Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Kerajaan Agate


__ADS_3

"Putri?"


Untuk beberapa alasan aku mengabaikannya, aku diam saja. Terakhir kali putri yang kukenal melakukan sesuatu yang membuatku kesal dan aku berpikir kalau dia juga sama dengannya.


"Kau kenapa?"


Riska bingung dengan tingkahku dan bertanya.


"Riska dengar, aku tidak bisa mempercayainya karena kejadian yang sebelumnya aku ceritakan."


"Baik, aku mengerti dan panggil aku honey. Darling~"


"Iya iya. Untuk beberapa alasan aku akan mengabaikannya, kau bicara dengannya, aku mau istirahat."


Riska hanya diam saja. Aku berjalan ke sebuah pohon yang berdiri di sebelah kanan kereta, aku melompat ke atas pohon dan tidur.


Semuanya melihatku dengan tatapan bingung namun aku menghiraukannya.


"Sebenarnya... kami juga dalam perjalanan ke kota Valmas, memangnya kalian ada perlu apa ke kota Valmas?"


Riska mencoba berbicara dengan Tatsumi untuk melupakan sikapku barusan.


Bukannya aku benci atau apapun pada Tatsumi, hanya saja aku takut ia memiliki sifat yang sama dengan Lisa.


"Be-begitu ya... kami mau mencari seseorang yang bisa menyembuhkan mata ibuku."


"Ibumu? apa dia sakit?"


"Sebenarnya... ibuku tidak bisa melihat karena kutukan seorang penyihir jadi kami mau mencari seseorang yang bisa menyembuhkan ibuku."


Riska melihat ke arahku, wajahnya mengatakan kalau aku harus membantunya.


Meskipun merepotkan, aku terpaksa membantunya.


Aku turun dari pohon dan memanggil Ignis.


"Ignis!"


Lingkaran sihir muncul di depanku dan Ignis muncul lingkungan sihir.


"Ya, tuanku."


Semua terkejut kecuali Riska dengan munculnya Ignis.


"Apa kau bisa menarik kereta?"


"Tentu!"


Aku mengambil beberapa dahan pohon dan mengubahnya menjadi kayu menggunakan skill kreasi.


"[Creation]"


Beberapa dahan pohon berubah menjadi beberapa papan kayu kecil, aku menutupi beberapa kerusakan kereta dengan kayu.


Karena para ksatria sudah sembuh, mereka membantu Brull memperbaiki kereta.


Sementara aku hanya duduk di dekat pohon bersama Riska dan Lilith.


"Hei, Lilith menjauh dari Zen."


"Memangnya kenapa? Aku hanya memeluknya."


Lagi-lagi mereka bertengkar, kali ini aku yang jadi korban. Mereka terus saling menarikku seperti permainan tarik tambang.


"Kalian berdua, mau sampai kapan kalian menarikku?"


"Zen, itu milikku."


"Dia juga milikku."


Mereka mengabaikanku, tiba-tiba aku mengingat apa yang pernah Zifrit katakan.


Kalau tidak salah, "ada sesuatu yang berbahaya di dalam tubuhku, ya."


Lilith, Riska, Brull, Tatsumi, Sebas dan para ksatria menatapku, ekspresi mereka tidak terbaca.


"Zen, apa maksudnya itu?"


"Sesuatu yang berbahaya?"


Lilith dan Riska bertanya dengan bingung. Namun aku mengabaikan mereka dan berbicara dengan Azazel lewat telepati.


"Kau mau tahu soal itu ya?"


"Ya."


"Kupikir kau sudah tahu, baiklah akan kuberi tahu. Di dalam tubuhmu ada dua iblis yang dirantai, aku bisa merasakannya, kalau mereka itu iblis tingkat tinggi."

__ADS_1


Mengetahui kalau ada iblis yang dirantai didalam tubuhku membuatku terkejut dan merasa merinding. Sedetik kemudian, aku kembali ke diriku semula.


"Hei, darling apa maksud perkataan yang tadi?"


Mereka terlihat menunggu apa yang kukatakan.


"Tidak apa-apa, hanya mengingat beberapa kata dari buku novel yang pernah ku baca."


"Novel?"


Mereka sepertinya tidak tahu tentang novel.


"Itu adalah buku yang berisi cerita yang menarik."


"Oh... begitu."


"Kau membuatku terkejut."


Aku berdiri karena kereta sudah selesai diperbaiki.


"Ignis, bawa kami ke kerajaan Agate."


Sebas mendekatiku dan bertanya dengan sopan.


"Maaf, tuan. Apa maksudnya ke kerajaan kami?"


"Aku mungkin bisa menyembuhkan mata ibumu."


"Benarkah?"


Tatsumi mendekat dan menatapku dengan senang.


"Ya."


"Terima kasih, bagaimana aku harus membalasnya. itu... nama kalian siapa?"


Brull mendekat dan dengan bangga memperkenalkan diri.


"Namaku Bruce Will, panggil saja Brull."


"Aku Riska Ignatius."


"Lilith Miyazaki."


Mereka memperkenalkan diri satu persatu namun aku hanya diam saja.


Riska berdehem dan mengenalkan diriku.


"Maaf kan dia, dia adalah Zen Ignatius."


