Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
68. Masih Ada Kita


__ADS_3

####


Perlahan tapi pasti, kondisi Vallery berangsur pulih. Lingga senang dengan perkembangan kondisi Vallery yang menurut Randu sangat lah cepat. Ia bersyukur akan hal itu. Namun, di sisi lain kekhawatiran lain mulai timbul. Bukan karena kondisi bayi mereka yang menurun, melainkan mungkin saja Vallery yang akan benar-benar mengajukan gugatan cerai saat kondisinya susah sehat betul.


Selama beberapa hari ini, keduanya bersandiwara seolah tidak terjadi sesuatu dalam hubungan mereka. Ia tidak ingin membuat para orangtua merasa khawatir dengan hubungan mereka yang sebenarnya merenggang.


"Gimana Vallery, Ga?"


Lingga mengangguk lalu duduk di sisi kiri Gilang. Mereka sedang berkumpul di ruangan Randu, tapi sang pemilik ruangan belum ada di sana.


"Alhamdulillah, udah berangsur membaik. Doain ya biar cepet pulih."


Gilang mengangguk. "Pasti lah itu, tanpa lo minta kita pasti selalu bantu doa buat kalian." ia terkekeh tak lama setelahnya, "tapi by the way, gue sebenernya bukan nanya itu sih."


Lingga menaikkan sebelah alisnya heran. "Terus maksud lo nanyain apaan?"


"Yang agak lebih privasi sih. Yang katanya Vallery minta pisah itu, Ga. Dia nggak serius kan?" tanya Gilang hati-hati. Ia juga masih sedikit was-was kalau hal ini masih berat bagi Lingga.


Ekspresi wajah Lingga berubah sedih. Baginya topik ini masih terdengar sensitif dan tidak mudah. Helaan napas berat terdengar tak lama setelahnya.


"Kalau soal itu gue sendiri juga belum tau, Lang. Gue berharapnya sih dia nggak serius. Ya doain aja lah yang terbaik buat kita. Karena emang kita belum bahas ini lagi lebih lanjut. Kebetulan kita emang belum ada momen bener-bener berdua doang setalah obrolan itu, jadi gue sendiri nggak tahu gimana nasib gue ke depannya."


Lingga tersenyum miris, pandangannya menerawang. Membayangkan hari-hari yang mungkin harus dilaluinya sebagai seorang duda. Apakah ia sanggup? Entah lah, ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Ia lelah dengan semuanya.


Gilang mangguk-mangguk paham lalu menepuk pundak Lingga dan berdiri. "Jangan terlalu dipikirin, Ga, gue yakin nanti pasti ada jalan keluarnya kok." ia membuka lemari kulkas kecil yang ada di ruangan Randu dan mengambil satu kaleng minuman soda dan satu botol air mineral, ia kemudian kembali ke tempat duduk dan menyerahkan kaleng soda itu ke Lingga.


Gilang menghela napas panjang sambil membuka tutup botol dan kembali duduk. "Ujian pernikahan kadang emang seberat ini, Ga. Kalau udah ngerasa berat banget emang bawaannya mikirnya pengen pisah, gue paham posisi Vallery. Ini semua nggak mudah buat dia, apalagi dia masih terlalu muda. Seusia dia, yang kita pikirin apaan sih, Ga? Seneng-seneng, main sama temen, pacaran, iya kan?" ia meneguk air mineralnya sedikit lalu meletakkannya di atas meja, "tapi Vallery? Harus mikirin lo, hubungan kalian, kondisi bayi kalian. Masa depannya? Ini berat bagi Vallery, Ga. Gue harap lo lebih sabar dalam ngadepin dia nanti. Jangan gegabah dan asal ngabulin permintaan dia nantinya. Gue percaya kok, pelan-pelan Vallery bakal maafin lo."


"Kenapa lo optimis banget, Lang?"


"Sikap optimis itu penting, Ga. Apapun hasilnya nanti yang penting optimis dulu. Ngerti lo!"


Brak!


Pukulan ringan mendarat pada kepala Gilang, dan pelakunya adalah sang pemilik ruangan.


"Sialan! Kenapa gue dipukul sih, Ran?" protes Gilang dengan wajah galaknya. Sementara sang pelaku hanya memasang wajah tidak bersalahnya sambil meletakkan kantong kresek hitam di atas meja, "salah gue apa?" ia masih tidak terima dengan perlakuan sang pemilik ruangan.

__ADS_1


Randu memasang wajah datarnya sambil meletakkan kantong kresek di atas meja. "Iseng," balasnya tanpa dosa.


Gilang langsung mengumpat kasar tak lama setelahnya. Namun, Randu tetap tidak memperdulikannya, malah wajah polos bak tak memiliki dosa, ia langsung membuka kantok plastik yang ia bawa. Yang ternyata berisi dua bungkus nasi Padang.


"Kok cuma dua?" tanya Lingga heran.


"Gue udah makan, Ga, santai aja."


"Makan apaan lo?"


"Makan ati."


Randu terbahak tak lama setelahnya, ia kemudian mengacungkan jempolnya.


"Astaga! Ya udah, lo aja yang makan, gue gampang lah nanti. Di kamar Vallery banyak makanan."


"Gilang nggak boleh makan ginian."


