
*****
Lingga langsung berdiri saat Vallery menuruni anak tangga. Namun, ia memilih untuk tidak langsung menghampirinya.
"Kamu butuh sesuatu?"
Vallery menggeleng lalu duduk di sofa, Lingga ikut duduk setelahnya. "Aku mau minta izin nginep di rumah Papa, Mas. Boleh?"
"Berapa lama?" tanya Lingga mencoba untuk tetap tenang.
"Belum tahu." Vallery menggeleng.
"Apa harus sampai begini?"
"Aku butuh waktu, Mas."
Lingga menghela napas, tak lama setelahnya ia mengangguk setuju. Vallery benar, apa yang baru saja didengar pasti tidaklah mudah bagi Vallery. Menahan sang istri tetap di sini jelas bukan keputusan yang baik apalagi mengingat kondisi Vallery yang sedang mengandung. Ia tidak bisa membiarkannya.
"Tapi aku anter, ya?" pinta Lingga.
Awalnya, Vallery nampak meragu. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Lingga untuk sementara waktu, tapi melihat ekspresi putus asa dan gurat kekhawatiran Lingga membuat Vallery tidak tega. Lalu pada akhirnya ia mengangguk setuju dengan permintaan sang suami.
Lingga langsung bangkit berdiri. "Kamu tunggu di sini, biar aku ambil barang-barang kamu."
"Tapi aku mau kamu tetap di sini, Mas."
Lingga menghentikan langkah kakinya dan berbalik. Senyuman super tipis ia pamerkan setelahnya. Ia mengangguk tak lama setelahnya.
"Iya, aku tahu."
Lingga kemudian segera bergegas naik ke lantai atas sambil sedikit berlari. Setelah mendapatkan yang dicari, ia segera kembali turun.
"Yuk, berangkat sekarang sebelum macet. Kamu tadi udah nelfon Papa?"
Vallery menggeleng.
Lingga mendesah. "Lebih baik kamu hubungi beliau dulu, takutnya nanti kaget." ia kemudian bergegas membuka pintu untuk Vallery.
Setelah memastikan Vallery masuk ke dalam mobil dengan aman, Lingga kemudian menutup pintu dan mengitari mobil dengan berlari kecil lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Ia hanya bisa menghela napas panjang saat merasakan suasana yang terasa kurang mengenakkan.
"Aku akan jujur sama Papa," ucap Lingga sambil memasang seatbeltnya. Pandangannya menatap lurus ke depan.
"Soal apa? Soal kamu yang pernah menghamili perempuan yang kamu akui sebagai teman kamu dan kamu bawa ke rumah kita?"
Lingga memegang stir mobil dengan kuat. Terlihat sekali kalau ia sedang menahan amarahanya. "Kalau memang perlu kukatakan, akan kukatakan, Vallery. Itu masa laluku dan aku memang tidak bisa mengubah masa laluku. Tapi yang terpenting saat ini aku tulus dan serius sama kamu."
Kali ini Vallery memilih untuk tidak merespon, dengusan samar terdengar setelahnya. Ia kemudian memilih diam dan tidak memulai percakapan lagi. Membuat suasana mobil terasa benar-benar mencekam.
"Kamu langsung pulang aja," ucap Vallery sambil melepas seatbeltnya. Kini mereka sudah sampai di depan rumah Gerald setelah akhirnya berhasil keluar dari kemacetan.
Lingga pun memilih untuk tidak berkata apapun dan langsung melepas seatbeltnya dan turun. Ia kemudian membuka bagasi dan langsung membawa barang bawaan Vallery masuk ke dalam rumah, Vallery hanya dapat mengerucutkan bibirnya kesal dan mengekor di belakang Lingga dengan pasrah.
"Kok kalian tumben main ke sini dadakan banget? Enggak kabarin kemarin-kemarin dulu? Biasanya juga ngabarin jauh-jauh hari, ada apa?"
Vallery menggeleng lalu masuk ke dalam rumah begitu saja. Ekspresi cemberut tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya, membuat Gerald langsung bisa menebak.
"Berantem?"
Dengan wajah penuh penyesalannya, Lingga menunduk. "Maaf, Pa, Lingga kecewain anak Papa."
Gerald menaikkan sebelah alisnya tidak paham. "Ini maksudnya apa? Kamu balikin anak saya? Kamu udah nggak mau sama anak saya begitu?"
Lingga langsung menggeleng panik. "Tidak, Pa, bukan begitu. Kami sedang berselisih paham, Vallery minta nginep di sini sementara waktu jadi saya anterin."
"Berapa hari?"
Lingga menggaruk kepalanya bingung. "Saya kurang tahu, Pa, semua tergantung pada Vallery."
Gerald menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah. "Baik kalau begitu, saya kasih izin, tapi kamu harus menjemput istrimu sebelum lebih dari tiga hari. Paham? Saya tahu menikah dan membangun rumah tangga dengan putriku tidak lah mudah mengingat usianya yang memang masih muda. Tapi Papa berharap kalian bisa menyelesaikan apapun masalah itu dengan baik. Papa nggak mau kalian gegabah dalam mengambil keputusan. Paham?"
Lingga mengangguk paham dengan kepala tertunduk. Penyesalan kian menggerogoti dalam dirinya. Ia tidak suka berada di posisi ini.
"Ya sudah, lebih baik kamu segera pulang ini sudah malam. Vallery biar menginap di sini selama beberapa hari."
"Baik, Pa, maaf merepotkan. Saya janji akan segera menjemputnya."
Gerald mengibaskan sebelah tangannya. "Bicara apa kamu ini? Merepotkan dari mana kalau pada kenyataannya dia tetap putriku meski kau sudah menikahinya."
"Iya, Pa. Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya!"
"Pasti."
***
__ADS_1
Lingga : ada yang nggak lagi jaga malam?
Wisnu : saya pak buleπ
Lingga langsung berdecak saat membaca balasan dari Wisnu. Pria itu memang tidak akan ada shift jaga malam, tapi tidak di Jakarta ya sama aja bohong.
Lingga : pak dosen dilarang komen
Wisnu : π€£π€£π€£π€£
Wisnu : asem, ini namanya diskriminasi
Wisnu : gue aduin lo
Lingga kembali berdecak saat Gilang dan Randu tidak kunjung mengetik balasan. Tumben banget sih itu dua dokter, apa mereka sedang ada shift jaga?
Wisnu : kayaknya mereka jaga malam semua pak bule
Wisnu : ada apaan sih?
Lingga : butuh temen curhat gue
Lingga : bagi yang sedang free, yok, gue traktir makan di resto all you can eat. bebas milih di mana
Seolah tak mau kalah dengan kegercepan netizen. Balasan dari Randu langsung datang.
Randu : saya bebas tugas pak bule, abis jaga malam minggu lalu
Randu : yok, gas!
Randu : yang di Senayan ya
Randu : tapi mau yang di Kintan
Randu : mau daging yang paling mahal
Randu : saya siap mendengar semua keluh kesah andaπ
Wisnu : ****** si Randu, giliran soal ginian langsung gercep ngalahin jempol netijen
Randu : π€£π€£π€£π€£π€£
Randu : ooo, jelas. gue cerdas. cerdik dan waras π€£π€£π€£π€£
Lingga : langsung ketemu di tempat
Wisnu : gue gimana ini nasibnya?
Hening. Tidak ada balasan sama sekali. Hal ini membuat Wisnu langsung mengumpat kasar. Ia kemudian kembali mengetik.
Wisnu : taik! yang gercep bales gue, tapi yang dapet Shaburi pak Bidan
Wisnu : hidup kadang emang suka sebercanda ini yaπͺ
**Randu : π€£π€£π€£π€£π€£
Randu** : rejeki anak yatim π
Wisnu : ππππ
Setelah menutup roomchat grup, Randu kemudian menghubungi Lingga untuk menanyakan keseriusan calon ayah itu.
"Kenapa?"
"Enggak, cuma mau konfirmasi soal yang di grup tadi."
Randu tersenyum sok malu-malu sambil melepas scrub suitnya dan menggantinya dengan kemeja miliknya. Ia memang masih di rumah sakit, jatah shift-nya sebenarnya sudah selesai tadi sore. Namun, karena lelah dan malas untuk langsung pulang makanya ia memilih untuk tidur di ruangan yang memang disediakan rumah sakit untuk beristirahat para dokter jaga.
"Iya, jadi, ini gue udah on the way, udah reservasi juga gue kok barusan. Lo tenang aja, lo bisa makan sepuas-puasnya ntar."
Dengan ekspresi penuh kebahagiaan, Randu langsung bersorak kegirangan. "Yes!"
"Sama siapa aja?"
"Lo sama gue."
"Ape lo kate?" Randu menghentikan kegiatannya yang hendak mengancingkan kancing kemeja pada lengannya, buru-buru ia mematikan loundspeaker pada ponselnya dan menempelkan ponsel pada telinga kirinya, "makan all you can eat cuma berdua? Yang bener aja lo? Gilang nggak bisa ikut?"
"Ya mana gue tahu," balas Randu cuek.
