Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
73. Selamat Tinggal Saka


__ADS_3

***


"Kira-kira kapan Vallery udah bisa pulang?"


Randu kembali mengalungkan stestoskop pada lehernya. Tak berselang lama ia mengangguk. "Kondisinya udah bagus kok, bisa sih pulang hari ini. Apa mau hari ini aja? Biar gue bantu urusin," tawarnya kemudian. Ia kemudian menatap Lingga dan Vallery secara bergantian, "gimana mau?"


Lingga kemudian menatap Vallery untuk meminta pendapat sang istri. "Gimana? Mau pulang hari ini apa besok aja? Kamu gimana ngerasainnya badannya? Udah enakan belum? Masih nyeri banget nggak sih bekas jahitannya?"


Vallery menggeleng. Namun, ekspresinya terlihat sedih. Terlihat seperti belum rela kalau harus pulang hari ini.


"Kenapa? Masih ada yang sakit?"


Vallery kembali menggeleng. "Bukan itu, Mas, cuma aku sedihnya karena harus ninggalin Saka. Kasian tahu, Mas, masa kita enak-enakan tidur di rumah. Tapi dia di sini sendirian, aku nggak tega."


"Terus lo mau di sini sampai Saka boleh dipulangin?"


"Kalau boleh, dok."


"Ya, enggak boleh lah. Rumah sakit bukan hotel, Valle, lo harus tetep melanjutkan kegiatan lo yang lain. Kuliah, ngurus Lingga dan lainnya. Saka kemungkinannya harus di sini beberapa bulan ke depam buat ngejar kenaikan berat badannya dan lainnya. Lo paling cuma boleh liat doang dari luar kayak kemarin itu pun belum tentu bisa setiap hari, karena kondisinya bisa aja ngedrop sewaktu-waktu."


Lingga langsung melotot tajam ke arah Randu, saat pria itu mengatakan kemungkinan ngedropnya kondisi Saka sewaktu-waktu. Menurutnya, Randu tidak seharusnya mengatakan hal tersebut karena jelas itu akan membuat Vallery sedih.


"Gue cuma nyampein beberapa hal kemungkinannya, Ga. Buat mempersiapkan diri juga, enggak ada maksud lain. Su'udzon aja lo!" balas Randu tidak terima, ia sedikit melotot kesal ke arah Lingga, lalu tersenyum cerah kepada Vallery, "jadi gimana, Valle? Mau pulang hari ini?"


Pada akhirnya Vallery mengangguk pasrah. Ekspresinya masih terlihat sedih dan seperti tidak rela.


"Enggak papa, Valle, gue tau ini berat buat lo maupun Lingga. Tapi gue percaya lo pasti bisa ngelewatinnya, kalau lo kuat, gue yakin Saka pasti ikut kuat. Tapi kalau lo sedih, dia pasti ikut sedih. Lo paham kan ikatan batin bayi dan ibu cukup kuat? Ada pepatah juga yang mengatakan Happy Mom, happy kids, and happy family? Kalau lo sedih, anak lo ikut sedih, suami lo ikut sedih juga lho, Valle. Jadi lo harus kuat dan tegar. Oke?"


Meski dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Vallery mengangguk. Apa yang dikatakan Randu ada benar. Jadi berhubung sekarang dia sudah jadi seorang ibu, ia harus belajar menjadi lebih kuat demi Saka dan keluarga kecilnya.


"Tapi sebelum pulang boleh nggak kalau aku minta izin ketemu sama Saka?"


"Nanti gue coba tanyain ke Rita, ya." Randu menyingkap lengan jas putihnya dan melirik arlojinya, "ini gue masih harus visit pasien dulu. Gue juga nggak bawa hape mau nelfon dia sekarang. Nanti aja, ya, nanti begitu visit gue kelar gue langsung tanyain."


"Baik, makasih, dok."


"Oke, gue tinggal, ya."


"Thanks, Ndu."


Randu langsung mengacungkan jempolnya dan mengangguk. "Yuk, Win, masih ada berapa kamar lagi?"


Winda langsung mengecek papan kartenya. "Kamar kelas satu ada dua, dok. Kamar kelas dua kosong, kamar--"


Randu mengangkat tangannya. "Oke, cukup kita langsung keliling aja."


"Baik, dok."


"Gue tinggal, Valle, Ga."


*****


Baju pasien Vallery kini sudah berganti dengan dress selutut dengan motif garis-garis. Semua barang-barangnya sudah dipacking dan dimasukin ke dalam mobil, hari ini ia sudah resmi diperbolehkan pulang.


