
Setelah seharian bertanya mengenai Kristal hasilnya adalah nihil, akhirnya Zen dan Brull beristirahat di sebuah bar sementara Riska dan yang lainnya pergi ke toko pakaian dan perhiasan.
Jika Zen dan Brull ketahuan pergi ke bar maka hanya kematian yang menunggu mereka berdua.
"Zen, apa kau yakin dengan ini?"
"Apanya?"
"Kau tahu. Kita sudah mencari petunjuk tapi tidak ada satupun informasi yang berguna."
"Ya."
Zen menghabiskan bir di gelasnya dengan satu tegukan. Pikirannya terus bekerja, dan dia tahu salah satu kristalnya terletak dimana. Pikirannya tertuju pada mata kanan raja Fredrosse, dia yakin bahwa mata kanannya adalah kristal ungu. Itu adalah kristal yang merupakan perwujudan dari kebencian.
Itu bisa ia ambil dengan membalas dendam padanya di lain waktu dan dia sedang berpikir tempat dimana kristal di simpan.
Kristal putih adalah kumpulan cahaya suci yang sangat kuat. Tempat yang memiliki energi suci adalah gereja. Zen tidak bisa masuk ke gereja karena ia adalah seorang iblis. Ada semacam penghalang tak terlihat yang membuatnya tidak bisa masuk.
Ada banyak sekali gereja jadi sekarang yang ia butuhkan adalah gereja mana yang menjaga Kristal putih.
"Sebaiknya kita kembali atau para gadis akan menyerang kita."
"Ya."
Zen tampak aneh dan ekspresinya kini selalu datar. Ia tahu penyebab kenapa Zen menjadi seperti ini.
Kesedihan. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Zen saat ini, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Brull untuk bisa mengembalikan dirinya seperti dulu.
Brull bisa melihat dari matanya yang tampak kosong. Mengangkat tubuhnya dan menggendong Zen di punggungnya seperti biasa.
Zen tetap diam dan tak bicara apapun sejak tadi. Setiap kali ditanya jawaban yang keluar hanya kata "Ya." saja.
Sesampainya di penginapan, para gadis sudah menunggu mereka dengan marah namun saat melihat Zen yang diam saja tanpa ekspresi membuat para gadis kehilangan amarah mereka.
Mereka masuk ke dalam dan mencoba mencari tahu apa yang membuat Zen seperti ini. Hanya Riska yang tahu dengan kondisi Zen, dia sangat yakin kalau pikiran Zen sedang kacau dan saat ini ia sedang bimbang akan sesuatu.
"Tidak akan ada habisnya kalau kau terus memikirkannya."
Ada sedikit cahaya dimata Zen ketika Riska mengatakan itu. Riska tersenyum tipis pada Zen yang sedang murung.
"Aku tahu itu, tapi..."
Riska memegang kedua pipi dan memaksanya untuk menatap matanya. Mata merahnya menembus mata Zen.
__ADS_1
"Ubah kesedihanmu menjadi kekuatan. Kau adalah raja iblis bukan? Kalau begitu tunjukkan padaku kekuatan raja iblis padaku."
Semua gadis yang melihat itu tersenyum dengan ceramah Riska. Zen merasa semangatnya kembali dan pikirannya yang kacau sudah kembali normal. Dia menyeringai begitu mengingat ucapan Riska barusan
"Mengubah kesedihan menjadi kekuatan, ya?" Gumamnya namun masih terdengar oleh yang lainnya.
"Maaf membuat kalian khawatir. Aku baik-baik saja sekarang, lagipula diam saja tidak akan mengubah apapun."
Para gadis senang melihat Zen kembali seperti sedia kala namun saat mereka sedang merayakan kesenangan mereka, Rena menghancurkannya dengan pertanyaannya.
"Jadi? Apa tujuan kita selanjutnya?"
Pertanyaan itu membuat semuanya terdiam dan suasananya menjadi hening.
Zen yang tidak mau keheningannya terus berlanjut, dalam kepalanya dia memikirkan tujuan mereka.
"Pertama adalah mencari pedang suci milik pahlawan. Pedang yang hampir membunuhku berkali-kali 1000 tahun yang lalu."
Semuanya kebingungan. Namun, hanya Rena yang paham maksud perkataan Zen.
"Durandal." Gumam Rena.
