Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
66. Terima Kasih Untuk Bertahan


__ADS_3

****


Lingga segera memanggil Randu saat mengetahui Vallery sudah sadar, setelahnya ia masuk ke dalam ruang rawat inap Vallery untuk melihat kondisi sang istri.


"Vallery, sayang, kamu sudah sadar? Gimana kondisi kamu? Ada yang sakit?"


Nada bicara penuh kekhawatiran tidak dapat Lingga sembunyikan. Pria itu terlihat begitu khawatir dengan keadaan sang istri.


"Tahan sebentar, ya, Randu bentar lagi ke sini buat periksa kamu," ucap Lingga sambil menggenggam sebelah tangan Vallery yang tidak diinfus, sementara sebelah tangan Lingga ia gunakan untuk membelai rambut Vallery, kecupan hangat sesekali ia berikan.


Vallery sendiri masih terlihat seperti orang kebingungan. Mungkin karena efek dari obat biusnya belum sepenuhnya hilang.


Saat kesadarannya berangsur kembali, ia mulai merasa ada yang berbeda dari tubuhnya. Secara spontan, tangannya meraba perutnya yang terasa menyusut. Wajah Vallery seketika langsung berubah panik.


"Mas? Perut aku kok kempes? Ke mana bayi kita? Aku abis kenapa, Mas? Kenapa aku bisa di sini?"


"Vallery, kamu tenang dulu, ya," bisik Lingga mencoba memberi kekuatan.


Vallery menggeleng tegas. Kedua matanya sudah terlihat berkaca-kaca dan siap menangis.


"Aku kenapa? Ke mana bayi kita?"


Kali ini Vallery tidak dapat membendung air matanya, kedua pipinya mulai basah. Ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Namun, ditahan Lingga.


"Jangan banyak gerak dulu, Vallery," ucap Lingga mengingatkan.


Tak lama setelahnya Randu masuk ke dalam ruangan.


"Gimana keadaannya, Valle? Ada keluhan?"


"Bayiku kemana, dok?"


Randu menoleh ke arah Lingga. "Lo belum kasih tahu?"


Lingga menggeleng. "Gue nggak tega, Ndu. Lo aja yang jelasin."


Mendengar jawaban Lingga, perasaan Vallery makin gundah. Beberapa asumsi terlintas di otaknya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada bayinya.


"Sebenernya ada apa ini?" desak Vallery meminta jawaban, ia menoleh ke arah Randu dan Lingga secara bergantian, "Mas! Kenapa kamu diem aja?"

__ADS_1


"Vallery, lo tenang dulu, ya. Lo baru selesai operasi, jaitannya belum kering, jadi belum boleh banyak gerak dulu."


"Operasi?" ulang Vallery seolah tidak percaya.


Randu mengangguk sambil diiringi helaan napas pendek setelahnya. "Iya, lo jatuh di kamar mandi, mengalami pendarahan dan pecah ketuban dini. Jadi, gue harus ambil tindakan untuk melahirkan bayi kalian?"


"Melahirkan bayiku? Tapi kandunganku bahkan belum menginjak 7 bulan, dok? Dia harusnya masih berada di dalam perutku, kenapa dokter Randu tega melakukan ini padaku?" tangis Vallery kini pecah.


Di sampingnya, Lingga berusaha menguatkan. "Vallery, Randu ambil tindakan ini demi keselamatan kamu dan bayi kita. Kamu harus kuat, agar bayi kita bisa jadi lebih kuat."


"Tapi dia pasti masih kecil banget, Mas. Dia harusnya masih di dalam perut aku, nggak harusnya dilahirkan dulu. Aku kasian. Aku mau lihat kondisi bayiku, gimana keadaan dia?"


"Dia masih di NICU, Valle, belum bisa dijenguk. Lagian kondisi lo sendiri belum pulih, jadi gue nggak bakal kasih izin lo buat jenguk bayi kalian. Prioritas kita saat ini adalah lo, kalau lo udah sehat dan pulih, baru lo bisa bantu ngurus bayi kalian. Bayi prematur butuh pemantuaan medis secara intens, kalian sebagai wali butuh stamina dan mental yang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya."


Pandangan mata Vallery berubah kosong. "Tapi sekarang dia baik-baik saja kan? Berapa presentase bertahan hidupnya?"


"80%."


Air mata Vallery kembali jatuh. Ia menangis terharu, meski kenyataan ini sulit ia terima. Namun, setidaknya ia bersyukur karena anaknya memiliki presentase bertahan hidup yang cukup tinggi.


"Apa jenis kelaminnya?"


"Cowok. Bakal jadi jagoan nantinya, Valle, kalau udah gede."


Dengan kedua mata berkaca-kacanya, Lingga mengangguk cepat. "Iya, aku senang dia cowok. Tapi aku lebih seneng karena kalian mampu bertahan dengan baik, makasih, sayang." sebuah kecupan kembali ia daratkan pada kening Vallery, "maafin aku karena lalai dalam menjaga kalian. Aku sayang sama kamu, cepet sembuh, ya, biar kita bisa cepet-cepet liat bayi kita."


Vallery mengangguk, ekspresinya masih terlihat datar. Ia tidak menolak perlakuan Lingga. Namun, ekspresinya terlihat berbeda dan ini membuat Lingga merasa sedih.


