
****
"Beneran udah siap kan?"
Vallery kembali mengangguk yakin saat Randu kembali mengulang pertanyaan yang sama. Padahal mereka sudah jelas-jelas meninggalkan kamar inap menuju NICU untuk melihat bayinya. Karena tidak sedang harus melakukan tindakan darurat, Randu akhirnya memutuskan untuk mendampingi Vallery dan Lingga. Nick sendiri memutuskan untuk pulang karena harus menemani Patricia, gadis itu bisa saja mati kelaparan kalau tidak ada yang membawakan makanan. Bukan karena manja, hanya saja Patricia sedang dalam periodenya, dan biasanya Vallery selalu ada untuk membawakan makan. Berhubung kondisi Vallery sendiri sedang begini, alhasil Nick lah yang harus turun tangan seorang diri.
Di belakang Vallery, Lingga yang bertugas mendorong kursi roda sang istri memberikan elusan lembut pada pundak Vallery. Perempuan balas mengelus punggung tangan Lingga, seolah saling memberikan kekuatan.
"Itu dia dokter Rita," ucap Randu sambil menunjuk seorang dokter dengan balutan jilbab berwarna dusty pink.
Dokter itu tersenyum ramah lalu menghampiri Lingga dan Vallery. "Selamat siang, orangtuanya Lingga junior ya? Gimana keadaannya, Bu Vallery? Sudah makin membaik?"
Vallery mengangguk. "Sudah, dok."
"Udah siap ketemu baby-nya, ya? Mari ikut saya, tapi nanti kita lihatnya dari luar nggak papa, ya?" dokter Rita kemudian mengajak mereka mengikutinya, "Karena kondisi bayinya masih belum siap ditemui secara langsung, masih rentan. Tadi pagi suhu tubuhnya turun lagi jadi nggak bisa ditemuin langsung, begitu kondisinya sama-sama membaik. Nanti kita temui langsung."
Vallery tidak dapat menahan air matanya lagi saat akhirnya berhasil melihat putra yang selama ini ia kandung. Ia merasa terharu dan juga bersalah di waktu yang bersamaan. Ia merasa terharu karena putranya berhasil bertahan dengan hebatnya, ia bangga dengan putranya. Namun, di sisi lain ia juga merasa bersalah karena harusnya bayi itu tetap berada di dalam perutnya sampai waktunya tiba.
"Maafin Mama, Nak. Harusnya Mama lebih lama sama kamu, bukannya ngebiarin kamu harus berjuang di sana sendirian."
"Dia anak yang hebat, Bu Vallery, jangan menyalahkan diri sendiri. Harusnya Ibu bangga, bukan perjuangan yang mudah bagi seorang bayi yang dilahirkan dengan kondisi usia yang belum cukup, tidak semua bayi bisa memilih untuk berjuang dan tetap bertahan hidup. Dia memilih untuk berjuang dan bertahan pasti karena ingin membuat Mamanya bangga. Karena dia sayang dengan Mama dan Papanya.
Jadi, Bu Vallery harus tetap kuat dan sabar, ya, perjuangan baby dan kedua orangtua masih panjang. Harus bisa sama-sama saling menguatkan biar bisa melewati masa sulit ini."
"Tapi sejauh ini nggak ada masalah organ kan, Rit?"
__ADS_1
Rita mengangguk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya. "Sejauh ini baik kok, jantung normal, napas normal meski masih dibantu, cuma masalah yang sering kita hadapi suhu tubuhnya. Masalah kuning juga kian membaik setelah disinar, infeksi juga mulai berkurang sedikit demi sedikit."
"Udah pernah nangis lagi nggak sih selama di sini?"
Vallery dan Lingga nampak sibuk melihat anak mereka, sedangkan yang aktif bertanya Randu. Mungkin kedua orangtua baru itu masih bingung hendak menanyakan apa saja, atau lebih karena ingin memanfaatkan momen sebaik-baiknya.
"Belum." Rita menggeleng, "emang kemarin begitu lahir sempet nangis?"
Randu mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pandangannya fokus pada bayi Vallery yang nampak terlelap di dalam inkubator dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Hatinya seolah ikut teriris melihatnya, bayi semungil itu harus berjuang di dalam inkubator seorang diri. Ia saja tidak tega apalagi kedua orang tuannya.
"Begitu lahir sempet nangis sebentar, Rit, meski pelan gitu suaranya." Randu kemudian mendekat ke arah rekannya, "tapi peluang bertahannya masih tetep besar kan?"
