
****
Ekspresi wajah Riana berubah panik saat ia baru saja mendapat kabar dari Lingga, yang mengatakan kondisi Saka sempat mengalami penurunan dan harus kembali dipantau lebih intensif. Belum lagi dengan keadaan sang anak sambung, Valley, yang katanya jatuh sakit karena shock mendengar sang putra mengalami penurunan kondisi. Buru-buru ia masuk ke dalam ruangan sang atasan, yang kini juga sudah resmi menjadi suaminya.
Meski sudah resmi menikah, Riana tidak lantas memilih untuk berdiam diri saja di rumah. Ia tetap bekerja seperti biasa, sebelum menikah.
Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin di rumah kebosanan kalau tidak bekerja.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut Gerald dari dalam. Fokusnya belum teralihkan dari berkas yang ada di hadapannya.
Bahkan saat Riana masuk ke dalam ruangan pun, fokus pria itu sama sekali tidak teralihkan sedikit pun.
"Pak, saya mau minta izin."
Profesional. Itu lah yang sedang ia coba jalankan, kalau sedang jam kerja, pantang bagi Riana untuk memanggil sang atasan dengan sebutan 'Mas'. Kecuali jika Gerald sendiri yang sudah bertitah untuk memanggilnya 'Mas' baru lah ia akan memanggil demikian. Tapi kalau tidak, ya, tentu saja ia akan memanggil Gerald dengan sebutan 'Pak'.
"Mau izin kemana?"
Kali ini Gerald terlihat tertarik dan langsung mengalihkan pandangannya dari berkas di hadapannya. Wajahnya menatap sang istri dengan tatapan heran.
"Ke rumah Vallery, dia sakit karena kaget denger kabar Saka sempat ngedrop. Aku rencana mau jengukin dia sekarang, dia pasti sedih banget."
"Ya Tuhan, kalau begitu aku ikut. Aku beresin ini dulu. Kamu tunggu di luar, nanti kita ke sana bareng-bareng."
"Hari ini Bapak ada meeting, Bapak nggak bisa mangkir dari jadwal yang sudah saya buatkan!"
"Riana! Vallery itu putriku, darah dagingku sendiri, aku tidak peduli dengan meeting. Apalagi kondisi cucuku sedang tidak baik, aku tidak bisa kalau belum memastikan kondisi mereka, Riana. Mereka lebih penting dari apapun."
Riana menghela napas. "Tapi kata Lingga kondisi Vallery sudah membaik, sekarang udah di rumah, pun dengan Saka. Dia udah dapat penanganan terbaik, Mas."
Kalau sedang mengeluarkan bujukannya, Riana harus menggunakan panggilan 'Mas' demi memperlancar rencananya. Ia mau Gerald bersikap profesional dan tidak sembarangan mangkir dari jadwal.
"Aku yang akan ke sana sendiri untuk memastikan kondisi mereka. Kamu nggak percaya sama aku, Mas?"
Wajah Gerald berubah panik, ia lantas menggeleng cepat. "Bukan begitu maksudku, sayang. Aku..."
"Mas, meeting ini penting buat perusahaan, kamu mau kehilangan peluang gitu aja?"
Gerald menggeleng. Jelas saja ia tidak mau kehilangan peluang besar itu, tapi mengingat kondisi sang putri dan cucu membuatnya berpikir ulang untuk merelakan.
"Mas," panggil Riana berusaha membujuk kembali, "kalau aku bisa gantiin kamu datang ke meeting kita nanti sih aku nggak masalah, tapi kan itu nggak bisa aku lakuin. Kamu sendiri yang harus datang, Mas. Aku akan ke rumah sakit untuk memastikan langsung kondisi Saka, lalu ke rumah Vallery untuk memastikan kondisi dia. Meski dia hanya anak sambungku, tapi aku udah nganggep dia kayak anak aku sendiri. Tapi kayaknya kamu nggak cukup percaya sama aku, untuk melakukan hal tersebut."
Gerald menggeleng cepat. Sedikit pun tidak ada perasaan meragukan dari ketulusan Riana terhadap putrinya, ia tahu istri barunya ini sangat tulus menyayangi putrinya.
"Ya sudah, kalau gitu, kamu sendiri yang datang ke sana. Nanti begitu selesai meetingnya, aku nyusul. Kamu ke rumah Vallery dulu, tunggu aku di sana. Habis itu baru kita pergi ke rumah sakit sama-sama."
Riana mengangguk tidak masalah. "Kalau begitu saya izin keluar, Pak."
