Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Zen dan ratu Kerajaan Zetes


__ADS_3

Di pagi hari, Istana sudah ramai dengan para pelayan yang sibuk menyiapkan acara pesta. Para gadis sudah siap dengan gaun mereka yang membuat mereka terlihat menawan. Brull juga sudah rapi dengan jas hitamnya.


Riska tampak khawatir dan ingin mengecek kamarnya Zen namun pintunya tidak dikunci dan tidak ada siapapun di sana.


Riska bertanya pada pelayan yang melintas di dekatnya.


"Apa kau melihat Zen?"


"Tadi aku melihatnya pergi ke luar."


"Begitu, terima kasih."


Pelayan itu pergi dan melanjutkan pekerjaannya. Riska tidak tahu kemana perginya Zen namun dia tidak punya waktu untuk mencarinya. Riska percaya kalau Zen akan kembali.


Setelah persiapan telah selesai, para tamu berdatangan satu-persatu. Mereka tampak elegan dan berkelas.


"Baiklah, acara ini adalah untuk kembalinya sang pahlawan!"


Akira bersorak sambil mengacungkan cangkir berisi anggur. Para tamu mengikutinya dengan mengangkat cangkir mereka sambil berteriak "Hore!!".


Pesta sangat meriah dengan alunan musik dari piano dan beberapa pasangan yang berdansa. Ada yang mengobrol, ada yang menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Berbagai macam orang berkumpul di pesta ini.


Di lain tempat, Zen berkeliling di istana sejak pagi dan telinganya mendengar suara yang mencurigakan. Dia berjalan ke arah suara itu dan menemukan beberapa orang dengan pakaian yang aneh.


"Mencurigakan. Apa mereka seorang pembunuh?"


Zen mengikuti mereka dari belakang. Orang-orang itu tidak menyadari Zen yang sedang mengikuti mereka dengan tenang.


"Dia orangnya."


Para pembunuh ini menemukan seorang wanita sedang duduk di kursi taman istana yang sedang mengawasi dua putrinya.


Para pembunuh itu berjalan diam-diam dan mencoba tidak menimbulkan suara. Para pembunuh semakin dekat dan Zen mengambil ranting di dekatnya lalu memukul para pembunuh itu hingga pingsan.


"Guh ...!"


"Ugh...!"


"Aduh...!"


Ketiganya segera berbalik dan menemukan Zen yang berdiri sambil membawa ranting di tangannya.


"Siapa kamu?"


"Maafkan aku, yang mulia. Aku adalah Zen dan sepertinya mereka mencoba membunuh anda."


Zen membungkuk dan meminta maaf. Wanita itu melihat ke bawah dan ada beberapa orang tergeletak di tanah. Dia tidak percaya kalau dia mengalahkan pembunuh hanya dengan sebuah ranting pohon saja.


Para penjaga datang dan menangkap semua pembunuhan yang tergeletak di tanah.


Dia menyuruh Zen duduk di sampingnya dan kedua putrinya mendekati Zen karena matanya yang unik.


"Kakak, kakak. Apa yang sedang kakak lakukan di sini?"


"Mari bermain bersama."

__ADS_1


Keduanya sangat antusias. Zen hanya tersenyum lembut kepada keduanya dan mengelus kepala mereka.


"Jadi kau adalah Zen yang dikatakan suamiku. Kudengar kau berkontak dengan iblis."


Zen sudah menduga bahwa Akira akan mengatakannya pada istrinya. Zen tidak menyangkalnya dan matanya menatap langit.


"Yah, ini terjadi begitu saja."


"Begitu ya. Kudengar pahlawan kembali dan suamiku sedang mengadakan pesta, jadi kenapa kau tidak ikut?"


"Aku tidak menyukai keramaian."


Ratu masih tersenyum dengan lembut melihat Zen dan dia terkejut karena merasa seperti mengenal seseorang saat melihat ekspresi Zen.


"Entah kenapa kau terlihat seperti seseorang."


Zen bingung dan menoleh ke ratu. Dia menatap Zen dengan lembut seolah melihat teman lamanya yang jarang terlihat lagi.


"Siapa nama ibumu?"


"Maaf. Aku tidak tahu siapa orang tuaku apalagi nama mereka."


"Maafkan aku, aku tidak tahu."


"Tidak apa-apa."


Suasananya dipenuhi oleh keheningan namun keheningan itu dihancurkan oleh kedua putri yang tiba-tiba naik ke pangkuan Zen.


