
Saat ini kami menuju kastil Canvil, itu adalah kastil kosong milik bangsawan yang sudah lama di tinggalkan.
Tempatnya tidak jauh dari kota Arez atau lebih tepatnya di belakang kota Arez namun katanya disana ada monster meskipun tidak membahayakan nyawa namun suara yang di hasilkan dari sana sangat menggangu.
Ini adalah quest 'Penyerangan kastil Canvil' yang dipasang oleh Altson untuk memperluas wilayahnya. Tugas kami hanya mengalahkan monster monster itu.
Tapi entah kenapa aku merasa kalau quest kali ini sangat berbahaya. Kalau bukan karena hadiahnya dan keberadaan Maria Kyoko, aku tidak akan mau menerima quest ini.
"Ada apa, Zen? Apa kau yakin tidak apa-apa?" Brull bertanya dengan khawatir.
"Tidak ada, aku tidak apa-apa." Jawabku sambil melihat langit ke luar jendela.
"Seharusnya kau tidak perlu ikut, Zen. Kau seharusnya beristirahat saja di guild." Ucap Riska.
"Tenang saja, aku baik-baik saja."
"Kau ini masih keras kepala seperti biasanya ya, Zen." Ejek Misaki.
"Kali ini aku tidak mengizinkanmu bertarung, biar kami yang mengurusnya." Jawab Rina.
Brull dan yang lainnya mengangguk setuju dengan Rina. Ya, kurasa mereka ada benarnya. Kalau aku terlalu lelah mungkin aku bisa demam lagi.
"Baiklah, aku hanya akan melihat saja. Tapi kalau kalian terjadi sesuatu aku akan turun tangan."
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai kastil Canvil, kami mengenakan jubah hitam dan memakai tudung untuk menutupi wajah kami dari Maria.
Kami berhenti di depan sebuah tenda, ini ada tempat berkumpulnya para petualang yang menerima quest ini.
Karena kami tidak bisa mengambil quest ini begitu saja, ada seorang kenalan Gabriel jadi kami bisa mengambil quest ini.
"Jadi, disini tempatnya?" Ucap Laura.
"Kurasa mereka sudah di dalam." Lanjut Brull
"Ayo kita masuk."
Kami masuk ke dalam tenda, dan melihat sekeliling untuk mencari kenalan Gabriel. Kalau tidak salah namanya adalah...
"Yo, Tony. Mana temanmu, jangan bilang kalau mereka tidak bisa datang. Hahaha."
Seorang pria sekitar 25 tahun mentertawakan seorang pria muda.
"Mereka sebentar lagi akan datang, aku memiliki teman yang baik dan bisa diandalkan." Jawab Pria- Tony dengan tegas.
Kurasa orang yang bernama Tony itu adalah kenalannya Gabriel.
Kami mendekatinya dan memanggilnya.
"Tony, disini kau rupanya. Sulit sekali mencarimu."
Brull membuka tudungnya dan mendekat, dan berpura-pura akrab dengan Tony. Tony terlihat bingung dengan sapaan akrab Brull namun ia langsung mengerti setelah Brull mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
"Oh, kalian sudah datang rupanya. Sudah lama aku menunggu kalian."
Tony dan Bersalaman dengan akrab, disaat itu mereka saling berbisik.
"Kalian orang yang dipercaya oleh Gabriel ya?"
"Ya, namaku Bruce Will kau bisa memanggilku Brull."
"Baik, mohon bantuannya."
Orang yang mengejek Tony sebelumnya menyipitkan matanya dan merasa curiga dengan bisikan mereka. Kurasa aku harus membantu.
"Kalian berdua terlihat mencurigakan." Katanya dengan curiga.
"Apa kau punya masalah dengan temanku?" Kataku dengan mengeluarkan sedikit aura.
Wajahnya mulai bercucuran keringat dan suaranya mulai bergetar agak ketakutan.
"T-Tidak, Hmph. Hanya sekumpulan sampah."
Setelah mengejek dia langsung pergi begitu saja.
Tony membungkuk dan berterima kasih kepadaku dengan sopan.
