Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
22. Murkanya Nenek Vallery


__ADS_3

****


Gerald menghela napas panjang, ia merasa gugup luar biasa. Perasaan ragu-ragu untuk memberitahu mantan ibu mertuanya mendadak timbul, ia merasa tidak sanggup. Di sampingnya, Riana ikut menghela napas lalu menelusupkan jari-jemarinya di antara jari-jemari Gerald. Membuat pria itu seketika langsung menoleh.


Riana tersenyum sembari mengangguk, berusaha meyakinkan sang kekasih kalau semua akan baik-baik saja.


"Saya takut, Riana," aku Gerald jujur.


"Aku temanin, Mas," balas Riana tanpa melepas tautan telapak tangan mereka.


Gerald menatap Riana dalam. Riana mengangguk sekali lagi, usapan lembut pada punggung tangan Gerald membuat pria itu sedikit berani.


"Terima kasih, saya beruntung punya kamu," bisik Gerald serius. Ia kemudian melepas seatbeltnya dan mencium pipi Riana, "kalau kita tidak sedang di depan rumah mertua saya. Saya pastikan kamu mendapat ciuman lebih dari ini," imbuhnya lalu mengajak Riana segera turun.


Sambil terkekeh Riana memukul pundak Gerald. "Dasar! Masih sempet-sempetnya modus." Mereka kemudian segera turun dari mobil.


"Duh, deg-degannya udah kayak mau ijab qobul," guman Gerald sambil merapikan jas kantornya. Maklum, mereka baru pulang dari kantor jadi masih pakai stelan kerja.


"Anggep aja pemanasan sebelum ijab qobul atas namaku," balas Riana sedikit bergurau.


"Kok mendadak jadi kesel, ya, keinget fakta kalau kita dilangkahin anak sendiri?"


Riana kembali terkekeh. "Ya nggak papa, sama anak sendiri ini. Masa nggak mau ngalah?"


"Sebenernya nggak mau, cuma karena kepaksa ya udah harus ngalah."


Gerald mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, lalu menggenggam telapak tangan Riana. Ia butuh pegangan sebelum bertemu ibu mertuanya. Setelah menekan bell dan dipersilahkan masuk oleh mantan adik iparnya, Hilda. Ia dan Riana dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu.


"Sebentar ya, Mas, Mbak, saya panggil Ibu dulu di kamar," pamit Hilda langsung bergegas menuju kamar ibunya, setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Gerald dan Riana otomatis langsung berdiri setelah ibu mertuanya keluar dari kamar di dampingi Hilda.


"Akhirnya dateng juga kalian. Ini calonmu?" sambut Ambar.


"Iya, Bu, insha Allah." Gerald langsung mencium punggung tangan beliau lalu tak lama setelahnya Riana melakukan hal serupa sambil memperkenalkan namanya.

__ADS_1


"Sehat kan, Bu?" tanya Gerald.


"Ya, begini lah namanya orang tua. Dibilang sehat, tapi tiap hari rasanya badan sering sakit. Dibilang sakit tapi masih kuat ngabisin banyak makanan," gurau Ambar sambil tertawa.


Gerald ikut tertawa. "Alhamdulillah kalau ibu masih kuat makan banyak."


"Untuk ukuran orang yang sudah tua, makan ibu masih banyak. Gimana kabar cucuku? Sehat kan? Ibu kangen lama nggak ketemu."


Gerald kembali merasa gugup, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk menutupinya. "Sehat, Bu, alhamdulillah."


"Kalian sudah dapat restu dari cucuku kan? Ibu nggak masalah sama calon yang kamu pilih asal Vallery setuju, Ibu juga akan langsung setuju," ucap Ambar tiba-tiba.


Gerald meneguk salivanya gugup. Kedatangannya kali ini bukan untuk meminta restu menikah lagi, melainkan memberitahukan tentang kehamilan Vallery.


"Kenapa diam saja? Cucuku belum memberi restu ke kalian?" tebak Ambar tiba-tiba merubah ekspresi was-wasnya, khawatir kalau tebakannya benar. Karena kalau diperhatikan lebih serius, sepertinya perbedaan Gerald dan calon istri ini cukup jauh. Jadi wajar kalau ia merasa was-was.


"Mas, Mbak, ini tehnya silahkan diminum."


