
Air mata keluar dari mata karena senang. Zen tidak tahu alasannya mengapa ia menangis, namun melihat senyuman bersama air mata, Zen yakin kalau itu adalah ekspresi senang.
Zen terus bertanya-tanya kenapa ia berekspresi seperti itu setelah ia menyebutkan nama yang ada di pikirannya.
"Sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya siapa pahlawan Rena?"
Ekspresi semua orang berubah menjadi terkejut. Terutama Rena sendiri, ia tidak hanya terkejut tapi juga menahan emosi kesalnya.
Namun, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghilangkan rasa kesalnya karena ia tahu kalau ingatan Zen sangat kacau.
"Baiklah, aku kan memberi tahu padamu kebenarannya."
Rena berdiri dari kursinya dan seketika cahaya menyelimuti tubuhnya, setelah cahayanya mulai redup. Ia berubah menjadi gadis berambut putih dengan tubuh yang sangat cantik.
Zen terkejut dengan perubahan drastis dari Rena. Ia berubah dari gadis elf menjadi gadis manusia.
"Sekarang, aku akan memberitahu semua yang aku ketahui."
Rena mendekati Zen dan menciumnya, sesaat setelah Zen dan Rena berciuman, lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka.
Dalam sekejap, Zen melihat sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Apakah ini medan perang? Pikir Zen.
Dia berada di tengah dataran luas yang gersang, darah dan mayat berada di sekelilingnya.
"Zen, menjauh dari sana!"
Zen mendengar suara gadis memperingatkannya, namun Zen yang masih bingung melihat sekeliling. Namun, dia tidak menemukan gadis itu di manapun.
"Hahahahaha. Tidak kusangka kau akan melindunginya."
Kali ini Zen mendengar suara seorang pria, dia terdengar sangat tua dan caranya bicara sangat sombong.
Zen masih mencari keberadaan asal suara, sesaat kemudian suara logam terdengar dari langit, itu adalah suara benturan keras antara satu objek ke objek lain, dengan segera Zen menoleh ke atas kepalanya.
Di langit terdapat tiga orang sedang bertarung, satu gadis, satu pria dan satu kakek tua.
Zen menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas, saat mata Zen tertuju pada seorang pria. Zen terkejut, karena pria yang berambut hitam itu adalah dirinya sendiri.
Apakah itu aku?
Zen masih bertanya-tanya yang melihat dirinya sedang bertarung dengan pedang hitam legam di tangannya, aura hitam yang keluar dari pedangnya terlihat sangat kuat.
__ADS_1
Namun saat Zen melihat ke arah sang gadis yang membawa pedang putih yang bercahaya, dia langsung mengenalinya, itu adalah Rena.
"Zen!"
"Aku tahu!"
Kedua pedang mereka bersinar dan mereka mengayunkan pedang mereka ke depan, tebasan mereka merobek udara di pria tua.
Pria tua itu menutupi tubuhnya dan menguatkan dirinya, dan kulitnya menangkis serangan itu.
Berkat sihirnya pria tua itu hanya mengalami sedikit kerusakan saja.
"Hahaha. Sungguh bodoh, kalian pikir serangan lemah itu bisa melukaiku?"
Meskipun hanya mendapatkan sedikit luka pada tangannya, dia terlihat seperti menahan rasa sakit.
Zen (Rambut hitam) dengan cepat menerjang ke arah pria tua itu, dengan mana yang terkumpul di pedang hitam, Zen (Rambut hitam) menyerang namun serangannya berhasil di tahan oleh pria tua itu.
"Kalau kau pikir hanya dengan menambahkan mana bisa melukaiku?"
"Aku tidak pernah bilang aku akan melukaimu."
Dengan jawaban sombong Zen (Rambut hitam), Pria tua itu segera melihat ke belakang Zen (Rambut hitam) untuk mencari Rena, namun ia tidak melihatnya.
"[Lucifer eye: Laser]"
Dari matanya keluar laser merah namun pria tua itu berhasil menghindarinya karena menyadarinya dengan cepat.
