
15? Karena satu desa sudah hancur,itu artinya tersisa 14 desa. Karena Fredrosse sekarang adalah boneka Melves kemungkinan besar desa di sana sudah dijadikan iblis. Itu artinya desa yang masih aman sekarang tinggal 12.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Adelino penasaran dengan pertanyaanku.
"Apa aku bisa meminta kalian melindungi desa yang tersisa? Kita tidak tahu kemana selanjutnya Melves akan mengubah warga desa."
"Tentu, akan mengirim surat ke Zetes dan Welford untuk melakukan rencanamu."
"Terima kasih."
Setelah berdiskusi dengan Altson kami memutuskan untuk pergi kembali ke Valmas, saat ini kepalaku di penuhi dengan masalah.
Warga desa yang di ubah menjadi iblis, Gerheim dan aku masih belum menyelesaikan masalah Riska. Masalah datang satu persatu, aku juga masih harus mengurus portal kehancuran.
Hah ... Apakah aku tidak boleh beristirahat sejenak?
Kami saat ini sedang menuju ke kota Valmas dan aku masih berpikir untuk menyelesaikan masalah ini, saat masih dalam mode berpikir Brull melihatku dan bertanya dengan penasaran.
"Ada Zen? Kau terlihat banyak sekali pikiran, sekarang beristirahat saja kau bisa sakit jika bekerja terlalu keras."
"Kau benar, tapi meskipun begitu masalah terus berdatangan dan aku tidak bisa melihat saja." Keluhku sambil mendesah berat.
"Aku tahu itu, maka dari itu kau tidak perlu menanggungnya sendirian. Aku ada di sini karena partnerku membutuhkan bantuan jadi untuk sekarang lebih baik kau istirahat saja."
Melihat Brull begitu pengertian membuatku merasa nyaman, entah kenapa aku merasa memiliki seorang kakak yang baik. Aku hanya tersenyum dan mulai menutup mataku.
Saat itu para gadis langsung menatap Brull dengan tajam.
"Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?"
"Tidak juga!" Mereka menjawab bersamaan sambil membuang muka mereka.
Brull kembali fokus melihat jalan dan melupakan kejadian tadi.
Brull tidak menyadari bahwa keempat gadis kecuali Misaki merasa kalau Zen direbut dari mereka, melihat Zen yang terlihat senang saat Brull perhatian padanya itu membuat keempat gadis itu cemburu.
"Emm..."
Saat para gadis masih melototi Brull tatapan mereka berpindah ke Zen yang sedang tidur, air dingin membasahi wajahnya dan ekspresinya menunjukkan merasa tidak nyaman.
"Sepertinya ia sedang bermimpi buruk."
Brull yang merasa penasaran dengan Zen yang merasa seperti kepanasan memberhentikan mobilnya dan menggoyangkan tubuhnya Zen untuk membangunkannya.
__ADS_1
Namun tidak ada respon sama sekali dari Zen.
Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada Zen saat ini.
Di sebuah dataran luas banyak orang yang sedang terbaring dengan luka dan darah di tubuh mereka, di tengah kekacauan itu seorang pemuda dengan pakaian seperti raja sedang menangisi seorang gadis di tangannya yang dilumuri dengan darah dan ada luka.
Saat itu hujan deras membasahi mereka berdua.
"Kumohon ... bertahanlah sebentar lagi! Jangan tinggalkan aku!"
Pemuda itu berteriak kepada gadis yang setengah sadar.
"Ber ... henti menangis. Kau ini seorang raja iblis ... bukan."
Suara gadis itu bergetar, lukanya yang sangat dalam membuatnya agak sulit untuk bicara. Air mata dari pemuda itu tidak berhenti keluar dari matanya.
"Kenapa? Kenapa lukanya tidak mau tertutup! Sial, apa yang harus kulakukan."
Pria itu menggunakan sihirnya pada gadis tersebut untuk menyembuhkannya namun sihirnya tidak berpengaruh pada lukanya.
