
Aku membalik halaman ke halaman 20 dan aku menemukan skill kreasi.
Aku berniat membuat pakaian dengan kemampuan yang aku inginkan dengan skill ini.
Aku membaca menggunakan skill meniruku dan mendapatkan skill lagi.
Aku menutup mata dan menggunakan skill kreasi.
"[Creation]"
Pakaianku berubah menjadi mantel hitam dengan lapisan merah serta blazer abu-abu dan kemeja putih di bawahnya dengan dasi diikat di lehernya dan celana hitam panjang serta sepatu bot yang terbuat dari besi.
Pakaianku aku buat dengan kemampuan anti sihir agar mencegah serangan sihir tiba-tiba, anti air agar tidak mudah basah, di bagian sepatu aku menambahkan sihir api dan angin untuk bisa terbang dengan sihir angin atau menyerang menggunakan sihir api dan juga tidak mudah rusak atau sobek oleh apapun.
"Riska, apa kau mau pakaian dengan kemampuan yang kau inginkan?"
Riska hanya mengangguk.
"Kau hanya cukup menutup mata dan pikirkan pakaian seperti apa dengan kemampuan yang kau inginkan."
Riska menutup matanya, ia terlihat berkonsentrasi.
Aku memegang kedua tangannya dan menempelkan dahiku dengan dahinya.
Seketika pakaian yang ia inginkan terlihat olehku.
"[Creation]"
Cahaya berwarna merah menyelimuti kami dan pakaian Riska berubah menjadi Pakaian regular terdiri dari kerah hitam dengan embel-embel putih, rompi hitam panjang paha model double breasted, rok mini merah, stoking hitam, sepatu merah dan manset panjang di tangan.
Saat menempelkan dahiku dengan Riska, aku tidak hanya melihat pakaiannya tapi juga dengan kemampuannya.
Kemampuannya hampir sama denganku hanya ia hanya menambahkan sihir angin untuk terbang karena Riska hanya bisa menggunakan sihir api jadi ia memanfaatkan skillku dengan baik.
"Apa sudah selesai?"
William yang terlihat kelelahan mencoba menahan kantuknya sebisa mungkin.
"Oh, maaf. Ini terima kasih banyak."
Aku mengembalikan bukunya pada william. William mengambil buku itu dan menyimpannya kembali ke laci.
"Kamar kalian ada di lantai 2 nomor 11, ini kuncinya. Kalian harus beristirahat dengan baik, besok kalian tidak boleh terlambat."
"Baik."
William memberi kami kunci kamar dan menyuruh kami beristirahat.
Kami pergi ke lantai 2 dan masuk ke kamar kami, Semuanya masih tertidur dengan nyenyak di lantai, mereka terlihat seperti orang yang habis terkena bom saat perang.
Kami masuk ke kamar dan mengunci pintu, tiba-tiba.
Bruuk
Riska mendorongku ke kasur. Wajahnya yang terlihat kelaparan, nafasnya terengah-engah dan gigi taringnya keluar dari mulutnya.
"Riska? Kau kenapa?"
Riska terlihat seperti vampir di malam hari, Riska menggigit leherku. Meskipun aku sedang digigit oleh Riska, aku tidak merasakan sakit sama sekali justru aku merasa geli.
Riska selesai menyedot darahku dan gigi taringnya menghilang.
Apa ia kembali normal? Jangan-jangan Riska ini vampir.
"Maaf Zen, aku hilang kendali."
Riska menunduk dan meminta maaf. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang baru saja ia lakukan hanya saja ia terlihat imut saat menyedot darahku.
"Tidak apa-apa, tapi apa boleh aku bertanya?"
Riska terlihat cemberut dan hanya mengangguk saat menjawab. Mungkin sejak tadi ia tidak berbicara sedang mencoba menahan hausnya.
"Apa kau ini seorang vampir."
Riska hanya mengangguk, mengetahui ia seorang vampir, untuk seorang kutu buku sepertiku itu membuatku sangat senang karena biasanya aku melihat mereka di buku dan sekarang ia ada di hadapanku.
Tapi yang membuatku penasaran adalah jika ia seorang vampir seharusnya ia tidak bisa terkena sinar matahari tapi Riska terlihat baik-baik saja.
"Riska, angkat kepalamu."
Riska mengangkat kepalanya dan menatapku.
