Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
72. Cari Nama Buat Baby


__ADS_3

****


"Waktunya makan," ucap Lingga sambil menutup laptop miliknya yang sedari tadi dipinjam Vallery. Ia segera menyingkirnya laptopnya dan menggantinya dengan semangkuk bubur beserta lauk dan minuman.


Begitu masuk ruangan, istrinya itu langsung mencari keberadaan laptop miliknya. Untuk apalagi kalau bukan untuk mencari referensi nama yang cocok untuk putranya.


"Minum obat, istirahat. Biar cepet sembuh dan pulih. Emang nggak mau pulang?"


Ekspresi kesal terlihat pada wajah Lingga. Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang lalu menyendok bubur dan menyuapkan pada Vallery.


"Buka mulutnya! Aaaa..."


"Taroh!" balas Vallery, "aku bisa makan sendiri, Mas. Udah sana kamu juga makan, kita makan sama-sama. Apaan sih pake disuap-suapin segala, kayak lagi syuting sinetron tauk."


Lingga meletakkan sendok kembali ke dalam mangkuk. Helaan napas terdengar tak lama setelahnya. "Kan, aku cuma pengen keliatan perhatian dan romantis, Vallery."


"Halah, pencitraan. Udah, buruan kamu ambil jatah makan siang kamu. Kita makan sama-sama, sekalian bawain hp aku. Kayaknya udah penuh deh."


Kedua bola mata Lingga sontak membulat saat mendengar Vallery menyebut kata 'hape'. Ekspresinya terlihat tidak suka, ia berdecak sambil menggeleng tegas.


"Enggak," tolak Lingga tegas, "nggak ada hape-hapean. Makan, Vallery! Minum obat terus tidur. Kenapa malah nyariin hape?"


"Iiih, tapi aku butuh, Mas. Aku perlu update soal kuliah aku."


Lingga tersenyum sinis. "Enggak ada! Aku udah ajuin cuti buat kamu."


"Mas Lingga, ihh! Kok kamu gitu? Anak kita tuh masih harus ada di inkubator, jadi aku harus tetep kuliah. Karena nanti begitu dia udah keluar dari sana, kan otomatis aku nggak bisa kemana-mana dan harus fokus ngurusin dia. Iih, kok kamu gitu sih, Mas? Kenapa nggak ngajakin aku dis--" kalimat Vallery mendadak terhenti karena Lingga secara tiba-tiba menyuapinya.


Dengan wajah emosi dan menggunakan kekuatan penuh Vallery langsung memukul Lingga kencang. Hal ini tentu saja membuat pria itu langsung mengaduh kesakitan.


"Astagfirullah, sakit banget, Vallery! Wah, udah sembuh nih kalau dirasain dari pukulan kamu tadi. Aku bilang ke Randu lah biar kasih izin kamu pulang."


Vallery memasang wajah cemberutnya. "Ya abis kamu jahat, masa orang lagi ngomong malah digituin? Sopan begitu?"


Lingga tersenyum lalu mengecup pipi sang istri. "Bercanda, sayang, jangan ngambek!"


Dengan wajah judesnya, Vallery langsung mengelap pipi bekas kecupan Lingga. Tatapan matanya melirik sang suami dengan sinis. "Tau lah, kamu ngeselin. Aku ngambek, ah."


"Dududu, istri aku ngambek. Sini, sini, peluk dulu biar nggak ngambek lagi!"


Lingga merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk Vallery. Namun, jelas saja perempuan itu menolak. Ia lebih memilih untuk menyendok bubur dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Enggak mau!" tolak Vallery sambil menjauhkan diri.


"Kok nggak mau sih? Nolak permintaan suami dosa loh."


Vallery berpikir sejenak. "Asal pinjemin hape."


"Enggak ada hape-hape," tolak Lingga tegas, ia kemudian langsung turun dari bed dan berjalan menuju sofa setelah mengamankan ponsel dan laptopnya, "hape aku sita sebelum kamu abisin makanan kamu."


"Kalau Mas Lingga gini terus, aku nggak mau pulang ke rumah nanti. Mau ke rumah Papa aja." Vallery tak mau kalah, ia langsung mengeluarkan jurus ancamannya.


