
"Vampir!?" Mereka terkejut setelah mendengar itu. ya, aku mengerti alasan mereka terkejut karena aku tidak memberitahu mereka sebelumnya.
"Tenang saja. Riska hanya menggigit darahku, kalian tenang saja."
Setelah selesai meminum darahku ia langsung tertidur pulas. Wajahnya saat tidur benar-benar imut, jika saja aku memiliki kamera aku akan memotretnya dan memajang fotonya dengan bingkai.
"Emm ... apa dia baik-baik saja?"
"Ya, kurasa ia sudah bekerja keras hari ini. Jadi biarkan dia beristirahat, oke?"
Aku mengangkat Riska dan memindahkanya dari sofa ke tempat tidur.
"Lilith, kau juga tidur, ini sudah malam. Kita akan kembali ke kota Valmas besok jadi tidurlah dengan Riska."
"Baik."
Lilith berdiri dan tidur di sebelah Riska.
"Selamat malam Zen, Brull."
Lilith menarik selimutnya dan menutup matanya.
"Brull, kau mau denganku?"
"Tentu."
Kami berjalan keluar dan mematikan lampu kamar. Kami berjalan di lorong untuk mencari pintu keluar. Namun kami ditahan oleh Sebas dan dua ksatria.
"Tuan Zen, malam-malam begini anda mau pergi kemana?"
"Kami ingin berjalan-jalan di kota. Apa kau juga mau ikut?"
"Tidak perlu kalau begitu berhati-hatilah."
Sebas membiarkan kami lewat dan berjalan menuju keluar istana. Saat diluar, tepat didepan pintu, angin malam yang dingin berhembus membuat tubuh terasa membeku namun itu tidak mempan terhadap kami.
Aku memakai pakaian yang dilapisi sihir dan Brull memiliki fisik yang kuat hingga angin malam pun tidak bisa membuatnya kedinginan.
"Hah.... malam yang indah!"
"Brull, malam ini kita akan bersenang-senang jadi ini akan menjadi malam yang panjang."
"Apa! jadi kau membawaku untuk bersenang-senang? Hei Zen, kau ini sangat baik."
"Ayo pergi."
Kami berjalan dan pergi ke kota. Ini adalah kota Arez. Kota Arez merupakan ibukota di kerajaan Agate, salah satu kota terbesar. Kota yang hanya dipenuhi manusia. Tidak seperti kota Valmas yang merupakan kota bebas yang dimana semua ras bisa bertemu dan mengikuti aturan yang ada.
Kami berjalan di kota, Saat malam biasanya akan terlihat gelap namun tidak di kota Arez, malam terlihat seperti siang hari, semua dipenuhi lampu berwarna warni membuat kota terlihat lebih hidup. Saat kami berjalan di kota hanya ada rumah dan bangunan lainnya.
Kami berjalan menuju sebuah bangunan, ada sebuah nama di atas pintu masuk. Disana tertulis "Bar".
"Kawan, apa kau mau minum malam ini?"
"Kau tidak mau?"
"B-bukan begitu. Hanya saja bukankah kau bilang akan menyimpan uang itu."
Ya aku memang bilang begitu karena aku tidak mau membelikan sebuah senjata yang mudah rusak. Aku lebih suka membuatnya sehingga saat rusak aku bisa memperbaikinya saat itu juga.
"Itu dan ini berbeda. Jadi bagaimana, kau mau pergi atau tidak?"
__ADS_1
"Tentu saja. Karena sahabatku yang mengajak tidak mungkin aku menolaknya."
Kami pun masuk kedalam bar dan saat pintu terbuka sebuah lonceng yang ada diatas pintu berdering. Semua tatapan langsung tertuju pada kami namun kami menghiraukannya.
"Apa yang ingin anda pesan tuan?"
"2 anggur merah."
Setelah Brull memesan, pelayan mengambil botol yang terpajang di belakangnya dan menuangkannya di sebuah gelas kecil.
Namun tepat sebelum pelayan memberikan minuman ada beberapa orang yang sedang berdiri di belakang kami.
"Hei, bocah. Bajumu sangat bagus sepertinya kau memiliki banyak uang, bisa kami meminjamnya."
Seseorang menyentuh pundakku dan mengatakan ingin meminjam uang. Dari cara mereka melihat kami barusan sudah jelas mereka itu bukan orang yang baik.
Aku melirik tangan yang ada di pundakku dan mengumpulkan mana di mulutku.
"Menjauh lah dariku."
Tubuh pria itu dengan sendirinya bergerak dan terpental ke belakang seperti di dorong oleh angin.
"Apa yang kau lakukan."
"Beraninya kau."
Mereka sudah bersiap dan mulai mengeluarkan pisau dan menyerang bersama, tepat sebelum pisau itu menyentuhku aku langsung menggunakan sihir kata-kata.
"Tidur."
Mereka langsung tergeletak di lantai dan tertidur dengan pulas.
*tak*
Aku tidak bermaksud untuk menakutinya hanya memberi sedikit pelajaran pada mereka, yah. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Melihat Brull dengan tenang duduk di sebelahku dan menghiraukan apa yang terjadi sambil meminum minumannya membuatku merasa seperti aku adalah orang yang kejam.
