
"Zen."
Lucy terdiam dan menundukkan kepalanya, Zen melanjutkan ucapannya.
"Karena itu, jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal."
Selesai dengan ucapannya, Zen melirik ke arah Romy yang sudah jauh menghindar dari kejaran Zen.
Zen mengarahkan tangan kanannya pada Romy, gravitasi mulai berpusat pada telapak tangan Zen.
Di tangan kiri Zen muncul tongkat yang terbuat dari api putih. satu mantra di ucapkan dari mulut Zen.
"[Sihir gravitasi: penarik]"
Dalam sekejap Romy terbang ke arah Zen, aku tahu kalau Zen memiliki kemampuan sihir gravitasi tapi aku tidak tahu kalau dia bisa melakukan itu.
Saat Romy sampai pada Zen, Zen meremas kepala Romy dan menusuk perut Romy dengan tongkat api putih milik Zen.
"Gah!"
"Kau pikir bisa lari dariku? Setelah menyakiti teman-temanku, kau mau pergi?"
Tatapan Zen begitu kosong dan tanpa ekspresi namun air mata keluar dari matanya. Romy hanya terdiam sambil menahan rasa sakit. Aku juga merasakan kalau mana milik Romy berkurang sedikit demi sedikit.
"Aku bisa membiarkanmu pergi, tapi dengan satu syarat."
"A-Apa itu?"
"Jawab aku. Apa kau orang yang membunuh Kana dan yang lainnya?"
"B-Bukan a...ku."
"Lalu apa kau tahu siapa dia?"
"A-Aku tidak ... tahu ... namanya."
Zen melepaskan cengkeramannya dan Romy terjatuh. Zen berbalik sambil mengatakan menggumamkan sesuatu.
"Tidak berguna. Terbakarlah."
Api putih mulai menyebar ke seluruh tubuh Romy, sementara Zen berjalan ke arah kami, wujud iblisnya mulai menghilang namun sesaat kemudian dia jatuh ke tanah.
"Zen!" Kami segera berlari ke arah Zen. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya memerah.
Di tempat lain Lucy berlari ke arah Romy yang mulai mengering, api putih milik Zen bukan membakar tubuh melainkan memakan mana di dalam tubuh.
"Romy! Romy!"
Lucy terus memanggil nama Romy yang sudah mengering, mana di dalam tubuhnya sudah habis dan yang tersisa hanya tubuh kurus yang memperlihatkan tulang-tulangnya.
"Zen!"
__ADS_1
Sementara itu, setelah tubuh Romy mengering dan mana di dalam tubuhnya habis, api putih milik Zen padam dan mana di dalam tubuh Zen meningkat tapi secara bersamaan tubuh Zen semakin panas seperti api.
"Bagaimana ini?"
"Zen demam lagi."
"Kenapa masalah selalu saja berdatangan."
Lilith, Rina dan Misaki mengeluh dan terus memegang kedua tangan Zen selagi Rina menggunakan sihir penyembuhannya.
Setelah menggunakan sihir penyembuh, panas Zen bukan turun melainkan terus meningkat.
"Kenapa?"
"Sebaiknya kita harus mengompresnya dengan es."
Laura membuat tangannya membeku seperti es dan menempelkan telapak tangannya di pipi Zen.
Namun es di tangan Laura meleleh lebih cepat, tapi Laura tidak menyerah dan terus menggunakan sihirnya.
"Kita akan pergi ke kerajaan Agate untuk meminta bantuan pada Altson jadi cepat bawa Zen ke mobil."
Dalam situasi ini aku hanya terpikirkan meminta bantuan pada Altson. Laura, Lilith, dan Riska membawa Zen ke dalam mobil.
Nafasnya berat dan tubuhnya sedikit menggigil, mana yang di tahan Zen menyebar keluar hingga atmosfer di sekitar terasa menakutkan.
Dave dan para ksatria menodongkan senjata mereka dan melihat sekitar mereka untuk mencari sumber aura.
"Anu ... Zen ada dimana?"
"Saat ini Zen sedang dalam kondisi yang buruk jadi dia tertidur di dalam mobil."
