
Hmm, padahal seorang pahlawan tapi melawan monster lemah seperti itu saja dia kewalahan.
Setelah mendengar penjelasan Misaki, aku bisa katakan kalau portal itu muncul karena seseorang mungkin ini ulah si Melves itu.
"Itu artinya kalian belum pernah masuk kesana sebelumnya?"
"Ya."
"Aku pernah menghancurkan portal itu dan masuk ke sana."
""Apa!""
Kalian sebegitu terkejutnya, itu artinya bukan hal yang wajar
"Baiklah, sudah cukup terkejutnya. Sekarang aku tanya, apakah batu ini berbahaya atau tidak?"
"Tentu tidak, tapi ini batu yang sangat langka dan sangat kuat. Kalau kau menjualnya mungkin itu menjadi 1 koin platinum."
Semahal itu!? Kurasa aku mengerti alasan si pencuri bodoh itu ingin mengambil busur Lilith.
"Baiklah, jadi intinya kau tidak ingin ku buatkan senjata? Baiklah kalau begitu."
"Tidak... maksudku hanya saja ... itu ..."
Saat aku akan memasukan batu sihir kembali ke [storage], Misaki menahannya. Dasar wanita plin-plan.
Aku menggunakan skill [Creation] dan mengubahnya menjadi katana, karena musuh seperti itu tidak akan bisa dikalahkan oleh Misaki takutnya patah lagi aku menambahkan elemen air dengan skill [Enchant].
"Cobalah."
Misaki mengambil katana dari tanganku, dia mengambil kuda-kuda dan mengangkat pedangnya ke atas. Saat ia mengayunkan pedangnya ke depan, air keluar dari bilahnya dan membelah batu di depannya menjadi dua.
"Sudah kuduga, kekuatannya akan sangat besar."
Misaki gemetaran dan menatapku, air mata keluar dari matanya. Biar aku tebak kau pasti merasa sangat takut dengan kekuatanmu.
"Z-Zen ... I-Ini sangat-t ..."
"Itu menggunakan mana jadi kendalikan manamu saat menggunakan itu."
Saat aku melihat yang lainnya, Lilith dan yang lainnya tidak terkejut kecuali Rina, ia terlihat sangat takut.
"Kawan, aku sarankan kau tak membuatkan senjata untuk orang lain takutnya senjatamu akan menjadi sebuah bencana."
Ada benarnya juga, tapi lagi pula aku tidak akan membuat senjata ke sembarang orang. Yah, kurasa Brull hanya memperingati agar hati-hati.
"Baiklah, aku juga tidak akan membuatnya pada orang lain kecuali kalian."
Mereka hanya tersenyum melihatku, karena sudah berhasil mengalahkan red rabbit kami kembali ke guild untuk mengambil hadiah.
__ADS_1
Kami kembali ke guild dan disambut hangat oleh orang-orang di guild. Kami mendapatkan
10 koin perak untuk 5 red rabbit itu artinya kami mendapatkan 50 koin perak.
Kami memberikan status plat kami untuk mendapatkan cap bahwa kami selesai menyelesaikan quest. Tapi tak kusangka status plat itu cukup mahal, harganya 1 Koin emas.
Saat sedang mendapatkan cap di status plat kami, seseorang datang ke guild dengan nafas yang terengah-engah.
"Gawat!"
Seorang pria cukup muda sekitar 24 tahun datang dan diam di depan pintu saat ia ingin berbicara ia kesulitan karena nafasnya yang berat.
"Ada apa? Lebih baik tarik nafas lalu bicara."
Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, saat nafasnya sudah kembali normal ia melanjutkan bicara.
"Gawat! Di luar ... ada banyak monster yang keluar dari portal yang melayang! Sekarang para monster itu sedang menuju ke kota ini."
Aku mengerti situasinya, kalau benar itu berarti kota ini dalam bahaya, bukan? Riska dan yang lainnya menatapku dan menganggukkan kepala. Aku menoleh ke William yang berdiri di dekat tangga.
"Aku paham, pergilah. Kembalilah dengan selamat."
Aku menanggapinya dengan menganggukkan kepala dan langsung berlari ke luar.
Kami sampai di depan gerbang, sebuah Padang rumput yang luas, tepat sekitar 30 meter portal aneh berukuran kecil melayang dan segerombolan monster sedang berjalan kemari.