"Hei, Brull jangan menikmati minumanmu sendirian."
"Maaf maaf, anggur ini benar-benar enak."
Aku menghela nafas melihat sikapnya, namun entah kenapa hanya perasaanku saja atau bukan, tapi aku merasa ada yang terus menatap kami. Yah, memang sih karena masih ada beberapa orang yang duduk mungkin mereka menatapku karena kejadian ini.
"Hei, kawan sepertimu orang-orang yang memakai jubah hitam itu menatapmu terus."
Aku melihat ke belakang dan ada 4 orang yang sedang duduk memakai jubah hitam yang menutupi wajah mereka. Aku pernah melihat hal semacam ini di novel yang pernah kubaca. Mereka pasti sedang mencari informasi tentang sesuatu.
"Biarkan saja. Mungkin itu orang lain bukan diriku yang diperhatikan. Ngomong-ngomong Brull, apa ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Ah...ya, itu... aku hanya terkejut saja. Aku masih tidak percaya kalau Riska adalah seorang vampir."
"Ya, aku mengerti maksudmu. Tapi ini adalah kenyataannya, memangnya apa salah jika ia seorang vampir."
"Tidak, bukan begitu, hanya saja... setahuku vampir itu sudah tidak ada sejak 200 tahun yang lalu. Namun jika dilihat lebih jelas ia tidak terlihat seperti vampir melainkan hanya seorang gadis cantik yang sedang mendapatkan cinta seseorang."
Haha. Aku mengerti maksudnya, ya memang benar. Awalnya aku juga tidak percaya kalau ia seorang vampir namun mau bagaimana lagi tapi itu adalah kebenarannya.
"Ayo kita pergi."
Aku berdiri dari kursi dan mengajak Brull pergi.
"Mau kemana lagi kita akan pergi malam-malam begini?"
__ADS_1
"Mencari buku."
Setelah mengatakan itu kami langsung pergi keluar namun ditahan oleh pelayan bar.
"Tuan, anda belum membayar."
Aku melempar satu koin platinum ke arah pelayan dan berhasil ia tangkap dengan tangannya.
"Terima kasih, tuan. Silahkan datang lagi."
Kami keluar dan berjalan di kota sambil melihat sekeliling, untuk mencari sebuah toko buku atau semacamnya.
"Hei kawan. Dimana kita bisa mencari buku dan buku apa yang kau cari?"
"Buku yang berisi tentang skill pandai besi dan alkemis."
"Aku tidak tahu dimana kita bisa menemukan buku seperti itu tapi setahuku buku seperti itu tidak ada di toko buku biasa."
Hmm, begitu ya. Jadi aku tidak bisa menemukan buku seperti itu. Tapi aku sedikit kesal karena sejak tadi aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Saat aku menoleh ke belakang tidak ada siapapun yang mengikuti kami.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
Kami berjalan lagi dan lagi ada yang mengikuti kami, kami berhenti di depan toko. Toko itu menjual berbagai macam makanan ringan seperti kue, roti dan sebagainya.
"Kau mau makan sesuatu Brull?"
"Aku pesan Kue coklat saja."
"Pak, satu kue coklat dan dua roti daging ya."
"Baik."
Penjual itu mengambil dua roti daging dan satu kue coklat ke dalam plastik.
"Ini pesananmu, tuan."
Aku mengeluarkan satu koin platinum namun Brull menahan tanganku dan mengeluarkan satu koin emas dari sakunya.
"Ini kembaliannya, 70 koin perak."
Brull mengambil pesanannya dan kembaliannya.
"Kenapa kau mengehentikanku tadi."
"Maaf saja, lebih baik seperti itu. Karena jika kau mengeluarkanya orang-orang yang mengikuti kita akan mencurigai kita."
Mendengar itu membuatku sangat kesal, aku sudah menahannya sejak tadi tapi kali ini tidak akan kubiarkan, mengikutiku sama saja mencari masalah denganku.
Aku berbalik dan melihat orang yang mengikuti kami sedang bersembunyi di sebuah gang gelap. Meskipun mereka bersembunyi di tempat yang gelap bukan berarti aku tidak bisa melihat kalian.
Aku berjalan mendekati gang tersebut dan sebuah serangan yang tiba-tiba muncul keluar dari gang tersebut.
"Bola api? Siapa kalian, sejak di bar tadi kalian terus mengikuti kami. Jawablah jangan membuatku marah."
Tidak ada respon, namun kali ini bukan bola api yang keluar dari sana tapi seekor serigala, tubuhnya lumayan besar dan tingginya sama dengan Anak kecil yang berumur 8 tahun.
"Grrrrr"
"Ignis!"
__ADS_1
Menerima responku, Ignis keluar dari lingkaran sihir namun saat ia keluar ia memakai tubuh anak anjing.
Setelah Ignis melihat serigala itu ia membesar bahkan tingginya sama dengan bangunan yang ada di situ. Orang-orang ketakutan dan berlarian.