Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Surat di pagi hari


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa aku bangun pagi. Meskipun matahari belum terlihat aku ini adalah pagi yang indah.


Melihat ke sebelahku, Riska masih tertidur dengan nyenyak. Meskipun dia seorang vampir tapi wajah tidurnya seperti seorang gadis.


"Zzzz"


Suara dengkuran terdengar di dekatku, aku menoleh ke suara itu. Itu adalah suara dengkuran Brull yang sedang tidur di kasur sebelahku.


Mendengar dengkurannya sepertinya dia sangat lelah, aku merasa bersalah membuatnya bekerja keras.


Tok ... tok ...


Mendengar suara ketukan pintu, aku hendak membukanya namun aku tertahan karena Riska menarik bajuku.


Dengan hati-hati aku mencoba melepaskan tangannya dari bajuku, sesaat setelah melepaskan diri aku menyimpan tangannya dengan pelan dan menaikkan selimutnya.


Aku membuka pintu dan melihat Lucy dan beberapa murid perempuan, ekspresi mereka terlihat sangat serius.


Ada apa dengan situasi ini?


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau hanya memakai celana pendek?"


Mendengar pertanyaan Lucy, aku langsung melihat ke tubuhku dan aku benar-benar hanya memakai celana pendek.


Sejak kapan?!


Yah, aku tahu ini ulah siapa. Jadi biarkan saja, tapi kenapa mereka datang ke sini?


"Yah, lupakan saja. Kenapa kalian kesini?"


"Setidaknya pakai sesuatu."


Melihat reaksi mereka, mereka sangat malu, wajah mereka menjadi merah dan menutupi mata mereka dengan tangannya, aku bisa melihat mereka sesekali mengintip tubuhku dari celah jari mereka.


"Aku malas. Jadi, apa yang kalian butuhkan? Seharusnya kalian mengevakuasi warga bukan?"


"I-Itu sedang dilakukan oleh para siswa laki-laki, kami kemari ingin bertanya, sebelumnya aku pikir kalian sedang berbohong tentang para monster akan datang tapi sekarang aku percaya padamu dan aku menemukan ini di depan pintu penginapan."


Yumi memberikan sebuah surat yang dia temukan, aku mengambil dan membaca isinya.


Suratnya terlihat normal dan tidak ada sesuatu jebakan atau semacamnya, setelah mengetahui surat ini aman aku membacanya.


Surat tersebut berisi:


Salam warga kota Gin.


Kami adalah dark spirit, pengikut Gerheim, kami memiliki tujuan yaitu membangunkan Tuan Gerheim dan karena itu kami ingin kalian menjadi tumbal untuk membangkitkan tuan kami.


Kami harap kalian tidak melakukan hal yang sia-sia dan terima saja takdir kalian.


Surat ini sungguh aneh, mereka mengirim surat untuk menghancurkan kota. Dan yang membuat kesal adalah nama Gerheim ini.

__ADS_1


Setiap kali aku mendengar namanya, aku merasa sangat kesal dan jengkel.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi kalian tenang saja, selama kalian mengikuti kata-kataku kalian akan baik-baik saja."


Tanpa berpikir panjang, aku keluar dan berjalan ke kamar sebelah tempat Laura, Lilith, Misaki dan Rina tidur.


Aku membuka kamar mereka tanpa mengetuk pintu.


Saat aku masuk, mereka masih tertidur. Rina dan Misaki tertidur dengan tenang sementara saat mataku tertuju pada Lilith dan Laura yang sedang tidur.


Aku terkejut dan langsung menutup mataku. Aku tidak percaya mereka tidur dengan penampilan seperti itu.


Kenapa mereka telanjang bulat!?


Aku mengatur nafasku dan mencoba untuk tenang, dan berbalik ke pintu namun aura berwarna hitam terlihat mengelilingi Lucy.


Tanpa bertanya aku tahu arti emosinya itu. Padahal ini masih pagi tapi sepertinya akan ada ledakan besar.


Saat Lucy ingin berteriak dengan segera aku langsung menutup mulutnya agar suaranya tidak membangunkan mereka. Aku tahu mereka lelah karena semalam jadi aku tidak ingin membangunkan mereka.


