Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Teman


__ADS_3

"Sama sekali tidak."


"Kalau begitu jangan halangi aku."


Mereka bertengkar karena aku, apa sebaiknya aku memisahkan mereka.


"Apa yang kalian mau dariku."


Aku memulai berbicara untuk menghentikan pertengkaran mereka.


"Kau harus berlutut dan meminta maaf pada kami."


"Hei, itu keterlaluan."


Kakak dari gadis itu terlihat sangat kesal, namun aku tidak bisa melihat dia dihina juga hanya karenaku.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Kalau begitu terima ini! Wahai api merah yang membara bakar musuhmu menjadi abu, [Fire ball!]"


Kakaknya James dan tiga temannya menyerangku secara bersamaan. Namun, api itu menghilang dalam sekejap.


Aku juga bingung karena empat bola api itu menghilang begitu saja karena aku tidak melakukan apapun.


"Tuanku, kau tidak apa-apa?"


Ignis keluar dari dalam kalung yang aku pakai dan ia muncul dengan tubuh yang besar.


"Flame wolf?"


Semua ketakutan melihat Ignis, mungkin karena Ignis termasuk salah satu binatang sihir yang langka jadi mereka ketakutan.


"Kalau kalian tidak ingin mati, sebaiknya kalian pergi."


James dan yang lainnya lari terbirit-birit.


"Ignis, sudah cukup."


Ignis kembali mengecil dan melompat ke arahku sambil menjilati pipiku.


Dua kakak beradik itu mendekatiku.


"Nak, siapa namamu."


"Zen Ignatius."


kedua kakak beradik itu membungkuk dan mulai memperkenalkan diri.


"Namaku Mia dan ini adikku, Lia."


Melihat mereka membungkuk dan memanggilku 'nak' rasanya agak aneh. Mungkin aku mengatakan yang sebenarnya mereka bisa membantuku ke diriku yang 15 tahun karena mereka juga bangsawan mungkin ada sihir yang menambahkan umur atau semacamnya.


"Maaf, tidak perlu membungkuk. Aku sebenarnya berumur 15 tahun jadi jangan memanggilku nak ya."


"Apa!?"


"Apa!?"

__ADS_1


Mereka terkejut mendengar kalau umurku lebih tua dibandingkan tinggiku.


"Sebelumnya aku meminum sesuatu yang tidak boleh ku minum tapi karena haus aku meminumnya dan jadi seperti ini."


Mereka sangat terkejut mendengar itu karena ya sangat aneh tiba - tiba seorang anak kecil berumur 6 mengatakan bahwa ia berusia 15 tahun.


"Baiklah, kita berbicara di tempat lain agar lebih mudah berbicara. Aku tahu tempat yang bagus, ikuti aku."


Si kakak mengajakku ke suatu tempat. Kami berada di sebuah bar, tempat ini tidak jauh dari sekolah petualang dan bar ini lumayan besar.


Pertama kami mulai memperkenalkan diri kami lagi.


"Baiklah, pertama aku akan memperkenalkan diri kami sekali lagi, namaku Mia Noble dan ini adikku, Lia Noble."


"Oh, namaku Zen Ignatius dan ini Ignis. Salam kenal."


"Sebaiknya kita memesan makanan terlebih dahulu."


Mia mengangkat tangannya lalu seorang pelayan datang sambil membawa buku kecil.


Setelah melihat buku menu Mia dan adiknya mulai memesan.


"Sayur ikan 2 lalu minumnya Teh susu 2."


Mia melihatku, wajahnya mengatakan 'kau pesan apa?'


Aku dan Ignis melihat buku menu dan memesan.


"Aku Meat Cheese saja."


"Minumnya?"


"Coklat panas."


"Baik, mohon ditunggu."


Pelayan itu pergi ke dapur. Lalu Mia mulai membuka pembicaraan.


"Jadi apa maksudmu kau berumur 15 tahun?"


"Tapi kuharap kalian tidak memberitahu siapapun."


"Baik."


Aku mulai menceritakan tentang kisahku. Dimulai dari aku datang ke dunia ini, dikhianati oleh putri raja, bertemu dengan Riska di hutan kematian lalu bertarung melawan Zifrit, bertemu Roy dan teman-temannya hingga bertemu mereka berdua.


