
*****
Setelah memastikan menantunya pulang, Gerald segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan Vallery. Rupanya anak semata wayangnya itu sudah masuk kamar. Dan saat ia mencoba ingin masuk, ternyata pintunya sudah dikunci.
Tok Tok Tok
"Vallery, ini Papa, suami-mu sudah pulang, Papa mau ngomong!"
"Besok aja, Pa, hari ini Vallery capek," balas Vallery dari dalam kamar dengan suara sedikit berteriak.
Gerald berdecak tidak puas. "Buka pintunya atau Papa usir kamu, ya," ancamnya kemudian.
Hal ini tentu saja membuat nyali Vallery seketika menciut. Statusnya kini sudah jadi suami orang, jadi Gerald bisa saja benar-benar akan mengusirnya karena ia sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab sang Papa sepenuhnya. Dengan sedikit susah payah, ia lalu turun dan membuka pintu.
Pletak!
"Aduh, sakit, Pa!" rengek Vallery lalu mengusap dahinya yang disentil Gerald. Ekspresi sang Papa terlihat begitu gemas.
"Maksud kamu apa ngambek sampai minta dipulangin? Kalau ada masalah tuh, ya diomongin, bukannya malah kamu tinggal kabur begini."
"Vallery butuh waktu, Pa. Vallery kecewa dengan Mas Lingga."
"Kenapa?" tanya Gerald, "apa yang sudah dilakukan suami kamu dan sampai bikin kamu kabur begini."
"Vallery tidak kabur, Pa," protes Vallery tidak terima. Ia bahkan meminta izin sebelum memutuskan pulang, suaminya itu bahkan yang mengantarkannya sendiri, lalu disebut kabur dari mana?
"Kamu kabur dari masalah yang sedang kalian hadapi," ucap Gerald dengan nada tegas.
Kali ini Vallery hanya mampu terdiam.
"Enggak bisa bales kan? Vallery, dari awal Papa sudah bilang pernikahan itu memang berat. Tapi seberat apapun pernikahan yang kalian jalani, kamu nggak bisa kabur-kaburan kalau sedang ada masalah. Itu bukan solusi yang baik, Vallery."
Air mata Vallery jatuh. Detik berikutnya, ia menangis sesegukan. Dengan sigap Gerald langsung memeluk sang putri.
"Vallery kecewa, Pa, sama Mas Lingga. Meski tahu itu hanya masa lalu, tapi Vallery nggak bisa terima gitu aja, Pa. Vallery seperti merasa dibohongi. Vallery kecewa sangat."
Gerald melepas pelukannya. "Vallery, orang baik pasti punya masa lalu. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, pernikahan yang bahkan terlihat sempurna dari luar belum tentu dalamnya begitu. Mereka pasti sama, mengalami berbagai rintangan dan halangan yang harus mereka lalui."
Vallery tidak membalas, ia hanya menangis tersedu-sedu dengan kepala tertunduk.
"Sudah, berhenti nangisnya! Sekarang kamu istirahat, kasian bayi kamu. Jangan terlalu dipikirin masalah kalian, nggak baik untuk kondisi janin kalian."
Vallery mengangguk patuh dan tidak memprotes sama sekali. "Papa juga istrirahat ya abis ini."
"Hm."
*****
"Ke rumah Papa Vallery," ucap Patricia sambil memakai helm yang Nick sodorkan.
Nick menaikkan sebelah alisnya heran saat mendengar ucapan sang kekasih, niatannya yang hendak memakai helm mendadak terhenti. Ia menoleh ke arah Patricia.
"Kok ke rumah Papa Vallery?"
"Gue juga nggak tahu, Nick. Vallery ngabarinnya emang lagi di rumah Papanya."
"Mereka lagi berantem?" tebak Nick.
"Kayaknya." Patricia menghela napas lalu naik ke atas motor, "udah, nggak usah banyak nanya. Buruan pake helmnya terus kita ke rumah Papa Vallery."
__ADS_1
Nick sebenarnya masih penasaran. Namun, karena sepertinya sang kekasih juga belum tahu tentang kepastian apa yang terjadi pada diri Vallery, akhirnya ia mengangguk pasrah dan segera memakai helmnya. Menstarter motornya lalu melajukannya menuju rumah Papa Vallery.
Begitu sampai di rumah Papa Vallery, Bik Jum yang menyambutnya. Vallery katanya sedang istirahat di kamar. Hal ini membuat Nick kembali bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sahabatnya itu.
"Vallery sakit, Bik?" tanya Nick kepo.
"Kayaknya, Den, tapi Bibik juga kurang tahu. Dari semalem datang emang murung gitu, belum turun juga dari kamar. Sarapan aja harus Bik Jum bawa ke kamar Non Vallery."
"Terus suami Vallery ada?"
"Enggak ada, Non, semalem cuma nganter terus pulang. Mas Lingga juga nggak nginep, masuk rumah aja enggak."
Nick ber'oh'ria sambil mengangguk. "Oh, mungkin Bang Lingga harus dinas ke luar kota gitu kali ya. Makanya Vallery dititipin ke sini terus murung. Galau dia." ia berspekulasi.
"Bibik juga kurang tahu kalau itu. Semenjak Non Vallery nikah, Bibik kurang tahu kehidupan baru Non Vallery. Kan jarang main ke sini juga, biasanya sekalinya main juga pasti pulang ke rumah suaminya."
"Kita boleh ketemu kan, Bik?" tanya Patricia.
