Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Lilith Miyazaki


__ADS_3

"Lilith?"


"Kalian baik-baik saja?"


Saat aku berpikir dengan duniaku Riska memanggilku berulang kali.


"Zen? Zen?"


Aku tidak mendengar suara Riska begitu jelas namun Riska menarik telingaku dan aku kembali ke sadar.


"Aduh."


"Kenapa kau diam saja? Aku memanggilmu sejak tadi."


Aku menggosok telingaku karena sangat sakit saat Riska menarik telingaku.


"Maaf."


Riska menghela nafas dan menyuruhku untuk tidak berpikir sementara waktu.


"Mereka ingin berbicara denganku."


Salah satu warga maju ke depanku. Ia memiliki rambut putih dan kumis tipis berwarna putih, ia memakai kaus coklat, celana kulit dan sepatu kotor yang penuh lumpur.


Kakek tua ini mungkin kepala desa ini.


"Terima kasih anak muda, aku sudah dengar dari Lilith kalau kau mau membantu kami, terima kasih banyak."


Ia membungkuk sambil berterima kasih, karena aku tidak tahan dengan seorang kakek yang membungkuk berterima kasih rasanya aku seperti sedang menindas orang tua.


"Angkat kepalamu, kau tidak perlu berterima kasih. Aku secara pribadi hanya ingin membantu."


Padahal aku hanya ingin melihat orc secara langsung.


"Terima kasih banyak. Semuanya, kita sambut para petualang ini."


"Ya."


Ia berbalik dan memerintah warga lainnya.


Para warga berteriak dan langsung bubar dan mulai membuat sesuatu, para lelaki membawa kursi dan meja dari rumah masing-masing sedang para wanita mulai membawa alat panggang dan beberapa daging dan sayuran.


Sepertinya mereka ingin membuat barbeque, kami yang bingung dengan mereka hanya bisa diam berdiri melihat mereka.


Lilith datang di sebelahku dan mengatakan sesuatu.


"Maaf ya, mereka memang seperti itu. Jadi, tolong nikmati hidangan kami ya."


Kruk...


Aku dan Riska sudah tidak merasakan rasa lapar namun aku mengerti dengan Brull ia berbeda karena ia bisa merasakan lapar, suara perutnya bisa kami dengar jelas, suaranya terdengar seperti suara macan.


Warga desa yang sedang menyiapkan untuk menyambut kami diam sejenak lalu tertawa.


Brull sangat malu hingga menit wajahnya dengan tangannya.


Semua persiapan pun akhirnya selesai, semua sedang duduk sambil melihat makan yang ada di atas meja.


Ada banyak sekali makanan, dari sayuran hingga daging di sebelah makanan terdapat banyak sekali gelas yang berisi minuman bir.


"Ayo duduk."


Kami pun duduk dan mulai makan bersama, Brull makan dengan rakusnya, aku bisa mengerti kalau dia lapar namun apa dia tidak sarapan saat di rumah.


"Ini... katakan 'aaa'"


Sebuah daging yang di capit sumpit ada di depanku, Riska sedang mencoba menyuapiku.


Aku mengerti apa yang sedang Riska coba lakukan, tanpa mengatakan apapun aku membuka mulutku dan Riska menyuapiku.


Semua tersenyum melihat kami, Brull masih fokus dengan makanannya.


Langit sudah mulai malam, kami berencana untuk kembali namun para warga meminta kami untuk tetap tinggal.


"Langit sudah mulai gelap, kami sebaiknya kembali."


Saat kami mulai berdiri para warga mulai menahan kami.


"Ini sudah gelap, kalian sebaiknya tinggallah disini untuk sementara."


Aku yang tidak bisa menolaknya memutuskan untuk tetap tinggal dan kami di beri satu rumah kosong untuk kami tinggali.


"Baiklah."


Karena hanya ada dua kamar di rumah, tadinya aku dan Brull sekamar sementara Riska sendirian.


"Kenapa ekspresimu seperti itu, ayolah kita hanya tinggal disini semalam."


Riska menundukkan kepalanya dan wajahnya terlihat murung.


"Bukan itu!"


Brull sepertinya mengerti maksud Riska.


"Begitu, aku akan tidur sendirian, kalian tidur berdua."


