Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Maria Kyoko


__ADS_3

Riska tiba-tiba bersembunyi di belakangku memegangi bajuku setelah melihat juri itu.


"Ada apa, Riska?"


Riska mendekat ke telingaku.


"Dia... Maria Kyoko."


Eh? Aku melihat Maria dan Riska secara bergantian. Aku benar-benar sangat terkejut kalau aku bisa menemukan Maria Kyoko disini, tapi dia tidak terlihat seperti yang kubayangkan.


Dalam bayanganku ia terlihat memiliki ekspresi jahat. Tapi ia terlihat cantik.


Aku berbisik-bisik dengan Riska.


"Tenang, aku akan membalasnya kalau ada kesempatan."


"Tapi apa kau yakin."


"Untuk sekarang, kita lihat dulu."


"Oke."


Maria mulai berbicara tentang tesnya.


"Sekarang tesnya akan dimulai. Aku akan mengeluarkan energi sihirku selama 30 detik, jika kalian masih berdiri selama 30 detik kalian lulus, tapi jika tidak."


Maria mulai menatap kami dengan tajam.


"Jangan harap bisa masuk ke sekolah ini."


Semua terlihat ketakutan dengan tatapannya kecuali kami bertiga.


"Kita mulai dari... Sekarang!"


Dari tubuh Maria keluar cahaya berwarna merah kehitaman yang membuat ruangan ini terasa berat seperti ada batu yang menimpa dari atas.


Yang lainnya terlihat seperti kesulitan berdiri dan tubuh mereka juga bercahaya.


Saat melihat ke arah Brull, ia berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya, tubuhnya pun bercahaya berwarna coklat.


Riska terlihat baik-baik saja, meskipun tubuhnya bercahaya berwarna merah seperti api yang membungkus tubuh Riska.


Justru yang membuatku lebih terkejut adalah.


Aku bisa merasakan ada tekanan yang besar di ruangan ini namun bagiku tidak terasa apa-apa.


Rasanya seperti dipukuli namun aku tidak merasakan rasa sakit sama sekali, seperti itulah keadaanku.


Di ruangan ini terdapat 50 peserta dan sudah 30 peserta yang sudah tergelak di lantai yang sedang mencoba berdiri.


30 detik sudah berlalu.


"Baik, waktu habis!"


Semua peserta kecuali kami bertiga terlihat sangat kelelahan, nafas mereka yang terengah-engah bisa kudengar dengan jelas.


"Hahaha, kalian sungguh lemah. Yang mudah seperti ini tidak akan bisa membuatku jatuh karena akulah yang terkuat. Hahaha."


Brull mulai memuji dirinya lagi. Namun, aku tidak membenci sifatnya yang seperti itu. Karena hanya melihat tubuhnya yang kekar, aku bisa tahu kalau ia sudah melatih tubuhnya dengan giat hingga seperti sekarang.


"Bagi yang masih bertahan selamat, kalian lolos dan. Kalian yang ada dilantai kalian tidak pantas menjadi petualang."


Maria mulai menghina peserta yanhg gagal, dan itu membuatku kesal. Secara tidsk sadar aku langsung berteriak padanya.


"Aku punya permintaan padamu, guru Maria."

__ADS_1


Ia menoleh ke arahku dan ia tersenyum seperti orang yang suka membuli.


"Wow, sungguh pemandangan yang langka. Seorang bocah sepertimu bisa bertahan."


Dia sepertinya sudah membuka sifat aslinya. sejak tadi aku merasa dia orang yang berbeda tapi sepertinya aku salah.


"Benarkah, kupikir sihirmu yang terlalu lemah. Benarkan brull."


Brull merasa bingung tapi sepertinya ia sudah mengerti apa yang akan kulakukan.


"Hahaha, itu benar sekali."


Wajahnya terlihat kesal, sepertinya dia sudah memakan umpanku.


"Apa permintaanmu."


Melihat ekspresinya membuatku tidak bisa menahan tawaku.


"Aku ingin mengujimu, jika kau bisa bertahan selama sepuluh detik, aku akan keluar dari sekolah ini. Tapi jika kau tidak bisa bertahan. Kau keluar dari sekolah ini dan jangan perlihatkan wajahmu lagi."


"Apa maumu?"


Sepertinya ia sangat marah. Dan itu membuatku senang, aku akan membuatnya menderita karena meninggalkan Riska di hutan kematian.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu kalau kau bisa bertahan."


Ia menggertakan giginya.


"Baiklah, kita mulai. [Aura raja iblis.]"


