Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
93. Berdamai?


__ADS_3

*****


Vallery akhirnya diperbolehkan pulang, meski sebenarnya dokter masih menyarankan ia tetap menjalani perawatan di rumah sakit beberapa hari dulu. Tapi karena Vallery sudah memaksa, akhirnya dokter mengizinkan dengan catatan Vallery harus bed rest selama beberapa hari.


Lingga senang karena Vallery jauh lebih ceria saat di rumah, istrinya itu juga lebih gampang kalau disuruh makan. Sepertinya keputusan membawa Vallery pulang adalah keputusan yang tepat.


"Papa berangkat kerja dulu ya, sayang. Jagain Mama, jangan nakal, oke?" pamit Lingga sambil menciumi wajah sang putra yang masih nampak terlelap di dalam box bayinya.


Di belakangnya, Lidiya langsung memukul belakang kepala sang putra. "Nyiumnya nggak usah over dosis begitu. Sana, berangkat kerja! Cari uang yang banyak," omelnya kemudian. Setelahnya ia bergegas meletakkan nampan berisi sarapan Vallery, "sarapan dulu, sayang. Udah dibantu mandi suami-mu?"


Lingga mengangguk cepat dan menyahut. "Udah, Bu, tinggal sarapan sama minum obat aja yang belum. Lingga nggak sempet kalau harus nyuapin Vallery, ada meeting pagi ini soalnya."


"Iya, biar nanti ibu yang suapin. Kamu kerja saja sana! Itu anak kamu biarin tidur dulu, jangan kamu gangguin terus, nanti kalau bangun siapa yang ngurusin? Ibu harus nyuapin istri kamu dulu, Ga."


Lingga mengangguk paham lalu beralih menghampiri sang istri. "Sayang, aku kerja dulu, ya. Nanti pulang kerja mau dibeliin apa?"


Lidiya kembali memukul Lingga. "Buruan sana berangkat!" omelnya mulai kehilangan kesabaran, "nggak usah mampir-mampir!"


Lingga merengut. "Ya ampun, Bu, apa salahnya sih pamitan dulu sama istri. Aku mau berangkat kerja loh, lama, biar nggak kangen. Makanya ini dipuas-puasin dulu."


"Lama dari mana? Kamu kerja nggak sampe 10 jam sehari. Udah, sana berangkat!" Lidiya kemudian menyodorkan tangan kanannya, dengan patuh Lingga kemudian mencium punggung tangan sang ibu.


"Lingga berangkat, bu. Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam. Hati-hati nyetirnya, nggak usah ngebut, yang penting selamat sampai tujuan," pesan Lidiya.


Lingga hanya mampu mengangguk patuh dan langsung bergegas berangkat. Tujuannya saat ini bukan ke kantornya, melainkan ke polisi. Siska pelaku yang telah mencelakakan istrinya kini sudah ditahan di kantor polisi. Sebelum kasus ini diserahkan ke kantor kejaksaan, ia ingin bertemu langsung dengan pelaku. Ia ingin tahu motif pelaku, kenapa ia sampai tega melakukan pada sang istri.


"Sudah siap, Bos?"


Will menyambut Lingga yang baru saja keluar dari rumah, dengan gerakan sigap ia membukakan pintu untuk sang atasan. Tanpa membalas, Lingga langsung masuk ke dalam mobil begitu saja.


"Apa pihak pelaku masih bersikeras ingin berdamai?"


Will yang baru saja menyusul masuk ke dalam mobil mengangguk, seraya menengok ke arah bangku penumpang yang ada di belakang.


"Masih, bos. Mereka masih bersikeras menginginkan damai, bahkan saya sempat mendengar kabar kalau hari ini mereka mengajak salah satu anggota DPR untuk menemani keluarga pelaku."


Kening Lingga langsung mengerut heran. Apa hubungannya dengan anggota DPR? Apa mereka berpikir kalau mereka membawa salah satu kerabatnya yang memiliki kedudukan di sana, membuat Lingga berubah pikiran? Haha, lucu sekali. Mau mereka membawa orang nomor satu di Indonesia pun, ia tetap pada pendirian di awalnya. Ia ingin pelaku pendapatkan ganjaran yang setimpal. Tidak peduli jika dia anak siapa.


"Biar apa dia bawa anggota DPR segala?" tanya Lingga sambil terkekeh geli.


"Sepertinya mereka ingin membuat kita merasa terintimidasi."

__ADS_1


"Astaga, lucu sekali." Lingga kembali menertawakan ucapan Will, "jadi mereka pikir saya bakal takut?"


Will meringis ragu. "Sepertinya begitu, Bos."


"Oke, kita lihat saja nanti siapa yang bakal takut."


"Hah? Maksud bos? Bos ada rencana?"


Lingga menggeleng lalu menyuruh Will untuk segera menyetir dengan benar.


****


Begitu sampai di kantor polisi, Papa mertua dan Ayahnya sudah berada di sana lebih dahulu ditemani tim kuasa hukum.


"Gimana Vallery? Saka apa kabar? Rewel enggak? Riana nggak bisa ke sana buat bantu-bantu, soalnya dia lagi flu. Kondisi Saka kan masih rentan, makanya Papa nggak kasih izin dia ke rumah kalian."


Lingga menggeleng tidak masalah dan mencoba untuk maklum. "Enggak papa, Pa, kondisi Vallery udah ada kemajuan pesat kok, besok waktunya kontrol." ia nampak melihat ke sekeliling arah, "Papa sama ayah udah ketemu sama pelaku?"


Bayu mengangguk. "Udah, masih muda ternyata. Papa agak shock pas tahu dia pelakunya, soalnya wajahnya terlihat seperti anak baik-baiak. Kamu mau ketemu sama dia?"


Lingga mengangguk. "Iya, Pa, Lingga mau ngobrol sama dia." ia kemudian memanggil Personal Asistennya, "Will, tolong belikan kopi kemasan kaleng dua, ya. Ini," ia kemudian merogoh selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet dan menyodorkannya pada Will.


"Buat apa, Bos?" tanya Will nampak kebingungan.


Begitu mendapatkan yang diinginkan sang atasan, Will segera kembali ke kantor polisi dan menyerahkan kopi yang telah ia beli tadi.


"Thanks, Will, kamu bisa ke kantor abis ini."


"Terus Bos gimana?"


"Nanti biar bareng saya," usul Gerald tiba-tiba. Hal ini membuat Bayu sekaligus Lingga sendiri nampak terkejut, pria itu berdehem saat beberapa pasang mata menatapnya intens. Gerald merasa risih, "kebetulan kantor kita searah."


"Tapi kan kantor Lingga ngelewati kantor Papa."


Merasa peka dengan keadaan, Bayu tersenyum sambil menepuk pundak sang putra. "Udah, buruan sana tadi katanya mau nemuin pelaku kan?"


Meski masih merasa seperti tidak biasa, Lingga pada akhirnya mengangguk lalu bergegas menuju sebuah ruangan yang telah ditujukan oleh sang pengacara. Ruangan di mana Siska berada.


"Perlu saya temani tidak, Pak?" tawar sang pengacara.


Lingga menggeleng dan menyuruh sang pengacara untuk keluar. Ia hanya ingin mengobrol berdua dengan Siska.


Saat masuk ke dalam ruangan, ia dapat melihat wajah kacau perempuan itu. Mata sembab, kantung mata terlihat begitu ketara dan bibir pucat tanpa polesan apapun. Melihat pemandangan ini, seketika membuatnya merasa setuju dengan ucapan sang mertua tadi. Ia juga merasa tidak menyangka kalau perempuan yang terlihat seperti orang baik, namun nyatanya setega ini.

__ADS_1


Lingga meletakkan kantong plastik di atas meja sambil tersenyum meremehkan Siska. Ia pikir nyali gadis yang mencelakai istrinya akan bersikap seolah tidak bersalah, namun, ternyata ia salah. Perempuan ini bahkan terlihat begitu ketakutan, membuat sisi dalam diri Lingga menjadi tidak tega. Ia menghela napas sambil membuka salah satu kaleng kopi yang Will beli tadi. Setelahnya ia langsung memberikan minuman itu pada Siska.


"Tidak perlu takut, saya ke sini tidak ingin marah-marah atau mengamuk seperti yang ada di pikiran kamu. Saya cuma mau mengajak kamu ngobrol sambil minum kopi," ucap Lingga sambil membuka kaleng minuman miliknya sendiri.


Sejenak, ia ingin benar-benar melupakan perasaan dendamnya dan mendengarkan perempuan ini mengatakan semua dengan jujur. Lingga hanya ingin mengetahui motif si pelaku.


"Jadi, kenapa kamu melakukan semua ini pada istri saya?"


Wajah Siska kembali memerah menahan tangis. "Demi Tuhan, saya nggak ada maksud mencelakai istri anda. Saya hanya ingin memberi dia pelajaran, tapi semua terjadi begitu saja. Saya tidak ada maksud sampai melukainya separah ini. Saya benar-benar minta maaf, tolong cabut tuntutan anda agar saya bisa bebas. Saya tidak mau dipenjara, Papa saya pasti mau kasih berapa pun yang anda inginkan asal anda mencabut tuntutan anda. Tolong, bebaskan saya!" kali ini Siska sudah tidak dapat menahan tangisnya, air matanya pecah. Terlihat sekali raut wajah keputus asaan dari wajah gadis itu.


"Maaf, saya tidak bisa. Bahkan untuk sekedar memaafkan kamu saja saya tidak mampu, saya benar-benar ingin menjebloskan kamu ke penjara. Kamu harus merasakan dinginnya jeruji besi atas apa yang telah kamu lakukan terhadap istri saya. Saya benar-benar tidak habis pikir, apa yang telah istri saya lakukan sampai kamu berbuat hal ini terhadap istri saya."


"Anda mau tahu?"


Lingga mengangguk tanpa keraguan.


"Karena dia telah merebut perhatian gebetan saya, gara istri anda. Gebetan saya tidak mau lagi sama saya. Istri anda itu genit, beraninya godain punya orang. Saya tidak suka, saya ingin membuatnya meras--"


Brak!


"Brengsek, siapa kamu berani sekali bilang istri saya genit?!" Lingga melotot tidak terima.


Mendengar suara keras dari dalam ruangan, Will bergegas masuk ke dalam ruangan. Ia melihat sang atasan nampak seperti ingin menghajar perempuan yang ada di hadapannya. Will panik lalu menghampiri Lingga.


"Bos, tenang, bos!"


"Gimana saya bisa tenang, perempuan ini gila. Bagaimana bisa dia tega mencelakai istriku hanya karena dia kehilangan perhatiaan gebetannya. Kamu pikir itu masuk akal? Hanya karena gebetannya menaksir istri saya, lalu dia tega ingin melenyapkan Vallery? Bukankah perempuan ini seorang psikopat yang berlagak seperti orang baik?"


Emosi Lingga terlihat sudah tidak bisa dikontrol lagi. Suara gaduh bahkan terdengar dari luar ruangan, membuat petugas keamanan langsung turun tangan.


"Ada apa ini Bapak Lingga, bukankah sudah kami ingatkan untuk tidak membuat keributan?"


Lingga tidak peduli. "Tidak bisa, saya mau perempuan ini langsung dijebloskan ke penjara," ucapnya tiba-tiba.


Wajah Siska semakin panik. "Tidak bisa begitu dong, bukankah anda setuju untuk membicarakan hal ini kepada keluarga saya. Lalu kenapa anda berubah pikiran? Ini tidak adil buat saya."


"Saya berhak untuk berubah pikiran. Toh, mau saya berbicara dulu atau tidak keputusan saya tetap sama. Saya ingin kamu mendapatkan hukuman yang setimpal." Lingga kemudian beralih pada Will, "kita pergi sekarang, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu hal yang tidak penting."


Setelah mengatakan itu, Lingga langsung bergegas meninggalkan kantor polisi. Ia bahkan sudah tidak mempedulikan teriakan dari tim kuasa hukum Siska.


Tbc,


😭😭😭😭 mood amburadul gegara si kampret merah. ya Allah, rasanya kek bru jdi anak gadis yg ngerasain pms🀣🀣🀣 lebaynya gk karu2an😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2