Hal ini tentu saja membuat Lingga langsung berdecak kesal. Ia merasa kalah. Dengan pasrah ia langsung bangkit berdiri dan menyerahkan ponsel miliknya.


"Tapi pake hape aku aja," ucap Lingga dengan wajah pasrahnya, "nggak usah aneh-aneh. Makan dulu!"


"Aku aneh-aneh gimana sih, Mas?" protes Vallery dengan wajah tidak terima.


"Ya itu, lupa sama makannya."


"Enggak. Sambil makan kok."


"Good Mom," puji Lingga sambil tersenyum bangga. Dengan wajah santainya, ia langsung mengecup pelipis Vallery.


Vallery melotot kesal. "Mas Lingga, kerjaannya modus terus. Aku sebel," rajuknya sebal, "mentang-mentang nggak ada orang."


Lingga langsung terbahak. "Kan kesempatan, sayang. Lagian juga cuma dikit," cengirnya sambil mengedip genit. Ia kemudian berjalan kembali menuju sofa dan duduk di sana.


"Makan, Vallery!" ucap Lingga memperingatkan Vallery yang nampak sibuk dengan ponselnya, dan bukannya segera menyelesaikan makannya.


"Mas Lingga juga sama aja, bukannya makan malah buka laptop."


"Aku kerja, Vallery. Kalau nggak kerja nanti yang bayar tagihan rumah sakit siapa?"


"Papa."


"Astagfirullah," guman Lingga sambil melirik sang istri dengan tatapan sinisnya, "kamu tanggung jawab aku, Vallery! Bisa-bisanya kamu bilang gitu? Kita baru baikan, ya, jangan ngajak ribut."

__ADS_1


"Apaan sih? Siapa yang ngajak ribut?" protes Vallery kesal, ia kemudian menunjukkan layar ponselnya, "ini Papa telfon."


"Oh, kirain."


"Makanya jangan marah-marah terus, sebel aku."


"Iya, iya, maaf." Lingga kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Vallery, ia kemudian meraih ponselnya dari genggaman sang istri, "tumben video call," gumannya heran.


"Angkat aja dulu!"


Lingga menatap Vallery sebentar lalu menjawab panggilan tersebut. Wajah Gerald dan Riana langsung muncul di sana, kedua nampak cantik dan tampan dengan balutan jas koko dan kebayanya. Ia lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Vallery.


"Ya ampun, Papa? Tante Riana?" seru Vallery heboh, ia kemudian melambaikan tangan untuk menyapa keduanya, "udah mau ijab qobul? Huhu, sedih karena nggak bisa ada di sana."


Gerald tersenyum lalu terlihat seperti hendak mengambil sesuatu. Vallery terlihat seperti hendak mengintip apa yang sedang dilakukan Papanya. Namun, tentu saja itu tidak terlihat. Tak lama setelahnya, Gerald tiba-tiba memamerkan buku nikahnya, "udah sah dong," ujarnya pamer.


Vallery langsung menjerit heboh tak lama setelahnya. Di sampingnya, Lingga tertawa melihatnya, ia langsung yakin kalau istrinya ini sudah pulih kembali.


"Ahh, punya Mama baru aku, Mas," ucap Vallery pada Lingga. Tak terasa kedua pipinya terasa perih, ia hendak menangis tapi malu, "duh, Mas, kok aku jadi pengen nangis."


"Gimana keadaan kamu, Vallery? Udah membaikkan?"


Vallery mengangguk, karena malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik lengan Lingga. "Kamu aja yang ngomong, Mas. Aku malu."


Lingga terkekeh geli lalu memeluk Vallery. Ia membenarkan posisi kameranya dulu sebelum memulai ucapannya. "Selamat menempuh hidup baru, Pa, Lingga mewakili Vallery juga ikut mendoakan kebahagiaan Papa dan..."


"Kamu bisa tetep manggil aku nama, Ga," sahut Riana cepat. Ia tersenyum saat menyadari raut wajah kebingungan Lingga.


Meski awalnya ragu-ragu, Lingga pada akhirnya tetap mengangguk. "Oke, selamat ya Riana udah sah nikah sama mertua aku. Bahagia terus, cepet dapet momongan dan langgeng sampai tua." ia kemudian menunduk, "sekarang kamu yang ngomong dong." ia kemudian mengusap pipi sang istri yang basah.


