
****
Lingga berlari secara terburu-buru, begitu sampai di tempat parkir rumah sakit. Ia bergerak cepat dan masuk ke dalam IGD, napasnya bahkan terdengar begitu ngos-ngosan dan ia hampir menabrak orang.
"Ndu, gimana keadaan Vallery? Dia nggak papa kan? Bayi gue nggak papa kan?"
Randu menepuk pundak Lingga. "Dugaan sementara, benturan kayaknya cukup keras sehingga bikin Vallery mengalami pendarahan yang cukup hebat. Dia sempet kehilangan banyak darah, sehingga butuh transfusi darah." ia kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas kebanggannya, pandangan kemudian beralih pada Vallery yang kini terbaring pucat di atas ranjang pasien. Ada perasaan iba yang kini ia rasakan.
Menurut Randu, Vallery terlalu muda untuk melewati semua ini.
"Tapi dia nggak papa kan?" tanya Lingga yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya. Ia menggenggam sebelah tangan Vallery, sesekali mencium punggung tangan sang istri, seolah ingin memberinya kekuatan.
Randu menghela napas. "Gue belum bisa pastiin, Ga."
"Maksud lo?"
"Vallery mengalami pendarahan yang cukup hebat dan menyebabkan pecah ketuban."
"Apa? Pecah ketuban? Tapi usia kehamilannya baru menginjak 26 minggu, Ndu? Kenapa bisa sampai pecah ketuban? Terus kita harus gimana?"
"Tenang dulu, Ga!"
"Tenang? Lo gila? Istri dan anak gue lagi dalam bahaya dan lo minta gue tenang? Enggak bisa lah!" seru Lingga penuh emosi. Nada suaranya terdengar lantang sehingga menjadi pusat perhatian di IGD.
"Ga, kita lagi di IGD, di rumah sakit. Tolong kontrol emosi lo, jangan teriak-teriak! Di sini banyak pasien, yang sedang kalut nggak cuma lo. Ngerti?"
"Sorry, gue terbawa emosi," sesal Lingga dengan wajah bersalahnya.
Randu mengangguk paham dan menepuk pundak sang sahabat, berharap bisa memberi kekuatan pada Lingga.
"Gue tahu ini lo masih shock, tapi tolong! Emosi dikontrol! Lo juga harus kuat dan tegar, Vallery butuh lo. Paham?"
Dengan kedua mata memerahnya, Lingga mengangguk paham. Randu benar, Vallery membutuhkan dirinya. Jadi ia tidak boleh emosian dan harus tegar menghadapi ini semua.
"Terus kita harus gimana? Bukannya kalau pecah ketuban itu artinya udah siap melahirkan? Tapi usia kandungan Vallery baru 6 bulan, Ndu, apa mungkin?"
"Pecah ketuban bukan berarti siap melahirkan, Ga, tapi memang harus segera dilahirkan demi menyelamatkan keduanya, kalau ditunda nanti bisa beresiko infeksi. Karena usia kandungan Vallery baru 26 minggu, berarti ini termasuk pecah ketuban dini."
Perasaan khawatir semakin Lingga rasakan. Lantas bagaimana dengan nasib Vallery dan calon bayi mereka?
__ADS_1
"Terus tindakan apa yang harus kita ambil?"
"Karena usia segini janin paru-paru belum terbentuk sempurna dan belum siap untuk dilahirkan, maka gue kasih obat kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru janin." Randu menghela napas, "karena kondisi Vallery yang kurang bagus, kita bakal ambil tindakan operasi caesar untuk melahirkan bayi kalian. Dan dengan berat hati gue harus bilang, anak kalian harus terlahir secara prematur."
Pandangan Lingga mendadak berubah kosong. "Tapi dia nanti bakal baik-baik aja kan? Bayi kami bisa tubuh seperti anak lainnya kan?"
"Sorry, Ga, gue belum bisa memastikan kalau untuk itu. Tapi biasanya yang beresiko mengalami gangguan perkembangan dari fisik maupun mental, terjadi pada usia kandungan kurang dari 24 minggu, meski kasus ini jarang terjadi. Kita berdoa saja semoga bayi kalian baik-baik saja dan nantinya bisa tubuh seperti anak-anak pada umumnya."
Tak lama setelahnya seorang dokter yang terlihat lebih muda menghampiri Randu.
"Dokter Randu, persiapan dan ruang operasi sudah siap," lapor dokter itu.
Randu mengangguk paham dan menyuruh juniornya itu untuk memindahkan pasien. Ditatap wajah Lingga yang terlihat begitu terpukul, ia menghela napas sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Momen seperti ini adalah momen yang paling ia benci, melihat ekspresi sedih dan putus asa orang terdekatnya karena diagnosisnya. Kemarin Gilang sekarang Lingga.
