
Kami akhirnya kembali ke tenda, walaupun saat ini tidak ada siapapun kecuali kami bertujuh ditambah Tony dan Yugo bersama lima budaknya.
Aku sangat lelah dan ingin tidur.
Saat pikiran seperti itu terus berkata di pikiranku, namun aku mencoba untuk tetap sadar.
"Zen, kalau kau ingin tidur tinggal tidur saja." Kata Yugo.
"Kalau aku tidur, aku takut mimpi itu muncul lagi."
"Mimpi? Seperti apa?" Tanya Yugo dengan penasaran.
"Mimpi buruk."
"Eh..." Dengan santai Yugo menjawab itu.
Apa maksud ekspresi itu, ingin dipukul kali ya ini orang.
"Master, bukankah dia sahabat anda kenapa anda berekspresi seperti itu." Tanya Chelsea.
"Bagaimana mengatakannya ya, Zen yang aku tahu itu sangat pintar, sombong dan berani. Baru pertama kali aku melihat dia bermimpi buruk." Jawab Yugo.
"Memang benar, orang sombong sepertinya bermimpi buruk rasanya bohong." Timpal Misaki.
Kalian berdua masih saja menjengkelkan seperti dulu. Kalau bukan karena kalian temanku pasti sudah ku tebas kalian berdua.
Tidak lama para petualang kembali membawa beberapa barang di tangan mereka, jadi mereka pergi mencuri.
Maria, Egil dan Nanami pun kembali dalam keadaan penuh luka, walaupun luka mereka termasuk luka kecil tapi mereka terasa sangat kesakitan.
Maria melirikku lalu membuang mukanya.
Setelah semua sudah berkumpul, pria botak kembali dan membawa beberapa kantong koin.
"Semuanya berkumpul."
Semua petualang berkumpul mengerumuni pria botak, dia melirik ke semua petualang lalu melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih banyak atas kerja keras kalian. Ini adalah upah kalian satu kantong satu kelompok, jadi perwakilannya berbaris.
Dari setiap kelompok sudah menyuruh seseorang dan mulai mengantri, Yugo menyuruh Riza berbaris. Sementara kami.
"Siapa yang akan mengambil?" Tanya Laura.
"Apa yang kau katakan, Tony, kau yang baris."
"Eh? Aku?"
"Ya, siapa lagi."
Tony dengan pasrah berbaris dan mengambil kantong koin, ia kembali dan memperlihatkan isi kantong itu.
"Isinya hanya 20 koin perak." Ucap Tony
"Kalau begitu, ambil saja." Kataku
"Tapi aku tidak melakukan apapun." Jawab Tony dengan merasa bersalah.
"Sudahlah ambil saja, lagipula kau terlihat sangat membutuhkannya." Jawab Brull
Tony memelas dan air mata keluar dari matanya, ia bersujud dan mengucapkan terima kasih terus menerus.
"Terima kasih, terima kasih banyak."
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan kata terima kasihmu aku ingin kau menggunakan uang itu dengan baik." Kataku
"Ah, baik! Aku akan menggunakan uang ini dengan baik."
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang seperti ini.
Karena quest selesai, kami memutuskan untuk kembali ke guild untuk mendapatkan cap kalau quest berhasil diselesaikan.
Kami berjalan menuju mobil.
"Kotak apa ini?"
"Sepertinya kita bisa mendapatkan uang banyak jika kita jual."
"Kau benar."
Dua orang laki-laki sedang berdiri menyentuh mobil kami, Yugo sangat terkejut melihat sebuah mobil si dunia lain ini, para budak Yugo bingung dan tidak tahu tentang mobil.
"Hei, Zen. Apa mobil itu punya kalian?" Tanya Yugo dengan gemetaran.
"Ya."
Yugo sangat terkejut dan merasa syok.
"Master?"
Para budak Yugo terlihat panik dengan Yugo yang syok.
"Kau ini masih terlalu berlebihan ya, padahal cuma melihat mobil." Kataku
"Apanya yang cuma melihat mobil? Kau pikir membuat mobil itu mudah?!" Teriak Yugo dengan kesal.
"Tentu saja, sudah kubilang bukan memangnya kau bicara dengan siapa? Aku Zen Ignatius si tuan peringkat satu di sekolah. Bukan begitu tuan no 2." Jawabku.
Sepertinya Yugo sudah sangat kesal, perasaan ini sangat menyenangkan dan rasa kantukku menjadi hilang.
