
"Zen! Diam dan biarkan aku menggosok punggungmu."
Sudah kuduga ini yang akan terjadi.
Saat ini aku sedang di tempat pemandian bersama dengan Riska, Lilith, Laura, Rina dan yang tidak ku sangka akan ikut, Lucy dan beberapa murid.
Beberapa saat sebelumnya sebelum kami masuk ke tempat pemandian.
"Maafkan aku, aku tidak tahu tentang itu."
Aku melirik ke Misaki dengan menyipitkan mataku namun ia malah membuang mukanya dan mengalihkan pandangannya sambil bersiul.
"Aku tidak tahu apa yang di katakan Misaki, tapi bisakah kau tidak meminta maaf seperti itu, itu tidak seperti guru."
"Ya, maafkan aku."
Sekali lagi Lucy meminta maaf, aku hanya menghela nafas sambil mengangkat bahu.
"Zen, ayo! Ini sudah hampir malam."
Teriak Lilith sambil menarik tanganku.
"Lilith, aku tahu kau ingin pergi mandi tapi kenapa kau tidak pergi sendiri saja." Jawab Laura dengan dingin.
"Apa? Tidak mau! Kalian bertiga sudah bermesraan dengan Zen tapi aku, aku selalu di abaikan." Lilith menjadi kesal dan membuang mukanya.
Aku tahu kalau dia cemburu, tapi sepertinya dia sangat marah sekarang. Kurasa aku harus menurutinya agar dia tidak marah.
"Baiklah, hanya kali ini saja." Jawabku sambil menyesap teh.
"Hore!" Lilith kembali bersemangat dan wajah marahnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya tersenyum kecil melihatnya seperti itu.
"Tunggu dulu!" Teriak Lucy dengan keras hingga kami harus menutup telinga kami dengan jari.
"Ada apa?" Jawabku dengan santai.
"'Ada apa?' matamu. Kau mau mandi bersama keempat gadis ini?"
"Ya, aku tidak punya pilihan lain selain menuruti mereka."
"Kalau begitu, aku akan ikut. Aku tidak bisa membiarkan kalian begitu saja, jika tidak kalian pasti, pasti, akan melakukan yang tidak senonoh." Jawabnya dengan wajah yang memerah.
Aku tidak tahu dari mana asalnya pemikiran itu.
Nah, dan disinilah aku sekarang. Mandi bersama kelima gadis termasuk Lucy.
Meskipun kami mandi bersama hanya aku satu satunya laki-laki di sini.
Para gadis hanya menutupi tubuh mereka dengan handuk di tubuh mereka, aku bisa melihat gunung kembar mereka akan tumpah kapan saja.
"Hei, Lilith. Aku bisa melakukannya sendiri."
__ADS_1
"Tidak! Kau selalu saja mengabaikanku, kenapa? Padahal dadaku tidak kalah besar dengan Riska dan Rina." Ucap Lilith dengan kesal.
Lilith terus menggosok punggungku dengan tangannya yang dilapisi sabun. Aku bisa merasakan tangannya yang hangat dan juga lembut.
"Ka-kalian, apakah selalu seperti ini?" Tanya Lucy.
"Tidak." Jawab keempat gadis secara bersamaan.
Lucy merasa lega lalu matanya menatap ke bawah seperti sedang mengenang sesuatu. Beberapa detik kemudian ia berbicara dengan nada lembut.
"Padahal kau dulu sangat baik dan lembut. Kau selalu memperhatikan pelajaran dan mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran, tapi."
Semua mata tertuju pada Lucy yang sedang berbicara. Lucy mengangkat kepalanya dan menatap padaku dengan ekspresi agak kesal.
"Tapi sekarang kau menjadi orang yang tidak bermoral."
Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab pertanyaan Lucy.
"Memang benar kalau dulu aku seperti itu namun guru harus mengetahui satu hal. Aku bukan lagi orang yang guru kenal." Jawabku.
Setelah mengatakan itu Lucy hanya menundukkan kepalanya dengan tatapan sedih.
"Baiklah, tapi bolehkah aku bertanya?"
Dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan nada yang lembut.
"Katakan."
"Kau bilang kalau segerombolan monster akan datang menghancurkan kota ini. Kalau begitu apa tujuanmu datang ke sini dan kalau itu benar, kenapa kau diam saja."
