Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Misi pertama


__ADS_3

Aku diam dan berpikir, kenapa dia memanfaatkan Alfred dan Lisa? Kenapa dia bisa mengetahui namaku? Dan juga kenapa dia ingin membunuhku?


Pikiran seperti yang terus menerus di olah otakku namun berapa kali pun aku tak akan mengetahui jawabannya karena aku kekurangan informasi.


"Sudah kuduga itu kau, Zen!"


Teriakan keras terdengar dari kejauhan saat aku diam berpikir, itu adalah suara Leon yang kesal.


"Dari awal aku merasa aneh denganmu ternyata kau benar-benar Zen, akhirnya si jenius ini masih hidup. Sekarang juga akan ku bunuh kau! Teo! Reza!"


Leon, Teo dan Reza datang menerjang ke arahku, meskipun aku tidak bisa menggunakan sihir besar karena kelelahan, mungkin kesempatan mereka untuk membunuhku adalah 100% namun mereka melakukan kesalahan besar karena


"[Gravitasi: Pemberat]"


Mereka langsung terbaring di tanah karena aku mengubah udara di sekitar mereka menjadi berat.


Meskipun aku kelelahan dan tidak bisa menggunakan sihir besar bukan berarti aku tidak bisa menggunakan sihir.


"A-Apa ini..."


"Tubuhku... sulit digerakkan."


"K-kau...!"


Mereka bertiga terus mencoba berdiri namun mereka tidak bisa apa-apa dan apapun yang mereka coba lakukan akan hasilnya akan sama.


"Meskipun aku kelelahan, kalian mencoba membunuhku agar bisa mengambil Rina. Tapi ada yang harus kalian ketahui, bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kalian dapatkan."


Melihat mereka mencoba membunuhku sepertinya sifat mereka menjadi lebih buruk dari yang aku bayangkan.


"Aku berubah pikiran, aku akan membawa kalian berdua. Sepertinya hanya menitipkan Ignis rasanya bukan hal yang baik."


Saat ini aku punya tujuan baru, yaitu membunuh Melves dan mencari tahu kebenaran tentang diriku.


"Zen, kau brengsek. Rina itu milikku!"


"Sepertinya kau sudah gila, aku tahu kau menyukai Rina tapi caramu salah, tadinya aku akan membiarkanmu hidup tapi kalau di pikir lagi itu tidak adil jadi pergilah ke neraka."


Leon yang sudah tidak bisa lagi bergerak, dengan kesempatan itu aku mengarahkan tanganku pada Leon.


Namun yang lainnya berdiri menghalangi Leon dan Brull memegang tanganku dengan erat.


"Lepaskan Brull."


"Tenanglah kawan, aku tidak tahu apa masalahmu dengannya tapi kalau kau membunuhnya di sini kau mungkin tidak hanya menjadi menjadi penjahat negara tapi bahkan bisa seluruh dunia."


Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengatur kembali emosiku.


"Hah, kau benar. Terima kasih Brull, kau seperti seorang kakak saja."


Aku berterima kasih dan tersenyum pada Brull, sifatnya sangat baik ini seperti seorang kakak yang menghentikan adiknya yang sedang terjerumus dalam kegelapan.


"Hmm. Tentu saja."


"Kali ini, kalian akan ku biarkan. Tapi ingatlah kalau kalian menghalangiku walaupun mantan teman sekelas tanpa ragu pasti akan kubunuh."

__ADS_1


Hanya menatap dingin mereka, tubuh mereka menjadi gemetaran. Saat aku menoleh ke arah raja berdiri, mereka sudah tidak ada.


Kemana mereka pergi? Laura datang berlari ke arah kami, kenapa ia terengah-engah?


"Zen, kau mau pergi?"


"Ya, aku sudah menentukan tujuanku."


"Kalau begitu, bolehkah aku ikut?"


"Hah. Boleh saja tapi bagaimana dengan sekolah ini?"


"Itu mudah, aku hanya perlu membuat klon bayangan."


Sepertinya dia menganggap enteng tugas kepala sekolah ini, tapi yah mau bagaimana lagi. Kalau aku tidak mengajaknya pasti ia akan secara diam-diam ikut, dan itu sangat merepotkan.


"Baiklah, tapi apapun yang terjadi kalian semua harus mengikuti instruksi aku dan Brull."


""Baiklah.""


Mereka menjawab secara bersamaan, tepat setelah itu. Tiga raja yang tadi menghilang datang kembali.


"Ah maaf, tadi kami akan menyiapkan kereta untuk pulang."


Mereka tersenyum sambil mengusap kepala mereka.


"Kalian akan kembali?"