"Terima kasih sudah menolongku."
"Sama-sama."
Sekali lihat aku bisa tahu kalau gadis-gadis itu adalah budak, kalung yang dipakai di leher mereka itu adalah kalung budak. Namun, alasan Rina menunjuk laki-laki itu adalah karena laki-laki itu adalah Yugo Tachibana.
Dia adalah teman sekaligus sahabatku saat masih di dunia kami. Dulu kami sering bersaing mendapatkan nilai sempurna di berbagai pelajaran dan dia juga merupakan seorang kutu buku, sama sepertiku.
Tapi sekarang dia terlihat agak sombong dan apa dia sekarang memakai lensa mata?
Misaki dan Rina menghampirinya dan menyapanya.
"Lama tak jumpa, Tachibana."
"Kau terlihat berbeda sekarang."
Awalnya Yugo bingung namun setelah mereka berdua membuka tudungnya, Yugo sangat terkejut dengan mereka berdua.
"Yukki? Tamaka? Kenapa kalian disini?"
"Kami mengambil quest ini." Jawab Misaki.
Seorang gadis pendek di belakang Yugo tiba-tiba membentak, dia memiliki tubuh kecil, rambut kuning dengan gaya twintail.
"Siapa kedua gadis ini? Mereka begitu dekat dengan master Yugo."
"Tenanglah Erika, mereka berdua adalah teman sekelasku."
__ADS_1
Yugo mencoba menenangkan gadis itu, dan gadis itu menjadi lebih lembut.
"B-Baiklah, jika master Yugo mengatakan itu..."
"Mengagumkan seperti biasanya master! Benar-benar murah hati bahkan terhadap orang-orang yang tak beradab itu. Benar-benar seorang yang pantas menjadi raja." Gadis berambut hitam di sebelahnya memuji Yugo dengan ceria.
Namun kata-katanya membuatku marah.
"Oh, aku masih belum memperkenalkan mereka."
Para gadis maju selangkah ke depan, dan dengan sombong mereka menatap dingin Misaki dan Rina.
"Gadis Gadis ini merupakan para pengawal ku yang dipilih dari berbagai budak. Perkenalkan diri kalian." Lanjut Yugo.
Mereka mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Aku Erika, aku memperkenalkan diri hanya karena master Yugo memintanya." Jawab gadis dengan rambut twintail.
"Aku dipanggil Silvia, aku takkan mengatakannya jika master tidak memintanya." Jawab Gadis berambut hitam.
"Chelsea." Jawab gadis kecil sambil memeluk boneka.
"Aku Aisha, bisakah kau tolong minggir dari hadapanku." Jawab gadis tinggi dengan kulit gelap.
"Aku Riza, jangan sombong hanya karena kalian teman sekelasnya master." Jawab gadis yang memakai kimono.
Perkenalkan mereka cukup membuatku jengkel, apa aku harus memberinya sedikit pelajaran.
"Bisa tidak kalian tidak memusuhiku!"
Emosi Misaki memuncak dan membuatnya kesal namun Rina menahan dan membuatnya tenang.
"Ah, maaf. Aku kurang tegas terhadap gadis. Kalian diamlah sebentar."
Mereka menjadi diam namun tatapan dingin mereka masih belum hilang. Aku mendekat dan mengeluarkan sedikit aura.
"Kalau mereka mau menarik kata-kata mereka, aku akan maafkan."
Yugo dan gadisnya sedikit ketakutan dan mundur selangkah, keringat mulai membasahi mereka dan tubuh mereka mulai gemetaran.
"Zen, kau tidak perlu seperti itu. Aku tidak apa-apa."
Setelah Rina mengatakan itu, Yugo langsung menatapku saat mendengar namaku. Dia mendekat dan bertanya.
"Zen, maksudmu Zen Ignatius?"
Aku membuka tudung kepalaku dan menjawabnya dengan percaya diri.
"Ya, itu aku."
Dia menatapku dan tersenyum, matanya mengatakan 'Ini pasti mimpi.' para budak dibelakangnya agak bingung dan heran.
__ADS_1