"Ignatius? nama belakang kalian sama, apa kalian bersaudara."


Tatsumi terlihat bingung dengan nama belakang Riska yang sama denganku.


"Tidak, kami pasutri."


Mendengar itu membuatku sangat terkejut, Riska tiba-tiba mengatakan sesuatu yang memalukan.


"Riska, apa yang kau katakan?"


"Tapi itu benar bukan? kita sudah sering melakukan 'itu'.


Riska lagi-lagi mengatakan hal konyol. Tapi aku tidak bisa melawannya, matanya mengatakan aku harus menuruti perintahnya.


"Me-Melakukan I-Itu...?"


Wajah Tatsumi dan Lilith memerah hingga asap keluar dari kepala mereka.


"Riska berhenti mengatakan hal yang membuat orang lain salah paham."


"Hehe."


Riska hanya tersenyum.


"Baiklah, semuanya naik. Kita akan segera berangkat."


Semuanya naik ke dalam kereta kecuali aku dan Brull.


"Kalian tidak naik."


"Kami akan membawa kuda."


Ignis membesar dan semua terkejut melihatnya, bahkan para Ksatria gemetaran setelah melihatnya.


"Ignis, bawa kereta dengan benar."


"Baik."

__ADS_1


Ignis menarik kereta dengan tubuh besarnya sedangkan aku dan Brull menaiki kuda, agar mereka tidak terlalu lelah membawa.


Kami berjalan berbalik dan menuju kerajaan Agate.


Hanya dalam waktu 2 jam, kami sampai di kerajaan Agate.


Di depan pintu masuk kerajaan Agate terdapat 2 ksatria yang berdiri di dekat pintu masuk. Awalnya mereka ketakutan melihat Ignis namun mereka langsung membuka pintu setelah melihat kereta yang dibelakang.


Kami berjalan lurus, setelah melihat sekeliling, kita berada di sebuah pasar. Di depan kami terdapat sebuah istana besar berwarna putih.


Orang-orang melihat Ignis dengan agak takut namun mereka mencoba tersenyum setelah melihat Tatsumi yang sedang melambaikan tangan di jendela.


Kami akhirnya sampai di dalam Istana. Saat akan masuk ke dalam, seorang pria memakai zirah dan pedang di pinggangnya sedang membungkuk pada Tatsumi.


"Selamat datang kembali, tuan putri Tatsumi."


Tatsumi membalas dengan nada yang anggun.


"Aku pulang."


Mata kami bertemu. Ia memandangiku dan mengeluarkan hinaan.


"Siapa kau? berani sekali kau melihatku seperti itu. Saya adalah komandan ksatria disini."


Ada apa dengannya? ia tiba-tiba marah seperti itu.


Tatsumi yang mendengar itu langsung menegurnya sebelum aku membuka mulut.


"Leorg, apa yang kau katakan? mereka adalah orang yang menyelamatkanku. Kau tidak berhak memarahi mereka."


Sifat Tatsumi berbeda dari sebelumnya, ia terlihat lebih tegas. Pria itu langsung meminta maaf pada Tatsumi dan mundur satu langkah kebelakang.


"Maafkan saya, tuan putri."


Tatsumi langsung membawa kami masuk ke dalam istana.


"Ayo, masuk ke dalam."


Sebelum masuk aku menyuruh Ignis beristirahat.


"Ignis, sebaiknya kau kembali dan istirahat dengan baik."


"Baik."


Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Ignis dan menariknya ke bawah seperti tersedot pasir hisap.


Semuanya ternganga melihat itu, namun mereka langsung kembali dan masuk kedalam istana.


Kami berjalan melewati lorong, di setiap sudut ada ksatria yang sedang berdiri tegak.


Di ujung lorong ada sebuah pintu yang terlihat mencolok dan besar.


Sepertinya pintu itu adalah ruang tahta.


Terdapat empat jalan dan kami berjalan ke kiri. disepanjang jalan banyak sekali pintu kayu yang di kanan dan kiri.


Namun kami berhenti di depan pintu yang berbeda dengan pintu lainnya, yang ini terlihat berwarna dan mencolok.


Tatsumi mengetuk pintu tersebut.


* Knock *


"Kau sudah kembali, Tatsumi?"


Terdengar suara laki-laki dari balik pintu, suaranya terdengar seperti laki-laki yang berumur 20 tahun.


"Ya, aku sudah kembali."


"Masuklah."


Tatsumi membuka pintu dan ada dua orang laki-laki dan satu perempuan yang sedang duduk di kasur. Laki-laki di sebelah kanan terlihat masih muda, sepertinya ia yang menjawab Tatsumi barusan dan laki-laki yang di sebelah kiri terlihat sudah agak tua. Dengan kumis dan jenggot hitam, ia terlihat seperti berumur 50 tahun-an.


"Kakak, ayah, ibu aku kembali."


"Selamat datang, Tatsumi."


" Selamat datang."


"Bagaimana perjalananmu?"


Ayah, ibu dan kakaknya terlihat senang melihat Tatsumi datang.


Laki-laki yang terlihat masih muda itu melihat kami yang berdiri di belakang Tatsumi.


"Siapa mereka?"


"Mereka adalah orang yang akan menyembuhkan ibu."

__ADS_1


__ADS_2