"Kenapa?" tanya Lingga kepo.


"Kolestrol."


Randu menggeleng lalu meneguk air mineralnya. "Buat jaga-jaga, perasaan gue nggak enak. Njir!"


"Astaga, tapi ya nggak gitu-gitu amat, Ran. Kasian lambung lo nanti kerja extra, kena asam lambung nyaho lo!"


Randu mangguk-mangguk lalu menghentikan makannya sebentar. "Iya, Pak dokter. Eh, ngomong-ngomong gimana kabar sama rencana usaha Febi? Jadi dia mau jualan baju?"


Lingga terlihat cukup terkejut saat mendengar pertanyaan Randu. Pria itu langsung menatap Gilang penuh rasa penasaran.


"Belum tahu." Gilang menggeleng sambil meneguk minumannya. Melihat potongan rendang milik Randu yang memiliki ukuran cukup besar, membuatnya sedikit ngiler. Mendadak ia merasa lapar lagi.


"Tapi dia udah resign?"


Kali ini Gilang mengangguk.


"Febi resign, Lang?" tanya Lingga masih diselimuti rasa penasarannya, "kenapa?"

__ADS_1


Gilang langsung menoleh ke arah Randu. "Lo belum cerita, Ran?"


Randu menggeleng sambil mengelap ujung bibirnya yang kotor, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Ya, gue nggak punya hak buat cerita lah, Lang. Itu sama aja gue ngelanggar etika medis, ini kan termasuk privasi pasien gue. Yang berhak cerita lo sendiri bukan gue." Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Gilang dan Lingga secara bergantian, "gini-gini gue tuh profesional."


"Febi hamil, Lang?" tebak Lingga terlihat antusias.


Randu terlihat tidak enak sambil menggeleng ragu. Ia memberi isyarat agar Lingga tidak mengatakan apapun kalau tidak ingin sahabatnya terluka.


Sambil tersenyum getir, Gilang menggeleng. Rasa laparnya yang tadinya tiba-tiba hadir kini mendadak langsung sirna.


"Ini sebenernya ada apaan sih?" tanya Lingga penasaran.


"Gue mandul, Ga," lirih Gilang dengan ekspresi mirisnya.


Dengan kesal Randu langsung memukul pundak Gilang. "Lang, mulut lo! Ati-ati kalau ngomong! Gue harus bilang berapa kali sih ke lo? Lo itu nggak mandul, cuma--"


"Susah hamil?" sahut Gilang cepat, ekspresi putus asa tergambar jelas pada wajahnya. Hal ini membuat Randu frustasi saat melihatnya.


"Susah hamil bukan berarti lo mandul, bangsat!" umpat Randu dengan wajah kesalnya. Ia kehilangan kendali, ia pikir Gilang sudah bisa menerima kenyataan dengan lapang dada dan mulai optimis untuk berikhtiar tapi ternyata ia salah, "lo itu dokter juga, meski ini bukan keahlian di bidang lo, tapi kan minimal lo tahu secara garis besarnya. Lo lupa tadi bilang ke Lingga kalau rasa optimis itu penting? Kenapa lo begini lagi?"


"Gue tahu lo masih kecewa sama hasil tes kita kemarin, tapi nggak begini, Bro." Randu menghela napas sambil menegakkan tubuhnya, "lo harus kuat ngadepinnya! Lo butuh pikiran dan tubuh yang sehat memperbaiki kualitas ****** lo."


"Sorry, Ran. Ini juga nggak mudah buat gue, gue udah coba buat ikhlas dan sabar. Tapi ngeliat hasil tes gue kemarin yang belum nunjukkin perkembangan bikin gue insecure lagi."


Randu menghela napas sambil menggeleng. "Lo nggak salah, Lang, gue pun kalau ada di posisi lo, mungkin bakal kayak lo begini. Tapi, plis, lo harus sadar lo nggak sendiri. Masih ada gue sama Lingga, masih ada juga Febi yang selalu support lo, kalau lo nya gini gimana sama Febi? Lo nggak kasian sama dia?"


"Sorry."


Randu menggeleng. "Udah, nggak usah minta maaf, gue yang harusnya minta maaf karena tadi gue agak kasar ngumpat lo! Sorry, ya, gue sebenernya nggak maksud buat ngomong gitu. Cuma gue kesel aja kalau lo lagi di mode ini."


Gilang terkekeh. "Udah biasa kali lo ngumpat gue. Nggak usah sok minta maaf kalau buat itu. Karena nggak guna."


Randu tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Ini baru Pak Jeroan kita kalau begini. Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Lo nggak boleh stress, Lang, inget pesen gue baik-baik! Cukup gue aja yang stress dengerin curhatan kalian masing-masing."


"Iya, Pak Bidan. Bakal gue inget sebaik-baiknya."


Lingga tersenyum lega saat melihat ekspresi wajah Gilang yang sudah tidak terlihat putus asa seperti tadi. Kemudian ia bertanya, "Tapi, Ndu, Febi tetep bisa hamil anak Gilang kan nantinya?" tanya polos. Ia tidak menyadari kalau Randu saat ini sedang menahan emosinya mati-matian.

__ADS_1


Dasar Bule Jawa! Batin Randu kesal.


Tbc,


__ADS_2