"Duh, cakepnya yang udah boleh pulang? Udah kelar beberesnya?" sapa Randu saat masuk ke dalam ruangan.


Pria itu masuk ke dalam kamar tanpa mengenakan jas putih atau srub suitnya. Sepertinya jam prakteknya sudah habis, pikir Vallery.


"Bini gue, tuh," omel Lingga sambil melotot tajam ke arah Randu. Sifat posesifnya mulai keluar.


Randu langsung berdecak. "Iya, tahu gue. Astaga! Bercanda aja elah, posesif amat sih lo. Enggak doyan juga gue sama yang bekas orang lain."


"Jam praktek lo udah kelar?" tanya Lingga akhirnya mengalihkan pembicaraan.


Dengan semangat, Randu mengangguk. "Makanya gue mau nebeng ke lo. Ngantuk nih gue."

__ADS_1


"Kan rumah kita nggak searah, Ndu. Lo naik Grab aja, ntar gue bayarin."


"Sombong! Mentang-mentang banyak duit."


Lingga langsung memasang wajah datarnya. "Serah lo deh, Ndu."


"Makanya, biarin gue nebeng."


"Iya," ucap Lingga pasrah pada akhirnya. Randu langsung memasang wajah berbinar senangnya.


"Udah ketemu Saka?"


Lingga menggeleng. "Ini mau ketemu, lo mau ikut?"


"Enggak usah deh, gue mau ngapel bentar. Biar kalian punya quality time bertiga. Eh, tapi denger-denger dari kemarin sore perkembangannya bagus, ya? Udah mulai gerakin aktif gerakin badan."


Vallery tersenyum lalu mengangguki. "Katanya sih emang gitu. Semoga aja makin membaik lagi abis ini, dok."


"Aamiin. Yang penting lo jangan nyerah dan terus berdoa buat perkembangan Saka. Oke?"


"Pasti, dok, makasih banget atas bantuannya selama ini. Enggak tahu deh, gimana nasib kita tanpa semua bantuan dokter."


Randu langsung mengibaskan sebelah tangannya. "Halah, apaan sih, Valle. Gue nggak ngebantu banyak, gue cuma jalanin tugas gue sebagai dokter dan temennya Lingga. Udah lah yuk, langsung aja. Ini barang-barang lo mana aja? Masa cuma itu?"


"Yang lain udah dibawa Ibu pulang, sisanya udah gue masukin ke mobil. Jadi, ya tinggal ini."


Randu mengangguk paham lalu meraih tas travel ukuran kecil yang tadi sempat Lingga bawa. "Biar gue yang bawain, kalian langsung ke NICU. Sama minta kunci mobilnya dong, nanti kalau kalian lama biar gue nunggunya di mobil aja."


Lingga merogoh kantong celananya. "Ntar lo yang nyetir?"


Randu menggeleng. "Tetep lo lah, kan gue mau nebeng lo karena males nyetir, gimana sih?"


Lingga berdecak sambil menyerahkan kunci mobilnya. Mereka kemudian langsung keluar kamar, Vallery dan Lingga langsung bergegas menuju NICU sedangkan Randu, entahlah, kemana perginya pria itu, Lingga tidak tahu dan tidak mau tahu.


"Selamat sore, wah, udah nggak pake baju pasien lagi. Udah jauh lebih cerah dan keliatan sehat nih, cantik banget lagi. Udah boleh pulang Bun?" sapa seorang dokter perempuan dengan nametag Elma, "saya dokter Elma. Kebetulan dokter Rita sedang ada operasi, jadi nggak bisa nemuin Ayah dan Bunda. Saya temani nggak papa kan?"


"Gimana kondisi Saka hari ini, dok? Sudah ada perkembangan lagi jika dibandingkan dengan kemarin?"


Elma mengangguk cepat. Perempuan dengan rambut sebahu itu mengulas senyumnya lalu mengajak Lingga dan Vallery agar segera menemui Saka.


"Perkembangan Saka dari kemarin cukup pesat, hari ini termasuknya aktif banget geraknya. Kan kalau sebelumnya masih banyak tidur, hari ini bener-bener kayak mau ngasih tahu ke Ayah dan Bunda kalau Saka kuat dan semangat untuk berjuang. Jadi, Bunda nggak perlu sedih karena harus pulang duluan dan Saka-nya masih harus nginep di sini."


