Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
74. Diskusi Berujung Emosi


__ADS_3

*****


Vallery sudah kembali ke rumah mereka dan telah melakukan kegiatannya kembali. Kondisinya kali ini sudah benar-benar pulih, kemarin ia juga sudah selesai chek up dan menjenguk Saka. Rasanya kadang masih aneh kalau kini dirinya sudah menjadi seorang ibu dan memiliki seorang putra. Semuanya serba cepat. Ia yang tiba-tiba hamil, harus segera menikah dadakan, dan melahirkan pun dadakan dan masih jauh dari perkiraan. Tapi di balik semua ini, ia jadi banyak belajar.


"Mas, kayaknya kita perlu nyicil beli keperluan Saka deh."


Vallery baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Di sampingnya Lingga nampak sedang sibuk dengan laptop yang ada di atas pangkuan. Pria itu mengangguk setuju, tapi tidak menoleh.


"Aku sih setuju. Kan kita belum beli keperluan apapun buat Saka. Coba deh kamu bikin listnya, biar nanti lebih gampang pas mau belinya. Biar nggak bingung," saran Lingga.


Vallery mengangguk setuju dan mulai mencari buku dan bolpoin.


"Pertama beli apa dulu? Box bayi? Stroller? Gitu-gitu? Apa beli stroller-nya nanti-nanti aja?"


"Sekalian aja nggak papa, tapi yang penting kayak kebutuhan baju-baju sama yang lain aja dulu. Kayak bak bayi juga beli sekalian nggak papa, cuma yang lain nanti-nanti juga bisa, kan juga masalah Saka juga belum bisa pulang dalam waktu dekat, yang kita nyicil doang aja dulu. Biar nanti nggak pusing karena harus beli semua sekaligus."


Vallery mengangguk setuju lalu mulai menulis beberapa hal yang Lingga sebutkan.


"Nanti kita perlu renovasi kamar nggak?"


"Kamar buat Saka sendiri?"


Vallery menggeleng. "Kalau buat masalah kamar Saka sendiri nanti-nanti lah, ntar kalau udah gede aja. Aku maunya dia sekamar sama kita dulu lah. Kamar kita perlu direnovasi nggak sih? Kok aku mikirnya perlu, ya."


"Emang mau direnovasi kayak apa lagi? Kemarin pas kamu pindah ke kamar itu kan baru direnovasi, masa sekarang udah minta direnovasi lagi? Perasaan kamar kita udah bagus deh."


"Ya, emang udah bagus, cuma kayaknya kita perlu ganti wallpaper dindingnya deh. Biar ganti suasana juga, Mas. Gimana menurut kamu?"


Lingga berpikir sejenak. "Kita manggil tukang cuma buat ganti wallpaper dinding?"


"Ya, enggak lah, nggak usah manggil tukang. Kamu aja yang ganti. Biar irit pengeluaran, kita butuh dana banyak loh, Mas, buat perawatan Saka. Jadi, kita harus pinter-pinter atur keuangan."


Lingga berpikir sejenak. Apa yang diucapkan Vallery benar, meski keuangannya masih cukup stabil, setidaknya mereka harus tetap atur keuangan sebaik mungkin kalau tidak ingin berakhir bangkrut. Karena setelah konsultasi dengan Randu dan dokter spesialis yang menangani kondisi Saka, diperkirakan perawatan Saka di rumah sakit akan membutuhkan banyak dana. Jadi ia dan Vallery harus pintar-pintar atur keuangan.

__ADS_1


"Tapi nanti kalau hasilnya nggak bagus gimana? Aku belum pernah pasang wallpaper dinding loh, Vallery. Nanti kalau malah jadi jelek kamunya ngomel-ngomel. Udah lah, biar gitu aja. Udah bagus kok, cocok juga suasananya sama baby cowok. Udah, fix. Itu aja, lebih hemat pengeluaran kan kalau nggak ganti?"


Vallery agak cemberut. Namun, mengangguk setuju. "Ya udah, untuk wallpaper dinding kamar nggak usah ganti. Nanti tinggal kita tambahin aja beberapa barang atau mainan yang seperlunya bakal Saka butuhin." ia berpikir sejenak, "kira-kira apa aja, Mas? Mainan gitu perlu dibeli langsung nggak sih?"


"Enggak usah lah, nanti aja. Masih belum ngerti, sayang."


"Tapi kan ada mainan khusus buat bayi, Mas."


