Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Mengingat kembali


__ADS_3

Zen sadar dan bangun dari pangkuan paha Rena. Mengusap air matanya dan mengatur emosinya kembali.


Dia menarik nafas dalam-dalam dan berbalik lalu menatap Rena dengan serius. Senyum Rena belum memudar sejak tadi bahkan saat tatapan serius Zen menatapnya, ia tetap tersenyum.


"Aku ingat. Aku senang kau masih hidup, dan."


Kata-kata Zen terhenti, suaranya tertahan di tenggorokannya namun ia menarik nafas sekali lagi dan melanjutkan kata-katanya.


"Dan sekarang aku sudah memutuskan."


Mendengar kata-kata terakhir Zen, senyum mereka berubah menjadi ekspresi bingung. Rena menanyakan keputusan apa yang dimaksud Zen.


"Apa yang kau putuskan?"


"Aku akan menepati janjiku padamu, tapi sebelumnya aku akan menghentikan rencana kelompok 'dark spirit' untuk membangkitkan Gerheim."


Tidak lama setelah pembicaraan singkat itu, Brull dan yang lainnya datang dengan ekspresi gembira di wajah mereka.


"Zen! Syukurlah, kau baik-baik saja!"


Melihat Zen duduk dengan tenang, Lilith langsung melompat ke arah Zen dan memeluknya. Namun Zen tidak menghindarinya, justru ia menerimanya dengan tenang.


Melihat senyum di wajah Lilith, Zen tahu kalau ada sesuatu yang bagus terjadi padanya saat ia disini.


Zen hanya tersenyum kecil dan mengusap kepala Lilith.


"Eh ... Anu ... Zen?"


"Terima kasih ya sudah mengkhawatirkan ku, sepertinya kau memiliki sesuatu yang bagus untuk diceritakan padaku."


Dari belakang Brull dan para gadis kecuali Lilith berkumpul dan berbisik.


"Apakah ada yang salah dengan Zen?" Tanya Misaki.


"Kurasa Zen baik-baik saja menurutku, namun sifatnya yang sekarang sedikit menakutkan bagiku."


"Apa yang kau takutkan Brull? Tapi memang benar, Zen itu misterius sekali."


"Sudahlah, daripada kita berbisik seperti ini. Kita lebih baik bersikap seperti biasanya."


"Laura benar, meskipun sifatnya yang sekarang sedikit berbeda tapi Zen tetaplah Zen."


Setelah diskusi rahasia selesai, Lilith mulai menceritakan latihan yang di berikan para elf.


"Latihan sihir?"

__ADS_1


"Benar, kami di latih menguasai mana alam."


Karena tidak mengetahui maksud dari mana alam yang di sebutkan oleh Lilith, Zen menoleh ke Livera.


Dia tahu Zen sedang bertanya kepadanya dan tanpa kata-kata, Livera mulai menjelaskan.


"Mana alam adalah mana yang dapat dikumpulkan dari udara dan bumi. Mana alam sangat sulit dikendalikan oleh manusia karena bisa menghancurkan tubuh namun jika kau bisa mengendalikan mana alam ke dalam tubuhmu maka kekuatan sihir dan fisikmu akan meningkat tiga kali lipat dari penyihir biasa."


Zen mengerti penjelasan dari Livera, dia mulai berpikir, beberapa detik kemudian ia mulai menjelaskan.


"Lilith, Brull, Rina, Misaki, Laura, Riska."


Zen memanggil nama teman-temannya satu persatu, melihat Zen yang serius semuanya terdiam dan menjadi mode pendengar.


Zen melanjutkan kata-katanya dengan wajah yang sedikit kesal.


"Aku akan mengatakan ini sekali saja, jadi dengarkan baik-baik."


Semuanya terdiam dan suasana ruangan menjadi hening.


"Saat ini kita sedang dalam peperangan. Jadi, mulai dari sekarang sampai seterusnya, aku ingin kalian membunuh siapapun yang berhubungan dengan kelompok 'dark spirit'."