"Buat Papa dan Tante Riana, selamat ya atas pernikahan kalian. Aku minta maaf banget karena nggak bisa hadir dan menyaksikan hari bahagia kalian. Aku di sini cuma bisa doain yang terbaik buat kalian, bahagia terus, langgeng sampe kakek nenek dan yang pasti aku titip Papa aku, ya. Bahagiakan dia. Aku sayang sama kalian."


"Terima kasih, Vallery, Tante seneng kamu mau nerima Tante sebagai ibu sambung kamu. Tante mungkin belum tentu bisa jadi perempuan hebat seperti Mama kamu, tapi Tante akan berusaha yang terbaik buat kalian. Bantu Tante biar bisa jadi ibu yang baik buat kamu, ya?"


Tak terasa, kedua mata Riana ikut berkaca-kaca. Di sebelahnya Gerald langsung merangkul dan mengusap pundak sang istri. Ia tahu betul perjuangan mereka sebelum sah tidak lah mudah. Ada saja halangan dan juga rintangan yang harus mereka hadapi. Namun, dengan luar biasanya Riana mampu bertahan dan terus setia berada di sisinya.


"Gimana kondisi Cucu Papa? Sudah ada perkembangan?" Gerald kemudian memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Bismilah, semoga terus membaik, Pa, bantu doanya ya. Masih belum aktif sih dianya, tapi menurut hasil pemeriksaan kondisinya baik meski belum bisa kalau harus bernapas sendiri."


Lingga mengangguk. "Yang penting Papa fokus dulu di sana. Nanti kalau ada perkembangan lain pasti langsung dikabari."


Gerald mengangguk paham. Lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Aku sedih deh, Mas, nggak bisa hadir ke acara nikahan Papa." ekspresi Vallery cemberut, "Papa pasti sedih karena kita nggak ada di hari bahagianya."


"Udah nggak papa, sekarang terusin makannya, terus minum obat. Mau cepet sembuh nggak sih? Nggak kangen rumah?"


"Kangen. Cuma aku kayak nggak tega deh, Mas, tidur di rumah sementara anak kita masih di sini."


"Udah, nggak usah mikir yang aneh-aneh. Buruan makan, atau aku yang suapin."


Vallery berpikir sejenak. "Suapin aja."


"Makan sendiri aja, aku harus cek laporan, sayang." Lingga kemudian berdiri dan mengecup pucuk rambut sang istri sebagai permintaan maafnya.


Vallery langsung mencibir kesal. "Dasar Om-om nyebelin!" gerutunya kemudian. Meski Lingga dapat mendengarnya, karena Vallery memang sengaja membuat suara agar dapat ia dengar, hanya tertawa saat mendengarnya.


*****


"Mas, bahasa Jawanya dari apaan?"


Lingga sontak langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Ia menoleh ke arah Vallery dengan tatapan heran. Untuk apa sang istri menanyakan bahasa Jawa. Tumbenan.


"Kenapa?"


Vallery langsung berdecak. "Itu bahas Indonesia Mas, bukan bahasa Jawa."


"Bukan, maksud aku kenapa kamu nanyain bahas Jawa. Tumben. Kamu mau nama anak kita ada bahasa Jawanya?"


Vallery langsung mengangguk. "Iya. Kan Bapaknya Bule Jawa. Anaknya harus pake nama Jawa juga dong."


"Sakalingga bagus nggak sih, Mas? Mirip punya kamu kan? Saka bahasa Jawa dari kan? Iya bukan sih?"


Lingga mengangguk, membenarkan. "Iya, saka emang dari. Tapi kalau Sakalingga pasti beda kan?"


Kali ini giliran Vallery yang mengangguk membenarkan. "Iya, artinya penyangga dan kekuasaan. Tapi kan bisa juga tuh jadi dari kamu."

__ADS_1


"Masa dari aku?"


"Ya, kan benihnya dari kamu."


Lingga terbahak. "Ya, biasa aja ngomongnya nggak usah ngegas! Kamu beneran suka nama itu?"


Dengan ekspresi berbinarnya, Vallery mengangguk. "Iya, suka banget, soalnya namanya sama kayak kamu. Nanti panggilannya Saka."