"Riska dengar, aku tidak marah dengan apa yang kau lakukan padaku, kau bebas melakukan apapun padaku. Hanya saja kau seharusnya mengatakannya sejak awal."
Air mata mulai tumpah dari matanya, ia langsung memelukku dan mulai menangis.
"Huhu... maafkan aku. Aku takut kau membenciku. Aku takut kau menjauhiku dan menghilang dariku. Huhu..."
Aku membalas pelukannya dan mulai menenangkannya.
"Kau tahu Riska, aku tidak mungkin pergi meninggalkanmu dan aku tidak punya alasan untuk melakukan itu, justru aku ingin kau selalu bersamaku dan membuatmu senang. Aku tidak peduli siapapun kau, apapun kau, aku tidak akan membencimu."
"Benarkah?"
"Tentu, tapi sebelum itu aku ingin kau menjawab pertanyaanku."
Riska melepaskan pelukannya dan mengangguk seperti anak kecil yang baru saja membuat kesalahan.
"Bagaimana kau bisa bertahan dari panasnya matahari?"
Riska menarik nafas untuk membuat dirinya tenang dan menghapus air mata dengan tangannya.
"Saat di hutan kematian, saat kau tertidur aku meminum darahmu untuk mengembalikan sihirku dan agar bisa tahan dari sinar matahari tapi darah milikmu sungguh aneh rasanya manis dan bisa membuatku bertahan selama 2 hari dari matahari."
Jadi itu penyebabnya, dan yang membuatku heran adalah apakah darahku sebagus itu? mendengarnya membuatku ingin meminum darahku sendiri tapi itu sangat mustahil.
Jika aku melakukan itu aku akan dikira gila oleh diriku sendiri.
"Baguslah kalau begitu, sebaiknya kita tidur"
Sesaat aku langsung menyadari kalau kamar ini hanya ada satu kasur.
Sialan kau William!
Aku terpaksa harus berbagi tempat tidur dengan Riska, Walaupun hanya satu tapi tempat tidur ini cukup untuk dua orang.
Riska berdiri dan melepas pakaiannya dan hanya memakai ****** ***** dan bra berwarna merah terang dengan motif bunga-bunga.
"Riska? kenapa kau melepas pakaianmu?"
"Kenapa? bukankah aneh tidur dengan pakaian seperti itu."
Memang benar, aneh jika kau memakai pakaian seperti itu untuk tidur tapi rasanya lebih aneh jika tidur dengan bra dan ****** ***** apalagi tidur di sebelahku.
"Kau juga kenapa kau tidak melepas pakaianmu juga? kau tidak bisa tidur dengan pakaian seperti itu."
Ia mengatakan seperti itu dengan wajah tanpa dosa, aku heran apa di dunia ini, ini adalah hal yang wajar?
Karena aku tidak ingin Riska marah seperti tadi siang, aku terpaksa harus mematuhinya.
__ADS_1
Aku hanya melepas blazer, dasi dan sepatuku. lalu menggunakan skill kreasi untuk membuat piyama biasa.
"[Creation]"
Sebuah piyama wanita muncul di tanganku. itu bukan piyama seperti umumnya, itu terlihat seperti gaun tidur meskipun bagiku itu terlihat berlebihan setidaknya ini bisa menutup dadanya yang besar.
"Ini, pakai ini."
Aku memberikan gaun itu sambil menutup mata untuk mencoba tidak melihatnya atau aku nanti aku akan dikira orang mesum.
"Bagaimana?"
Ia mengenakan gaun itu, itu menutupi bra dan ****** ******** dan ukurannya juga pas tapi aku masih bisa melihat belahan dadanya. Untungnya itu bukan gaun tidur yang tranparan.
Kami naik ke kasur dan langsung tidur.
*******
Tok. tok
"Zen, Riska, bangun. Ini sudah pagi, bukankah nanti kalian terlambat ke sekolah"
Aku bisa mendengar suara wanita sedang memanggil kami terdengar dari luar kamar.
"*Menguap* Apa sudah pagi?"
Aku masih dalam kondisi setengah sadar mencoba duduk dan melihat ke arah jendela.
Sebuah cahaya muncul dari jendela, aku menutup mata karena silau dan membukanya lagi perlahan-lahan.
Mataku mulai terbiasa dengan cahaya dan melihat keluar jendela, dedaunan mulai berterbangan ditiup oleh angin pagi.
Aku mulai sadar dan saat ini aku ada di dunia lain, berada di sebuah kamar dengan seorang gadis.