"Ya, kami masih ada beberapa urusan yang harus di urus, kau tahu raja itu sangat sibuk."


"Baiklah, sampai jumpa."


"Kalau kalian datang ke kerajaan kami, kami akan menyambut kalian dengan baik."


"Benar, kami akan menyiapkan roti daging untukmu Zen."


Melihat mereka yang bersemangat akan kunjungan ku nanti mereka sudah bersikap ramah.


"Terima kasih banyak atas bantuan kalian, hati-hati di jalan."


Mereka naik ke kereta kuda mereka masing-masing dan yang lainnya membungkuk sambil mengatakan ‘hati-hati di jalan’ sementara aku hanya melambaikan tangan pada mereka.


***


"Awas di belakangmu, Lilith!"


"?"


Riska berteriak pada Lilith karena monster yang diam-diam mencoba menyerang dari belakang, namun itu berhasil di kalahkan oleh Laura dengan sihir esnya.


"Terima kasih, tapi mereka banyak sekali. Berapa kali pun aku mengalahkannya mereka tidak ada habisnya."


Saat ini kami sedang melakukan quest pertama kami, kami sedang berburu red rabbit. Seperti namanya itu adalah kelinci dengan bulu berwarna merah namun mereka sangat lincah, karena saking lincahnya mereka sulit di tebak akan datang dari mana.


"[Thunder blast]"

__ADS_1


Listrik keluar dari tangan Brull dan saat mengenai red rabbit dan sebuah ledakan sangat besar hingga membuat lubang kecil di tanah.


Sementara mereka masih bertarung dengan red rabbit, aku hanya duduk di bawah pohon melihat mereka sambil memakan roti daging.


Rina dan Misaki membantu Riska mengalahkan mereka. Aku duduk di sini karena mereka melarangku untuk ikut bertarung. Saat aku bertanya alasannya mereka menjawab.


"Zen, kau diam di sini."


"Benar, kau nanti akan mengalahkan semuanya sendiri."


Yah, meskipun begitu. Rasanya ini tidak buruk juga, kalau di pikir lagi sejak aku datang ke dunia ini, aku terus menggunakan banyak tenaga.


"Hore..."


"Berhasil!"


"Kerja bagus."


Mereka akhirnya selesai mengalahkan red rabbit. Dalam quest kami hanya diminta mengalahkan 5 red rabbit tapi mereka membawa masing-masing lima red rabbit di tangan mereka.


"Tugasnya hanya lima kenapa jadi banyak sekali?"


"Kau tahu kawan, meskipun kita tidak kekurangan uang tapi kita juga punya simpanan dimana sewaktu-waktu kita kehabisan uang."


Ya, kurasa itu ada benarnya juga, karena uang yang diberikan oleh Altson sangat banyak aku tidak terpikirkan untuk kehabisan uang.


"Bolehkah aku minta senjata baru."


Misaki meminta senjata baru sambil menunjukkan katana nya yang patah dan penuh darah. Misaki memiliki class samurai jadi kurasa dia tidak bisa bertarung dengan katana yang patah.


"Baiklah, akan ku buatkan tunggu sebentar."


Aku masih memiliki batu hitam itu kurasa itu material yang sangat cocok untuk pembuatan senjata, bahkan busur Lilith tidak ada goresan sama sekali meski tadi sempat terkena serangan dari red rabbit.


Aku mengeluarkan batu itu dari [Storage] dan menyimpannya di tanah.


"Ini ... batu energi?!"


Batu energi? Apa itu aku tidak pernah mendengarnya. Apa batu ini sangat hebat?


"Batu energi? Apa maksudmu?"


"Z-Zen dari mana kau mendapatkannya?"


"Aku mendapatkannya dari sebuah portal aneh yang melayang."


Wajahnya sangat terkejut dan matanya penuh ketakutan. Apa dia tahu sesuatu?


"Itu ... portal kehancuran? Zen, kau tidak boleh menggunakan benda dari portal itu."


"Kenapa memangnya?"


Wajahnya semakin menunjukkan ketakutan dan tubuhnya gemetaran.


"Itu ... portal yang saat ini melanda dunia ini. Menurut informasi yang diberikan pada kami seluruh portal itu menyebar dan mengeluarkan monster mengerikan, portal yang berukuran kecil mengeluarkan monster lemah namun portal itu tidak akan hilang sampai monster di dalamnya habis sementara portal yang berukuran besar dikatakan bisa dimasuki namun hanya mereka yang memiliki kekuatan besar saja, tapi sampai saat ini aku tidak tahu apa yang ada didalam sana. Namun monster yang keluar dari sana sangat kuat bahkan Leon yang merupakan seorang pahlawan kewalahan."

__ADS_1


__ADS_2