Gerald menahan Riana untuk tidak pergi dulu sambil membuka laci, mengeluarkan kunci mobil dari sana dan menyerahkan pada sang istri.
"Kamu aja yang pake mobil, nanti biar aku ke sana dianterin supir pake mobil kantor. Karena kalau aku minta kamu dianter supir kantor pasti kamu nolak, jadi mending kamu aja yang bawa mobil."
Riana kembali mengangguk dan mengambil kunci mobil Gerald, ia kembali berpamitan sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, Pak."
"Mas, Riana!"
Riana berdecak kesal. Ia menyimpan kunci mobil Gerald di dalam saku blazernya dan kembali menghampiri sang suami. Ia langsung mengulang pamitannya.
"Kalau gitu aku pamit, ya, Mas," pamitnya.
Gerald langsung menyodorkan tangannya. "Nggak mau cium tangan?" tawarnya menggoda.
Dengan patuh Riana langsung mencium punggung tangan Gerald.
"Hati-hati, nanti begitu sampai jangan lupa langsung ngabarin."
"Iya, Mas."
Gerald mangguk-mangguk dan kembali memfokuskan pandangannya pada berkas yang ada di hadapannya. "Ya sudah, sana berangkat! Saya harus kembali bekerja."
Jika sudah menggunakan saya-anda, itu artinya panggilan Pak perlu Riana sematkan saat memanggil sang suami.
"Baik, Pak. Saya permisi, maaf mengganggu waktu sibuknya." Riana kemudian undur diri dan keluar dari ruangan Gerald. Pria itu hanya mengangguk seadanya tanpa meliriknya sedikit pun.
Terlalu profesional, kadang suaminya ini kadang membuatnya kesal seperti saat ini. Ia harus mengikuti semua mood Gerald.
*****
Lingga tidak dapat menahan keterkejutannya saat membuka pintu gerbang dan menemukan sang ibu mertua berdiri di sana, sambil membawa kantong kresek berisi buah-buahan di tangannya.
"Loh, Mama?"
"Iya, mau jengukin Vallery. Gimana kondisi dia?"
Lingga mengangguk sambil melebarkan pintu gerbang. "Udah membaik, sekarang lagi istirahat di kamar. Ayo, masuk, Ma. Baru dari kantor?"
Riana mengangguk. "Iya, begitu kamu kabarin, aku langsung minta izin sama Mas Gerald buat jengukin Vallery. Awalnya Mas Gerald juga mau langsung ikut ke sini cuma aku larang, soalnya masih harus ada rapat."
Riana kemudian mengekor di belakang Lingga dan masuk ke dalam rumah.
"Oh, iya, nggak papa, jenguknya bisa nanti-nanti, soalnya kondisi Vallery nggak terlalu serius, dia cuma shock aja."
Riana berdecak sedih. "Terus gimana sekarang sama keadaan Saka? Apa kata dokter?"
"Harus dapat penanganan intensif lagi, ventilator juga sejak tadi pagi dipasang lagi. Katanya terjadi peradangan gitu di parunya, gara-gara infeksi gitu. Soalnya kan kondisi Saka emang masih suka naik-turun, daya tahan tubuh juga masih lemah, jadi ya gampang kena infeksi gitu. Cuma semoga aja dia bisa melewati semua ini dengan baik. Minta doanya, Ma."
Riana manggut-manggut saat mendengar penjelasan dari Lingga. Kini keduanya sudah masuk ke dalam rumah dan sedang menuju kamar, di mana Vallery sedang beristirahat.
"Pasti itu, tanpa kalian minta, aku selalu bantu doa biar Saka cepet pulih dan bisa kumpul sama kalian." Riana menghela napas, "enggak tega juga lama-lama liatnya, kasian. Udah berapa bulan aja dia dipasangi ventilator. Vallery tadi pasti shock banget, ya?"
Lingga mengangguk, membenarkan. Apalagi dengan mimpi yang alami semalam, jelas saja itu membuat Vallery semakin shock dan khawatir. Istrinya itu pasti tadi begitu ketakutan sampai membuatnya hampir pingsan.
"Apalagi Vallery semalam mimpi buruk tentang Saka, jadi pikirannya pasti kemana-mana."
"Ya ampun kasian."
Lingga kemudian membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Riana masuk. Di dalam Vallery nampak terlelap di sana.
__ADS_1
"Tidur?" bisik Riana takut membangunkan Vallery. Ia mendadak ragu untuk melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Udah lumayan dari tadi kok, nggak papa. Masuk aja, Ma."
Lingga kemudian masuk ke dalam kamar lebih dahulu dan membangunkan sang istri.