Rita mengangguk yakin. "Insha Allah tetep besar kok, Ran, kan biasanya emang bayi prematur usia segini belum bisa nangis dan menghabiskan waktunya untuk tidur. Meski belum bisa aktif, kan seenggaknya kemarin udah bisa nangis. Nanti kita tunggu perkembangan selanjutnya, semoga terus membaik ke depannya. Intinya terus sabar dan jangan lelah karena perjuangan emang masih jauh banget." ia menatap Vallery dan Lingga secara bergantian, "karena mungkin sewaktu-waktu bisa aja kondisinya ngedrop tiba-tiba dan tanpa kita diduga."
"Ngomong-ngomong, bayinya belum dikasih nama kan ya? Udah kepikiran buat kasih nama apa? Biar perawat dan staff medis lainnya juga enak gitu kalau mau manggil."
"Belum kepikiran, dok," aku Vallery jujur.
Rita tersenyum lalu mengangguk paham. "Oke, masih belum nyiapin ya, karena lahirnya masih jauh dari perkiraan. Ya, udah, nggak papa. Abis ini bisa dipikirin dulu baik-baik. Bisa juga minta saran keluarga atau yang lain. Nanti kalau udah bisa langsung hubungi pihak NICU ya, atau juga bisa lewat dokter Randu." ia sedikit menyingkap ujung lengan snelli-nya untuk mengecek waktu, "masih ada pertanyaan?"
Vallery dan Lingga kembali bertukar pandang lalu menggeleng. Tak lama setelahnya, Randu ikut menggeleng.
"Enggak, udah cukup sejauh ini," balas Randu mewakili.
"Oke, kalau gitu saya tinggal dulu, ya," pamit Rita pada Lingga dan Vallery, "cabut duluan, Ran. Kalau udah selesai langsung ajak mereka keluar, ya, kondisi ibu kan juga baru dalam masa pemulihan. Takutnya nanti malah sedih kalau lama-lama di sini."
__ADS_1
Randu mengangguk paham sambil mengacungkan jempolnya. Pria itu tidak mengatakan hal lain kecuali terima kasih dan menepuk pundak rekan sejawatnya.
"Cantik juga, Ndu," komentar Lingga tiba-tiba.
Randu sontak langsung terbahak. "Bini orang dia, anaknya udah dua. Gue semua lagi yang bantu proses lahirannya, yang satu belum lama. Paling juga anak keduanya baru 5 bulan." ia menunjuk wajah Lingga sambil geleng-geleng kepala, "wah, parah lo! Masa nyuruh gue jadi pebinor. Temen laknut. Jangan mau sama yang ginian, Valle, udah gugat cerai aja dia!"
Lingga langsung melotot protes. "Mulut lo bisa nggak sih difilter dikit, sembarangan aja! Susah nih buat usaha mempertahanin, lo sembarangan aja nyuruh nyeraiin gue. Kan gue nggak tahu kalau dokternya udah punya suami dan anak. Soalnya keliatan seumuran sama lo."
"Emang seumuran kita. Cuma masalahnya dia nikahnya begitu lulus kuliah, nikah muda. Masa-masa koas yang dia dilewati statusnya udah jadi suami orang. Suaminya pengusaha batu bara, njir, mana mau sama gue."
"Wah, cantik banget ya, udah ngelahirin dua anak tapi masih keliatan bagus gitu badannya. Bikin iri."
"Ga, yuk, balik ke ruangan. Lama-lama di sini nggak baik buat bini lo," kekeh Randu dengan nada bercanda, "lo tenang aja, Valle, nggak usah insecure. Kan lo baru abis ngelahirin, sedangkan Rita udah 5 bulan lebih, waktu segitu udah bisa buat nurunin berat badan. Sama kayak ibu hamil pada umumnya, tubuh Rita dulu juga kayak wanita pada umumnya kok pas hamil sama abis ngelahirin. Berisi, semok-semok aduhai," sambungnya kemudian.
"Mungkin gara-gara dokter kali ya, dok, jadi tahu gimana caranya diet sehat dan aman buat bayinya."
Randu terbahak. "Dokter tuh paling pinter ngomong, Valle, apa yang diomongin ke pasiennya, dirinya sendiri belum tentu bisa ngelakuin. Lo kalau mau diet sehat dan benar nggak harus jadi dokter dulu biar bisa, cukup konsultasi sama ahlinya. Beres."
"Enggak usah mikir diet-dietan segala. Yang penting sehat," balas Lingga sambil mendorong kursi ronda meninggalkan NICU.
"Tapi aku pengen punya badan bagus."
"Badan kamu udah bagus. Begini aja aku udah cinta mati sama kamu kok, ngapain repot-repot diet. Nyari penyakit, aku tuh cinta kamu apa adanya. Bukan karena body-nya gimana."
Di samping Lingga, Randu langsung memasang wajah pura-pura ingin muntah.
__ADS_1
Tbc,