
****
"Eh, anjir, itu kenapa matanya bengkak gitu? Abis nangis lo semalem? Apa berantem lagi sama laki lo?"
Nick tidak dapat menahan raut wajah terkejutnya saat ia bertemu Vallery di tempat parkir. Ibu muda itu baru saja keluar dari mobilnya dan Nick kebetulan berada tak jauh dari mobilnya.
"Sendirian aja lo? Patricia mana?"
Bukannya menjawab, Vallery malah balik bertanya.
Nick langsung cemberut begitu mendengar nama sang kekasih disebut.
"Lagi males gue sama dia, tahu deh dianya di mana."
"Berantem lagi?" tebak Vallery tepat sasaran.
Kalau ia perhatikan dari raut wajah sahabatnya kali ini, sepertinya yang sedang merajuk Nick bukan Patricia. Gara-gara apa nih? Tumbenan. Nick bukan tipe pria yang mudah merajuk kalau dengan sang kekasih, kecuali pacarnya itu yang benar-benar membuatnya kecewa. Karena Nick termasuk pria yang cuek dan bodo amat.
"Enggak mau cerita?"
"Lo dulu yang harus cerita kenapa mata lo bengkak. Berantem gegara apa kali ini?"
Vallery mendengus lalu mengajak Nick untuk segera meninggalkan tempat parkir. "Enggak berantem kok."
"Terus?"
"Nanti aja deh, gue ceritanya di kelas aja."
Nick terlihat tidak setuju dengan usulan Vallery. Pria itu menggeleng. "Gue belum sarapan, kita ke kantin, lo cerita di sana aja."
"Ntar gue ditraktir kan?"
Nick kembali menggeleng. "Yang bininya CEO siapa? Lo kan? Jadi harusnya lo yang traktir gue, bukan sebaliknya."
"Yang lakinya CEO emang gue, tapi lo kan tau biaya perawatan Saka di rumah sakit udah bisa buat DP rumah. Jadi lagi prihatin ini, Nick."
Mendengar pembelaan diri dari Vallery, Nick langsung mendengus tidak percaya. Alasan. Gerutunya kemudian.
"Halah, prihatin apaan? Rumah lo abis direnovasi lagi kan? Lo pikir gue bego? Biaya renovasi juga nggak sedikit. Prihatin dari mananya, Valle? Nggak tahu cara bersyukur lu. Kebangetan! Traktir gue nggak nyampe lima puluh ribu kali. Enggak akan berasa." Nick kemudian berdecak, "lo tuh sebenernya nggak tahu ya, laki lo setajir apaan? Emang jatah bulanan lo berapa sih? Heran gue."
"Bawel banget deh, ya udah, iya. Gue yang ketraktir. Kesel gue lama-lama." Vallery kemudian memukul pundak Nick, "lo tuh kalau lagi ribut sama pacar lo, nyemburnya jangan gue. Gue aja kadang udah suka capek ngadepin laki gue, lo malah nambah-nambahin."
Dengan wajah tak bersalahnya Nick terkekeh sambil merangkul pundak Vallery. "Kenapa? Lo mulai bosen sama laki lo? Salah lo sendiri nggak main aman sih dulu, coba dulu lo berguru sama sebelum gituan sama cowok lain. Nggak bakalan kejadian begini."
Vallery langsung menyingkirkan lengan Nick yang merangkul pundaknya dengan kasar, kedua matanya melotot tajam. "Lo sebenernya masih mau gue traktir enggak sih?" tanyanya sinis.
"Mau dong. Oke-oke, gue diem." dengan wajah pasrahnya, Nick mengangkat kedua bahunya tanda menyerah. Setelahnya ia merentangkan kedua tangannya, mempersilahkan Vallery masuk ke dalam kantin lebih dahulu. "Ladies first! Nyonya muda silahkan masuk!"
"Fix. Enggak jadi gue traktir. Lo bayar sendiri makan lo."
Mendengar nada bicara Vallery yang terdengar datar dan serius, Nick langsung mengumpat pelan. Rencananya gagal.
