
Mendengar teriakan Romy, Zen dan yang lainnya keluar dari penginapan menuju kemari.
Melihat aku di bantu oleh Yukki, Zen dan Riska mendekat. Meskipun ekspresi tenang tapi aku tahu kalau Zen khawatir.
"Kau tidak apa-apa, Brull?"
"Ya, hanya lelah. Aku terlalu banyak menggunakan mana."
"Baguslah, lalu siapa orang bodoh yang diikat itu."
Melihat Pria yang diikat, Zen bingung dan tidak tahu siapa orang itu. Namun, gurunya Zen, Lucy. Mendekat dan langsung berlari ke arah pria itu sambil mengatakan satu kata.
"Romy!"
Ekspresi senang terlukis di wajah Lucy namun ekspresinya berubah setelah melihat pakaian. Ia memakai jubah hitam, diikuti fakta bahwa ia datang dari medan perang bukti yang tak terbantahkan bahwa dia dalang di balik penyerangan ini.
Karena Lucy menyamakan pandangannya dengan Romy, dia hanya menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya.
"Bisakah kamu memberitahuku kenapa kau melakukan ini, Romy?"
Romy memalingkan wajahnya dari Lucy dan menjawab dengan kesal.
"Hmph, yang kulakukan hanya untuk menunjukkan kehebatanku saja."
"Begitu ... Tapi, aku masih tidak mengerti. Kupikir, yang kau lakukan sama sekali tidak ada hebatnya."
Romy menatap wajah Lucy dengan serius.
"Tentu saja ini hebat, bagi kelompok dark spirit!"
Semua terkejut, sementara Zen menyipitkan matanya dan mendengarkan mereka.
"Aku mendengar mereka ada disana, jadi aku pergi ke gunung seorang diri untuk bertemu mereka. Dan mereka mengerti kehebatanku yang sebenarnya! Karena itu, aku membuat perjanjian dengan mereka."
Perjanjian?"
"Perjanjian untuk menghancurkan kota Gin serta membunuh seluruh warga!"
"!!" Semua langsung menatap marah Romy.
"Kalau aku berhasil membunuh mereka, para dark spirit akan memujaku sebagai pahlawannya!"
"Romy."
Romy segera melihat ke arah kami dan ia langsung berteriak dengan keras sambil menunjuk kami.
"Tapi, apa-apaan ini!? 1000 super monster kalah?!"
Lucy meraih jari telunjuk Romy dan memegangnya dengan kedua tangannya.
"Perasaanmu yang ingin menjadi istimewa itu tidak salah sama sekali. Karena semua orang pasti ingin seperti itu, tapi kau tidak boleh bergabung dengan kelompok seperti mereka."
"Berisik! Bergabung dengan kelompok yang memperlakukanku lebih baik itu hal wajar, bukan?"
"Itu tidak benar!"
Dengan segera, Romy mendorong Lucy hingga jatuh. Semua kesatria dan para murid langsung meraih senjata mereka namun mereka terhenti setelah mendengar peringatan darinya.
__ADS_1
"Tahan! Kalau kalian tidak ingin mati sebaiknya kalian diam!"
Romy meraih pil dari sakunya, melihat itu Dave segera menarik pedangnya lalu menebas tangan Romy. Romy mundur dengan cepat untuk menghindari serangannya namun itu tetap melukai bahunya.
Menahan rasa sakit bahunya, ia segera memakan pil ditangannya. Seketika luka di bahunya tertutup dan tubuhnya mulai membesar.
Tubuhnya membesar dan dua tangan lainnya muncul, matanya memutih dan busa mulai keluar dari mulutnya.
"Kubunuh kalian!"
Melihat itu para ksatria lainnya segera membentuk posisi di depan Lucy sambil menodongkan senjata mereka ke Romy.
"Apa yang terjadi?"
"Apa-apaan monster ini?!"
"Itu bukan monster!"
Semua langsung menatap Zen yang berteriak, tatapan Zen menyipit dan amarah terlihat di wajahnya.
"Dia sudah menjadi iblis berlengan empat!"
"Apa?!" Semua terkejut dan bingung dengan ucapan Zen.
Yumi menoleh dan bertanya kepada Zen.
"Zen, apa kau tahu sesuatu?"
"Ya, iblis berlengan empat sangat kuat dan berbahaya. Kalian jangan melawannya, tanpa kekuatan yang setara atau lebih dari iblis itu, kalian tidak akan bisa melukainya ataupun membunuhnya."
Romy melihat ke arahku, Laura, Lilith dan Yukki. Dia berlari ke arah kami dan dengan keempat lengannya dia memukul kami hingga terlempar jauh.