"Si anjir."
"Udah, lo nggak usah mikirin apapun. Tinggal makan dan dengerin gue curhat."
__ADS_1
"Kaga bisa! Mubazir, Ga, lo jangan mentang-mentang tajir dari sononya jadi bisa dengan seenak lo ngehambur-hamburin duit." Randu menggeleng tegas, "udah gini aja, lo cancel reservasi lo, kita ketemu di rumah makan Padang deket rumah sakit gue dinas." tanpa menunggu jawaban, ia langsung mematikan sambungan telfon.
"Sekate-kate aja, nggak tahu apa nyari duit itu susah?" gerutu Randu merasa kesal sendiri.
Setelah merasa oke dengan penampilannya, Randu segera pergi ke rumah makan Padang yang lokasinya terletak tidak jauh dari rumah sakit. Tanpa menunggu Lingga, ia langsung memesan makan dan minum.
"Lo ngerjain gue?"
Randu terkekeh lalu menyuruh Lingga duduk.
"Kaga elah, ngerjain dari mana? Shaburinya nanti kapan-kapan ya, Pak. Sekarang nasi Padang sama rendang aja dulu. Buru pesen lo!"
"Enggak *****."
Randu mendengus. "Kenapa? Nafsunya cuma sama bini?"
"Ndu," panggil Lingga tiba-tiba.
"Hm."
"Gue takut Vallery ninggalin gue."
Rendang milik Randu yang tinggal sepotong dan sudah terlanjur masuk ke dalam mulut, mendadak terasa hambar. Dengan berat hati ia melepehnya.
"Anjir, lo kenapa deh? Bikin rendang gue yang tinggal sepotong jadi nggak enak lagi, gue leleh kan jadinya? Mubazir," protes Randu dengan wajah kesalnya, "seenggaknya biarin gue kelarin setelahnya, Ga."
"Lagian kenapa sih jadi ngaco begini? Kalian berantem?"
Lingga mengangguk dengan wajah sedihnya. Selama bertahun-tahun mengenal, ini pertama kalinya bagi melihat Lingga begitu sedih.
"Gue harus ngapain kalau Vallery nanti ninggalin gue dan nggak mau lagi sama gue?"
"Ya, kerja, ngelanjutin hidup dan cari penggantinya lah. Mau ngapain lagi coba?"
Lingga langsung melotot kesal. Randu meringis sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Cerita deh versi lengkapnya biar gue tahu harus ngapain."
"Vallery tahu masa lalu kelam gue."
"Masa lalu kelam yang mana? Perasaan masa lalu lo sama aja kayak punya kita, wajar kok, masih bisa dimaklumi." Randu mencoba mengingat-ngingat.
"Soal Rissa yang pernah hamil anak gue."
Uhuk Uhuk
Randu langsung tersedak. "Gue salah denger kan?"
Dengan wajah putus asanya, Lingga menggeleng. Hal ini membuat Randu semakin terkejut dibuatnya. Ia memang tahu kalau Lingga dan Carissa memang memiliki hubungan yang tidak biasa, meski hanya sebatas friend benefit.
"Setan! Kok gue bisa nggak tahu? Yang lain tahu?"
"Enggak."
"Lo emang mau nyembunyiin fakta ini?"
"Iya. Bagi gue itu sebuah kesalahan dan cukup gue jadikan pelajaran. Gue rasa kalian nggak harus tahu."
"Brengsek!" umpat Randu dengan wajah penuh amarah, "lo bilang dijadikan pelajaran?! Lo nggak malu, Ga, ngomong gitu? Lo lupa kalau kenyataannya lo ngehamili wanita lain setelah lo pernah menghamili sahabat lo sendiri. Mana masih bocah lagi? Lo ganteng-ganteng gini punya otak nggak sih?"
Sebagai seorang Kakak yang memiliki adik perempuan, Randu paling sebal dengan pria yang kurang ajar terhadap perempuan.
"Ini bukan perselingkuhan kan?"
"Bukan lah," elak Lingga dengan wajah tegasnya.
"Lo sayang sama Vallery?"
"Banget."
"Kenapa?"
"Hah?" Lingga memasang wajah bingungnya. Apa sekarang kita masih hidup pada zaman di mana sayang sama seseorang butuh alasan? "Memang harus pake alasan?"
"Kenapa? Lo nggak bisa ngasih jawabannya?"
"Karena dia istri dan calon ibu dari ibu anak gue."
"Kalau seandainya bukan?"
Lingga mendadak terdiam. Kalau seandainya bukan? Maksudnya?
Tbc,
__ADS_1