Aku melihat ke depan dan sudah ada Leon dan kelompoknya sedang bertarung dengan monster. Melihat mereka sepertinya mereka kesulitan tapi mau tak mau aku harus membantunya agar mengetahui tentang diriku dan masalah yang sedang terjadi.
"Lalu apa kita harus membantunya?"
"Mereka sedang bertarung sebaiknya kita membantu mereka."
"Zen, apa rencanamu?"
Aku mengarahkan tanganku pada portal itu dan menggunakan skillku.
"[Black hole]"
Aku mengeluarkan portal hitam dan portal aneh menghilang bersamaan dengan portal hitamku.
"Apa yang terjadi?"
"Portalnya hancur!?"
"Zen, apa yang kau lakukan?"
"Aku menggunakan skill black hole, pada dasarnya itu adalah sihir ruang saat kedua sihir ruang bersatu mereka akan hancur."
Setelah mendengar penjelasanku, Rina hanya tersenyum dan mengatakan sambil memelukku.
__ADS_1
"Seperti yang diharapkan dari kutu buku."
Meskipun portal kehancuran itu sudah tidak ada tapi monster yang berada di luar tidak ikut menghilang.
"Sisanya kalian yang urus."
Mendengar perintahku mereka dengan cepat berlari dan menyerang monster itu sementara Rina hanya diam di sampingku sambil membaca sebuah mantra.
"Wahai kekuatan suci yang mengalir, berikan cahaya sucimu[healing light]"
Lingkaran sihir muncul di bawah kaki masing-masing Brull, Riska, Lilith, Misaki dan Laura.
Itu adalah sihir penyembuh untuk beberapa orang dalam satu waktu, Rina menggunakan skill itu agar yang lainnya menyerang sementara Rina menyembuhkan di saat yang bersamaan.
Dalam waktu singkat mereka sudah membereskan monster itu, kelompok Leon merasa mereka lebih lemah dari Brull dan yang lainnya yang merupakan manusia dunia ini.
Aku sangat paham cara mereka berpikir, karena mereka adalah manusia dari dunia lain mereka berpikir mereka lebih kuat daripada orang-orang di dunia ini.
Namun mereka salah, justru karena mereka adalah orang-orang dunia ini mereka lebih kuat dan Misaki memiliki katana yang terbuat dari batu sihir.
Setelah di bantu oleh Brull dan yang lainnya, semua berterima kasih kepada kami sambil membungkukkan badan sementara Leon, Reza dan Teo menghampiri kami dengan wajah kesal.
"Siapa yang menyuruhmu membantu?" Kata Leon.
"Benar, kami adalah pahlawan. Orang-orang seperti kami yang akan menyelamatkan dunia." Lanjut Reza.
Melihat mereka berdua membuatku kesal saja. Namun saat mereka sedang marah dengan Brull, ia mengabaikannya dan berbicara dengan Misaki.
"Kau tidak apa-apa, Misaki?"
"Y-Ya, aku tidak apa-apa."
Apa ini? Aku melihat bunga-bunga di sekitar mereka berdua. Jangan bilang kalau mereka berdua saling menyukai?
"Hei, brengsek! Leon sedang berbicara denganmu." Teriak Teo.
"Syukurlah kalau begitu, meskipun memiliki pedang dari Zen akan sulit untuk memakainya jika kau tidak bisa memakainya. Dan juga caramu menggunakan pedang sangat hebat."
"Terima kasih, dulu aku sering berlatih pedang dengan ayahku."
Mereka terus mengobrol dan mengabaikan Leon dan yang lainnya. Namun, pembicaraan mereka berhenti setelah Riska, Lilith dan Rina berdehem dan bersiul.
"Uhh... terima kasih, sudah... mengkhawatirkan diriku."
"T-Tidak masalah."
Mereka pun saling membuang muka dengan pipi merah seperti stroberi, mereka saling mencuri-curi pandang satu sama lain.
Namun suasana ini akan sampai kapan? Saat Teo ingin menusuk Brull dengan cepat Laura mengurung Teo ke dalam es.
__ADS_1
Suasana pun menghilang dan melihat ke arah Teo yang terkurung dalam es.