"Ya, emang ada, sayang. Tapi masalahnya kan Saka belum boleh pulang. Jadi, mending untuk mainan atau sekiranya yang belum bakal dibutuhin banget nggak dibeli dulu."


Vallery mengangguk setuju. Ia kemudian mencoret beberapa hal yang sudah terlanjur ia tulis. "Kita perlu jual mobil nggak sih, Mas?"


"Mobil kita kan cuma satu, Vallery. Kalau kita jual nanti kita mau pake apa?" Lingga kemudian menggeleng tidak setuju, "enggak. Enggak usah sampai jual mobil segala. Aku masih ada uang, Vallery. Insha Allah, cukup untuk perawatan Saka selama ia dirawat di rumah sakit. Untuk perawatan lanjutannya, nanti bisa dicari lagi. Pasti ada jalan kok. Kamu jangan terlalu khawatir soal ini, soal dana biar jadi urusan aku. Kamu nggak perlu ikut pusing. Percaya sama aku!"


"Bukan, Mas, bukan mobil kamu. Tapi mobil aku yang ada di rumah Papa. Kan kemarin-kemarin kamu nggak kasih izin buat bawa mobil karena aku lagi hamil jadi nggak aku bawa ke sini. Kemarin Papa udah minta pindahin mobilnya karena menurutnya biar kepake juga sama biar nggak menuh-menuhin garasinya. Sekarang aku udah enggak hamil, tapi kita butuh dana banyak buat perawatan Saka. Jadi apa baiknya kita jual aja mobil aku. Ya emang sih, mobil aku kalau dijual hasilnya nggak banyak sih, tapi kan lumayan buat nambah-nambahin. Gimana menurut kamu?"


"Mobil yang biasa kamu pake dulu? Emang itu bukan punya Papa? Masa kita jual?"


"Kenapa nggak kamu pake aja itu? Kan kalau ada mobil lebih enak juga kamunya kalau mau pergi-pergi. Enggak usah nunggu aku jemput atau antar."


Vallery berpikir sejenak. "Gimana kalau gini aja, kita jual mobilnya. Terus nanti sebagian kita beliin motor, sebagiannya lagi buat tambahan dana. Gimana?"


Lingga menaikkan kedua alisnya heran. "Motor?" ulangnya dengan nada tidak percaya, "buat apaan? Maksudnya kamu mau pake motor gitu kalau mau pergi-pergi?"


Dengan wajah semangat, Vallery mengangguk. Ide tersebut terdengar tidaklah buruk. Sepertinya seru juga pergi-pergi menggunakan motor, jadi kalau jalanan macet ia bisa menyalib, kan motor tidak memakan banyak tempat.


Lingga langsung menggeleng tegas. Ia menolak keras ide Vallery. "Enggak boleh. Apa kata orang nanti, Vallery. Masa kamu dulu kemana-mana naiknya mobil terus setelah nikah sama aku malah jadi motoran? Enggak. Aku nggak setuju. Aku masih ada uang, Vallery. Insha Allah cukup juga buat kita hidup. Aku janji nggak bakal bikin hidup kamu susah abis ini. Jadi, berhenti berpikiran sejauh itu. Aku nggak bangkrut hanya karena harus membayar tagihan rumah sakit Saka. Aku masih bisa menjamin kamu bisa hidup enak setelah ini. Kamu jangan terlalu khawatir." ekspresi tidak suka terlihat dari wajahnya.


Vallery menegakkan tubuhnya dan menghadap Lingga. "Mas, dengerin aku dulu! Aku nggak bermaksud bikin kamu tersinggung. Iya, aku tahu dan aku percaya kamu bisa menghidupi aku maupun Saka ke depannya. Aku tahu, Mas. Aku juga paham kamu nggak bakal tega ngebiarin kita hidup susah nantinya. Tapi yang aku maksud bukan itu. Maksudnya gini loh, Mas, kan aku ada mobil. Udah lama nggak dipake, kenapa nggak kita jual aja?"


"Kamu lama nggak pake karena sedang hamil, Vallery. Sekarang kamu sudah lahiran, aku udah kasih izin kamu buat nyetir. Enggak bakal mubazir. Udah keputusan final."


Vallery berdecak sambil memalingkan wajahnya. Kali ini ia ikut tersulut emosinya. Ia kesal karena Lingga seolah tidak mau mempertimbangkan sarannya.

__ADS_1


"Memangnya Saka itu anak kamu aja, Mas? Dia juga anak aku, aku yang ngandung dia selama ini. Meski kurang."