Wajahnya Riska mulai kembali ceria, sepertinya Riska sangat ingin tidur denganku.


Aku tidak bisa melakukan apapun lagi jadi aku hanya bisa pasrah dan tidur bersama Riska.

__ADS_1


Seperti biasa sebelum tidur Riska menghisap darahku terlebih dahulu untuk mengembalikan kekuatannya.


Pagi hari pun tiba, matahari mulai naik perlahan, angin pagi yang sejuk masuk ke dalam kamar membuatku terbangun.


Apa ini sudah pagi hari?


Aku merasa tubuhku sulit digerakkan seperti ada yang menindihiku dan itu sangat hangat.


Aku mulai meraba-raba karena kesadaranku belum sepenuhnya bangun. Namun, aku tidak bisa menggerakkan tangan kananku. Itu terbungkus dalam perasaan lembut yang berbeda dari tempat tidur. Telapak tanganku juga terjepit menjadi sesuatu yang hangat dan lembut.


Apa ini?


Aku menggerakkan tanganku saat aku masih kosong. Aku merasakan elastisitas tertentu diantara kedua tanganku dan terasa licin ketika aku menyentuhnya. Entah bagaimana perasaan itu dan menjadi kebiasaan untuk menyentuh...


"...Ahn...


Apa!?


Untuk beberapa alasan, nafas menggoda dapat terdengar. Pada saat ini, Bayangan pertama kesadaranku kembali kepadaku.


Aku memperhatikan ketika aku bangkit dengan panik, Bahwa aku berada di tempat tidur.


Tempat tidurnya memiliki kain putih bersih dan terasa sederhana.


Aku bisa merasakan ada angin yang berhembus di pipiku.


" ... Hn ... Zen ... Au ..."


!?


Aku mencoba duduk namun tubuhku terasa berat, aku membuka selimut yang diatas tubuhku.


"...Hehe... Jangan di situ... Zen..."


Llilith?


Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Tidak memakai satu helai pakaian pun, Lilith menempel di atas tubuhku dan tidur dengan telanjang bulat.


"Apa yang terjadi? Sepertinya aku mabuk Karena terlalu banyak minum."


Aku membuka menoleh ke tangan kananku dan aku benar-benar merasa panik.


Riska menempel di tangan kananku dan tidur telanjang bulat.


Tok...tok...


"Kawan, apa kau masih tidur?"


Suara ini?


Aku bisa mengenali suara ini, itu adalah suara Brull yang sedang memanggilku.


Aku benar- benar panik dengan situasiku, jika Brull masuk maka aku dalam masalah besar.


"Baiklah, bangunkan juga Riska. Kepala desa ingin berbicara denganmu."


"Oke."


Suara langkah kaki Brull mulai menjauh, mungkin ia sudah pergi. Namun, aku bingung dengan situasiku sekarang ini, aku tidak tahu harus apa.


Karena tidak bisa bergerak aku membangunkan mereka dengan memanggil mereka berulang kali.


"Riska, bangun. Hei Lilith, cepat bangun dan menyingkirlah."


Mereka mulai merespon namun tidak bangun sama sekali.


Aku berniat ingin menggunakan sihir kata-kata namun aku ingat dengan kapasitas sihirku yang tidak normal aku takut menyakiti mereka. Aku pun memiliki ide untuk membangunkan mereka.


"Riska, kalau kau tidak bangun aku akan meninggalkanmu."


Riska membuka matanya dan langsung menarik telingaku. Ia terlihat marah.


"Coba ulangi."


Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat pagi.


"Selamat pagi."


Riska duduk lalu melihat sesuatu yang menonjol di atas selimut, karena penasaran ia dengan cepat membalik selimut dan melihat Lilith sedang menempel padaku.


"Zen, apa maksudnya ini?"


Riska tersenyum ke arah arahku namun aku bisa merasakan aura membunuh di belakangnya.


"Aku juga tidak tahu, kalau begitu bisa bantu aku."


Riska menendang Lilith yang sedang tidur di atasku hingga jatuh ke bawah.


"Aduh..."


Riska yang merasa kasihan melihat jatuh dan memarahi Riska yang menendang Lilith.


"Riska, kenapa kau menendangnya?"