"Boleh, boleh, Non, langsung naik aja. Enggak usah Bik Jum anterin ya? Soalnya Bibik masih ada kerjaan di belakang."
Patricia tersenyum sambil mengangguk, mempersilahkan Bik Jum kembali meneruskan pekerjaannya. Sedangkan ia dan Nick memilih segera ke kamar Vallery yang ada di lantai atas.
Gedebuk! (anggep aja suara jatuh ya๐)
Patricia dan Nick saling bertukar pandang saat mendengar bunyi seperti orang jatuh. Buru-buru mereka berlari ke kamar Vallery, takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Saat sampai di kamar, tidak ada siapa-siapa di sana, Nick kemudian langsung berlari ke kamar mandi, dan beruntung kamar mandinya tidak dikunci. Ia langsung memutar knop pintu dan membuka pintu. Di dalam sana Vallery sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan keadaan darah segar mengalir deras di antara kedua kakinya.
"Astaga, Vallery!" seru mereka panik.
"Beb, buruan telfon Om Gerald, eh, bukan, jangan!" Nick menggeleng tegas, "telfon Bang Lingga aja," ralatnya kemudian.
Patricia menggeleng dengan wajah paniknya. "Gue nggak punya nomor Bang Lingga, Nick." kedua tangannya terlihat bergetar hebat.
Masih dengan tangan gemetaran dan menangis, Patricia tetap melakukan apa yang Nick perintahkan untuk menghubungi ambulance dan meminta bantuan Bik Jum.
****
Lingga memijit pelipisnya yang terasa berdenyut hebat. Semalam ia tidak bisa tidur karena perasaan bersalahnya pada Vallery, sekuat tenaga ia mencoba berbagai cara agar membuatnya tidur. Namun, hasilnya nihil. Kedua matanya tetap terjaga.
"Bos kurang sehat?" tawa Will khawatir dengan kondisi sang atasan yang terlihat tidak seperti biasa.
Penampilan Lingga pun hari ini tidak terlihat serapi biasanya, wajah kuyu seperti kurang tidur dan tidak berdasi. Benar-benar tidak terlihat seperti atasannya yang selalu mengedepankan penampilan.
"Saya pusing, Will," keluh Lingga.
"Mau saya belikan obat?"
Lingga menggeleng. "Bukan pusing karena itu."
"Terus? Lagi ada masalah di rumah?"
"Iya." Lingga mengangguk, membenarkan.
"Bukannya Mbak Carissa udah balik ke Paris? Berarti udah beres kan?" Will berpikir sejenak, "Bos bukan pusing karena ditinggal Mbak Carissa kan?"
Lingga langsung melotot tajam, dengan emosi ia meraih bolpoin yang ada di atas meja dan bersiap melemparkan kepada Will. Namun, melihat aksi Will yang lebih dulu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membuatnya urung. Ia mendesah pasrah dan menjatuhkan bolpoin itu di atas meja.
"Kamu kalau nggak mau saya potong gaji jangan bikin lelucon yang sama sekali nggak lucu itu. Paham?"
Will menunduk penuh penyesalan. "Iya, maaf, Bos." ia bergerak salah tingkah, "kalau begitu saya kembali bekerja."
__ADS_1
"Kamu tadi ke sini mau ngapain?"
Will menepuk jidatnya sendiri lalu menyengir malu-malu. Ia lupa menyerahkan desain karakter baru pada game mereka yang perlu Lingga setujui.
"Ini, Bos, desain karakter baru yang Bos minta." Dengan wajah takut-takutnya, Will kemudian menyerahkan tablet miliknya kepada Lingga.
Lingga menerima tab itu. "Kamu sedang dalam pendekatan ya?" tanyanya asal.
"Hah?" Wajah Will seketika langsung panik.
Kok bosnya bisa tahu. Batin Will mulai gugup.
"Saya benar?" tebak Lingga. Ia menghentikan pergerakan jarinya menggeser layar tab dan beralih menatap Will penuh.
"Kok bos bisa tahu?"
Lingga terkekeh samar. "Keliatan."
"Serius, bos?"
Lingga mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Anak mana?" tanyanya mulai penasaran dengan kisah cintanya sang anak buah.
Ekspresi Will berubah malu-malu. "Nanti lah saya kenalin, bos, kalau udah resmi."
Lingga mengangguk lalu menyerahkan tab itu kepada Will. "Saya paling suka sama yang ini, pake ini saja."
"Beres, bos."
"Ya sudah, sana, kerja! Saya juga harus lanjut kerja."
"Baik, bos, saya permisi."
Lingga hanya mengangguk seadanya dan mempersilahkan Will untuk keluar. Sedangkan dirinya mencoba kembali agar fokus pada pekerjaannya.
Drrt Drrt Drrt
Fokus Lingga kembali buyar saat ponselnya terlihat berkedip. Nama Vallery yang tertera di sana. Otaknya berspekulasi. Apakah Vallery sudah merasa lebih tenang sekarang?
Ragu-ragu ia meraih ponselnya sendiri, bahkan saat hendak menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan itu, Lingga masih merasa ragu.
"Ya, halo, Vallery?"
"Bang, ini gue, Nick."
Nick? Batin Lingga bertanya-tanya. Nada suara pria itu terdengar panik.
"Ya, kenapa, Nick?"
"Vallery, Bang!"
Vallery?
Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan istri dan bayinya.
"Vallery pendarahan dan pingsan!"
Bagai tersambar petir di siang bolong. Dunia Lingga seakan runtuh detik itu juga, saat mendengar kabar itu.
Tbc,
__ADS_1