"Vallery, sayang, bangun. Ada Mama nih."
"Jangan dibangunin," cegah Riana merasa tidak enak. Ia merasa bersalah karena kedatangan-
nya malah mengganggu tidur sang putri sambung, "kasian."
Lingga tersenyum samar. "Enggak papa, emang udah lumayan lama tidurnya. Mau aku suruh makan juga." ia kemudian menepuk pundak sang istri, "Vallery, bangun dulu! Ada Mama ini. Sst, bangun, sayang!"
Merasa tidurnya diganggu, Vallery segera menggeliat. Perlahan tapi pasti, ia membuka kedua matanya dan menemukan Riana berdiri tak jauh dari ranjangnya.
"Loh, Mama?" Vallery segera bangun dibantu Lingga, "udah lama, Ma?"
Riana menggeleng sambil meletakkan kantung plastik yang ia bawa, di atas meja nakas. "Baru aja kok, maafin Mama ya, jadi ganggu istirahat kamu."
Vallery menggeleng tidak setuju. "Enggak kok, Vallery udah cukup istirahatnya. Mama nggak ngantor?"
Lingga kemudian berdiri dan mempersilahkan Riana untuk duduk.
"Ini tadi abis dari kantor, tadi sih niatnya mau nemenin Papa kamu meeting tapi karena kamu sakit jadi Mama suruh Papa-mu meeting sendiri. Gimana kondisi kamu? Sudah enakan?" Riana duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahi Vallery, "kok agak anget," ia kemudian menoleh ke arah Lingga, "emang tadi sempet demam, Ga?"
Lingga menggeleng. "Tadi sih emang agak anget, Ma. Cuma kata Vallery itu gara-gara tangan aku yang dingin makanya kerasanya anget. Jadi nggak aku kasih paracetamol." kini giliran dia yang menyentuh dahi Vallery, ia memang merasakan suhu tubuh sang istri terasa sedikit berbeda. Seperti demam ringan.
"Ya udah, aku ambilin makan sama obat dulu, ya. Kamu dulu ngobrol sama Mama. Aku tinggal. Mama mau minum apa?" tawar Lingga pada Riana.
"Enggak usah, nanti kalau aku haus, biar ambil sendiri. Kamu ambilin makan buat istri kamu saja."
Lingga mengangguk paham lalu segera keluar dari kamar.
"Ya ampun, kenapa sampai begini sih, sayang. Sehat-sehat, ya, Saka butuh kamu. Dia pasti sedih juga kalau tahu Mama-nya sakit begini."
Vallery tersenyum. "Vallery baik-baik saja, Ma, Mama nggak perlu khawatir."
Riana mengangguk sambil mengelus telapak tangan Vallery. "Iya, Mama tahu kamu kuat, sayang. Saka pasti bisa melewati semua ini, begitu juga kamu. Mama percaya kalian pasti akan segera berkumpul bersama. Jangan patah semangat, ya."
Vallery mengangguk, kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Detik berikutnya ia langsung memeluk Riana dan menangis tersedu di pelukan sang ibu.
"Vallery kadang capek, Ma, Vallery rasanya udah nggak kuat pisah terus-terusan sama Saka. Aku pengen cepet kumpul sama dia, tapi kondisinya malah begini. Aku sedih. Kadang Vallery mikir, kita egois nggak sih, Ma, ngelakuin ini buat Saka? Aku mau dia sembuh dan sehat kayak anak-anak yang lain, tapi liat apa yang terjadi sama dia setiap hari, bikin aku mikir ulang. Jangan-jangan dia udah capek juga buat berjuang."
Riana mengelus punggung Vallery. "Ssst, kamu nggak boleh ngomong begitu. Ini cobaan buat kalian, Mama yakin Saka pun ingin kumpul sama Mama dan Papa-nya. Kamu jangan nyerah ya, sayang, secapek apapun itu. Bertahan demi anak."
Vallery mengangguk sambil mengusap kedua pipinya yang basah. "Mungkin kalau bukan karena Saka, aku udah nyerah, Ma."
"Bagus, pertahankan, ya, Saka pasti mau Mama-nya nggak nyerah. Karena selama ini dia udah berjuang keras untuk bertahan." Riana mengurai pelukannya dan mengelus rambut Vallery penuh kasih sayang, seolah Vallery putri kandungnya sendiri.
"Makasih, Ma."
"Sama-sama, sayang."
Tbc,
__ADS_1
gimana nih, masih ada yg baca gk sih? tunjuk jempol dong kalo masih ada😂