"Maksudmu aku harus membiarkannya terus memelukmu? padahal kau yang menyuruhku untuk membantumu."


Riska marah dan membuang mukanya sambil menyilangkan tangannya.


"Bukan begitu, kau tidak boleh menendangnya."

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku."


Riska merasa menyesal dan menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.


"Aduhh... kenapa kau menendangku begitu saja."


Riska merasa bingung sambil mengusap kepalanya berulang kali.


"Aku akan bertanya padamu, Lilith kenapa kau ada dikamarku sambil telanjang?"


"Itu..."


Bruk...


"Ada apa?"


Hm?


Brull tiba-tiba mendobrak pintu kamarku dengan panik.


"Ahh..."


"Ahh..."


Karena mereka telanjang, mereka sangat terkejut. Riska langsung menutup tubuhnya dengan memelukku dari belakang sedangkan Lilith langsung menutup tubuhnya dengan selimut yang ada di sebelahnya.


"Maaf menggangu!"


Brull langsung menutup pintu kamar dengan keras dan meminta maaf.


Sepertinya ini akan jadi masalah besar.


"Aku akan melupakan masalahmu, sekarang pakai pakaianmu, Riska juga sebaiknya kau pakai pakaianmu."


Lilith mengambil pakaiannya yang berada di atas meja dan memakainya.


Sementara Riska masih memelukku dengan telanjang dan aku bisa merasakan dadanya yang besar menempel di punggungku.


"Riska?"


Riska tidak menjawab apapun justru ia malah menekan dadanya.


"Riska, sudah cukup."


"Tidak mau, apa kau lebih menyukai dadanya Lilith?"


Sepertinya Riska cemburu, aku benar-benar bingung dengan wanita.


Aku tidak bisa membandingkan dada mereka berdua, mereka sama-sama memiliki dada yang cukup besar.


"Haha, sepertinya Riska sangat cemburu padaku. Tapi sepertinya Zen lebih menyukai dadaku dari pada dadamu."


Dengan wajah kesal Riska turun dari tempat tidur dan menantang Lilith.


"Tidak, Dadaku lebih disukai oleh Zen dan dia sudah meremasnya."


Jadi kelembutan yang kurasakan tadi adalah dadanya Riska? Aku merasa diriku adalah yang terburuk.


Mereka bertengkar dengan mengadu kedua dada mereka.


Itu adalah pemandangan yang benar-benar tidak baik. Aku melerai mereka dengan sihir kata-kata.


"Sudah cukup."


Gelombang suara yang aku buat membuat mereka terdiam.


"Riska, cepat pakai pakaianmu. Kepala desa ingin menemui kita."


Riska dengan patuh memakai pakaiannya.


"Kalian keluar duluan, aku akan ke menyusul nanti."


Mereka berdua keluar dan aku bisa mendengar mereka bertengkar di luar kamar.


Aku menghela nafas melihat perilaku mereka berdua.


Aku melihat tubuhku dan aku setengah telanjang, aku hanya memakai celana pendekku.


Hah!?


Aku berpikir dengan keras apa yang terjadi semalam namun aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.


Aku mulai untuk tidak memikirkannya dan memakai pakaianku. Aku pun keluar dari rumah dan melihat Kakek yang kemarin.


Tebakanku benar, kakek ini kepala desanya.


Lalu Brull yang sedang berdiri di depan kepala desa bersama Riska dan Lilith di sebelahnya.


Aku berjalan mendekati mereka dan aku bisa melihat sebuah bekas tamparan di pipi kanan dan kiri Brull.


Sepertinya itu dari Riska dan Lilith, aku merasa kasihan pada Brull.


"Oh? tuan Zen, maafkan aku telah mengganggumu namun aku punya permintaan."


Aku dengan senang hati menerima permintaanya.


"Tentu, katakan saja."


"Aliran air di desa ini sudah tidak mengalir lagi, kami menggunakan sungai sebagai sumber dan kata warga yang mengecek sungai mengatakan kalau air tersumbat oleh batu besar."

__ADS_1


Aku sudah mengerti situasinya namun yang membuatku heran adalah kenapa tiba-tiba. Kemarin bukankah baik-baik saja? aku merasa ada sesuatu yang tidak beres disini.


__ADS_2