Mereka membeku di tempat karena terkejut. Mereka tahu dan sangat mengenal pedang itu. Pedang yang memiliki kekuatan hebat yang pernah membuat pasukan iblis mundur berkali-kali.
"Kudengar ada sebuah pedang tersegel di tengah kota kerajaan Welford."
Setelah bersiap-siap, semuanya segera berangkat ke kerajaan Welford. Seperti biasa Brull yang mengendarai mobil, Zen duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi. Dia keluar keluar jendela dengan ekspresi sedih.
Brull yang melihatnya dari samping merasa harus menghiburnya namun dia tidak tahu apa yang bisa membuatnya terhibur.
"Zen, boleh aku bertanya?"
Meskipun Brull tahu ini bukan sebuah hiburan tapi kurasa mengajaknya bicara adalah hal yang mungkin bisa mengurangi kesedihannya.
"Apa itu?"
"Sebelumnya kau mengatakan bahwa sebuah pedang yang hampir membunuhmu berkali-kali meskipun kau raja iblis, apa sekuat itu?"
"Kenapa kau tidak bertanya pada penggunanya langsung."
Brull seperti ditusuk, dia mengajak Zen mengobrol namun dia malah melempar pertanyaan itu. Rena tahu kalau Brull berusaha membantu namun sepertinya dia harus membantunya.
"Durandal adalah sebuah pedang yang terbuat dari logam terkuat dengan darah dewa serta sihir roh dan karena itulah kekuatannya sangat besar untuk mengalahkan iblis namun meskipun demikian aku tetap tidak bisa mengalahkan raja iblis."
__ADS_1
"Jadi, sehebat itu... Jika begitu bukankah berbahaya kalau pedang itu ada di tangan orang lain?" Tanya Rina.
"Itu tidak mungkin. Pedang suci, Durandal itu dibuat khusus untuk pahlawan jadi mustahil orang lain selain pahlawan yang bisa mengangkat pedang itu." Jawab Zen.
Mereka terus berbicara mengenai pedang suci dan kisah Rena saat berperang melawan iblis. Tanpa di sadari mereka sudah di dekat gerbang masuk.
Brull memberi tanda pengenal dan mereka dibiarkan masuk. Semuanya turun dan Zen menyimpan mobil di [Storage]. Mereka berjalan ke tengah kota dan menemukan sebuah patung yang indah, patung itu adalah seorang wanita dengan pakaian yang cantik dan terlihat cocok untuk berperang, di tangannya dia mengangkat sebuah pedang ke langit.
"Itu aku?"
"Sepertinya pahlawan sangat dikenal di dunia ini."
"Meskipun begitu, aku yakin mereka tidak akan mengenaliku yang sudah bereinkarnasi."
Di bawah kaki patung ada sebuah pedang yang tertancap di sebuah batu. Zen dan Rena yakin bahwa itu adalah Durandal.
Rena berjalan mendekati pedang itu dan mencoba menarik pedang tersebut. Orang-orang yang sedang berjalan di sekitarnya berhenti dan memperhatikan Rena.
Para ksatria berlari dan segera memperingati Rena.
"Hei, kau ya di sana!"
"Kau tidak mungkin bisa menariknya, menyerahlah!"
"Heh, orang-orang bodoh. Lihatlah pahlawan yang sangat kalian kagumi telah telah kembali." Cibir Zen.
Durandal terangkat dan cahaya bersinar dari pedangnya. Orang yang melihat itu terkejut dan para ksatria menjadi malu karena pedang itu terangkat oleh gadis yang bukan dari kota ini.
Berita itu tersebar begitu cepat hingga raja kerajaan Welford, Akira mengetahui kabar ini. Seorang gadis yang berhasil mengangkat pedang suci yang tersegel selama 1000 tahun.
"Segera panggil orang itu kemari. Kita harus menyambutnya dengan baik."
Setelah Akira memerintahkan seperti itu. Para ksatria bergegas untuk mencari orang itu.
Sekitar 20 ksatria datang dan menghampiri Zen dan yang lainnya.
"Kami diperintahkan untuk membawa anda ke raja kami, tuan pahlawan."
Sebelum Rena sempat berbicara, Zen sudah mendahuluinya.
"Tentu. Bawa kami pada raja kalian."
Ksatria tidak bisa membantahnya karena jika dia menolak teman-teman pahlawan bisa dipastikan kalau pahlawan tidak akan mau ikut ke kerajaan.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan lewat sini."