
"Apa kalian berdua masih akur?"
Setelah aku mengatakan itu Misaki menyebut namaku dengan suara kecil.
"Zen?"
Mendengar itu Rina melihat ke arahku dan dia langsung memelukku dengan penuh air mata.
"Zen? Apa ini kau? Ini benar-benar kau kan? Aku sangat merindukanmu."
Rina terus menangis dan membasahi bajuku, aku tahu dia sudah menahan diri untuk tidak menangis saat bersama temannya.
"Kau masih saja menangis seperti anak kecil ya, kau tidak berubah sama sekali."
Aku terus mengusap kepalanya untuk menenangkan dirinya.
"Hah. Aku benar-benar terkejut, tak kusangka kau masih hidup."
"Kemana saja kau selama ini."
Melihat mereka berdua membuatku bernostalgia, rasanya saat-saat seperti ini pernah terjadi.
"Aku tidak akan mati semudah itu dan juga aku tak punya alasan untuk kembali tapi kalau Rina baik-baik saja itu sudah cukup."
"Zen, kau curang. Padahal dia pendatang baru tapi kau tidak pernah mengusap kepalaku. Kau biasanya hanya peduli pada Riska. sekarang gadis itu, Hmph."
Lilith cemburu dengan sikapku yang pilih kasih tapi bukan berarti aku tidak peduli padanya pada kenyataannya aku peduli padanya. Aku sengaja membuat busur itu spesial untuknya tapi sepertinya ia tak menyadarinya.
"Berhenti merengek seperti bayi, aku sangat kelelahan sekarang."
"Hmph."
Lilith membuang mukanya sambil melipat tangannya, rambut pirangnya terbang tertiup angin membuat terlihat sangat cantik.
"Lupakan saja, katakan padaku. Apa yang dilakukan Leon padamu."
"Sebenarnya..."
Suaranya berhenti, dengan pipi merah terlihat di wajahnya. Aku menoleh pada Misaki dia terlihat cukup kesal.
"Ada apa? katakan."
"Ah lama, sebenarnya si Leon itu pernah beberapa kali mencoba meniduri Rina namun aku selalu mengganggunya, sejak kau tidak ada dia semakin berani dan itu membuatku sangat kesal."
Jadi itu alasan kekesalannya. Tapi aku juga kesal dengannya, kalau aku membunuhnya sekarang identitasku akan ketahuan.
"Aku tidak bisa membawa kalian ikut dengan kami, karena saat ini aku adalah Zeon Martel bukan Zen Ignatius. Oleh karena itu."
Aku melepaskan kalung Ignis dan memanggil Ignis.
"Ignis."
Ignis merespon dan keluar dari lingkaran sihir.
"Ya, tuanku."
__ADS_1
"Mulai sekarang, kau harus melindungi mereka berdua. Apapun yang terjadi lindungi mereka dari bahaya dan seseorang dari tiga orang yang bernama Leon, Teo dan Reza."
"Baik, sesuai perintahmu."
Aku memakaikan kalungnya pada Rina dan sekarang ia adalah tuan Ignis yang baru.
"Sekarang kalian aman dari si brengsek itu, ngomong-ngomong terima kasih telah melindungi Rina saat aku tidak ada."
"Apa yang kau katakan, Rina itu sahabatku tentu saja aku akan melindunginya."
"Baguslah, Ignis apapun yang terjadi terus bersama Rina. Kalau terjadi sesuatu padanya aku akan membunuhmu."
"Baik"
Setelah memberi perintah suara gumam terdengar dari telingaku. Suara penuh kebencian dan amarah.
""Terlalu Baik.""
Aku menoleh ke arah suara itu, dan mereka berdua membuang muka mereka sementara Brull hanya mengangkat bahu sambil melihatku.
Jadi kalian seperti ini padaku, sudahlah tidak ada gunanya juga aku menanggapi mereka.
"Ayo kita kembali, nanti orang-orang itu mencurigai kita."
"Kau benar."
Aku naik ke punggung Brull dan kami kembali ke arena, di sana hanya ada orang-orang yang aku kenali.
"Maaf lama."
Namun saat Leon mendekat, Ignis mengaum pada Leon membuat yang lainnya terkejut.
"Itu adalah... Flame Wolf?!"
Mereka terkejut saat melihat Ignis yang berukuran masih berukuran manusia. Leon mundur ke belakang secara perlahan dan dengan cepat, Reza dan Teo sudah mengambil posisi bertarung sambil menodongkan senjata mereka ke Ignis.