Aku berjalan ke cermin yang berada dekat dengan jendela itu, aku melihat diriku sendiri.
Dengan mata berwarna hitam, rambut hitam yang berantakan, kulit putih.
Ternyata kalau dilihat-lihat aku tampan juga ya.
Aku mulai memuji diriku sendiri sambil bergaya-gaya di depan cermin.
"Kau sudah tampan, tidak perlu bergaya-gaya seperti itu."
"AH?"
Aku jatuh karena terkejut, rasanya seperti anak kecil yang terkejut mendengar balon meledak.
Suara yang membuatku terkejut berasal dari Riska.
"Riska? apa kau dari tadi melihatku."
Riska menaikan satu kakinya lalu menempelkan pipinya di lutut sambil tersenyum melihatku.
"Ya sejak kau mulai melihat jendela."
"Selama itu?"
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku karena sangat memalukan dengan apa yang baru saja aku lakukan.
"Pakai bajumu, kita bisa terlambat ke sekolah."
"Kau benar."
Aku dan Riska saling membelakangi untuk tidak mengintip saat berpakaian.
Bibirnya terasa begitu lembut, aku berpikir bukankah bibir lembut ini juga yang mengambil darahku semalam.
"Itu tadi ciuman pagi hari."
Ia sedang menggodaku dengan nada yang lucu sambil mengedipkan satu matanya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, ia begitu cantik terlihat seperti gadis pada umumnya daripada seorang vampir.
Kami berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Namun saat semua terlihat heran melihat kami.
Kami mungkin terlihat seperti pangeran dan putri di mata mereka, aku tahu mereka terkejut melihat perubahan kami tapi bagiku itu terlihat agak berlebihan karena mereka menjadi terdiam hingga suasana guild seperti kuburan.
"Selamat pagi, semuanya."
Riska mulai menyapa mereka untuk mengakhiri keheningan ini. Tapi suasana tidak berubah sama sekali.
Aku mulai mendekati meja yang di duduki party Roy.
"Yo, semuanya. Kalian sepertinya terkejut sekali melihat kami."
Matanya Roy melihat ke arahku dan mulutnya ternganga
"Tentu saja, apa kau itu Zen?"
"Ya, ini aku. Sepertinya aku akan terlambat ke sekolah, aku pergi dulu ya."
Aku berjalan keluar guild dan Riska mengikutiku dari belakang, Riska berlari ke sampingku dan menggandeng tanganku.
"Sepertinya kau terlihat senang ya."
"Tentu saja, karena Zen-ku tidak akan pergi ke mana-mana."
Ia terlihat begitu senang dan bersandar di tanganku. Mungkin hanya perasaanku saja atau bukan, tapi aku merasa banyak orang memperhatikan kami berjalan.
Saat di loket, kami hanya menyebutkan nama kami dan kami di beri sebuah bros kecil berbentuk seperti perisai berwarna platinum.
Kami memasangnya di bawah kerah dan di atas brosnya tertulis kelas kami.
Aku dan Riska berada di kelas yang sama, berada di kelas 1-1.
Kelas kami tidak jauh dari tempat loket kami hanya perlu lurus dari tempat loket lalu belok kanan.
Saat pintu kubuka, sesaat ruangan langsung menjadi hening.
Oi, oi, sejak pagi setiap kali aku datang semuanya begitu hening, apa aku ini peredam suara setiap kali aku datang semuanya langsung hening namun tidak lama suara bisikan mulai terdengar.
"Aku tidak melihatnya saat tes masuk."
"Dia memakai lencana platinum, sepertinya dia orang hebat."
"Apa mereka pacaran?"
"Sungguh serasi."
"Dia tampan ya."
"Iya, pacarnya juga sangat cantik."
Aku melihat Brull sedang duduk sendirian di kursinya, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang,
Kami berjalan ke kursinya.
"Yo."
__ADS_1
Aku menyapanya namun ia menatapku dengan dingin.
"Pagi."
"Sedang menunggu seseorang?"
"Ya."
Sambil menarik kursi, aku duduk di sebelah Brull dan Riska duduk di sebelahku.
Ia menatapku dengan menyeramkan.
"Siapa kau, yang boleh duduk disini hanya temanku."
Sepertinya ia tidak mengenali kami.
"Aku temanmu bukan."
Brull menyipitkan matanya.
