Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
56. Kamu Marah?


__ADS_3

***


Tanpa menunggu dipersilahkan masuk oleh sang pemilik rumah. Randu langsung masuk ke dalam rumah Lingga begitu saja. Ia tidak memperdulikan Lingga yang kini terlihat masih sedikit shock dengan kedatangannya. Pria itu tetap melangkah masuk dengan percaya dirinya.


"Selamat pagi, bumil," sapa Randu saat masuk ke dalam rumah dan menemukan Vallery sedang asik dengan laptopnya, "lagi nugas?" tanyanya berbasa-basi, ia kemudian langsung duduk di sofa tanpa menunggu dipersilahkan.


"Dokter Randu ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Vallery dengan raut ekspresi herannya. Ia langsung menutup laptopnya dan meletakkannya di meja, "nyari Mas Lingga?"


"Mau minta sarapan," cengir Randu sok malu-malu, "santai aja, lo kalau mau lanjut nugas, ya silahkan! Eh, tapi ini kan minggu kan? Ngapain lo nugas? Udah lanjut besok aja, hari minggu tuh waktunya bersantai," imbuhnya mengompori.


Vallery sebenarnya setuju. Tapi kalau tugasnya tidak dicicil mulai sekarang pasti nanti akan menumpuk, apalagi kadang ia tidak bisa fokus nugas sewaktu-waktu seperti dulu lagi, karena harus melayani suaminya yang kadang suka minta aneh-aneh.


"Dokter Randu libur juga kalau minggu?"


Seketika ekspresi Randu berubah masam. Apa itu libur? Batinnya miris. Sejak mulai masuk fakultas, hari-hari yang ia lalui seolah sama saja. Mau minggu atau bukan, mau tanggal merah atau bukan, waktunya nyaris dihabiskan dengan belajar dan mengerjakan tugas. Bahkan setelah lulus dan bahkan sudah menyandang status dokter spesialis, semuanya sama saja. Bahkan kesibukannya kian bertambah, ia sampai kesulitan mencari waktu untuk masalah percintaannya.


"Ganti topik aja deh, Valle," ringis Randu sambil menepuk paha dan mengelusnya dengan ekspresi tidak menyenangkan, "ini Rissa mana? Udah selesai belum masaknya?" ia kemudian berdiri celingukan mencari sosok perempuan yang memintanya kemari.


"Tadi naik ke atas sih, dok, mau mandi katanya." Vallery kemudian menunjuk ke arah anak tangga.


"Duduk aja dulu," ucap Lingga saat masuk ke dalam rumah dan menemukan Randu sedang celingukan mencari sesuatu, "ngebet banget ketemu Rissa lo?"


"Lumayan. Dia di Indo rencana mau berapa lama?"


"Seminggu sih katanya."


Randu ber'oh'ria lalu kembali duduk. Tak lama setelahnya Carissa turun. Penampilannya tampak jauh lebih segar. Dress bunga-bunga di atas lutut membuatnya terlihat cantik dan menawan. Randu langsung berseru heboh saat melihatnya.


"Ya ampun, Ris, makin cakep aja lo? Makan apaan lo di Paris?"


"Pak Bidanku!" seru Carissa tidak kalah heboh, wanita itu langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukan Randu, "ya ampun, kangen. Wisnu nggak kamu ajak?" ia mengurai pelukannya dan mencium kedua pipi Randu secara bergantian, "astaga, masih bau antiseptik aja kamu, Ndu. Nggak berubah."


Randu langsung mengumpat samar. "Gue baru kelar shift malam, belum sempet mandi. Takutnya keburu abis masakan lo, makanya gue langsung cepet-cepet kemari."


Carissa tertawa sambil menepuk pundak Randu. "Bercanda. Sensi amat sih kayak nggak dijatah pacar."


"Pacar aja nggak punya, gimana jatah?"


"Aku sih siap kasih jatah, asal memuaskan aja," ucap Carissa sambil mengerling jahil.


Randu langsung mendengus. "Sorry, Ris, nggak suka gue bekas temen sendiri."


"Gimana dok?" tanya Vallery tidak paham.