"Ya udah, sekarang istirahat dulu ya, Valle. Nggak usah pikirin macem-macem. Fokus sama kesehatan lo dulu. Gue tinggal."


"Terima kasih, dok."


"Thanks, Ndu."


Randu mengangguk lalu keluar dari kamar inap Vallery. Suasana mendadak berubah saat Randu meninggalkan kamar inap, ekspresi tidak bersahabat tergambar jelas pada wajah Vallery. Perempuan itu bahkan secara terang-terangan menjauhkan diri dari sang suami.


"Aku mau istirahat, Mas. Lebih baik kamu juga istirahat, besok harus ngantor kan. Aku nggak papa kalau kamu pulang," ucap Vallery dengan nada bicara dinginnya.


"Kamu nggak papa, tapi aku yang kenapa-kenapa. Aku nggak mungkin ninggalin kamu di saat kondisi kamu begini."

__ADS_1


Tatapan mata Vallery berubah sinis. "Memang aku begini karena siapa?"


Napas Lingga seolah terasa tercekat. Ia tidak berani berkomentar, tubuhnya seketika langsung mematung tanpa bereaksi apapun. Dalam hati, ia membenarkan apa yang Vallery ucapkan. Toh, ia sendiri memang merasa kalau ini salahnya.


Detik berikutnya, Vallery kembali terisak. Ia menutup wajahnya menggunakan sebelah lengannya. Lingga yang melihatnya jelas merasa sakit.


"Maafin aku, Vallery." Hanya itu yang mampu Lingga ucapkan. Dan membuat Vallery semakin terisak.


"Aku mau cerai, Mas," ucap Vallery tiba-tiba.


Lingga melotot terkejut. "Apa kamu bilang?" tanyanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Aku mau kita pisah, talak aku, Mas!"


"Kamu gila?! Enggak, sampai kapan pun aku nggak akan lakuin itu." Lingga menggeleng tegas, menolak keras ide sang istri. Ia sayang dengan Vallery dan jelas saja ia tidak akan rela kalau harus berpisah dengan wanita yang ia cintai, "lebih baik kamu istirahat. Nggak usah ngomong aneh-aneh, kamu harus segera sembuh, Vallery." ia bertingkah seolah apa yang Vallery ucapkan hanya angin lalu.


Lingga kemudian membenarkan selimut Vallery agar sang istri segera tidur.


"Kenapa tidak? Kita menikah hanya karena keadaan, Mas? Kita menikah bukan karena saling cinta, melainkan karena aku hamil duluan. Lalu setelah bayi ini lahir, kita bisa berpisah bukan?"


Lingga menggeleng tegas. "Enggak, Vallery, kita udah sepakat buat serius jalanin pernikahan ini kan? Kamu sendiri yang minta sejak awal. Kenapa sekarang mendadak berubah pikiran?"


"Segala sesuatu bisa berubah dengan cepat, Mas."


"Termasuk perasaan kamu?" Ekspresi Lingga terlihat tidak percaya, "kita memang menikah bukan karena cinta, tapi setidaknya, bukankah kita saling cinta setelah menikah?" ia tersenyum miris setelahnya, "apa cuma aku yang ngerasain itu?"


Vallery memilih bungkam.


"Jawab aku, Vallery! Kamu nggak ada perasaan sama aku sama sekali? Apa yang kita lalui beberapa bulan terakhir tidak spesial bagi kamu?"


Vallery berusaha untuk tenang dan agar tidak kembali menangis. "Kita hanya terbawa suasana, Mas."


"Terbawa suasana? Aku tidak sebodoh itu, Vallery!" seru Lingga dengan wajah penuh emosinya, "aku tahu apa yang aku rasain dan itu bukan sekedar terbawa suasana seperti apa yang kamu ucapkan. Aku tulus sayang sama kamu!"


Vallery masih tetap diam, sebiasa mungkin ia menghindari kontak mata dengan Lingga. Karena ia tidak ingin melihat kilat kemarahan yang sedang pria itu tunjukkan. Tanpa melihat wajah Lingga, ia tahu kalau pria itu sedang marah dan kecewa dengannya. Sama halnya dengan Lingga, Vallery pun sama kecewanya dengan Lingga. Menerima masa lalu Lingga tidak lah mudah, apalagi mereka menikah bukan karena cinta melainkan karena keadaan. Hal ini tentu saja membuat Vallery meragukan keseriusan Lingga. Saat bosan dengannya, bisa saja Lingga mencari wanita lain dan tidur bersama wanita itu. Tidak menutup kemungkinan akan ada wanita lain yang bernasib seperti dirinya di masa mendatang.


Meski tahu itu belum tentu terjadi, tapi tetap saja, perasaan khawatir itu tetap ada. Kepercayaan Vallery terhadap Lingga ternyata belum sebenar itu, ia masih meragukan pria yang bahkan sudah berstatus sebagai suaminya sendiri.


"Tapi aku nggak bisa nerusin pernikahan ini, Mas. Ini terlalu berat buat aku."

__ADS_1


Lingga terlihat frustasi dan juga putus asa mendengar nada bicara Vallery yang terdengar begitu menderita. Baginya kebahagiaan Vallery memang yang utama. Namun, apakah harus dengan sebuah perpisahan?


Tbc,


__ADS_2