"Mpok! Mi ayam dua, es teh manis 2. Nggak pake lama, ya. Saya di tempat biasa, yang paling pojok," ucap Nick saat memesan makanan, setelahnya ia langsung menyusul Vallery.
__ADS_1
Ibu muda itu nampak mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai membacanya dengan serius.
"Rajin amat sih ini Mahmud satu. Emang ada kuis ya hari ini?" tanya Nick heran, ia kemudian mendudukkan pantatnya pada bangku yang ada di hadapan Vallery.
Pandangannya mengedar ke penjuru kantin. Pengunjung kantin pagi ini lumayan cukup ramai, sepertinya banyak yang melewatkan sarapan mereka dan memilih untuk sarapan di kantin hari ini.
"Nick!"
"Hm."
Fokus Nick saat ini ada pada ponselnya. Ngapain lagi kalau bukan ngegame. Mau chat sang pacar, kan lagi nggak akur.
"Lihat gue!"
Nick segera mengalihkan pandangannya dan menatap sampul buku yang Vallery gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Don't Angry, Mom!" ucap Nick sambil mengeja judul buku yang sedang Vallery baca, "anjir, kalau udah punya buntut begini, ya, bacaannya udah bukan novel teenfic lagi. Tapi buku parenting, njir!" ia tertawa kecil, "ngeri lo, Valle!" responnya kemudian.
"Ya, kan gue mau jadi ibu yang baik buat Saka, Nick, makanya gue mau sering-sering baca buku ginian. Meski sering kali praktek tidak sesuai dengan teori, tapi kan seenggaknya gue ada gambaran lah dikit-dikit. Biar nanti Begitu Saka gede gue nggak kaget-kaget banget, punya bekal teori dasarnya kan lebih baik ketimbang nggak punya."
"Wissh, calon ibu yang baik rupanya."
"Jelas, gue gitu loh. Gue bahkan sampe ambil kelas parenting juga tahu, kebetulan ini buku gue dapet rekomendasiin dari temen kelas gue," ucap Vallery membanggakan diri.
Nick nampak terkejut dengan pengakuan Vallery. Ia memang tahu kalau sahabatnya ini mengambil kelas tambahan, namun, yang ia tahu kelas yang Vallery ambil itu kelas memasak, bukan kelas parenting seperti yang Vallery sebutkan.
"Bukannya lo ambil kelas masak?"
"Buset, gimana lo bagi waktunya? Kuliah, ambil kursus, bolak-balik ke rumah sakit, ngurusin laki? Gila, nggak main-main ya kegiatan lo. Banyak banget yang harus lo lakuin? Dan lo masih bisa nongkrong sama kita-kita? Setan lo?"
"Anjir, kok lo malah ngatain?" protes Vallery dengan nada sewot.
"Ya, abis lo sibuk banget, Valle. Lo nggak capek sama itu semua?"
"Ya, kalau ditanya gue capek atau enggak, jawabannya capek banget lah. Cuma gimana ya, Nick, namanya juga perjuangan untuk menjadi seorang ibu dan istri. Lo mana paham meski gue jelasin tujuh hari tujuh malam. Nggak bakal ngerti lo!"
Nick baru membuka mulut dan hendak membalas ucapan Vallery. Namun, urung karena pelayan kantin membawakan pesanannya.
"Mi ayam dua, es teh manis dua kan?" tanya pelayan itu memastikan ia tidak salah meja.
"Iya, Mbak, makasih ya."
"Sama-sama. Selamat menikmati! Saya permisi dulu kalau begitu."
"Iya, Mbak, silahkan!"
Nick segera menggeser mangkuk mi-nya tepat di hadapannya. Ia kemudian mulai menuangkan saos, kecap, dan sambal.
"Itu laki lo nggak protes?"
"Enggak kok, cuma kadang dia kasian juga sama gue. Sempet nyuruh gue berhenti ambil kelas salah satunya, cuma gue nolak, sayang duitnya, udah terlanjur bayar masa nggak dilanjutin, ya mubazir."
Nick mulai mengaduk mi-nya. "Ya kan daripada kecapekan lo-nya."