"Pertama, saat ini ada seseorang yang ingin menghancurkan dunia ini dengan mengubah manusia menjadi iblis dan mengendalikan monster yang keluar dari portal kehancuran. Kedua, tujuanku ke sini adalah menghentikan mereka. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat, besok pagi aku ingin kalian mengevakuasi warga."
"Begitu, ya. Baiklah, aku mengerti." Ucap Lucy.
Setelah perbincangan ini selesai, seketika suasana menjadi hening hingga selesai mandi.
Setelah kami keluar dari pemandian, kami mengganti pakaian dengan piyama. Tanpa kami sadari, langit sudah berganti menjadi malam dan kami berlima berkumpul dengan Brull dan Misaki yang berada di depan penginapan. Sementara Lucy kembali ke kamarnya.
"Apakah kalian bersenang-senang?" Tanya Brull sambil menyeringai.
"Begitulah, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang." Jawabku.
"Kita akan membuat beberapa jebakan sebelum mereka datang, dan juga kita harus mengevakuasi para warga." Ucap Brull sambil memegang dagunya.
"Kalau soal mengevakuasi warga itu sudah aku atasi, lalu apa yang harus kulakukan?"
Setelah aku mengatakan itu semua langsung menatapku.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa yang kau katakan? Kau tidak diizinkan ikut berperang." Jawab Brull.
"Itu benar, tugasmu hanya duduk manis bersama Riska." Lanjut Misaki.
__ADS_1
Mereka terlalu khawatir padaku dan Riska, tapi melihat mereka khawatir, entah kemana dadaku menjadi hangat.
"Baiklah, aku dan Riska akan beristirahat duluan. Setelah selesai kalian langsung beristirahat, mengerti?"
"Ya!"Ucap Brull dengan serius.
Aku dan Riska masuk ke kamar yang kami pesan, kami hanya memesan dua kamar karena satu kamar memiliki dua tempat tidur. Jadi satu tempat tidur untuk dua orang.
Kamarnya tidak terlalu besar, kira-kira itu sebesar empat tatami dan hanya ada dua tempat tidur dan satu lemari dan meja belajar.
Seperti biasa sebelum kami tidur, Riska menghisap darahku untuk memulihkan energinya.
"Ah... Berapa kali pun aku meminumnya rasanya tetap segar." Ucap Riska.
"Apa kau yakin akan tidur denganku?"
"Tentu saja, aku ingin memelukmu sepanjang malam."
Aku menghela nafas dan menggaruk kepalaku.
"Kalau begitu, kemarilah." Ucapku sambil memberikan sedikit ruang untuk Riska.
Dengan segera, Riska masuk ke selimut dan memelukku, aku membalas pelukannya dan aku menutup mataku dengan tenang.
...****************...
Di luar penginapan, Brull, Rina, Misaki, Lilith dan Laura sedang membuat persiapan.
"Brull, kenapa kau membiarkan mereka bersama? Kalau mereka melakukan itu bagaimana?" Keluh Lilith.
Lilith sangat khawatir pada Zen, ia mengira kalau saat dia tidak ada mereka akan melakukan hal yang biasa di lakukan di malam hari oleh suami istri.
Namun khayalan Lilith di bantah oleh Rina.
"Kurasa mereka tidak akan melakukan apapun, kurasa." Jawab Rina.
"Kenapa kau sangat yakin? Yang aku bicarakan itu Zen dan Riska tahu." Bantah Lilith.
Brull yang sedang membuat jebakan menghampiri Lilith yang sedang mengeluh. Brull tahu kalau Lilith akan mengeluh tentang ini tapi Brull tahu cara membuatnya tenang.
"Berhenti mengeluh, kita melakukan ini juga untuk Zen." Jawab Brull.
"Tapi...!"
"Coba kau bayangkan. Kalau kau berhasil mengalahkan para monster itu mungkin Zen akan memujimu. Tidak, mungkin dia akan memberimu hadiah ciuman karena sudah berhasil membalaskan dendam Roy dan Kana.
Lilith menjadi diam dan memikirkan kata-kata Brull, wajahnya menjadi merah dan menggeliat seperti cacing.
"Bagaimana? Kalau kau mau itu terjadi, cepat bantu aku." Ucap Brull.
"Baiklah! Aku akan melakukannya."
Lilith menjadi semangat dan membuat beberapa jebakan bersama Laura.
__ADS_1
Melihat semangat Lilith yang membara, Brull menyeringai dan berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati.
"Tidak kusangka, Lilith mudah sekali di pengaruhi."