"Begitu ya. Aku mengerti, tapi kau hebat bisa bertahan hingga sekarang."


Aku tidak tahu apakah itu pujian untukku. Tapi memang benar aku bisa bertahan hingga sekarang adalah sesuatu yang hebat.


"Ini pesanan anda, silahkan dinikmati."


Pesanan makanan yang kami pesan akhirnya datang. Kami mulai memakan makanan kami, aku membagi dua dagingku dengan Ignis, karena Ignis terlihat menginginkannya hingga air liurnya jatuh.


Mia mulai membuka pembicaraan lagi.


"Jadi sekarang, apa tujuanmu."

__ADS_1


Ya kalau dipikir-pikir, tujuanku adalah membalas dendam pada kerajaan Fredrosse tapi untuk saat ini aku harus mencari Maria Kyoko.


"Apa kau mau kembali ke dirimu yang 15 tahun?"


Aku pikir kembali ke diriku yang dulu itu mustahil karena menambahkan umur itu sesuatu yang di luar akal sehat tapi karena ini di dunia lain yang bisa menggunakan sihir kurasa itu sesuatu yang masuk di akal.


"Apa bisa?"


Mia menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu apa artinya itu, tapi dilihat dari wajahnya mungkin itu tidak bisa.


"Bisa. Hanya saja itu sihir tingkat tinggi, bahkan untuk seorang ahli sihir pun butuh bertahun-tahun untuk bisa menggunakannya."


Jadi begitu, karena itu sihir tingkat tinggi jadi mustahil, tapi sebelumnya mereka mengatakan kalau sihir gravitasi adalah sihir tingkat tinggi juga, aku bisa menggunakan sihir gravitasiku dengan mudah karena aku meniru sihir yang ada pada Zifrit, jadi mungkin aku bisa menirunya aku bisa menggunakannya.


"Baiklah, tidak apa-apa tapi kalau tidak mencobanya kita tidak akan tahu bukan?"


"Kau benar."


Kami akhirnya menghabiskan makanan kami tapi bagiku meskipun rasanya enak tapi aku tidak merasa kenyang sama sekali.


"Aku hanya tahu nama sihir itu tapi aku tidak tahu siapa yang bisa menggunakan sihir itu."


Aku mengerti bahwa sangat sulit mencari sihir tingkat tinggi tapi bukan berarti mustahil bukan.


"Apa namanya?"


"Nama sihir itu adalah 'Growth', sihir yang bisa menambahkan usia pada pengguna."


Aku mengerti, sihir seperti ini aku pernah membacanya di buku novel. Kalau tidak salah itu adalah sihir yang hanya bisa dipakai oleh seseorang yang memiliki kekuatan yang besar.


"Sebaiknya kita kembali, sebentar lagi bukan harusnya pertandingan lanjutannya akan segera dimulai."


Ah, aku benar-benar melupakan pertandingannya dan juga Riska. Aku berlari dengan cepat ke sekolah petualang, Ignis masuk kembali ke dalam kalung.


Setelah beberapa menit, aku akhirnya sampai di sekolah. Tepat di sebuah koridor, aku melihat Riska, Roy dan Kanna berdiri di depan pintu, aku berjalan mendekati mereka.


"Sedang apa kalian berdiri disini?"


Wajah Riska terlihat sangat marah.


"Dari mana saja kau? aku mencarimu dari tadi."


"Maaf, tadi ada sedikit masalah."


Wajah Riska yang marah sangat menyeramkan, mata merahnya menyala seperti api yang membara.


"Sudahlah, sekarang kita akan di tes."


"Eh bukankah kita masih ada pertandingan lanjutan?"


Riska menghela nafas dan menjawab dengan santainya.


"Itu tidak perlu, kita dianggap lolos."


"Eh?"


Disisi lain, aku sangat terkejut mendengar itu. Tapi sisi lain aku merasa aneh tiba-tiba lolos tanpa mengikuti pertandingan lanjutan.

__ADS_1


Tapi kupikir ini jadi mudah untuk mencari Maria Kyoko. Kami masuk ke dalam ruangan yang berada di depan kami.


ada beberapa anak berumur 15 tahun berbaris dengan rapi lalu di depan mereka ada 3 orang dewasa mereka terlihat sekitar 30 tahunan sedang duduk sambil menatap kami.


__ADS_2