"Lebih baik guru tidak marah padaku di sini, ayo."


Aku melepaskan tanganku dan membawa mereka ke luar.


"Hah ... Hampir saja. Untung saja mereka masih tidur."


"Memangnya kenapa kalau mereka masih tidur? Apa yang mau kau lakukan?"


"Kau tahu guru, aku tidak akan melakukan apapun. Lagipula kalau aku melakukan sesuatu pada mereka itu tidak ada hubungannya denganmu, bukan?"


"Ugh ... Kau, kau..."


"Sudahlah, aku akan memakai pakaianku lalu sarapan, jadi guru dan yang lainnya bisa tolong buatkan aku makanan."


Aku kembali ke kamarku, Brull sudah bangun dari tidurnya dan sedang menatap ke luar jendela.


"Sedang apa kau di sana?"


"Oh, Zen. Kau tahu melihat matahari terbit itu menyenangkan."


"Begitu ya."


Dengan senyum segar Brull melihat ke arah jendela, aku berjalan dan mengambil pakaianku yang sudah terlipat di atas meja.


"Ngomong-ngomong, apa kau keluar dengan pakaian seperti itu?"


"Ya, tadi ada hal yang penting. Kita akan berkumpul di bawah, ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting."


Senyum Brull memudar dan dengan serius menjawab.


"Baiklah, aku akan bersiap."


Brull mengganti pakaiannya dan langsung turun ke bawah. Sementara aku membangunkan Riska yang masih tertidur.

__ADS_1


Aku membuka selimut dan dia hanya mengenakan pakaian dalam.


hah, apakah semua gadis itu tidur tanpa pakaian?


Aku menghela nafas dan membangunkan Riska.


"Riska, bangunlah."


"Ehm.. Sebentar lagi."


Riska hanya merespon sebentar dan melanjutkan tidurnya. Bagaimana aku membangunkannya?


Ting...


Sebuah ide langsung terlintas di kepalaku. Aku mendekatkan mulutnya ke telinganya dan berbicara dengan nada lembut lalu meniupnya.


"Honey, kalau kau tidak mau bangun, aku akan, M-e-n-c-i-u-m-mu, Fuu."


Mata Riska langsung terbuka lebar lalu melompat kepadaku, aku berhasil menahan keseimbangan tapi Riska masih menempel padaku seperti kera.


"Kalau kau mau menciumku kau tidak perlu bilang, kalau kau mau akan memberikannya."


Sebelum aku melanjutkan perkataanku, dia langsung menempelkan bibirnya pada bibirku, aku bisa merasakan lidah kami saling bersentuhan.


Tapi aku tidak percaya kalau Riska akan seagresif ini.


"Bagaimana dengan itu? Apa kau mau lagi?"


"Kita bisa melanjutkannya nanti, sekarang ada hal penting yang ingin kukatakan. Jadi, kenakan pakaianmu."


"Oke."


Riska turun dariku dan memakai pakaiannya, aku keluar dari kamar dan menuju ke kamar sebelah.


Aku membuka pintu dan dengan cepat aku menutup pintunya kembali dengan tenang seperti tidak terjadi apapun.


"Kyaa!"


Setelah pintu tertutup, teriakan mereka baru terdengar dengan keras.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai berpakaian dan aku masuk kembali ke dalam kamar seperti sebelumnya.


Di antara mereka berempat hanya Misaki yang terlihat marah, Rina dan Lilith hanya tersenyum kecut, sementara Laura terlihat tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Baiklah, ayo. Kita berkumpul di bawah ada sesuatu yang ingin kukatakan."


Setelah aku mengatakan itu ekspresi mereka kembali normal dan mengikutiku dari belakang. Di tempat makan sudah ada Lucy, para murid, beberapa ksatria, Brull dan Riska.


Kami duduk di kursi dan suasana menjadi tegang dan serius. Air keringat mulai bercucuran pada Dave dan para ksatria saat melihatku.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya."


Aku menyimpan surat yang di temukan Yumi di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2