"Sekarang lo urus administrasi sama tanda tangan dulu, ya. Gue harus siap-siap buat operasi." Randu menepuk pundak Lingga, "lo yang kuat. Gue bakal berusaha semampu gue."
"Selamatkan Vallery dan bayi gue."
"Akan gue usahakan."
****
Lingga langsung menangis dan bersimpuh di hadapan Gerald. Penyesalan berat terlihat pada wajah pria bule itu.
"Pa, maafin Lingga, maafin Lingga karena lalai jagain putri dan calon cucu Papa. Lingga menyesal, Pa. Maafin Lingga" Isak tangis Lingga tidak dapat terbendung lagi.
Gerald nampak risih dengan sikap sang menantu, buru-buru ia menyuruh Lingga bangun.
"Jangan begini, Lingga! Malu di liat orang," ucap Gerald, "lagian ini bukan sepenuhnya salah kamu. Sudah kamu jangan terlalu merasa bersalah, kita berdoa saja untuk kondisi Vallery dan calon bayi kalian. Gimana tadi apa kata dokter?"
Lingga langsung berdiri dan mengusap kedua pipinya yang basah. Ia melihat ke arah sekitar, beberapa pasang mata tengah menatapnya penuh dengan rasa penasaran. Seketika ia merasa malu.
"Vallery harus melahirkan."
"Loh, bukannya usia kandungan Vallery belum ada 7 bulan?" Riana terlihat terkejut dengan pengakuan sang calon menantu.
Lingga mengangguk, membenarkan. "Memang, baru 6 bulan. Tapi Vallery mengalami pecah ketuban dini, maka bayinya harus segera dilahirkan demi menyelamatkan keduanya."
"Lahir prematur?" Gerald kali ini buka suara. Ekspresi terkejut tergambar jelas pada wajahnya. Shock dan tidak menyangka. Kenapa ini semua harus terjadi pada putrinya?
__ADS_1
Lingga mengangguk pasrah.
"Kamu yang sabar ya, Ga," ucap Riana mencoba menghibur. Melihat wajah kalut, frustasi dan putus asa Lingga membuatnya ikut bersedih, "insha Allah mereka bakal baik-baik saja. Kita bantu doa."
"Iya, terima kasih, Riana."
Lingga tiba-tiba teringat dengan rencana pernikahan Gerald dan Riana yang harusnya digelar minggu ini. Pernikahan mereka kemarin sudah tertunda lagi dari yang direncanakan. Masa iya mau ketunda lagi? Seketika perasaan bersalah makin menggerogoti diri Lingga.
"Pa, maafin Lingga."
"Udah lah, Ga, tidak bosan kamu minta maaf terus?"
"Anu... soal pernikahan Papa dan Riana bagaimana?"
Gerald menatapnya tajam. "Tenang saja, saya akan tetap menikahinya minggu ini, hanya saja resepsi dan beberapa acara lainnya ditunda dulu. Yang penting nikah sah saja."
Lingga menatap Riana penuh penyesalan. "Riana, maafkan saya, gara-gara saya--"
"Sudah, Lingga, saya tidak masalah. Yang penting bagi saya Mas Gerald tetap mau menikahi saya pada akhirnya." Riana memamerkan senyuman terbaiknya dan mengangguk, mencoba meyakinkan Lingga kalau memang dirinya tidak papa.
Tidak terasa, kedua mata Lingga terasa kembali perih, tak lama setelahnya kedua pipinya mulai basah. Baginya, Riana benar-benar sosok yang luar biasa. Papanya beruntung karena mendapatkan perempuan luar biasa seperti Riana. Lingga berdoa semoga pernikahan mereka nantinya langgeng sampai kakek nenek.
Tak lama setelahnya Lidiya dan Bayu datang. Langkah kaki mereka terlihat terburu-buru dan penuh kecemasan.
"Gimana kondisi Vallery dan calon cucuku, Lingga?" tanya Lidiya.
"Masih ditangani Randu, bu. Doain semoga Vallery dan cucu ibu bisa bertahan. Cucu Ibu harus segera dilahirkan."
Tubuh Lidiya mendadak ambruk, untung Bayu, sang suami dengan sigap langsung menangkapnya.
"Ya Tuhan, kasian sekali menantuku." Tangis Lidiya kini pecah. Ia menangis tersedu di dalam pelukan sang suami.
"Yang kuat, Bu," bisik Bayu mencoba menguatkan.
Hati Lingga seakan teriris melihat pemandangan ini.
Ya Tuhan, apa harus dengan cara seperti ini engkau menghukumku. Batin Lingga sambil menahan pilu.
Tbc,
__ADS_1
bantu koreksi adegan medisnya ya🙏 yuk, bantu kasih dukungan juga biar bisa dobel up terus😂