Semuanya mulai menjadi bingung dan terkejut dengan ucapan Zen. Kata-katanya terdengar kejam namun, Brull maju dan mulai protes dengan keputusan Zen.


"Apa kau bilang? Kau ingin kami membunuh?"


"Bukan itu maksudku, kau tahu apa yang baru saja kau katakan bukan?"


"Ya, aku tahu apa yang kukatakan. Aku tahu kau akan mengatakan padaku kalau itu adalah salah."


Tubuh Brull bergetar karena menahan kekesalannya, Misaki tahu kalau Brull sangat kesal dengan kata-kata Zen namun ia terus berusaha menahannya. Kekesalannya menghilang setelah ucapan Zen selanjutnya.


"Tapi saat ini kita sedang berperang. Mau tidak mau kau harus membunuh. Kalian juga tahu kalau Roy, Kana dan yang lainnya mati karena mereka terlibat dalam perang yang tidak jelas ini. Jadi mau tidak mau kita harus sudah siap membunuh."


Brull dan yang lainnya menjadi diam membeku namun sesaat kemudian emosi kesal Brull dan yang lainnya menghilang.


Brull menghela nafas lalu tersenyum seperti karakter antagonis.


"Baiklah, kalau itu yang Zen inginkan. Aku akan mengikutinya walaupun harus masuk ke dalam neraka."


Para gadis hanya mengangguk dan tersenyum pada Zen.


***


Di kerajaan Agate, tepat di ruang tamu kerajaan.

__ADS_1


"Hah ... Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan ini."


Altson mendesah di sofa setelah melihat dokumen di meja. Ekspresi yang lelah dan putus asa terlihat jelas, bahkan kantung matanya terlihat jelas dan seperti panda.


"Ayah, sebaiknya kau beristirahat dulu. Kau belum tidur sejak kemarin."


Adelino sangat cemas dengan ayahnya, meskipun ayahnya adalah seorang raja namun ia tetap seorang manusia.


Masalah yang sedang di hadapi mereka saat ini adalah karena banyak warga desa yang berubah menjadi iblis dan desa mereka yang hancur.


Meskipun populasi di desa tidaklah banyak namun itu tetap menjadi tanggung jawab raja untuk melindunginya.


"Ah ... Maaf. Tapi aku harus menyelesaikan ini."


"Tuan, sebaiknya anda beristirahat sejenak. Meskipun ini harus diselesaikan tapi kesehatan anda juga harus diperhatikan."


Sebas datang dari belakang dan membawa dua cangkir kopi untuk mereka berdua.


"Ayah sebaiknya ke kamar dan tidur sejenak. Dari sini biar aku yang mengambil alih."


"Maaf ya, aku jadi merepotkan mu."


"Apa yang ayah katakan? Sudah tugas anak untuk membantu orang tuanya apalagi aku seorang pangeran."


Mendengar ucapan Adelino, Altson hanya tersenyum dan pergi ke kamarnya sambil di bantu oleh Sebas.


"Hah ... Meskipun aku bilang begitu, aku juga tidak mengerti." Gumam Adelino.


Dia lebih depresi dari Altson. Namun, ia terus melihat dan mencoba memahami maksud dari dokumennya.


Meskipun kerajaan sudah mengirimkan beberapa regu penyelamat untuk desa yang di serang, regu penyelamat selalu kembali dengan luka yang cukup berat.


Adelino terus menguras otaknya untuk mencari solusi dari masalah yang saat ini dihadapi.


"Kalau saja ada Zen dan yang lainnya, kurasa aku bisa meminta mereka mengajarkan sihir untuk melawan iblis. Yah, mereka tidak disini jadi percuma saja."


Dalam gumamnya yang terus berlanjut, sebuah ide langsung melintas di kepala Adelino.


"Benar juga! Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi."


Teriak girang Adelino bergema hingga beberapa ksatria dan pembantu yang mendengar segera berlari ke arah Adelino.


"Ada apa pangeran?"


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


Mereka menjadi panik setelah mendengar teriakan itu namun Adelino hanya tersenyum dan mengatakan "Baik-baik saja."


Para ksatria dan pembantu segera bubar dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


__ADS_2