__ADS_1
"Alhamdulillah, sejauh ini gue baik-baik saja kok. Kan tiap malam dipijitin," ujar Vallery sambil menaikkan alisnya naik turun, "ya, selagi sini mau menikmati, gue yakin nggak papa. Kecuali emang perasaan udah nggak enjoy pasti berasa capeknya."
Nick langsung merespon dengan dengkusan. Kedua matanya memutar malas. Ia kemudian mulai menyuap mi ayamnya menggunakan sumpit.
"Terus kenapa mata lo sampai bengkak begini?"
"Gue semalem mimpi buruk, Nick."
Nick menatap Vallery tidak percaya. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang perempuan itu ucapkan. "Apa lo bilang? Cuma gegara mimpi buruk?"
Vallery mengangguk, membenarkan di sela kunyahannya. "Soalnya gue ngimpi buruk tentang Saka, terus bikin gue nangis mulu begitu bangun deh. Jadi, kalau lo kenapa ngambek sama Patricia. Kalau gue perhatiin jawaban lo tadi, kayaknya gue dapat menyimpulkan kalau lo yang ngambek sama dia."
"Lo chat dia?" tebak Nick tiba-tiba.
Dengan wajah santainya, Vallery menggeleng. "Enggak kok."
"Gue kecewa sama dia."
"Soal?"
Nick meletakkan sumpitnya dengan sedikit kasar, raut wajahnya terlihat begitu kesal. "Coba lo bayangin! Dia masih berhubungan sama mantannya, Valle. Dan ternyata dia sering banget curhat ke dia kalau lagi ada masalah sama gue. Gimana gue nggak kesel coba?"
"Tahu darimana lo?"
"Kemarin gue pas jalan sama dia kita nggak sengaja ketemu di mall, terus kita makan bareng. Mereka berdua keliatan akrab, gue awalnya biasa aja tapi lama-lama risih juga pas dia tanya-tanya soal masalah gue sama Patricia. Bahkan dia sok-sok ngasih saran, ya, gue makin kesel dong? Mana cowoknya cakep lagi, gue perhatiin juga bukan dari kalangan kaleng-kaleng."
"Terus lo insecure gegara dia cakep?"
Nick berdecak kesal. "Ya menurut lo dong, Valle, cewek cowok yang dulunya pernah sayang-sayangan dan setelah putus tetep berhubungan baik dan bahkan saling curhat soal masalah masing-masing. Menurut lo wajar? Gimana kalau ntar pada CLBK? Kan serem, Valle, gue dapetin dia tuh susah, ya kali gue ditinggalin demi mantannya itu. Ya, gue nggak terima lah."
"Apaan deh? Mikir lo kejauhan, lo nggak percaya sama cewek lo sendiri?"
Nick menggeleng dengan tegas.
"Dia nggak mungkin begitu, Nick," sahut Vallery kemudian.
"Enggak ada jaminan kalau Patricia nggak mungkin begitu, Valle."
Vallery hendak kembali membalas, namun karena ponselnya yang tiba-tiba berbunyi membuatnya urung dan memilih untuk mengecek ponselnya. Nama rumah sakit tempat Saka dirawat yang tertera di sana. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Batinnya langsung bertanya-tanya, ada apa gerangan pihak rumah sakit menelfonnya?
"Siapa yang telfon, Valle? Kok muka lo langsung pucet gitu?" tanya Nick khawatir melihat perubahan wajah Vallery yang menurutnya terkesan mendadak. Perempuan itu lalu menunjukkan layar ponselnya.
"Hah? Kenapa pihak rumah sakit nelfon lo?"
Vallery menggeleng tanda tidak tahu.
"Udah, buruan angkat! Kali aja penting!" perintah Nick dengan segera, ia berdecak heran saat mendapati Vallery malah melamun dan bukannya langsung menjawab panggilan tersebut.
Vallery mengangguk cepat, dengan sedikit ragu-ragu, ia menggeser tombol hijau. "Ya, halo?"
Tbc,
ππππ Ketiduran lagi, tau lah
__ADS_1