Gerald mengeram kesal. Ia baru saja mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, tapi karena Hilda tiba-tiba datang sambil membawa minumnya, nyalinya kembali menciut. Dalam situasi begini, ingin sekali ia mengumpat.


"Sebenarnya ada apa ini?!" Raut wajah Ambar tiba-tiba menegang.


"Satu bulan lagi Vallery akan menikah, Bu."


"Ngomong apa kamu barusan?! Menikah? Kamu sudah gila? Berapa umur cucuku?!" bentak Ambar tiba-tiba, "sebenarnya ada apa ini? Jangan bilang cucuku hamil makanya dia harus segera menikah?"


Gerald menunduk penuh penyesalan. Yang bisa ia katakan hanyalah mengucapkan kata maaf. Lalu secara tidak terduga ia merasakan pipinya memanas. Benar, Ambar menamparnya. Tamparannya cukup keras sehingga membuat ia mau pun Riana cukup terkejut dengan suara yang ditimbulkan.


"Apa yang sudah kau ajarkan pada cucuku hingga dia kehilangan arah dan hamil di luar nikah?! Ayah macam apa kamu ini? Dari awal aku memang sudah tidak yakin kalau kamu bisa merawat dan mendidik cucuku dengan baik. Lalu lihat sekarang! Kamu lihat! Kamu gagal mendidiknya, kamu tidak malu?! Tidak malu pada mendiang istrimu?!"


Deru napas Ambar memburu, kilatan kemarahan terlihat wajah keriputnya.  Ia segera bangkit dan berdiri dengan wajah angkuhnya. "Keluar kamu dari rumahku! Aku tidak sudi melihat Ayah yang tidak becus mengurus putrinya, benar-benar memalukan," usirnya lalu meninggalkan ruang tamu, tak lama setelahnya Hilda muncul dengan langkah terburu-buru.


"Maafkan ibu, Mas, Ibu sedang emosi. Saya akan membujuknya. Kabarin saja nanti kapan acara ijab qobulnya, saya pastikan Ibu akan datang nanti."


Gerald mencoba untuk memaksakan. "Nggak papa, Da, makasih ya. Iya, nanti saya kabarin tanggal pastinya. Maaf sudah bikin mood Ibu kacau, tolong jaga Ibu. Kalau ada apa-apa tolong kabarin saya."

__ADS_1


"Iya, Mas. Pasti."


"Saya pamit. Assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam. Hati-hati, Mas. Maaf nggak bisa nganter sampai depan, saya harus liat ibu."


"Iya, nggak papa."


Gerald dan Riana kemudian keluar dari rumah Ambar. Riana menghela napas melihat wajah kacau sang kekasih. Sebelum masuk ke dalam mobil, Riana langsung mencekal lengan Gerald.


"Mas," panggil Riana terdengar khawatir, "sakit?" tanyanya sambil menunjuk pipi Gerald yang habis ditampar.


Masih mencoba memaksakan senyumnya, Gerald mengangguk. "Nggak papa. Yuk, saya anterin kamu pulang."


"Biar aku yang nyetir," ujar Riana berusaja merebut kunci mobil Gerald.


"Saya nggak papa, Riana. Masih kuat kok kalau cuma nyetir."


"Enggak. Aku nggak mau mati konyol, aku masih pengen nikah dan punya anak dari kamu, Mas. Sekali-kali nurut sama pacar kamu, jangan Mas terus yang mau diturutin pacar," tolak Riana yang kali ini berhasil merebut kunci mobil Gerald.


"Ya sudah, hari ini saya mengalah demi pacar." Karena terlalu lelah, Gerald hanya bisa pasrah dan tidak membantah.


"Mas boleh kok kalau semisal mau duduk di belakang," ujar Riana saat Gerald hendak menyentuh handle pintu.


Gerald menaikkan sebelah alisnya tidak paham. Namun setelah berpikir beberapa saat ia paham maksud Riana. Pria itu kemudian menggeleng. "Enggak. Saya duduk di depan saja, kalau di belakang susah modusin kamu. Ayo, cepat masuk, anterin saya pulang! Kepala saya pusing."


Riana berdecak. "Dasar sok bossy," cibirnya kemudian.


"Saya dengar, Riana. Dan kalau kamu lupa saya memang bos kamu kalau di kantor."


"Baik, Pak," balas Riana lalu menyusul Gerald masuk ke dalam mobil.


"Riana!"


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2