"Enggak takut gitu nanti kelakuannya sama kayak aku?"


Demi Tuhan, niatnya tadi Lingga hanya bercanda. Namun, sepertinya Vallery belum bisa diajak bercanda. Buktinya perempuan itu langsung melemparinya sendok, kebetulan barang itu yang ada di dekatnya.


"Sembarangan kalau ngomong! Ya udah, aku ganti nama lain kalau gitu. Amit-amit ya Allah jangan sampai anak aku nanti kayak Bapaknya."


"Aamiin." Lingga langsung tersenyum sambil mengamini, "tapi ngomong-ngomong aku juga suka namanya. Kita pake itu aja kalau gitu."


"Enggak jadi," tolak Vallery tegas.


"Ya udah, Sakanya doang aja kalau gitu. Nanti nama anak kita pake H, ya. Yang tadi enggak kan?"


Vallery berpikir sejenak lalu mengangguk. "Pake nama Sakalingga aja lah, bismilah, semoga kelakuannya nggak kayak kamu."


"Aamiin."


"Terus nama belakangnya gimana?"


"Mau pake nama belakang aku?" tawar Lingga. Kini ia sepenuhnya meninggalkan pekerjaannya dan mendekat ke arah Vallery. Ia ingin turut andil dalam mencari nama sang putra, "itu aja, yang artinya pembawa keberuntungan."


"Shankara?"


Lingga mengangguk, membenarkan. Baginya, putranya adalah pembawa keberuntungan baginya. Kalau bukan karena keberadaannya, ia belum tentu bisa menjadikan Vallery sebagai istrinya? Pasti akan sulit baginya tanpa kehadiran bayi itu.


"Sakalingga Shankara. Bagus kan? Unik."


"Ya bagus sih, Mas, tapi masa nama depan sama belakang S semua?"


Vallery suka dengan arti nama belakang yang Lingga sarankan. Tapi masalahnya nama depannya sudah diawali huruf S, masa nama belakang juga diawali huruf S lagi.


"Enggak papa. Biar unik. Kan jarang-jarang tuh."


Vallery berpikir sejenak lalu menggeleng tidak setuju. "Enggak. Jangan. Masa sama sih, Mas, cari nama lain," tolaknya kemudian, "apa ini aja, yang artinya kebanggaan semua orang. Garvi. Bagus nih."


"Sakalingga Garvi?" Lingga langsung menggeleng tegas, "enggak cocok, sayang."


"Tapi artinya bagus, Mas."


"Tapi aku kurang suka."


"Terus gimana?"


"Coba nanti kita tanya Ibu atau Papa kamu, untuk sementara kita pake nama Saka dulu. Gimana?" usul Lingga.


Vallery berpikir sejenak. Awalnya ia tidak yakin, tapi lama kelamaan pada akhirnya ia mengangguk setuju.


"Ya, udah, oke lah kalau begitu."


Lingga mengangguk lalu merebut ponsel milik Vallery. "Udah main hapenya, sekarang tidur!" secara paksa, ia kemudian menyuruh sang istri agar segera berbaring.


"Bosen, Mas, masa tidur terus," rengek Vallery merasa jenuh.


"Enggak ada alasan. Sekarang tidur!" Lingga melotot tajam, mengisyaratkan Vallery agar tidak membantah ucapannya.


Meski awalnya tidak rela tapi ada akhirnya Vallery langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan penuh perhatian Lingga langsung menyelimuti Vallery.


"Sekarang tidur! Nanti ada orang ke sini jengukin kamu, kamunya nggak bisa tidur."


"Aku udah kebanyakan tidur, Mas. Nanti aku makin gendut gimana?"


"Bagus. Biar nggak ada yang lirik-lirik kamu lagi, jadi kamu cuma buat aku doang." Wajah Lingga nampak santai seolah tidak merasa bersalah sama sekali saat mengatakannya.


Vallery langsung melotot kesal. "Apa kamu bilang, Mas?"


"Tidur, Vallery!" ucap Lingga lalu menjauh dari bed dan kembali duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaannya.


^^^Tbc,^^^


mon maap, semalem mau up tapi ketduran😅

__ADS_1


__ADS_2