Di saat yang bersamaan, di belakang Pria tua itu, Rena menghunuskan pedangnya ke depan dan mengenai jantung pria tua itu.
"Terima ini, Gerheim!"
Setelah pedangnya tertancap, pria tua itu terjatuh dan terkapar di tanah. Namun, saat itu juga laser yang keluar dari mata Zen (Rambut hitam) mengenai lengan Rena.
Meskipun luka yang diterima Rena tidak terlalu parah tapi ia tetap merasakan sakit.
"Maaf, [Recovery]"
Cahaya hijau terang menyelimuti lengan Rena, dan lukanya secara bertahap mulai menghilang. Setelah cahayanya redup, seketika semuanya berubah.
Langit menjadi gelap dan awan hitam mulai menutupi langit. Zen (Rambut putih) tidak menemukan mereka berdua di langit setelah langit menjadi gelap dan hujan mulai turun.
Kumohon ... bertahanlah sebentar lagi! Jangan tinggalkan aku!"
__ADS_1
Suara putus asa seorang pemuda terdengar dari dekat Zen (Rambut putih).
Zen (Rambut putih menoleh ke belakang dan melihat Zen (Rambut hitam) sedang menangisi Rena yang berada di pangkuannya.
Zen (Rambut putih) mendekatkan dirinya untuk melihat lebih jelas. Saat melihat lebih jelas, tubuh Rena dilumuri dengan darah dan banyak luka tebasan di beberapa bagian.
"Ber ... henti menangis. Kau ini seorang raja iblis ... bukan."
Melihat dirinya sedang menangisi Rena, secara tidak sadar Zen (Rambut putih) ikut menangis.
Suara Rena bergetar, lukanya yang sangat dalam membuatnya agak sulit untuk bicara. Air mata dari Zen (Rambut hitam) tidak berhenti keluar dari matanya.
"Kenapa? Kenapa lukanya tidak mau tertutup! Sial, apa yang harus kulakukan."
Zen (Rambut hitam) menggunakan sihir [Recovery] pada Rena untuk menyembuhkannya namun sihirnya tidak berpengaruh pada lukanya.
"Sudah ... Cukup, Zen. Aku senang ... melihatmu khawatir padaku, tapi ... uhuk." Rena batuk darah dan ia tetap melanjutkan kata-katanya.
"Aku ini seorang pahlawan, lho. Orang ... yang terus berulang kali mencoba membunuhmu."
"Memangnya kenapa! Aku tidak ingin kehilanganmu."
Saat mereka sedang bersedih dibawah air hujan, pria tua itu tertawa keras sambil menatap ke langit.
"Hahahaha. Sungguh romantis, kisah cinta seorang pahlawan dan raja iblis. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang, Raja Iblis Zen."
Pria tua itu mengejek pemuda itu dengan senyum lebar, pemuda itu menyipitkan matanya dan menyebutkan nama pria tua itu dengan penuh amarah.
"Gerheim!"
Dengan penuh kesal sebuah api putih terbang ke arah Gerheim namun ia berhasil menghindarinya dengan mudah.
"Cih, apa yang sebenarnya kau inginkan? Hah!"
"Tidak ada, hanya saja aku sangat menyukai kondisi ini. Manusia dan iblis terus berselisih, namun aku tidak pernah menyangka kalau seorang raja iblis sepertimu mencintai seorang pahlawan yang merupakan seorang manusia."
"Zen, aku minta maaf ... atas segalanya ... dan juga ... terima kasih banyak."
Zen (Rambut hitam) langsung kembali ke Rena saat ia bicara.
"... Sebenarnya aku juga mencintaimu ... aku pernah membayangkan kita sudah menjadi suami istri di dalam kedamaian. Membayangkan kita memiliki anak gadis yang sangat cantik ... sudah membuatku sangat bahagia."
"Hiks ... hiks ... Aku harap itu terjadi."
__ADS_1
Setelah melihat itu, Zen kembali sadar. Saat ia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Rena yang tersenyum lalu ia menoleh dan melihat Karen dan Livera yang ikut tersenyum saat itu juga.