesakitan saat secara tiba-tiba Patricia memukul pundaknya, "kok gue dipukul sih?" protesnya tidak terima.
"Biar lo sadar diri! Maksud lo ngomong gitu apa? Lo bosen pacaran sama gue? Apa lo mau balikan sama mantan pacar lo itu? Hah? Jawab gue?!" amuk Patricia dengan wajah galaknya, "lo tuh, ya, Nick, bisanya cuma lari dari masalah. Lo pikir setelah kita putus semua kelar? Enggak!"
Nick berkedip sambil menatap lurus Patricia. "Jadi, sekarang mau lo apa?"
Patricia menghela napas sambil berkacak pingga. "Lo sebenernya sayang nggak sih sama gue, Nick?"
Nick tertawa. "Gila lo? Kalau gue nggak sayang sama lo, ya kali gue sampai ngejar lo ke sini." Ia menghela napas sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya, "lo tahu gue, Pat, gue tipe orang yang bisa pacaran sama siapa aja meski gue nggak sayang sama dia. Brengsek?" Nick mengangguk membenarkan ucapannya sendiri.
"Iya, bener banget. Lo bahkan tahu seburuk apa track record gue selama pacaran. Lo yang paling tahu, bukan gue yang mulai, tapi mereka. Gue sebagai laki-laki normal mana bisa nolak, ibarat kata kucing kalau disuguhin ikan asin langsung dimakan kan? Nah, gue begitu."
"Emang dasar lo, kucing garong," cibir Patricia dengan ekspresi kesalnya.
Tanpa menunjukkan wajah tersinggung maupun hendak protes, Nick mengangguk, membenarkan.
"Pat, kalau lo tanya apa gue sayang sama lo atau enggak, jawabannya pasti. Gue sayang dan cinta sama lo, melebihi rasa yang lo tahu."
"Kalau lo sayang dan cinta sama gue, apa lo bisa berhenti dan berubah demi gue?"
Nick mengangguk yakin. "Gue akan berubah, Pat, demi kebahagiaan lo maupun demi diri gue sendiri. Gue mau menjadi orang yang lebih baik, tapi lo harus tahu, Pat. Seseorang nggak bisa berubah dalam satu minggu atau dua minggu dengan cara instan, kalau pun bisa mereka bisa dengan mudahnya kembali ke kebiasaan sebelumnya. Begitu juga dengan gue. Gue perlu berproses, Pat, lo ngerti kan maksud gue? Gue perlu kesabaran lo untuk menemani berprosesnya gue. Apa lo masih sanggup?"
Patricia berpikir sejenak kemudian menoleh ke arah Nick dengan ekspresi wajah bingungnya. Gadis itu terlihat begitu ragu-ragu saat hendak membuat keputusan.
"Lo cukup ngingetin gue kalau gue salah, Pat. Kalau gue mulai bersikap keterlaluan lagi, tugas lo adalah negur gue."
"Gimana kalau lo bakal nyakitin hati gue lagi, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya? Gimana lo bakal nyembuhin luka ini, Nick? Gimana?"
Nick menghela napas sambil mendekati Patricia. Diraih sebelah tangan gadis itu lalu digenggamnya erat.
"Lo tahu semua ini dari awal, Pat. Lo tahu gue kayak apa, harusnya lo tahu beberapa resiko yang bakal lo hadepin."
Tanpa sadar air mata Patricia jatuh, Nick dengan sigap langsung menghapusnya dengan ibu jari miliknya.
"Tapi gue nggak tahu kalau rasanya bakal seberat ini, Nick."
Nick tidak berkomentar apapun, karena yang dilakukan pria itu hanya menarik tubuh sang kekasih ke dalam pelukannya.
"Sorry, gue nggak tahu kalau bagi lo memang seberat ini. Kalau emang berat lo harusnya cerita dari awal, Pat."
"Gue sayang sama lo, Nick, gue emang nggak mau putus sama lo. Karena gue takut bikin hubungan kita canggung nantinya kalau kita putus. Tapi menghadapi lo yang selalu berada di sekitar cewek-cewek itu juga berat buat gue, gue ngerasa suka nggak sanggup harus ngelanjutin ini. Gue bingung, Nick. Gue mau kasih lo kesempatan sekali lagi, tapi gue juga takut kalau lagi-lagi lo bakal ngecewain gue."
Patricia semakin meringsek ke dalam pelukan Nick, dengan lembut pria itu mengelus pundak sang kekasih. Ia merasa sangat berterima kasih dengan kejujuran Patricia yang mau lebih terbuka terhadapnya.
"Gue emang nggak bisa jamin kalau bisa berhenti bikin lo kecewa, Pat," Nick menggeleng, "secara sengaja maupun nggak sengaja lo pasti bakalan tetep kecewa lagi sama gue. Karena gue jelas nggak bisa ngebahagiain lo terus-terusan. Iya kan?"
Patricia mengangguk setuju.
"Jadi, menurut kamu gimana? Lebih baik kita putus atau terus?" Nick mulai mengurai pelukannya lalu mengelus pucuk rambut Patricia.
"Pakai lo-gue aja, Nick. Gue ngerasa lebih nyaman."
Nick meneguk saliva-nya susah payah. "Jadi, lo mau kita...?"
__ADS_1
Tbc,