Aku yang secara diam-diam memberikan mana pada tanda yang di tanganku dengan begitu, Ignis bisa menggunakan sihir yang sama denganku.
Aku tahu cara ini bisa di lakukan karena mengingat saat aku menggunakan mode iblis. Jadi kita memberikan mana kita yang terikat oleh kontrak maka kita bisa menggunakan kekuatan itu, dari situlah pemikiranku tentang saat ini.
Ignis yang tahu kalau ia mendapatkan mana dariku, ia menoleh padaku dan menutup matanya lalu mengaum.
"Woof!"
Satu auman Ignis membuat Teo dan Reza terlempar jauh. Aku pikir Ignis barusan mengatakan "Menjauhlah!". Sepertinya dari sekian banyak skill ia menggunakan skill yang paling mudah ya.
Melihat itu, Leon dan yang lainnya mewaspadai Ignis.
"Leon itu namamu bukan? Mulai sekarang mereka berdua adalah milikku kalau kau macam-macam pada mereka, kau akan mati."
Leon hanya menggertakan giginya dengan kesal, saat kekesalannya memuncak ia mengayunkan pedangnya padaku.
"Sialan kau!"
Ting...
__ADS_1
Hanya dengan satu tangan, Brull menahan pedang Leon dengan tangan kosong. Meskipun pedangnya memiliki bilah yang sangat tajam tapi itu tidak melukai tangan Brull sama sekali.
"Orang lemah sepertimu tidak akan pernah bisa mengalahkannya."
"Cih."
Leon memasukan pedangnya ke sarungnya dan pergi entah kemana.
"Zen Ignatius, rupanya kau masih hidup."
Seseorang berjubah hitam muncul dari belakang kami, saat mendengar namaku, Leon kembali dan yang lainnya menatapku dengan terkejut.
"Apa?"
"Zen?"
"Dia masih hidup?"
"Melves?"
Aku merasakan hawa membunuh yang besar darinya meskipun tidak sebesar milik Zifrit. Brull, Riska dan Lilith langsung mengambil posisi bertarung di depanku.
"Mundur, dia berbahaya."
"Aku merasakan sesuatu yang tidak enak darinya."
Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat tapi aku tidak mengingatnya. Dia membuka penutup kepalanya. Seorang pria tua yang sekitar berumur 40 menatapku dengan senyum yang menjijikan.
"Siapa kau?"
"Oh seramnya, jangan begitu dingin denganku. Raja Iblis Zen."
Riska, Brull dan Lilith langsung menatapku, aku hanya terdiam sambil memikirkan arti perkataannya.
"Aku tidak tahu siapa kau? Tapi kau pasti dalang dari iblis yang tadi."
"Haha. Seperti yang di harapkan dari tuan raja iblis. Benar, aku lah orangnya."
Mendengar gumaman Leon, sepertinya namanya adalah Melves, sebenarnya siapa dia?
"{Entah kenapa aku merasa mengenal mana ini?"} (Lucifer)
Sepertinya bukan hanya aku yang merasa kalau orang ini terasa tidak asing sepertinya dan Lucifer juga merasa mengenalnya.
Kalau Lucifer merasa mengenalnya itu artinya dia sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu.
"Sepertinya kekuatanmu masih belum sepenuhnya kembali, padahal kupikir kau sudah mati."
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang kau tahu, daripada diasingkan kau dibuang ke jurang oleh ayahmu itu atas perintahku dan kakakmu yang berpura-pura di perkosa olehmu juga atas perintahku!"
Hah? Apa maksudnya? Maksudnya raja dan putri melakukan itu semua atas perintahnya? Tunggu, apa maksudnya kakak dan ayah?kalau begitu kenapa mereka melakukannya, sebenarnya apa yang terjadi?
"Hahaha, kau pasti kesal bukan. Yah, melihat caramu bertarung, aku tidak mungkin menang. Karena itu, nikmati harimu selagi bisa! Raja Iblis Zen, hahahaha!"
__ADS_1
Sebuah bayangan menutupi tubuhnya dan menghilang setelah tertawa dengan keras.
Setelah mendengar apa yang dikatakan dia barusan, aku mengerti sesuatu. Aku bisa menebak kalau raja Alfred dan putri Lisa dikendalikan olehnya, kurasa itu alasan kenapa sejak tadi Alfred tidak kelihatan dimana pun.