
*****
Lingga memutuskan untuk keluar saat melihat Vallery nampak begitu asik mengobrol dengan Saka. Kondisi putra mereka kini sudah aktif kembali, tinggal menunggu keputusan dokter yang mengizinkannya pulang. Ia tidak ingin mengganggu quality time mereka berdua, alhasil ia memutuskan untuk keluar. Karena khawatir bosan sendirian, ia memutuskan untuk menelfon Randu. Namun, pria itu tidak merespon. Lingga kemudian beralih menelfon Gilang dan beruntung, pria itu langgsung menjawabnya.
"Kenapa, Ga?" sapa Gilang begitu sambungan terhubung.
"Lo sibuk?"
"Enggak sih, cuma gue posisi lagi dinas. Ya, mana bisa keluar. Kecuali lo yang mau ke sini."
"Lo di mana?"
"Rumah sakit."
Lingga berdecak. "Lebih spesifik, Lang!"
"Lo di RS juga? Abis nengokin Saka?"
"Hm." Lingga menyahut seadanya.
"Ya udah, lo ke Cafe bawah aja kita ketemu di sana. Pengen ngopi gue, sepet bener mata gue abis follow-up rekam medis. Berasa kek nggak ada habisnya."
Lingga menganggu setuju dan mengiyakan. Setelahnya ia langsung mematikan sambungan telfon dan bergegas menuju Cafe yang Gilang maksud.
"Loh, kok sendirian?" tanya Gilang keheranan saat melihat Lingga datang seorang diri, dia pikir ia sedang bersama Vallery, "bini nggak ikut?"
"Lagi main sama Saka, kalau udah ketemu suka lupa ada gue sih mereka. Klop banget deh pokoknya."
Gilang terkekeh lalu menyuruh Lingga duduk. "Ya, namanya juga ibu dan anak, Ga. Mau cuma ketemu sehari sekali kan ikatan batinnya lebih kuat. Enam bulan dikandung loh."
Lingga ikut terkekeh lalu membenarkan. "Randu lagi nggak dapet shift siang? Gue tadi nelfon kok nggak diangkat? Atau lagi nanganin pasien?"
"Enggak tahu juga gue, belum ketemu seharian ini. Kenapa?"
Lingga terkekeh samar sambil menggeleng. "Ya, enggak papa sih. Seru aja gitu kalau ada dia."
"Maksud lo kalau sama gue enggak seru gitu?"
"Kan kalau Randu gabung lebih seru, Lang." Lingga kemudian teringat sesuatu, "eh, soal dia yang lo bilang naksir bini orang tuh gimana ceritanya, Lang? Gue penasaran deh, mumpung orangnya nggak ada di sini. Cerita, gih!"
Kini giliran Gilang yang terkekeh. "Lo nggak mau dulu pesen apa gitu?" ia kemudian menyesap kopi miliknya.
"Udah kok tadi, tuh, udah dateng." Lingga menunjuk ke arah pelayan yang membawakan pesananya.
"Latte ya, Mas?"
Lingga mengangguk, membenarkan dan menyuruh sang pelayan meletakkan pesanannya di atas meja.
"Makasih, ya, Mbak."
__ADS_1
"Sama-sama."
"Jadi ceritanya gini. Lo inget kan Randu punya adek?"
Gilang memulai ceritanya. Lingga langsung mengangguk saat mengingat Hana adik Randu, satu-satu anggota keluarganya di Kartu Keluarga Randu.
"Hana kan?"
Gilang mengangguk, membenarkan. "Iya, dia kan sekarang lagi ambil s2 di Bandung tuh, nah, pas pindahan otomatis Randu datang ke Bandung kan? Dia nggak sengaja ketemu cewek gitu di sana, tetangganya Hana. Cakep katanya, nah, Randu tertarik sama itu cewek. Mau usaha modus rencananya, eh, tahunya itu cewek udah nikah. Pasutri gitu sih katanya emang, jadi Randu kira dia masih single. Eh, taunya udah bersuami. Jadi patah hati lah dia sebelum berjuang." ia terkekeh tak lama setelahnya, "gue tuh kadang suka kasian sama dia. Padahal Randu tuh paling ganteng loh, di antara gue sama Wisnu, gue akui itu. Wajah khas Indo-nya bener-bener idaman kaum wanita banget, lo aja menurut gue kalah. Masalah dompet oke juga, tapi soal percintaan perasaan kok apes banget. Yang naksir dia, dianya ogah, yang dia taksir, dianya yang ogah. Heran gue."