Sama seperti sebelumnya ini hampir sama seperti mengeluarkan sihirmu hanya saja sedikit berbeda.


Aura Raja Iblis ini membuat orang yang aku lihat jatuh atau lebih tepatnya membuat tubuhnya berat.


Maria berlutut di bawah dan sedang mencoba berdiri dengan sihirnya namun yang dilakukannya sia-sia.


"Yah sayang sekali, kau gagal guru. Kami tidak membutuhkan guru yang lemah sepertimu."


Maria berhasil berdiri walaupun terlihat kakinya kesakitan.


"Siapa kau memangnya."


Riska maju ke depan dan menatap Maria dengan tajam.


"Apa kau sudah lupa padaku, Maria Kyoko."


Maria mengerutkan dahinya dan ia terkejut, sepertinya ia tahu siapa yang ada dihadapannya.


"Ris...ka?"


"Kupikir kau tidak mengingatku."


Maria panik hingga keringat dingin bercucuran setelah melihat Riska.


"Syukurlah kau baik-baik saja, dan kenapa kau menjadi anak kecil."


Riska agak kesal mendengar ia mengkhawatirkannya, semua peserta terlihat kebingungan dengan adegan ini.


"Berhentilah berpura-pura, aku benci melihatnya."


Brull mendekat padaku dan berbisik, sepertinya Brull penasaran dengan mereka berdua.


"Kukira kau yang punya masalah dengannya ternyata adikmu ya."


"Dia bukan adikku, aku bertemu dengannya dihutan kematian. Si Maria itu meninggalkan Riska di sana."

__ADS_1


"Ternyata begitu, kau tidak menghentikannya?"


"Tidak perlu."


Maria bersujud dan meminta maaf, namun.


"Aku minta maaf, Wahai es kurung musuhmu dalam es,[Ice: Prison]"


Sebuah penjara seperti kandang hewan yang terbuat dari es mengurung Riska.


Riska menghentakan kakinya dan dengan seketika penjara es meleleh seperti es krim yang kepanasan.


"Sudah selesai?"


Maria sangat ketakutan melihat kurungan esnya meleleh.


"Apa-apaan itu."


Melihat Riska yang mencoba mengintimidasinya membuatku ingin ikut campur.


"Riska, masih lama?"


"Oh maaf, kalau begitu akan kuselesaikan."


Riska mengarahkan telapak tangannya ke arah Maria.


"[Flame: Burn]"


Tubuh maria terbakar seperti sampah yang sedang dibakar, tubuhnya mulai berubah menjadi abu dan semua peserta yang ada sangat ketakutan.


"Kalian yang melihat ini, aku harap kalian tidak memberitahu siapapun. Dan semua yang ada disini aku akan mengatakan pada temanku, ia mengenal kepala sekolah ini jadi kalian semua lulus."


Untuk menghilangkan ketakutan mereka dan menyembunyikan kejadian ini aku mengatakan itu pada mereka. Dan aku menggunakan sihir black holeku untuk menghilangkan abu milik Maria, untuk menghilangkan bukti.


"[Black Hole!]"


Kami keluar dari Ruangan tersebut. Roy dan Kana sudah ada disana menunggu kami, kami pun menghampiri mereka.


"Bagaimana?"


Kana terlihat penasaran dan matanya mulai berbinar-binar.


"Tentu saja kami lolos."


Kana terlihat sangat senang dan memeluk kami berdua seperti seorang ibu yang melihat anak-anaknya berhasil.


"Kau terlihat ingin mengatakan sesuatu, Zen."


Kana melepaskan pelukannya dan aku berbicara dengan Roy.


"Roy, juri pada tes terakhir adalah Maria Kyoko, Kami sudah membunuhnya dan aku ingin kau tidak mengatakan pada siapapun kalau kami yang melakukannya. Lalu aku ingin semua peserta di tes terakhir lolos."


Roy menghela nafas panjang.


"Baiklah akan ku usahakan. Tapi aku tidak percaya kalian bisa melakukan hal seperti ini."


Kana yang tidak tahu apa yang kami lakukan, bertanya karena penasaran dengan apa yang kami bicarakan.


"Ada apa, kenapa kalian terlihat mencurigakan."


Roy terlihat kebingungan dan secara tidak sadar mengatakan sesuatu yang membuat Kana senang.


"Tidak, aku hanya mengatakan padanya baju seperti apa yang ingin Zen beli."


"Benar juga, kita harus membelikan mereka pakaian. Ayo kita pergi ke toko pakaian."

__ADS_1


Kana sangat senang hingga menarik kami ke sebuah toko pakaian.


__ADS_2