"Sudah ... Cukup, Zen. Aku senang ... melihatmu khawatir padaku, tapi ... uhuk." Gadis batuk darah dan melanjutkan kata-katanya. "Aku ini seorang pahlawan, lho. Orang ... yang terus berulang kali mencoba membunuhmu."
"Memangnya kenapa! Aku tidak ingin kehilanganmu."
"Hahahaha. Sungguh romantis, kisah cinta seorang pahlawan dan raja iblis. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang, Raja Iblis Zen."
Pria tua itu mengejek pemuda itu dengan senyum lebar, pemuda itu menyipitkan matanya dan menggertakan giginya.
"Gerheim!"
Dengan penuh kesal sebuah api putih terbang ke arah Gerheim namun ia berhasil menghindarinya dengan mudah.
"Cih, apa yang sebenarnya kau inginkan? Hah!"
"Tidak ada, hanya saja aku sangat menyukai kondisi ini. Manusia dan iblis terus berselisih, namun aku tidak pernah menyangka kalau seorang raja iblis sepertimu mencintai seorang pahlawan yang merupakan seorang manusia."
"Zen, aku minta maaf ... atas segalanya ... dan juga ... terima kasih banyak."
Zen langsung kembali ke gadis itu saat ia bicara.
"... Sebenarnya aku juga mencintaimu ... aku pernah membayangkan kita sudah menjadi suami istri di dalam kedamaian. Membayangkan kita memiliki anak gadis yang sangat cantik ... sudah membuatku sangat bahagia."
"Hiks ... hiks ... Aku harap itu terjadi."
__ADS_1
"Sungguh menjengkelkan."
Sebuah bola api datang dan mengenai punggung Zen dan terbakar, Zen tidak mempedulikan api di punggungnya dan terus menahan rasa sakit itu.
Rena mengusap air mata Zen sambil senyum dan saat itu juga dengan sisa kekuatan yang tersisa Rena mengucapkan kata terakhirnya.
"Aku sangat mencintaimu, Zen. Juga selamat tinggal."
"Aku juga mencintaimu ... Rena."
Zen berdiri dan berteriak dengan keras.
"Aku berjanji! Suatu hari nanti aku akan mewujudkan impianmu itu, Rena!"
Gerheim tertawa dengan girang saat melihat Rena terbakar.
"Hahahaha. Inilah yang terjadi jika kau mencari masalah denganku, Raja iblis."
Zen menatap ke tanah dan menarik nafas dalam-dalam, sesaat kemudian emosi tidak lagi terlihat di wajah Zen. Matanya hanya ada kekosongan, Zen mengeluarkan api putih ditangannya dan dengan cepat berlari ke arah Gerheim.
Gerheim yang melihat itu dengan cepat mencoba menghindari serangan itu namun Gerheim melakukan kesalahan yaitu ia melakukan kontak mata dengan Zen yang membuatnya tidak bisa bergerak.
Saat itulah Zen menusuk jantung Gerheim dengan api putih namun Gerheim berhasil bebas dan dengan waktu satu detik ia menghindar dan menusuk jantung Zen.
Api putih Zen tidak mengenai jantung Gerheim namun itu membuat serangan Zen mengenai perutnya dan mulai membakar tubuh Gerheim.
Zen mundur sejauh mungkin dan kesadarannya mulai menghilang, tinggal beberapa detik lagi sebelum Zen benar-benar mati ia menggunakan sisa mananya dan mengaktifkan extra skillnya.
"[Reincarnation]"
Sebuah lingkaran sihir muncul di langit dan cahaya mulai bersinar dengan terang. Zen bergumam pada dirinya sendiri.
"Aku bersumpah ... akan membunuh Gerheim dan bertemu denganmu lagi Rena."
***
"Hah?"
Aku membuka mataku dan bangun karena agak terkejut, kepalaku terasa sakit dan aku merasa tidak enak badan.
"Kau sudah sadar? Syukurlah kau baik-baik saja."
Kana datang sambil membawa ember kecil yang berisi air, aku ingat kalau aku sedang tidur di mobil dan sepertinya sekarang aku berada di kamarku, apa ini di kota Valmas?
__ADS_1