"Ya ampun kasian banget temen lo," respon Lingga sambil menggeleng prihatin, ia kemudian mulai menyesap latte miliknya, "cariin dong, Lang, lo nggak ada kenalan cewek single? Randu nyari yang kayak gimana sih?"
Gilang mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. "Ya, mana gue tahu sih, Ga."
"Minta tolong Febi suruh kenalin sama temen-temen dia gitu dong, gue mau minta tolong Vallery, kan dia masih anak kuliahan. Randu mana mau sama bocil? Pasti ogah lah."
"Udah pernah, cuma emang nggak ada yang cocok, Ga. Tuh, orang antara niat dan nggak niat nyari bini, Ga." Gilang berdecak kesal lalu menyesap kopinya, "gue juga kadang heran sama apa yang dia cari. Kadang gue kepikiran sebenernya dia tuh begini gegara belum bisa move on, apa gimana."
"Lo nggak pernah nanya?"
"Enggak lah, lo kayak nggak tahu Randu. Dia kan kalau nggak mau cerita, walau kita tanya kayak apapun pasti jawabanya jadi nggak nyambung. Mana bisa banget lagi ngalihinnya, jadi emang kitanya yang perlu nunggu dia cerita sendiri."
Mendengar jawaban Gilang, Lingga mengangguk, membenarkan. Randu emang keliatannya ceria dan kalau ngomong suka nyablak, dia juga pendengar yang baik untuk kawan-kawannya. Tapi kalau dirinya sendiri sedang ada masalah, biasanya Randu jarang bercerita. Biasanya pria itu baru akan bercerita kalau memang sudah lelah sendiri.
"Semoga aja udah move on deh, kan mantannya itu udah nikah juga kan?"
Gilang langsung mengangguk cepat. "Udah, suami mantannya itu dokter juga. Dokter yang merangkap jadi dosen gitu."
Gilang menggeleng. "Paling deket doang, tapi nggak pernah pacaran sampe yang serius banget kayak yang itu." ia kemudian teringat sesuatu, "eh, kenapa nggak lo jodohin sama Rissa aja sih? Tuh, anak kan asik juga cocok tuh sama Randu. Bagus ntar di kartu undangan R&R, Rissa dan Randu."
"Sembarangan! Jangan dong, susah. Randu butuh tipe istri yang kalem-kalem gitu, biar ada yang jinakin dia. Lagian mereka beda tempat ibadah, Lang. Enggak bisa!"
Lingga menggeleng tegas, menolak ide yang Gilang usulkan. Ia ingin sahabatnya itu mendapatkan perempuan yang terbaik, dan menurutnya bukan Carissa orangnya.
"Enggak rela banget lo berbagi mantan?"
Gilang terkekeh meledek Lingga. Membuat pria itu mendengus.
"Bukan begitu, gue cuma mau dia dapetin yang terbaik, dan orang itu bukan Rissa. Lo kayak nggak tahu gaya hidup bebas Rissa aja deh, ngeri tahu kalau dipasangin sama Randu. Kasian. Hana juga pasti sedih."
"Gaya hidupnya terlalu kebarat-baratan ya?"
"Iya, lah, kan dia gedenya di sana. Otaknya udah terkontaminasi sama gaya hidup sana. Oh ya, gimana sama Febi? Udah fix isi beneran?"
Gilang menggeleng sedih. "Masih disuruh usaha lagi, tadi pagi bocor dia-nya."
"Loh, kok?"
"Ya, ternyata emang dia-nya telat aja dateng bulannya. Bukan karena lagi hamil, Lang."
__ADS_1
Lingga menerjab kaget. Ia dapat melihat ekspresi kecewa yang terlihat pada wajah Gilang. Meski pria itu berhasil menutupinya dengan senyuman, tapi kedua mata Gilang terlihat jelas menggambarkan sebuah kesedihan. Ia tahu ini pasti berat untuk Lingga, sebagai salah penyebab sulit hamilnya Febi, Gilang pasti sangat tertekan.
"Yang sabar, bro, gue yakin emang belum waktunya aja. Nanti kalau udah waktunya pasti dikasih kok, yang penting lo jangan patah semangat aja." Lingga menepuk pundak Gilang, pria itu ingin memberi semangat dan juga dukungan.
