Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
67. Tak Ingin Pisah


__ADS_3

*****


Lingga keluar dari kamar mandi dengan wajah kuyunya. Semalam ia tidak bisa tidur karena permintaan Vallery yang meminta bercerai. Kepalanya pening luar biasa. Pening karena memikirkan bagaimana nasibnya nanti, pening karena kurang tidur.


"Ga, sarapan dulu, Nak. Ibu udah bikinin sandwich sama salad buah."


Lingga tersenyum samar lalu menggeleng. "Enggak, Bu, nanti saja, Lingga harus berangkat ke kantor," tolaknya halus.


Lidiya berdecak kesal. "Kamu jangan nambah beban Ibu bisa, Ga? Ibu tahu kamu harus tetap kerja karena tanggung jawab kamu, tapi kamu juga butuh makan. Istirahat kurang, makan kurang, tidur juga kurang. Kamu nanti bisa jatuh sakit, kamu tega sama ibu nantinya harus ngurusin kamu juga?" omelnya kemudian.


Mendengar omelan sang ibu, jelas membauat Lingga tidak bisa berkutik. Dengan wajah pasrahnya, ia mendekat ke arah sang ibu dan mencomot sepotong sandwich dan langsung melahapnya dalam hening.


Merasakan aura yang berbeda, Lidiya berdecak tak lama setelahnya. "Kalian masih belum berbaikan?" tebaknya tepat sasaran.


Keduanya memilih untuk bungkam. Vallery dengan wajah penuh penyesalannya, sementara Lingga terlihat jauh lebih tenang. Ia seolah tidak mendengar pertanyaan sang ibu dan fokus mengunyah sandwichnya.


Hal ini tentu saja membuat Lidiya hilang kesabarannya. Merasa diabaikan, ia langsung menoleh ke arah sang menantu.


"Kamu belum maafin Lingga?"


"Bu," panggil Lingga mulai tidak tahan, "ini masalah kami, bisa ibu tidak ikut campur dulu? Beri kami waktu untuk menyelesaikan masalah kami dengan cara kami sendiri, Bu. Tolong, jangan membebani, Vallery. Semua ini juga nggak mudah buat dia. Bisa ibu mengerti?" pintanya sungguh-sungguh. ***** makannya kini menguap, ia kemudian segera berdiri dan berpamitan dengan Vallery.


"Aku berangkat kerja dulu, Vallery. Tadi aku udah nelfon Nick supaya nyuruh Patricia buat ke sini nanti, begitu dia ke sini kamu bisa nyuruh ibu langsung pulang kalau ibu bikin kamu nggak nyaman. Papa tadi juga ngabarin kalau mau ke sini." Lingga kemudian menoleh ke arah sang ibu, "ibu bisa pulang abis ini."


"Mas," panggil Vallery dengan nada memperingatkan. Menurutnya sikap Lingga sudah mulai keterlaluan, "enggak boleh ngomong gitu sama ibu. Kamu ini kebiasaan."


"Aku berangkat," pamit Lingga dengan nada datarnya.


Dilihat dari ekspresinya, kali ini Lingga yang terlihat seperti kurang bersahabat. Sepertinya pria itu masih kecewa dengan keputusan Vallery yang meminta bercerai.


"Sekarang gantian yang ngambek suami kamu si Lingga?" Lidiya menatap ke arah pintu yang sudah tertutup, saat putranya sudah menghilang di balik pintu, "kok bisa?"


Vallery hanya mampu meringis sebagai respon. Bingung juga harus menjawab apa. Ibu mertuanya ini memang paling bisa membuatnya susah berkata-kata.


***


Lingga pikir setelah sampai di kantor, ia akan sedikit lupa dengan percakapannya dengan Vallery semalam. Sekuat tenaga ia berusaha untuk fokus. Namun, ternyata tidaklah semudah itu. Ia masih terus-terusa kepikiran dengan permintaan Vallery semalam. Perasaannya gelisah, bagaimana kalau Vallery benar-benar ngotot ingin berpisah? Apakah ia sanggup melanjutkan hidupnya tanpa perempuan itu? Mendadak ia ragu.

__ADS_1


"Bos, ngapain ke kantor sih? Kan istri bos lebih butuh bos ketimbang kantor, di kantor banyak karyawan bos. Lah di rumah sakit? Banyak dokter atau paramedis kan nggak cuma khusus ngurusin istri bos? Gimana kalau istri bos butuh sesuatu?"


"Ada ibu saya, Will."


"Tapi bos juga nggak konsen kan ninggalin istri bos?" tebak Will.


Lingga terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk setuju tak lama setelahnya. Sebenarnya, pagi tadi berat paginya untuk melangkah meninggalkan Vallery. Namun, ia takut kalau terus-terusan berada di sisi sang istri membuat perempuan itu semakin tidak nyaman dengan keberadaannya.