Lingga awalnya sudah tidak terbawa emosi dan lebih tenang, kini mendadak emosi lagi.


"Loh, maksud kamu apa ngomong gitu, Vallery? Yang bilang Saka itu cuma anak aku siapa?" Lingga menggeleng tegas, "enggak ada. Saka emang anak kita berdua. Tapi kamu harus tahu, kondratnya suami itu ya emang yang buat nyari uang dan itu tugas aku. Kamu sebagai istri nggak perlu mikirin soal ini. Karena semua ini tugas aku. Aku masih mampu, Vallery. Kamu jangan mancing emosi aku bisa nggak sih? Saka di rumah sakit lagi berjuang biar cepet kumpul sama kita. Tapi kamu malah ngajak berantem begini."


"Ngajak berantem? Siapa yang ngajak? Aku tuh cuma minta pendapat kamu--"


"Dan aku nggak setuju sama apa yang kamu usulin," sahut Lingga cepat, memotong ucapan Vallery. Dengan wajah meradangnya, ia segera berdiri, "aku nggak mau bahas soal ini lagi. Aku kasih izin kamu buat ambil mobil dan mulai pakai mobil kemana-mana. Tapi aku nggak setuju kalau kamu jual mobil itu. Itu pemberian Papa kamu kan? Kalau kamu mau jual, seenggaknya aku harus beliin yang lebih bagus. Bukan malah pake uang itu untuk kepentingan bersama. Semua barang yang aku punya juga jadi milik kamu, tapi kalau barang kamu tetap akan jadi barang kamu. Selagi aku masih mampu, jangan pernah sesekali ngusulin buat jual barang kamu demi kepentingan bersama." ia kemudian memalingkan wajahnya, "kecuali kalau kamu pengen aku marah, maka lakukanlah." setelah mengatakan itu, Lingga langsung pergi meninggalkan sang istri begitu saja.


Vallery hanya mampu menatap punggung Lingga yang kian menjauh dengan emosi membuncah.


"Ya ampun, itu Om-om gengsinya gede banget sih. Astaga! Apa salahnya sih kalau biaya ditanggung bareng-bareng? Toh, kan rasanya akan lebih ringan. Lah, ini malah ngambek."


Vallery memijit pelipisnya yang mendadak pening. Suaminya itu kalau sedang ngambek gampang-gampang susah dijinakinnya.


"Ya, atau bisa aja kan bilang makasih kek atas niat baiknya atau apalah. Lah, ini malah marah-marah. Mana bilang gue ngajak ribut lagi." Vallery berdecak sambil mengomel dan membereskan beberapa barang-barangnya dan milik Lingga, "ya Tuhan, bagian mananya sih gue yang ngajak ribut. Gue kan cuma ngajak diskusi gimana baiknya, yang pengen Saka dapet yang terbaik tuh nggak cuma situ. Tapi sini juga, makanya sini tuh inisiatif. Lah, masih aja disalahin. Emang dasar Om-om baperan, ya gitu tuh. Bikin emosi aja. Kesel gue lama-lama. Tahu endingnya begini, beneran minta cerai deh gue waktu itu."


"Astagfirullah, mulut gue!"


Dengan spontan Vallery memukul bibirnya beberapa kali. "Ya Allah, sembarangan banget ini mulut. Ntar kalau ada malaikat yang lewat terus dikabulin gimana. Bisa jadi janda anak satu gue, ntar. Astagfirullah!"


"Vallery, jangan pukul-pukul bibir kamu sembarang! Barang kamu mungkin tetap menjadi milik kamu, tapi kalau kamu. Kamu itu punyaku. Paham?"


Bukannya merasa tersipu atau terharu, Vallery malah merasakan bulu kuduknya meremang saat mendengarkan suara Lingga tiba-tiba. Apalagi nada suara sang suami yang terdengar dingin dan cukup mengintimidasinya.


"Anjir, ngambek aja masih posesif. Dasar Om bule Jawa!"


"Saya dengar, Vallery!" balas Lingga dengan kedua mata meliriknya tajam.


Kebiasaan lama keluar, kalau Vallery ketahuan memanggilnya dengan sebutan 'Om' maka Lingga akan menggunakan kata aku menjadi saya. Kalau lirikan tajam itu sudah keluar, otomatis siaga satu. Suaminya ini sudah sangat butuh dijinakin sebelum meledak dan menyebabkan lahar panas emosinya menyembur kemana-mana.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2