Mendengar dokter Elma mengatakan hal tersebut, membuat hati Vallery terharu. Tak terasa kedua pipinya langsung basah, saat melihat Saka mulai menggerakkan tangan dan kakinya dengan gerakan pelan. Seperti yang dokter Elma katakan, Vallery jadi seperti merasa kalau Saka benar-benar sedang menunjukkan semangatnya untuk berjuang dan tetap hidup.


"Enggak papa, Bunda pasti bisa melewati ini semua. Tetep sabar dan jangan menyerah, karena Saka bayi yang kuat. Percaya sama saya. Saya memang baru jadi dokter residen saat ini, tapi dibandingkan dokter Rita yang jadi dokter penanggung jawab atas Saka, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Jadi saya tahu dia bayi yang kuat. Sebelum sampai pada kondisi stabilnya saat ini, saya tahu betul kondisi dia," ucap dokter Elma menerangkan.


"Terima kasih, dok, saya titip Saka, ya. Tolong jaga dia, pastikan dia segera tumbuh sehat seperti anak yang lain, agar saya segera bisa membawanya pulang."


Elma mengangguk. "Kita berjuang sama-sama ya, Bun. Kalau gitu saya tinggal sebentar, ya. Silahkan kalau mau memanfaatkan waktu bertiga." ia kemudian melirik jam tangannya, "saya kasih waktu 10 menit cukup?"


"Masa cuma 10 menit, dok?" protes Lingga tidak setuju, "mana cukup?"


Elma mengulum senyumnya. "Ya sudah, kalau gitu 15 menit deh. Yang ini sudah nggak bisa ditawar, ya. 15 menit, nggak lebih dan nggak kurang. Pokoknya begitu selesai, bisa langsung ninggalin ruangan. Bisa?"


Meski awalnya tidak rela, tapi Lingga tidak bisa menolak. Akhirnya dengan pasrah ia mengangguk setuju.


"Ini bukan maksudnya karena saya ingin bersikap kejam dengan Ayah dan Bunda, ya. Tapi ini memang sudah jadi peraturan rumah sakit, demi kebaikan bersama juga. Nanti kalau Ayah Bunda kelamaan di sini, nanti malah makin berat buat ninggalin baby-nya. Jadi mending secukupnya saja."


"Boleh ambil foto nggak, dok?"


"Boleh, silahkan! Asal jangan pake kamera flash ya? Lebih baik dimatikan dulu, pastikan nanti kamera flashnya memang sudah mati baru ambil gambar. Oke?"


"Baik, dok. Kalau gitu silahkan, saya tinggal permisi sebentar," pamit Elma, "ingat, ya, nggak boleh lebih dari 15 menit. Bisa dimeniti sendiri, bisa juga nanti nunggu disamperin susternya. Nanti saya kasih laporan ke salah satu perawat jaga."


"Iya, dok."

__ADS_1


"Baik, terima kasih atas kerja samanya."


"Sayang, maafin Mama, ya. Hari ini Mama udah boleh pulang duluan, tapi nggak ngajak kamu dulu. Mama sebenernya sedih, tapi dokter belum kasih izin buat ajak kamu. Kamu sendirian dulu di sini nggak papa kan? Begitu kondisi kamu udah dibolehin pulang, nanti kita pasti langsung jemput kamu. Terus kita di rumah sepuasnya. Nanti Mama ambil cuti kuliah buat kamu." Air mata Vallery kembali jatuh, di sampingnya Lingga hanya mampu merangkul pundaknya dan mengusapnya lembut. Berharap dapat memberi sedikit kekuatan pada sang istri, "selamat tinggal, sayang, Mama sama Papa pulang duluan."


*****


Meski sudah sampai di mobil dan bersiap untuk pulang. Vallery masih banyak menangis dan belum rela untuk pulang. Ada perasaan tidak tega karena harus membiarkan sang putra yang bahkan masih sekecil itu sendirian di sini. Batinnya seolah tidak terima.


"Rasanya berat banget mau ninggalin rumah sakit, Mas. Aku kayak nggak mau pulang."


"Ya, enggak bisa gitu dong. Kalau kamu nggak pulang nanti tidurnya gimana? Ini rumah sakit, sayang, bukan hotel. Randu bilang gitu kan kemarin?"


"Tapi rasanya masih berat buat ninggalin rumah sakit, Mas. Bentar, ya. Aku tenangin diri dulu," pinta Vallery sambil mengusap kedua matanya yang sembab, hidungnya bahkan terlihat sedikit memerah karena kebanyakan menangis.