"Kakak, tidak perlu sedih."


"Mm... jangan sedih."


"Terima kasih. Apakah kalian mau bermain bersama?"


"Benarkah?!"


"Tentu."


Zen dan kedua putri bermain kejar-kejaran. Zen berpura-pura sebagai monster ganas yang berniat memakan mereka. Ratu tertawa kecil melihat Zen dan kedua putrinya tampak bersenang-senang.


"Di sini kau rupanya, Zen."


"Brull..."


Brull datang menghampiri sambil membawakan piring yang berisikan berbagai macam makanan dan botol anggur.


"Ada apa?"


"Aku membawakan makanan untukmu. Kau tahu, meskipun kau tidak ikut pesta setidaknya isi perutmu."


"Baiklah, terima kasih."


Zen menerima piring yang penuh dengan makanan.


"Fufu, kalian sangat akrab."

__ADS_1


Ratu tertawa kecil melihat Zen dan Brull.


"Ah! Maafkan saya karena tidak menyapa."


Brull membungkuk dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.


"Nama saya adalah Bruce Will, teman Zen."


"Ara. Sopannya. Aku Yuriko."


Zen segera mengambil makanan dan melahapnya selagi keduanya masih memperkenalkan diri. Namun Brull terkejut begitu menyadari makanan yang ia bawa hilang begitu saja.


"Kau menghabiskannya begitu saja?! Apa kau selapar itu?"


"Kau punya keluhan tentang itu?"


Brull reflek menggelengkan kepala begitu melihat tatapan tajam Zen. Itu adalah tatapan yang menakutkan bagi Brull dan baru kali ini ia melihat tatapan mata seperti itu dari Zen.


"Oh benar. Sepertinya raja Akira mencarimu, sepertinya ada sesuatu yang penting untuk dia katakan."


Mendengar itu Zen berdiri dan memberikan piring kotor kepada Brull. Namun, sebelum pergi dia berdiri di depan sang ratu.


"Yang mulia. Apakah anda tidak ikut pesta bersama yang lain karena kaki anda yang membatu?"


Mata Ratu membelalak. Dia terkejut karena kakinya tertutup oleh gaunnya sehingga tidak bisa menyadari bahwa kakinya telah berubah menjadi batu. Dia hendak menanyakan kepadanya mengapa dia bisa mengetahuinya namun Zen segera menjawabnya seolah dia membaca pikirannya.


"Mataku mampu melihat segalanya. Dan juga aku yakin orang yang mengirim pembunuh pada anda adalah orang yang sama yang membuat kaki anda seperti ini bukan?"


Ratu terdiam lalu mengangguk sebagai jawaban. Meskipun Zen bisa mengetahui dalang dari kejadian ini tapi dia tidak bisa mengetahui motif dibaliknya.


"Aku bisa saja menyembuhkan kaki anda tapi sebagai gantinya bisakah anda beritahu saya tujuan dalangnya."


"Y-Ya, tentu."


Zen menggunakan sihir penyembuhannya untuk menghilangkan pembatuan pada kaki sang ratu. Karena penyembuhannya memakan waktu lama, ratu mulai menceritakan tentang dalangnya.


"Ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Saat suamiku sedang dalam perjalanan ke kerajaan Agate, dia menyelamatkan seorang wanita yang di serang oleh sekumpulan wyvern. Wanita itu jatuh cinta pada suamiku dan menyatakan cintanya namun dia menolak wanita itu dan mengatakan bahwa dia sudah memiliki istri. Hasilnya wanita tidak terima dan sangat marah lalu ia mengirimkan kutukan padaku dan seperti yang bisa kalian lihat sekarang."


Kaki sang ratu sudah tidak lagi membatu dan Zen membantunya berdiri untuk menggerakkan kakinya.


"Bagaimana?"


"Ini..."


""Ibu?!"'


Kedua putrinya sangat terkejut melihat ibunya sudah bisa berjalan kembali dengan normal. Mereka memeluk ibunya dan menangis bahagia. Zen dan Brull tersenyum melihat mereka bahagia.


"Perlukah aku menghajar wanita ini, Zen?"


Brull memukul lengannya dengan semangat.


"Kalau bisa aku ingin membunuhnya daripada menghajarnya."


Sang ratu membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada Zen karena telah menolongnya.

__ADS_1


"Aku sangat berterima kasih padamu. Berkatmu aku bisa berjalan kembali."


"Ya, tidak masalah."


__ADS_2