Saat Misaki mengatakan itu, Lucy segera berlari ke arah mobil dan melihat Zen dari jendela mobil.
"Ada apa dengan Zen? Kenapa wajahnya memerah?"
Penasaran dengan kondisi Zen, Lucy terlihat agak panik dan bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?"
"Inilah yang terjadi pada Zen jika dia menggunakan sihir, itulah kenapa aku tidak mengizinkannya untuk ikut berperang. Sekarang dia demam dan suhu tubuhnya sangat tinggi."
"Kalau begitu, biarkan dia di rawat di sini. Aku akan merawatnya."
Aku sebenarnya mau menerima tawarannya tapi aku tidak yakin kalau itu akan membantu, dan juga saat ini kekuatan Zen sangatlah penting untuk menghentikan masalah ini.
Aku terus berpikir dan yang kudapat hanya pusing saja, aku menghela nafas dan menolak tawarannya.
"Aku berterima kasih atas tawaranmu tapi kurasa meminta bantuan pada istri raja Agate adalah pilihan yang baik untuk saat ini."
Setelah mendengar jawabanku, Lucy menundukkan kepalanya dan mengucapkan satu kata.
__ADS_1
"Maaf."
Tanpa ada tanggapan lagi, aku dan Misaki masuk ke dalam mobil dan berpamitan pada mereka.
"Baiklah guru, kami tidak punya banyak waktu jadi kami pamit."
Setelah Misaki berpamitan dan melambaikan tangan, aku menancapkan gas dan segera berangkat ke kerajaan Agate.
Sudah 2 jam berlalu setelah kami pergi dari kota Gin. Saat ini hanya ada jalan lurus yang panjang, di sisi kami hanya ada pohon.
Namun saat kami di tengah jalan, sebuah cahaya muncul di depan kami dan cahaya itu berubah menjadi lingkaran sihir.
Aku segera menginjak rem namun rem mobil tidak berfungsi dan mobil akhirnya menabrak lingkaran sihir itu.
Aku membuka mataku dan mobil akhirnya berhenti, semua gadis tiba-tiba berteriak padaku.
"Hei, Brull. Bisakah kau mengendarai mobil dengan benar?"
"Kalau Zen terluka aku akan membekukan tubuhmu lalu melemparkannya ke laut."
"Kenapa kau berhenti mendadak seperti ini?"
Lilith, Laura dan Riska marah dan sudah mereka sudah siap membunuhku namun aku mengalihkan perhatian mereka ke luar mobil.
"Maaf, tapi lihat lah sekeliling mobil."
Mereka menahan emosi mereka dan melihat ke luar mobil. Mobil kami di kelilingi oleh elf dan semuanya perempuan.
Ada satu elf cantik dengan rambut merah muda panjang yang mencapai bahu, di atas kepalanya terdapat mahkota dan dia membawa tongkat sihir.
Dilihat dari penampilannya mungkin dia seorang ratu, dia mengetuk jendela mobil kami sambil tersenyum pada kami.
"Ada apa ini sebenarnya?"
Misaki sangat kebingungan dengan situasi saat ini, begitu juga denganku.
"Kurasa mereka menyuruh kita turun."
Kami pun turun dari mobil dan meninggalkan Laura dan Zen di dalam mobil.
"Selamat datang di hutan elf, tuan Bruce, nona Lilith, Rina, nona Misaki, nona Riska dan yang di dalam tuan Zen dan nona Laura."
Elf cantik itu menyambut kami dan sudah mengetahui nama kami. Awalnya aku sedikit waspada saat dia menyebutkan nama kami namun kewaspadaanku menghilang setelah dia berbicara lagi.
"Aku tahu kalian bingung dengan situasi saat ini. Tapi sebaiknya kalian membawa tuan Zen untuk segera di rawat."
"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tapi untuk sekarang kondisi tuan Zen lebih penting bukan?"
"...."
__ADS_1
Aku hanya diam, namun dia menyuruh beberapa elf membawa Zen dari mobil. Kami hanya bisa mempercayainya untuk saat ini.