"Argh..."
"Kyaa..."
"Aaahhh..."
"Brull! Misaki! Lilith! Laura!"
Romy tersenyum dan mengangkat keempat tangannya ke atas lalu tertawa.
"Hahahaha."
"Ignis!"
Zen memanggil Ignis, Ignis muncul dari lingkaran sihir dengan wujud besarnya, dia menatap marah Romy sambil mengaum.
"Ignis, Riska lindungi mereka berempat."
"Baik."
"Ok."
Mereka berdua segera membantu kami yang terluka, meskipun tidak parah tapi tubuhku terasa sakit.
Aku mulai fokus pada Zen yang berdiri di depan Romy dengan tenang. Para ksatria membawa Lucy dan murid-muridnya menjauh dari Romy.
__ADS_1
"Apa maumu? Meskipun kau tahu kalau aku tidak bisa di lukai, kau tetap mau melawanku?"
"Datanglah pedang."
Merespon suara Zen, ribuan partikel kecil berwarna hitam dan putih berkumpul di tangan Zen dan berubah menjadi sebuah pedang.
Zen mengambil kristal merah dari sakunya dan memakainya pada slot yang berada di pedangnya.
Bilah pedang Zen berubah menjadi api merah yang berkobar, dia mengangkat pedangnya ke atas lalu mengayunkan pedangnya dari atas ke depan. Dalam sekejap salah satu tangan Romy terpotong dan terbakar.
"Aaarrgh"
Romy kesakitan dan terus merengek di tanah setelah tangannya terpotong. Zen menodongkan pedangnya ke wajah Romy yang sedang kesakitan.
"Ada apa? Hanya satu tangan saja kau sudah kesakitan. Kau bisa beregenerasi bukan?"
Romy berhenti merengek dan terdiam setelah mendengar ucapan Zen. Dia melihat tangannya yang terpotong sudah hangus terbakar. Namun, tangannya tumbuh lagi.
Romy berdiri dan mulai kesal.
"Sialan!"
"Hmph, meskipun kau bisa beregenerasi tapi kau tetap merasakan sakit."
Tatapan dingin Zen membuat Romy mundur menjauhi Zen, ia tahu kalau ia tetap merasakan sakit dari serangan Zen.
Romy menyatukan kedua tangannya dan mengangkat tangan ke atas lalu melompat ke arah Zen lalu memukul Zen saat dekat dengan Zen.
Asap menghalangi pandangan kami, namun asapnya menghilang kami sudah melihat Zen dalam bentuk iblis memegang pedangnya, bilah pedang Zen menancap di mulut Romy yang terbuka lebar.
Air mata keluar dari mata Romy dan ekspresinya yang ketakutan terlihat jelas, ia merasakan kepanasan dari pedang Zen.
"Cuma segini?"
"Kwenapwa? Beukwankwah kwau bwilang akwu twidak bwisa dwilwukai?" (Kenapa? Bukankah kau bilang aku tidak bisa dilukai?)
Zen menatap dingin Romy, dia mencabut pedang dari mulut Romy lalu menendangnya.
"Menjijikan, kau mengotori pedangku. Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan? Baiklah akau akan mengatakannya sekali lagi."
Pedang di tangan Zen menghilang dan dia mulai berbicara.
"Aku mengatakan iblis berlengan empat sangat kuat dan berbahaya karena mereka bisa beregenerasi, tanpa kekuatan yang setara atau lebih mereka tidak akan bisa di lukai, dengan kata lain kekuatanku berada di atasmu."
Romy tercengang dengan ucapan Zen, dia menggigit bibirnya dan merasa kesal.
Api putih muncul di tangan Zen dan dia berjalan mendekati Romy, Romy merasa ketakutan dan mulai merangkak menjauh dari Zen namun Zen menyamakan langkah kakinya untuk mengejar Romy.
"Tidak! Hentikan itu Zen!"
Mendengar teriakan Lucy, Zen berhenti dan menoleh ke Lucy dengan tatapan dingin.
"Lebih baik menangkapnya daripada membunuhnya, maafkan saja dia lagipula dia itu teman kita."
Zen terdiam menundukkan kepalanya, dia mengangkat kepalanya dan menyeringai sambil menjawab pertanyaan Lucy.
"Teman? Jangan salah paham guru! Aku memang menganggap dirimu sebagai guruku tapi aku tidak pernah menganggap kalian semua sebagai teman kecuali Yugo!"
__ADS_1
Semua murid dan Lucy terdiam mendengar kata-kata Zen. Zen melanjutkan kata-katanya dengan nada tinggi.
"Jujur saja, selama ini aku tinggal di rumah Rina, jadi aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku."