Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Anak yang tidak normal


__ADS_3

Aku mendapat nomor 117 sedangkan Riska mendapatkan nomor 116. Aku tidak tahu untuk apa nomor ini jadi aku simpan dalam saku celana.


Arena ini terlihat seperti saat kami bertarung Zifrit hanya berbeda tempat saja.


Burung beo terbang di langit dan bicara.


"Silahkan yang sudah mendapatkan nomor, harap tunggu di ruang tunggu sampai dipanggil ke arena."


Aku dan Riska berjalan ke ruang tunggu, aku sambil memikirkan beberapa hal.


Setelah beberapa saat, kami akhirnya berada di depan pintu sambil memandangi ruang tunggu.


Masuk kedalam ada burung hantu yang menunggu, burung hantu ini juga dapat bicara hingga membuat Riska terkejut.


"Selamat datang, silahkan masuk. Aku akan menjelaskan isi ujian praktik ini."


Ini pertama kalinya aku melihat burung hantu dapat berbicara sepertinya ini adalah familiar milik seseorang.


Sepertinya banyak sekali orang yang bisa melakukan sihir hebat seperti ini, sebelumnya aku pernah membaca novel fantasi, familiar adalah hewan panggilan dan untuk memanggil familiar dan menjinakkannya sangat sulit.


"Dalam tes ini, kami kami memiliki siswa yang saling berduel di arena. Setelah mengalahkan 5 orang, kekuatan sihir anda diukur, kami memeriksa anda dan jika anda lulus anda diterima di sekolah petualang. Jika anda kalah, anda tidak bisa masuk."


Aku sudah pernah melawan seseorang yang sangat kuat. Jadi tidak mungkin aku kalah.


"Semua senjata, baju Zirah, dan mantra sihir diizinkan, ada pertanyaan?"


"Tidak ada."


"Kalau begitu, semoga sukses."


"Nomor 114 dan nomor 116 silahkan naik ke arena."


Nomor Riska dipanggil.


"Semangat Riska."


"Ya."


Riska membuka pintu di belakang ruang tunggu dan menyusuri lorong.


Mereka berada di atas arena, lawannya Riska adalah seorang wanita juga. Rambutnya berwarna hitam dengan gaya rambut ponytail , di pinggangnya ia membawa sebuah katana yang terbuat dari kayu dan umurnya sekitar 16 tahun.


Gadis yang melawan Riska menggunakan sihir elemen petir, namun pertandingan dimenangkan oleh Riska.


Setelah 5 menit untuk istirahat, pertandingan dimulai kembali.


"Baiklah, nomor 117 dan nomor 119 silahkan naik ke arena.


Nomorku dipanggil. Aku membuka pintu di belakang ruang tunggu dan menyusuri lorong yang panjang.


Cahaya muncul dari ujung koridor dan saya keluar ke stadion bundar dengan tembok tinggi.


Di atas tembok ada kursi penonton yang diisi oleh kakak kelas dan para orang tua peserta.


Melihat lebih dekat saya bisa melihat bahwa mereka semua memakai seragam yang sama dan aku bisa melihat Roy dan yang lainnya bahkan orang - orang yang ada di guild sedang duduk melihatku.


"Yo, kita bertemu lagi."

__ADS_1


Suara yang tidak asing terdengar dari seberang.


itu adalah James yang mudah aku tangani terakhir kali.


Hmm, sepertinya ia kurang beruntung melawanku. Namun disini aku hanya seorang bocah berumur 6 tahun melawan anak berumur 16 tahun. Apa yang harus kulakukan?


"Kamu. Oi! Apakah kau mendengarkan."


Tanpa menjawab aku berjalan maju 4 langkah dan lorong saya ditutup dengan tembok yang keluar dari bawahnya.


"UPS. Apakah kau tidak bisa mundur. Sudah kubilang tempat ini bukan untuk anak kecil." Kata James dengan nada bangga.


Setengah penonton yang hadir tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh James.


"Kamu pikir aku akan melarikan diri? Seharusnya aku yang mengatakan itu."


James mendecakan lidah.


Ya ampun. Orang ini benar benar tidak pernah diajarkan sopan santun.


"Biarkan aku memberitahumu bahwa kau tidak pernah bisa mengalahkanku. Aku akan mengubah wajahmu menjadi basah dan mata penuh dengan ketakutan."


Mendengar itu membuatku tidak bisa menahan tawaku.


"Hahahaha. Kata katamu sungguh lucu ya."


Aku menatap James.


"Ketahuilah tempatmu, bodoh."


Baju besi berwarna perak yang ia kenakan terdapat formasi anti sihir, aku bisa melihatnya dengan jelas.


"Hou, jadi zirah itu anti sihir ya."


Aku melihat. Ia mengandalkan zirah itu sepertinya dia ini lemah ya.


Suara burung yang terbang di atas memenuhi arena.


Ujian praktik, dimulai!"


James segera mencabut tongkat sihir yang tergantung di punggungnya. Ia mulai merapalkan sihir.


"Wahai api, bakar semua musuhmu menjadi abu.[Fire blaster!]"


Api besar datang padaku, itu mirip seperti serangan nafas apinya milik Ignis hanya saja serangannya sedikit lebih kecil.


Aku mengarahkan tanganku ke api besar itu lalu api putihku keluar dari tanganku dan melahap api besar itu.


"A-APA!?"


James dan seluruh penonton terkejut melihat itu.


"Apa yang kau lakukan."


Suara James mulai bergetar.


"Tidak ada."

__ADS_1


Aku menjawab dengan senyum seolah olah tak terjadi apapun.


James mulai merapalkan sihir lagi.


"Wahai api merah, membaralah dan bakar-"


"[Gravitasi: pemberat]."


James belum selesai merapalkan sihirnya secara spontan aku langsung menggunakan sihir gravitasi membuat tergeletak di bawah dan tidak bisa bergerak.


"Oi, yang benar saja."


"Bocah itu bisa menggunakan sihir tingkat tinggi."


"Dan lagi tanpa rapalan."


Mereka terlalu melebih-lebihkan, bukankah tanpa rapalan itu biasa. Tidak, melihat ekspresi mereka sepertinya itu bukan hal yang wajar.


Sepertinya aku terlalu mencolok, aku akan menyelesaikan agar aku bisa mencari Maria Kyoko.


"Apa kau baik-baik saja disana? tuan bangsawan."


"Cih, brengsek."


Dia terus mencoba berdiri walaupun yang dilakukannya sia-sia.


kalau tidak salah peraturannya lawan harus menyerah atau keluar dari arena. Melihat sikapnya sepertinya sulit membuatnya menyerah, apa aku harus melemparnya keluar.


Aku menggunakan sihir gravitasiku lalu melemparnya keluar arena.


"Pertandingan selesai. Pemenangnya no 117, Zen Ignatius."


Pertandingan pun berakhir lalu aku keluar arena untuk mencari Riska.


Aku berjalan menuju ke luar sekolah. Saat berjalan aku ditahan oleh 4 orang salah satunya ada James dan didepannya ada seseorang yang mirip dengan James.


Ia berkulit putih rambut hitam panjang dan ia terlihat lebih tua dari James.


"Oi Bocah, hebat juga kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi, dari keluarga mana kau berasal."


Cara bicaranya buruk sekali, apa semua keluarga bangsawan seperti ini?


"Dari mana aku berasal itu bukan urusanmu kan?"


Wajah terlihat kesal namun ia menahannya.


"Memang benar itu bukan urusanku tapi ku beritahu, tempat ini sekolah untuk menjadi petualang hebat bukan taman bermain untuk anak kecil sepertimu."


Sepertinya ia tidak akan menyingkir sebelum aku menjawabnya.


"Kalian! sebagai bangsawan kalian sangat memalukan. Hanya karena anak itu mengalahkan adikmu, kau mau menindasnya."


Seorang gadis cantik datang membantuku. Ia memiliki rambut hitam panjang hingga pinggul, matanya biru terang seperti lampu.


"Memangnya kenapa? adikmu juga kalah oleh anak kecil. Memangnya kau tidak marah."


Gadis itu terlihat sangat tenang dan dibelakang ada seseorang yang terlihat tidak asing. Dia adalah gadis yang melawan Riska saat di arena, sepertinya yang didepannya itu adalah kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2