Gilang menghela napas panjang, pandangannya menerawang. "Gue kadang mikir deh, Ga, hidup kadang selucu ini ya. Yang belum pengen punya anak, eh, dikasih, bahkan sampai ada yang gugurin itu bayi. Sedangkan gue dan istri udah sama-sama pengen tapi nggak dikasih-kasih, padahal segala usaha udah kami coba."
"Ya, namanya hidup, Lang. Kita merencanakan tapi tetep Tuhan yang menentukan. Kita nggak bisa protes apalagi ngeluh, yang semangat dong."
Gilang mangguk-mangguk. "Iya, gue tetep semangat kok, kan gue mau juga kasih temen buat Saka. Semangat gue, tuh, apalagi bikinnya," kekehnya kemudian.
Lingga langsung mendengus sambil memutar kedua bola matanya malas. Dasar laki-laki.
"Eh, ngomong-ngomong gimana kondisi Saka sekarang? Kapan boleh pulangnya deh? Perasaan gue kalau nengokin dia, dia-nya udah aktif banget."
"Ya, doain aja secepatnya bisa gue ajak pulang. Ini masih nunggu keputusan dokter. Capek juga gue bolak-balik RS, kasian juga lama-lama liat Vallery kadang suka sedih kalau di rumah."
Gilang mangguk-mangguk paham, lalu kembali menyesap kopinya yang tinggal sedikit. "Cabut, yuk, bentar lagi gue jaga di poli." ia melirik arlorinya.
Lingga mengangguk setuju setelah meletakkan cangkirnya. "Iya, gue juga udah kelamaan ninggalin Vallery deh. Nyariin gue pasti dia."
"Ya udah, ayok."
****
Saat Lingga kembali ke ruangan, Vallery nampak sedang mengobrol dengan dokter Rita. Ekspresi istrinya nambah berbinar cerah, hal ini membuat Lingga dapat menebak kalau dokter yang biasa menangangi Saka sedang memberikan kabar bahagia. Dan benar saja saat ia bertanya pada Vallery, katanya Saka besok sudah boleh pulang kalau memang malam ini kondisi Saka stabil sampai besok.
Lingga rasanya ingin ikut menangis saat melihat kedua pipi Vallery yang basah. Istrinya itu nampak menangis bahagia, begitu juga dengan dirinya. Ia begitu bahagia mendengar kabar ini. Ia seolah tidak sabar menunggu hari esok.
"Selamat ya Pak Lingga dan Ibu Vallery, akhirnya setelah ini sudah bisa kumpul bersama," ucap Rita. Ia ikut merasakan atsmofir kebahagiaan keluarga kecil ini.
Berbulan-bulan menjadi dokter penanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan Saka, membuat Rita tahu apa saja yang telah dilalui oleh pasangan yang memiliki perbedaan umur cukup jauh ini. Ia tidak hanya salut dengan kehebatan Saka, namun, dengan pasangan yang terlihat selalu berusaha saling menguatkan ini.
"Terima kasih, dok, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini."
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi."
Rita kemudian pergi setelah berpamitan dengan Lingga maupun Vallery, dokter itu memamerkan senyuman terbaiknya sambil mengelus pundak Vallery sebelum benar-benar pergi.
"Yuk, Mas, kita pulang sekarang. Kita harus bersih-bersih buat nyambut kepulangan Saka," ucap Vallery dengan wajah antusias dan berbinarnya.
Lingga terkekeh melihatnya. "Enggak mau main sama Saka dulu?"
Ekspresi Vallery berubah murung. "Mau sih sebenernya, tapi aku mau kita beres-beres dulu. Biar besok bisa main sama Saka sepuasnya. Duh, Mas, nggak sabar, pengen bawa Saka pulang hari ini aja."
"Ya, jangan dong, kan harus menaati prosedur rumah sakit, lagian kita perlu bersih-bersih ulang biar Saka-nya nyaman di rumah. Kan pasti dia butuh penyesuaian baru lagi."
Vallery mengangguk setuju. Suaminya ini benar, ada banyak hal yang perlu ia siapkan. Jadi memang ia tidak boleh gegabah dan menginginkan sesuatu. Semua harus dipikirkan matang-matang dan harus disesuaikan dengan kondisi sang putra. Tapi setidaknya ia bahagia karena sudah mendapat kepastian ini.
Tbc,
__ADS_1
πͺπͺπͺ telat up again dari yang dijadwalkanππππππ π€£π€£π€£π€£ dasar aku