"Ya udah, kita pulangnya nunggu kamu tenang dulu." Lingga kemudian menoleh ke arah Randu yang ada di bangku belakang, "lo nggak papa, Ndu, kita pulangnya nanti?"


Tanpa menatap Lingga, Randu langsung mengacungkan jempolnya tanda tidak masalah. "No problem, Pak Ceo. Asal gue dianterin sampe rumah. Rebes."


"Ogah! Lo balik sendiri aja kalau minta dianterin sampai rumah," tolak Lingga mentah-mentah.


Randu langsung terbahak. "Bercanda, Pak, gitu banget deh nolaknya. Kaga nyelow amat."


"Ya iya lah."


"Tapi gue salut deh sama Vallery. Lo keren loh, Valle, perempuan semuda ini tapi udah harus ngadepin ini semua. Luar biasa lo, ini semua nggak mudah loh, tapi, lo pelan-pelan udah bisa nerima semua ini."


Diam-diam Lingga setuju dengan ucapan Randu. Ia mengangguk setuju, berharap memberi kekuatan untuk sang istri, ia lalu meraih sebelah tangan Vallery dan menggenggamnya erat. Sesekali kecupan hangat ia berikan. Hal ini membuat Randu naik darah.


"Tolong, ya, di sini masih ada gue. Bisa nggak, nggak usah pamer kemesraan di depan gue gini? Sakit loh ini mata ngeliatnya, perih, kayak abis kecipratan saos sambel," keluh Randu dengan ekspresi wajah menahan kesal.


Lingga langsung terbahak dan menggeleng tegas. Bahkan tanpa rasa bersalahnya, ia langsung mengecup bibir Vallery. Randu langsung mengumpat kasar. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya.


"Kaga jadi nebeng lah, gue, cabut aja. Emosi gue lama-lama di sini. Bisa mati sebelum kawin nih." Dengan kasar Randu langsung melepas seatbeltnya dan berniat untuk turun, tapi ditahan Lingga. Wajahnya terlihat begitu emosi, "punya temen kok nggak ada yang bener."


"Anjir, gue bercanda, Ndu. Serius! Demi Tuhan, lo jangan ngambek dong. Gue anter deh nanti sampe rumah."


"Tahu lah, bodo amat. Bercanda lo nggak lucu. Nggak mau gue temenan sama lo lagi. Lo gue end. Bye! Jangan minta bantuan apa-apa lagi sama gue." Randu berdecak kesal, "gila! Lo lupa siapa temen yang lo curhatin? Siapa yang dengerin semua curhatan lo, pas lo lagi berantem sama Vallery kemarin? Gue! Kenapa giliran udah baikan, gue yang lo giniin?" serunya emosi.


"Yaelah, Ndu. Bercanda doang gue, biasanya juga gimana? Kenapa jadi merembet kemana-mana sih? Biasanya juga nyelow. Lagi mens lo?"


"Mas Randu, iih, masa gitu sama dokter Randu. Dokter Randu kan udah banyak ngebantu kita, jangan digituin."


"Tuh, dengerin bini lo!"


"Iya, iya, sorry. Gue ngaku salah. Gue minta maaf."


"Sogokannya apaan dulu nih biar gue maafin?"


Lingga langsung melotot tajam ke arah Randu.


Randu sedikit gelagapan. "Anu... Ga, maksud gue tuh, baik, biar kita sama-sama tahu sejauh apa niat lo buat minta maaf. Beneran tulus apa enggak kan keliatan dari tawaran yang lo kasih, kita juga yang mau maafin nggak usah mikir lama dan insha Allah lebih ikhlas gitu loh," ucapnya kemudian. Ekspresinya kali ini terlihat lebih kalem.


"Bisa banget lo ngejawabnya," gerutu Lingga kesal.


Randu langsung tersenyum puas dan merasa berbangga diri.


"Nta, gue cariin calon bini. Puas?"


"Enggak. Masa gituan doang, kalau soal ginian gue bisa nyari sendiri elah."


"Bisa nyari sendiri? Yakin lo? Kalau bisa kenapa sampe sekarang belum punya?"


"Sialan! Gue lagi yang kena," gerutu Randu merasa kalah.


Lingga tersenyum puas. Vallery hanya mampu memasang wajah menahan senyum. Setelahnya ia menyuruh sang suami agar segera mengemudikan mobilnya. Moodnya seketika langsung membaik.

__ADS_1


Tbc,


mon maap baru bisa up😭 dicariin gk sih?


__ADS_2