"Temanku itu seorang bocah bukan manusia tampan sepertimu."
Aku menghela nafas dan mulai mengatakan kebenaran.
"Kau tahu, aku ini temanmu. Namaku Zen Ignatius."
"APA!?"
Ia berdiri dan berteriak karena terkejut
"Apa kau terkejut kawan."
Brull duduk kembali dan berdehem, ia mencoba menerima kenyataan.
"Apa yang terjadi padamu, bung."
"Aku menggunakan sihir growth untuk ke bentuk ku sekarang."
Brull menghela nafas panjang lalu wajahnya kembali normal.
"Begitu ya, jadi sekarang kau jadi orang tampan ya. Hahaha."
Ia tertawa begitu keras sambil menepuk punggungku.
Di bagian saku baju Brull terlihat bros berwarna emas.
Begitu ya, jadi Brull petualang peringkat emas. Tidak heran ia begitu senang.
"Semuanya~ selamat pagi~!"
Seorang manusia setengah kucing masuk ke dalam kelas. Ia mengenakan pakaian guru sepertinya ia wali kelas kami.
"Pagi... bu!"
Semua menjawab dengan bersamaan.
"Namaku Emilia, nyaa. Salam kenal. Nyaa."
Wali kelasku terlihat ceria seperti anak kecil.
"Sekarang kita akan melakukan tes bertarung~nyaa."
"Baik!"
Semua menjawab dengan bersamaan lagi.
Kami keluar kelas dan berjalan menuju ruang latihan.
"Baik~, ibu akan memanggil nama kalian satu-persatu untuk mengalahkan robot yang sudah disiapkan. Nyaa."
Dari tembok arena mulai bermunculan robot yang terlihat seperti boneka, itu terlihat seperti manusia tanpa wajah.
"Semuanya ada 200 robot, jika kalian bisa menghancurkan semuanya, ibu akan memberi kalian nilai sempurna. Baik pertama Bell."
Kami bertiga duduk sambil menunggu, aku bertanya pada Azazel cara menggunakan pedangnya, karena aku ingin mencobanya.
"Azazel."
"Apa?"
"Aku ingin menggunakan pedangmu, bagaimana cara menggunakannya?"
"Pedang tanpa kristal hanya pedang tumpul yang bisa menangkis sihir namun kalau kau memasangkan kristal itu akan memberinya kekuatan. Sekarang kau sudah mengerti? aku mau tidur dulu, dah"
Azazel langsung pergi tidur, sepertinya ia malas sekali ya.
Tidak lama nama Brull dipanggil saat ini yang skor tertinggi adalah 50 robot yang dihancurkan.
"Bruce Will."
Bruce berdiri lalu bertanya pada Bu Emilia.
"Apa boleh menggunakan senjata?"
"Tentu. Nyaa."
Bu Emilia menjawab dengan senang seperti anak kecil mendapat hadiah di hari ulang tahun.
Brull melompat ke bawah arena membuat tanahnya bergetar seperti gempa.
"Waktunya hanya 1 menit, di mulai dari sekarang, nyaa."
Brull menutup matanya lalu membaca sebuah mantra.
"Wahai petir, hancurkan musuhmu dengan palu mu. [Thunder Breaker]"
Sebuah palu yang terbuat dari petir muncul di tangannya Brull, ia berlari ke arah robot-robot itu dan menghancurkannya satu-satu.
Waktu pun berakhir, Brull berhasil berhasil menghancurkan 120 robot lalu Riska, ia menggunakan sihir flame cyclone dan berhasil menghancurkan 150 robot.
Lalu aku peserta terakhir di panggil.
"Zen Ignatius."
"Ya.
Aku langsung melompat ke arena dan memanggil pedangnya Azazel.
"Datanglah pedang."
Sebuah pedang langsung muncul tanganku, bu Emilia mulai memberi aba-aba.
"Baiklah,waktunya 1 menit. Dimulai, nyaa."
Aku mengeluarkan permata merah dan memasangnya di pedang.
Bilah pedang itu mengeluarkan api, para robot mulai berlari ke arahku bersamaan. Aku menebas angin di depan lalu seluruh robot itu mulai terbakar menjadi abu satu-persatu.
Tidak sampai 10 detik, 200 robot sudah menjadi abu dalam sekejap. Semua menatapku ada yang menatapku dengan kagum ada juga yang menatapku seperti monster.
__ADS_1