"Ya udah, bos balik aja ke sana. Urusin dulu itu istri bos. Mau gimana pun, istri yang lagi sakit apalagi abis ngelahirin pasti butuh banget suaminya, bos. Apalagi kondisi bayi kalian terlahir prematur. Kebayang nggak sih gimana sakitnya sang istri nggak ditemenin suaminya sendiri?"


Lingga menghela napas panjang. "Tapi pengecualian buat Vallery, Will. Dia mungkin nggak mau liat saya. Mungkin saja melihat saya malah bikin dia tambah sedih. Dia begini karena saya."


"Memang," sahut Will dengan ekspresi tanpa ragunya.


Will saja setuju kalau semua ini terjadi karena salahnya. Apalagi Papa Gerald? batin Lingga semakin merasa sedih.


"Kamu saja mikir begitu ya, Will? Gimana mertua saya?"


"Kok baper?" Will menaikkan sebelah alisnya kaget, "nggak gitu maksud saya bos." ia gelagapan, "anu... itu... maksud saya kan--"


Lingga kemudian segera bangkit berdiri dan memakai jasnya kembali. "Saya izin nggak ngantor hari ini. Nanti kalau ada berkas yang mau ditanda tangani secepatnya, kamu bisa kirim langsung ke saya."


"Bos mau ke mana? Ke rumah sakit?"


Lingga mengangguk sambil merapikan jasnya.


"Ya sudah, hati-hati, bos. Titip salam buat istri bos semoga cepet sembuh, ya."


"Iya, terima kasih."


Begitu meninggalkan kantor, Lingga langsung menghubungi Randu untuk menanyakan keberadaan pria itu. Ia pikir pria itu masih berada di rumah sakit, tapi ternyata ia salah. Pria itu sedang berada di rumahnya. Alhasil ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah sakit dan malah mengunjungi Randu.


"Anjir, ngapain lo nyusulin gue ke sini? Nanti gue ke rumah sakit juga elah, gue dapet shift sore."


Randu berdecak tidak percaya, saat ia membuka pintu gerbang dan benar-benar menemukan Lingga di sana. Pria itu memang sebelumnya mengatakan ingin menemuinya. Namun, ia pikir Lingga akan menemuinya di rumah sakit, bukan di rumahnya begini.


"Kelamaan."

__ADS_1


"Terus Vallery gimana?"


"Ada ibu, ada Papanya juga. Jadi gue nggak terlalu khawatir."


Meski sambil menggerutu, Randu tetap mempersilahkan Lingga masuk ke dalam.


"Ya tetep aja beda, Ga. Gila, bini lo abis operasi caesar, anjir, buat ngelahirin anak lo, belum waktunya lagi. Bukannya lo dampingi malah loa tinggal-tinggal. Bener-bener lo, ya. Gue kalau jadi Vallery udah minta cerai pasti."


Sambil tersenyum miris, Lingga mengangguk, membenarkan. Tebakan Randu langsung tepat sasaran. Dan ini membuat Lingga merasa malu. Apakah semua orang akan berpikir demikian?


"Lo bener."


"Ya, iya lah, lo pikir yang bener cewek doang? Gue juga lah."


Lingga menggeleng. "Enggak, maksud gue lo bener, kalau Vallery emang minta cerai."


Seketika mulut Randu langsung terbuka lebar. Ekspresi terkejut tergambar jelas pada wajahnya. Maksudnya tadi ia hanya bercanda, kenapa Vallery beneran minta cerai?


"Lo jangan ngaco deh, Ga! Enggak boleh ngomong gitu."


Lingga menggeleng serius. "Enggak, Vallery emang minta cerai. Katanya dia nggak bisa lanjut sama gue."


"Kok bisa?" Randu tidak bisa menyembunyikan raut wajah cemasnya, "terus lo gimana? Ya ampun, Ga, sorry, beneran gue tadi nggak maksud buat doain atau apalah."


"Lo nggak salah, justru lo udah bantu gue banyak. Gue tahu, Vallery mungkin bakal minta itu ke gue suatu saat nanti, cuma gue nggak nyangka kalau ia bakal minta itu secepet ini."


Randu menghela napas pendek. "Jangan langsung lo iyain, Ga, kondisi Vallery tuh sekarang belum stabil. Dia masih shock jadi pikirannya masih kemana-mana, lo yang sabar, ya. Gue yakin Vallery cuma lagi capek aja. Ini masih terlalu berat baginya untuk nerima semua ini."


"Gue tahu ini berat buat dia, tapi ini juga berat buat gue, Ndu. Gue nggak bisa."


"Lo juga nggak bisa lanjut maksudnya?"


Lingga menggeleng. "Gue nggak bisa pisah sama dia. Gue mau mempertahankan hubungan ini, tapi Vallery maunya kita pisah. Jadi gue harus apa ya, Ndu?"


Frustasi dan putus asa kini tengah Lingga rasakan. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan harus berpisah dengan Vallery. Ia sudah terlalu terbiasa dan nyaman dengan istrinya itu, ia tidak ingin belajar untuk membiasakan diri tanpa wanita itu. Ia tidak tertarik sama sekali.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2