Ketiganya mendadak langsung diam saat mendapat pertanyaan dari Vallery. Lingga melotot tajam ke arah Randu sedangkan pria itu hanya mampu memasang wajah menyengir tak berdosanya.


"Enggak, itu, anu, maksud gue tuh, Rissa pernah sama temen gue. Jadi gue ogah sama dia," ucap Randu menjelaskan.


Lingga langsung mengangguk, mengiyakan. Namun, Vallery tampak tidak puas dengan jawaban itu. Entah kenapa seperti ada yang mereka sembunyikan.


*****

__ADS_1


Semuanya sudah berkumpul di meja makan yang ada di dapur Lingga. Baik Vallery, Carissa maupun Randu sudah duduk di kursi masing-masing. Kurang Lingga yang kini masih sibuk membuatkan susu hamil untuk Vallery.


"Ini boleh nggak gue mulai duluan? Gue udah pengen tidur nih. Semalem nggak ada waktu tidur sama sekali. Mata gue berat banget rasanya," keluh Randu.


Carissa berdecak sambil melotot ke arah Randu. "Tunggu bentar dong, Ndu. Yang punya rumah aja belum kok, kamu udah nggak sabaran aja."


"Gue ngantuk, Ris. Astaga!" decak Randu dengan wajah memelasnya.


Wajahnya memang cukup memprihatinkan. Wajah kuyu, kantung mata hitam yang terlihat begitu ketara, dan kemejanya yang terlihat sudah lumayan lusuh. Benar-benar penampilan mengenaskan. Meski tetap ganteng sebenarnya.


Carissa meringis. "Ya udah, kamu boleh makan duluan deh kalau gitu."


Randu tertawa sambil meraih sendok dan garpunya. "Lo kalau sama gue bisa nggak sih nggak usah pake aku-kamu?"


"Kenapa?" Carissa bertanya dengan wajah herannya.


"Gue baper, anjir." Randu berdecak, "kalau Lingga mah udah biasa, lah, gue? Gue enggak bisa, Ris."


"Jomlo ngenes ya begitu, dapet panggilan aku-kamu aja baper," cibir Lingga sambil meletakkan segelas susu ibu hamil untuk Vallery, ia mengelus rambut sang istri--mengintruksi agar Vallery segera menghabiskan susu buatannya--. Baru setelahnya ia duduk dan mulai menyantap sarapannya.


"Ya, lo biasa aja karena emang udah terbiasa. Ditambah lo sekarang emang lagi bucin-bucinnya sama bini lo. Lah gue?" Randu menunjuk wajahnya sendiri menggunakan sendok, "gue apa kabar, Bro?"


"Makan cari cewek, jangan belajar sama ngurusin pasien mulu," sahut Lingga.


Randu langsung memasang wajah kesalnya sambil berdecak. "Dah lah, males gue kalau udah bawa-bawa ginian. Mau gue kasih jawaban paling apic pun, ujung-ujung gue tetep yang dibully. Diem aja lah gue." Ia kemudian menyendok nasi goreng miliknya sambil menoleh ke arah Carissa, "ngomong-ngomong, Ris, gue agak kaget sih pas tahu lo undang sarapan tapi menunya nasi goreng doang. Gue pikir tadi gue bakal makan enak dan puas, eh, tahunya ginian doang. Tahu gini mending gue beli bubur ayam depan rumah sakit, seenggaknya gue nggak perlu jauh-jauh nyetir ke sini."


"Emang siapa yang nyuruh lo ke sini?"


"Dokter Randu kayaknya suka banget ya sama masakan Mbak Carissa?"


Randu langsung mengangguk penuh semangat. "Banget, Valle, kan Rissa ini Chef, jadi masakannya enak. Jarang-jarang tahu ini orang mau repot-repot masak, kecuali Lingga yang nyuruh, dia nggak akan mau masak buat orang lain."


Ekspresi Vallery berubah sedih. Ia merasa begitu kecil di hadapan Carissa, kalau dibandingkan perempuan itu, ia jelas tidak ada apa-apanya. Kelebihan apa yang ia miliki? Sepertinya tidak ada.


"Kayaknya Mas Lingga spesial ya, bagi Mbak Carissa."