Baiklah, sudah saatnya kita kembali. Kami naik ke dalam mobil dan berpisah dengan Yugo dan budaknya.
"Sampai nanti, Zen. Kuharap kau masih seperti ini di masa mendatang." Ucap Yugo.
"Ya, sampai nanti. Kuharap juga begitu, mungkin aku akan menghajarmu saat bertemu nanti."
"Haha. Aku akan menunggumu sampai itu terjadi."
Setelah pembicaraan singkat itu, kami melambaikan tangan dan kami kembali ke kota Valmas.
***
Yugo terlihat senang setelah melihat Zen, teman lamanya pergi.
"Master, kau terlihat sangat senang saat berbicara dengan pria itu." Ucap Aisha.
"Ya, dia itu sahabatku dan juga orang yang aku kagumi sejak dulu. Meskipun sifatnya agak buruk tapi dia itu sudah kuanggap sebagai sepupuku sendiri." Jawab Yugo dengan tersenyum.
Para budak Yugo hanya tersenyum dan melihat ke arah mobil yang sudah jauh pergi.
"Kalau orang itu sangat penting bagi master, kami merasa bersalah saat berbicara dengan dua gadis tadi." Jawab Erika dengan murung.
"Maksudmu Yukki dan Tamaka?" Ucap Yugo.
Erika mengangguk.
"Tidak apa-apa, kalian tidak tahu jadi wajar saja. Tapi aku sangat senang bisa melihatnya masih hidup." Lanjut Yugo sambil menatap langit. "Sekarang aku memiliki tujuan baru."
__ADS_1
"Apa tujuan baru itu, master?" Tanya Silvia.
"Aku akan menjadi lebih kuat dan bertarung bersama Zen." Ucap Yugo sambil meninju ke langit.
"Kalau itu master, itu bukan sesuatu yang sulit." Ucap Silvia
"Benar, kami pasti akan membantu master." Timpal Riza.
Yugo tersenyum kepada langit, sementara ke lima budaknya terlihat agak murung melihat Yugo. Namun, mereka menjadi tersenyum dan menahan tawa mereka.
Dari belakang mereka tiba-tiba suara memanggil terdengar di telinga Yugo.
"Apakah kau temannya Zen?"
Suara wanita terdengar dari belakang Yugo, ia menoleh dan itu adalah Maria Kyoko.
"Benar, kalau tidak salah kau itu..."
"Aku Maria Kyoko. Ini untukmu."
Maria memberikan kantung koin kepada Yugo.
"Kenapa kau memberikannya pada kami?" Tanya Silvia.
"aku ingin membalas rasa terima kasihku pada Zen, aku memberikan pada pria bernama Tony itu tapi ia menolak jadi aku memberikannya padamu." Jawab Maria.
"Begitu kah? Tapi kurasa Zen tidak suka ini. Bukankah dia sudah memaafkanmu? Jadi kurasa kau simpan saja uang itu kalian." Jawab Yugo.
"Baiklah."
Maria memasukan kantung koin itu lalu pergi begitu saja bersama dua temannya.
...***...
dalam perjalanan ke kota Valmas, membutuhkan waktu cukup lama.
Aku mengingat kata-kata Yugo yang mengatakan kalau aku akan berbahaya di masa depan.
Lalu aku memejamkan mataku namun saat aku membukanya kembali, aku berada di tempat para iblis.
"Yo, Zen. Kau ingin bermain catur lagi?" Tanya Lucifer yang sedang bermain catur bersama Abbadon.
Memangnya kalian tidak lelah bermain catur setiap saat.
"Tidak, dimana Azazel?" Tanyaku dengan melihat sekeliling.
"Kalau dia sedang tidur, karena bosan ia tidur." Jawab Abbadon.
Ternyata iblis juga bisa bosan ya?
"Oh iya, ada yang ingin kutanyakan pada kalian." Kataku.
"Apa itu?"
"Sebelumnya aku bermimpi buruk, apa kalian tahu tentang Rena?" Tanyaku.
Abbadon dan Lucifer diam dan mencoba mengingat sesuatu, setelah beberapa detik Abbadon sepertinya mengetahui sesuatu.
"Ah, ya. Kalau tidak salah dua ribu tahun yang lalu dia adalah seorang pahlawan yang sering mencoba membunuhmu." Jawab Abbadon.
Membunuh?
Meskipun aku tidak mengingatnya tapi entah kenapa mendengar namanya saja sudah membuatku senang.
__ADS_1