Seketika suasana ruang makan terasa berbeda. Seperti ada hawa tak mengenakkan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. Lingga berdecak kesal sambil melirik tajam ke arah Randu. Pria itu kian memperkeruh suasana.


"Waduh, gue bikin salah lagi?" guman Randu dengan perasaan bersalahnya.


****


Selesai sarapan, Vallery meminta izin untuk ke kamar dengan alasan ingin beristirahat karena capek. Lingga langsung mengomeli Randu habis-habisan, baru setelah puas, ia menuju kamarnya untuk membujuk sang istri.


"Hei," sapa Lingga dengan raut wajah canggungnya. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, "capek banget? Mau aku pijitin?" tawarnya kemudian.


Vallery menggeleng. "Enggak, mau tidur aja."


"Kamu marah gara-gara omongan Randu?"


"Kenapa aku harus begitu?" Vallery balik bertanya dengan kerutan di dahinya.

__ADS_1


"Kamu nggak nyaman ada mereka? Mau aku suruh mereka pulang?"


Vallery membalikkan badan, membelakangi sang suami sambil menarik selimutnya sampai batas leher. "Mbak Carissa nginep di sini, Mas. Kamu mau nyuruh dia pulang ke Paris?"


Lingga yang merasa aneh dengan sikap Vallery memilih untuk mengabaikan pertanyaan sang istri. Tangannya kemudian terulur, ia tempelkan pada dahi Vallery. Memastikan apakah istrinya ini sedang demam atau bagaimana karena memakai selimut siang-siang.


"Kamu sakit?" tanya Lingga khawatir, "nggak panas kok," gumannya kemudian.


Vallery berdecak. "Emang nggak ada yang sakit, emang siapa yang bilang sakit?"


"Terus kenapa kamu pake selimut siang-siang? Emang nggak gerah? Biasanya malem, dingin aja dikasih selimut, eh, selimutnya malah dibuang." Lingga menempelkan dagunya pada pundak Vallery, tangannya masuk ke dalam selimut yang Vallery kenakan lalu mengelus perut buncit sang istri, "kamu kenapa, hm? Bayi kita bikin kamu nggak nyaman?"


"Enggak."


"Ya, terus kenapa? Jangan diem aja gini, ngomong! Aku nggak bakal tahu kalau kamu diem aja begini, sayang."


Vallery menggoyangkan pundaknya, mengintruksi sang suami agar menyingkir darinya. "Berat, Mas! Sana kamu turun ke bawah! Temenin temen-temen kamu."


"Iya, aku nanti pasti turun nemuin mereka. Tapi kamu bilang dulu dong kenapa. Jangan diem aja begini. Kamu marah ya?"


"Enggak!" balas Vallery singkat.


Lingga menghela napas panjang, ia kemudian merebahkan setengah badannya pada ranjang. Kedua kakinya ia biarkan menggantung.


"Bohong! Ngambek tuh pasti."


"Enggak, Mas, beneran."


"Enggak percaya, kamu aja ngomongnya ngadep sana!"


Vallery tertawa lalu membalikkan badannya. Ia bangun dari posisi berbaringnya dan mengecup bibir Lingga secepat kilat.


"Sekarang udah percaya kan kalau nggak ngambek?"


Senyuman Lingga mendadak terbit. Sekuat tenaga ia menahan diri agak tidak terbahak. "Lagi."


"Enggak ada," tolak Vallery sambil menggeleng tegas, ia menepuk pipi Lingga dan menyuruh suaminya itu segera bangun.


"Iiih, kalau nggak diterusin yang ada aku yang ngambek. Kamu mau? Aku marah loh," ancam Lingga dengan ekspresi marah dibuat-buat.


Vallery langsung mendengus sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Nolak permintaan suami termasuk dosa, Vallery. Sebelum kita nikah, kita udah berbuat dosa loh. Kamu mau nambah dosa?"


Astaga, ancamannya.


Sambil mendesah pasrah, Vallery akhirnya menuruti permintaan sang suami. Kali ini ciuman mereka lebih intens, keduanya saling memungut dan mengecap, seolah lupa kalau di bawah sedang ada tamu.


Tbc,


kian berat buat ngelanjut, keknya gegara gk ada yg baca deh😆 sepi bener udh kayak hati ini

__ADS_1


__ADS_2